SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: PASAR DI TIMUR KOTA
Yucheng datang ke halaman barat dengan dua topi bercadar di tangan dan senyum yang sudah dipersiapkan untuk menang berdebat.
"Ibu bilang kau butuh kain baru untuk musim dingin. Aku bilang kau butuh udara baru. Ibu setuju pada keduanya, jadi kita berangkat sekarang, sebelum Ibu berubah pikiran."
"Aku belum bilang mau ikut."
"Kau sudah memakai sepatu luar."
Ruyin menunduk. Memang benar. Ia tertawa kecil sebelum sempat menahannya, dan melihat bahu Yucheng turun sedikit, seperti orang yang diam-diam melepas beban kecil. Entah mengapa, itu membuat Ruyin sulit memegang kecurigaannya erat-erat pagi itu.
———
Kereta mereka keluar dari Distrik Timur menjelang tengah pagi. Ruyin membiarkan tirainya terbuka penuh kali ini.
Chang'an di siang hari adalah kota yang berbeda dari kota yang menyambutnya dengan terlalu tenang. Jalan besar di depan gerbang pasar kini dua kali lebih lebar dari ingatannya, dan dua kali lebih penuh. Kereta kuda, gerobak sayur, tandu bertirai, rombongan pedagang kain dari barat dengan unta yang lehernya menjulur malas. Lonceng dari kuil di ujung jalan berdentang, dan sesaat suara penjaja, roda, dan tawa anak-anak larut dalam satu dengung panjang.
Bau kuah tulang, kue wijen panggang, dan minyak bunga teratai tercium bergantian setiap kali kereta berbelok.
"Rumah teh Zhou sudah tidak ada," kata Ruyin ketika mereka melewati sebuah toko kain bertirai biru di tempat yang dulu, ia yakin, adalah kedai teh dengan papan nama kayu.
"Tutup enam tahun lalu. Pemiliknya pindah ke Luoyang." Yucheng bersandar santai. "Sekarang orang minum teh di lantai atas toko obat. Lebih mahal, lebih sepi, dan tehnya lebih buruk."
"Kakak sering ke sana?"
"Kalau ingin menghindari Ayah."
Ruyin tersenyum. Gerbang batu di ujung jalan masih berdiri seperti dulu, dengan ukiran naga yang separuh wajahnya sudah aus. Ia hampir mengangkat tangan untuk menunjuk, lalu sadar bahwa ia mengenalinya. Bukan sebagai kenangan lengkap, hanya sebagai rasa lega kecil yang muncul ketika satu benda ternyata tidak berubah.
———
Mereka turun di depan deretan toko kain. Yucheng berjalan setengah langkah di sisi luar Ruyin, menempatkan tubuhnya di antara adiknya dan arus orang. Ketika seorang pengangkut peti hampir menabrak, ia menarik lengan baju Ruyin tanpa menoleh, dengan gerakan yang begitu terlatih hingga Ruyin sadar ia pasti sudah melakukannya ratusan kali.
"Kakak seperti pengawal," godanya.
"Aku memang pengawalmu. Hanya saja gajiku kecil."
"Berapa?"
"Sepotong kue ketan setiap kali kau menolak makan."
"Kalau begitu aku akan sering menolak makan."
"Aku akan jatuh miskin."
Pemilik toko kain, seorang lelaki gemuk berjanggut tipis, langsung membungkuk begitu melihat lambang keluarga Shen di ikat pinggang Yucheng. Ia memanggil dua pembantunya, menggelar gulungan sutra berlapis-lapis, dan memanggil Yucheng "Tuan Muda Shen" tiga kali dalam satu napas. Ruyin berdiri di samping dan mengamati bagaimana orang-orang di ruangan itu bergeser sedikit saat keluarganya melangkah. Keluarga Shen bukan keluarga yang paling tinggi di Chang'an, tapi cukup tinggi untuk membuat orang menjaga nada bicaranya.
Ia memilih kain abu muda dengan sulaman bambu, lalu satu lagi berwarna hijau pucat. Yucheng menggeleng pada yang kedua.
"Terlalu mirip warna Ibu."
"Ibu tidak keberatan."
"Ibu keberatan pada hal-hal yang tidak ia katakan," kata Yucheng sambil menyerahkan kain itu kembali. "Pilih yang lain."
Ruyin mengangkat alis, tetapi mengambil kain berwarna madu.
———
Di dekat jembatan kecil di ujung pasar, seorang lelaki tua menjajakan manisan gula cetak dari bangku rendah. Burung, ikan, kelinci, labu, semuanya berkilau di bawah cahaya siang. Ruyin sudah akan lewat ketika lelaki itu mengangkat kepala dan matanya yang keruh berhenti pada wajahnya.
"Nona Shen?" Ia setengah berdiri. "Nona Shen sudah kembali?"
Yucheng menoleh dan wajahnya sejenak membeku, lalu mencair. "Paman Gu. Kau masih berjualan."
