NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PILIHAN YANG MUSTAHIL

Pesan itu membuat ruang tamu mendadak terasa lebih dingin.

**Pilih satu.**

**Raka atau Arga.**

**Besok pagi, bawa salah satu dari mereka ke Gudang Puri Sagara. Kalau tidak, kamu akan kehilangan keduanya.**

Nayla membaca kalimat itu berulang kali.

Jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya berdengung. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak bisa melepaskan ponsel lama yang menjadi sumber pesan itu.

Raka atau Arga.

Bagaimana seseorang bisa meminta pilihan seperti itu?

Arga adalah suaminya. Lelaki yang pernah ia cintai, lalu mengkhianatinya, berbohong, dan menghancurkan kepercayaan mereka. Namun tetap saja, melihat video Arga dengan wajah lebam membuat Nayla tidak sanggup membayangkan sesuatu buruk terjadi kepadanya.

Raka adalah orang yang menolong Nayla saat ia merasa tidak memiliki siapa pun. Pria yang diculik karena mencoba melindunginya. Pria yang kini juga berada dalam bahaya karena Bayu tidak berhenti menyebarkan ancaman.

Nayla tidak ingin kehilangan keduanya.

Bukan karena ia ingin kembali kepada Arga.

Bukan pula karena ia sudah siap mengakui perasaannya pada Raka.

Tetapi karena tidak ada manusia yang pantas dijadikan alat untuk memaksa seseorang mengambil keputusan.

“Ini permainan psikologis,” ujar Inspektur Wina. “Pelaku ingin membuat Ibu panik dan bertindak sendiri.”

Nayla mengangkat wajah. “Tapi Arga benar-benar ada di tangan mereka.”

“Kami akan mencari lokasi video itu.”

“Dan pesan ini? Gudang Puri Sagara?”

“Kami akan memeriksa lokasi tersebut.”

Nayla menggeleng.

“Bayu mungkin tahu polisi akan memeriksa tempat itu.”

“Bisa jadi.” Inspektur Wina mengangguk. “Namun itu tidak berarti kita mengikuti permainannya.”

Pak Hendra berdiri di dekat jendela dengan wajah tegang.

“Tidak ada yang membawa Nayla ke gudang mana pun,” katanya. “Kalau Bayu ingin bertemu, polisi yang akan menangani.”

Bu Ratih memeluk bahu Nayla.

“Kamu tidak harus memilih,” bisiknya. “Ini bukan pilihan kamu.”

Nayla menunduk.

Ia tahu Mama benar.

Tetapi ancaman itu tetap terasa seperti beban yang dipaksa diletakkan di pundaknya.

Ponsel Nayla bergetar.

Dimas menelepon.

Inspektur Wina memberi isyarat agar Nayla mengangkat panggilan, lalu menyalakan pengeras suara.

“Halo, Mas Dimas.”

“Bu Nayla, saya baru mendapat laporan dari petugas rumah sakit.” Suara Dimas terdengar terburu-buru. “Pak Raka tidak ada di kamarnya.”

Nayla langsung berdiri.

“Apa?”

“Pukul enam pagi, beliau meminta ke kamar mandi. Setelah itu, beliau tidak kembali. Petugas menemukan jendela lorong servis terbuka.”

“Bapak Raka pergi sendiri?”

“Kami belum tahu. Kamera lorong mati selama tujuh menit.”

Nayla memejamkan mata.

Bayu.

Atau seseorang dari perusahaan.

“Apakah ada pesan dari Pak Raka?” tanyanya.

“Ada di ponsel pribadi beliau. Pesan itu dikirim beberapa menit lalu.”

Dimas mengirimkan tangkapan layar.

Nayla membukanya.

**Raka:** Nayla, jangan pergi ke mana pun. Saya akan menyelesaikan ini. Apa pun yang terjadi, jangan datang ke Gudang Puri Sagara.

Nayla menatap pesan itu dengan napas tertahan.

Raka tahu tentang gudang tersebut.

Apakah ia pergi mencari Bayu sendiri?

“Mas Dimas,” ujar Nayla, “Bapak Raka pasti pergi karena ancaman dari Bayu.”

“Saya juga menduga begitu.” Suara Dimas terdengar menegang. “Kami sedang mencari rekaman CCTV dan melacak kendaraan yang keluar dari area rumah sakit.”

Inspektur Wina mengambil alih pembicaraan.