"Selama kakiku masih bisa duduk, Tuan Muda."
Lelaki itu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang tinggal separuh. "Nona dulu langganan paling setia. Setiap kali lewat, selalu minta yang berbentuk kelinci. Ah, aku masih ingat. Dua keping, satu untuk Nona, satu untuk dibawa pulang."
Ruyin tersenyum sopan. Dalam ingatannya, ia selalu memilih bangau. Selalu bangau, dengan leher panjang dan sayap yang sedikit retak di ujungnya, karena ia suka memakan bagian kepalanya lebih dulu.
"Benarkah, Paman?"
"Tentu. Mana mungkin aku lupa." Paman Gu menggeleng-geleng. "Tangan Nona sudah sembuh? Dulu terakhir kulihat, masih dibalut kain putih."
Yucheng meletakkan dua keping tembaga di atas bangku dan mengambil manisan kelinci sebelum lelaki itu sempat mengatakan apa pun lagi.
"Sudah sembuh sejak lama, Paman. Terima kasih sudah bertanya."
Ruyin menerima manisan itu. Kelinci, bukan bangau. Gulanya manis dan sedikit gosong di ujung, dan ia menggigitnya tanpa mengatakan apa-apa.
Tangan kirinya. Kain putih.
Sampai di tengah jembatan, ia baru sadar bahwa ia belum mengatakan tangan yang mana.
———
Mereka berhenti di rumah teh lantai atas toko obat, seperti yang dijanjikan Yucheng, dan tehnya memang buruk. Tetapi jendelanya menghadap ke jalan besar, dan dari sana Ruyin bisa melihat arus orang mengalir seperti sungai berwarna-warni.
Di meja sebelah, dua perempuan bangsawan berbicara dengan suara yang sengaja dipelankan, namun tidak cukup pelan.
"Bukankah Nona Kedua Shen dikirim ke Selatan karena sakit?"
"Begitu katanya."
"Delapan tahun. Penyakit macam apa yang makan waktu delapan tahun?"
"Aku mendengar cerita yang berbeda."
"Cerita apa?"
"Entahlah. Pelayan kakak iparku bilang..." Suaranya makin kecil, dan salah satu dari mereka menoleh sekilas ke arah meja Ruyin. Perempuan itu langsung mengganti topik ke harga giok dan gelang yang baru dibeli di Kediaman Marquis Lu.
Yucheng, yang tampaknya mendengar semuanya, hanya menuang teh untuk Ruyin dan menggeser cangkirnya mendekat.
"Orang-orang selalu butuh sesuatu untuk dibicarakan."
"Kakak tidak marah?"
"Marah pada gosip itu seperti marah pada angin." Ia menyesap tehnya dan meringis. "Teh ini memang jahat. Tapi kau, jangan dengarkan mereka."
"Aku tidak dengar apa-apa," kata Ruyin ringan.
Yucheng tertawa, dan untuk beberapa saat ia tampak seperti kakak yang hanya ingin membawa adiknya pulang dengan selamat, tanpa rahasia, tanpa jarak.
———
Menjelang senja, kereta mereka kembali melewati gerbang merah di Distrik Timur. Pengurus rumah sudah menunggu di serambi dengan wajah sedikit tegang, membawa sebuah nampan lacquer hitam.
"Tuan Muda, Nona. Utusan dari Kediaman Marquis Lu datang siang tadi."
Yucheng menerima nampan itu dan mengangkat sebuah undangan bersampul merah tua. "Undangan jamuan teh di paviliun mereka, tiga hari lagi." Ia membaca sekilas dan mengangkat alis. "Tertulis untuk seluruh keluarga, tapi namamu disebut paling akhir, dengan tinta yang lebih tebal."
"Itu undangan, atau pemeriksaan?"
"Di Chang'an, bukankah itu hal yang sama?"
Ia menyerahkannya kepada Ruyin sambil menyuruh pelayan membawakan air hangat. Ruyin membuka lipatan kertasnya. Hurufnya halus dan tegas, stempel di bawahnya berbentuk bunga teratai dalam lingkaran.
Keluarga Lu dengan hormat mengundang Nona Kedua Shen.
Ia sudah membaca dua kalimat berikutnya ketika matanya kembali ke bagian atas.
Lu.
Ia tidak pernah bertemu siapa pun bernama Lu di Selatan. Tak ada dalam surat tabib tua, tak ada dalam percakapan keluarganya sejak kemarin. Namun ibu jarinya sudah menyentuh lingkaran stempel itu dengan gerakan yang sangat akrab, seolah tangannya mengenal bentuk itu sebelum pikirannya sempat mengenalinya.
"Ruyin?" panggil Yucheng. "Kau pucat lagi."
"Tidak apa-apa." Ia melipat undangan itu perlahan. "Aku hanya baru sadar kalau aku lapar."