“Mas Dimas, ini Inspektur Wina. Kami punya informasi bahwa Bayu mungkin menahan Arga dan memancing Raka serta Nayla ke Gudang Puri Sagara. Jangan izinkan siapa pun dari perusahaan bergerak tanpa koordinasi kepolisian.”

Dimas terdiam sesaat.

“Baik, Bu. Saya mengerti.”

Panggilan berakhir.

Nayla masih memandangi pesan Raka.

*Saya akan menyelesaikan ini.*

Kalimat itu membuatnya takut.

Raka sudah diculik sekali.

Ia baru saja terluka.

Namun ia tetap pergi sendirian demi melindungi Nayla.

“Dia tidak seharusnya pergi sendiri,” kata Nayla lirih.

“Dan kamu juga tidak,” jawab Pak Hendra.

Nayla mengangguk, meski dadanya semakin sesak.

***

Di sisi lain kota, sebuah mobil hitam berhenti di dekat area proyek Puri Sagara yang belum selesai dibangun.

Bangunan-bangunan ruko masih berupa kerangka beton. Jalan masuknya sepi, hanya ada beberapa truk pengangkut material yang terparkir di sisi gudang. Papan proyek besar tampak kusam karena hujan beberapa hari terakhir.

Raka turun dari mobil sewaan yang ia gunakan untuk menghindari pelacakan mudah.

Luka di pelipisnya masih tertutup perban kecil. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tetapi wajahnya tetap tenang.

Ia membawa satu ponsel lama yang digunakan Bayu untuk mengirim petunjuk.

Pesan terakhir dari Bayu hanya berisi koordinat lokasi.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada permintaan lain.

Raka tahu ini bisa menjadi jebakan.

Namun ia tidak bisa duduk diam ketika Nayla dan Arga menjadi sasaran.

Ponsel itu bergetar.

Pesan baru masuk.

**Bayu:** Sendirian?

Raka mengetik balasan.

**Raka:** Ya.

Balasan datang cepat.

**Bayu:** Masuk dari gerbang timur. Jangan coba-coba bermain pintar.

Raka menatap gerbang besi yang setengah terbuka.

Ia tidak membawa senjata.

Ia tidak ingin memberi Bayu alasan untuk melukai siapa pun.

Namun sebelum berjalan masuk, ia menekan tombol kecil di jam tangannya.

Bukan alat canggih. Hanya perangkat pelacak yang sebelumnya diberikan Dimas setelah penculikan kemarin.

Raka tidak berniat bergerak sepenuhnya tanpa jejak.

***

Di rumah Nayla, petugas siber berhasil membuka informasi tambahan dari ponsel lama yang dikirim Bayu.

“Video Arga direkam sekitar pukul empat pagi,” kata petugas itu. “Metadata-nya rusak sebagian, tetapi ada pantulan suara kereta barang di latar belakang.”

Inspektur Wina menatap peta kota.

“Area mana yang dekat jalur kereta barang dan proyek Puri Sagara?”

Petugas membuka peta digital.

“Gudang lama di sisi utara proyek. Ada jalur logistik yang masih aktif sekitar satu kilometer dari sana.”

Nayla mendengar itu dan langsung mendekat.

“Jadi Arga mungkin ada di dekat proyek itu?”

“Kemungkinannya besar,” jawab Inspektur Wina.

Ponsel Nayla tiba-tiba berdering.

Nomor tidak dikenal.

Semua orang di ruangan terdiam.

Inspektur Wina memberi isyarat agar Nayla mengangkat panggilan.

“Halo.”

Suara Bayu terdengar di seberang.

“Kamu sudah memilih?”

Nayla menggenggam ponsel.

“Saya tidak akan memilih manusia seperti memilih barang.”

Bayu tertawa pendek.

“Kamu masih berani bicara begitu setelah melihat suamimu?”

“Arga dan Pak Raka bukan alat untuk permainan kamu.”

“Bukan permainan.” Nada Bayu berubah tajam. “Ini balasan. Raka menghancurkan hidupku. Dia mengambil semuanya dari aku. Sekarang dia harus tahu rasanya kehilangan sesuatu yang dia lindungi.”

“Raka tidak menghancurkan hidup kamu. Kamu sendiri yang memilih melakukan hal-hal yang salah.”

“Kamu tidak tahu apa-apa.”

“Saya tahu kamu menculik orang. Saya tahu kamu mengancam saya dan keluarga saya. Saya tahu kamu memakai Siska, lalu meninggalkannya ketika semuanya berantakan.”

Bayu terdiam.

Nayla melanjutkan, meski suaranya bergetar.

“Kalau kamu ingin membuktikan kamu tidak salah, lepaskan Arga dan berhenti menyakiti orang lain.”

“Sudah terlambat.”

“Apa yang kamu mau?”

“Kamu.”

Nayla membeku.

“Datang sendiri ke Gudang Puri Sagara. Kalau tidak, Raka dan Arga akan membayar.”

Panggilan terputus.

Nayla menatap layar ponselnya.

Inspektur Wina mencatat semua yang terdengar.

“Dia ingin Ibu datang sebagai pemancing,” katanya.

“Bukan hanya itu,” ujar Nayla. “Dia ingin saya merasa bertanggung jawab atas semuanya.”

Pak Hendra mendekat.

“Kamu tidak akan pergi.”

Nayla menatap ayahnya.

“Pa, aku tahu ini jebakan.”

“Bagus. Berarti kamu tahu kenapa kamu tidak boleh datang.”

“Tapi Bayu ingin saya datang. Kalau saya tidak—”

“Nayla.” Suara Pak Hendra terdengar tegas. “Dulu kamu terlalu lama bertahan dalam pernikahan karena merasa bertanggung jawab pada semua yang Arga lakukan. Jangan ulangi itu dalam bentuk lain. Kesalahan Bayu bukan beban kamu.”

Nayla terdiam.

Kata-kata itu terasa keras, tetapi benar.

Ia tidak bisa terus membiarkan pelaku mengendalikan hidupnya melalui rasa bersalah.

Ponsel Inspektur Wina berbunyi.

Seorang petugas di seberang melapor dengan cepat.

“Bu, kami mendapat sinyal pelacak dari perangkat milik Pak Raka. Lokasinya bergerak menuju Puri Sagara.”

Nayla menutup mata.

Jadi Raka benar-benar pergi ke sana.

Inspektur Wina langsung mengangkat radio.

“Semua unit, bergerak ke Proyek Puri Sagara. Prioritas: menemukan dua korban dan mengamankan pelaku. Jangan masuk tanpa konfirmasi posisi.”

Nayla berdiri.

“Saya ikut.”

“Tidak,” kata Pak Hendra dan Inspektur Wina bersamaan.

Nayla menatap mereka.

“Saya tidak akan masuk ke gudang. Saya bisa tetap di mobil. Tapi kalau Bayu menelepon lagi, dia mungkin ingin bicara dengan saya.”

Inspektur Wina tampak mempertimbangkan.

Pak Hendra menggeleng keras. “Tidak ada.”

“Pa, dengar.” Nayla menahan air mata. “Aku tidak mau jadi orang yang hanya duduk dan menunggu lagi. Aku tahu aku tidak bisa menyelamatkan mereka sendiri. Tapi aku juga tahu Bayu akan terus memakai namaku kalau aku sama sekali tidak ada.”

Pak Hendra menatap putrinya cukup lama.

Bu Ratih memegang tangan Nayla.

“Nayla,” kata ibunya, “berani bukan berarti masuk ke bahaya. Kalau kamu ikut, kamu harus berjanji mengikuti semua arahan polisi.”

Nayla mengangguk cepat.

“Aku janji.”

Inspektur Wina menghela napas panjang.

“Ibu boleh ikut sampai pos komando bergerak. Tidak lebih dekat dari itu. Jika saya mengatakan kembali, Ibu harus kembali. Tidak ada perdebatan.”

“Baik.”

Pak Hendra terlihat tidak setuju, tetapi akhirnya mengangguk dengan wajah berat.

Mereka bergerak tidak lama kemudian.

Di dalam mobil polisi, Nayla duduk di antara Bu Ratih dan seorang petugas perempuan. Ponselnya berada di tangan, layar terus menyala.

Ia menatap jalanan yang bergerak cepat di balik kaca.

Dulu, hidup Nayla hanya berputar di sekitar menunggu Arga pulang.

Sekarang, ia sedang menuju tempat yang mungkin menentukan keselamatan dua laki-laki yang pernah dan sedang memiliki arti dalam hidupnya.

Namun kali ini, Nayla tidak akan memilih berdasarkan ketakutan.

Ia akan memilih untuk tidak menyerahkan dirinya kepada permainan Bayu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!