Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Sumsum Beracun dan Kebangkitan sang Bencana
Panas api melahap sekeliling, membakar kayu pilar dan kain sutra yang menggantung di panggung utama. Asap tebal berwarna kelabu memenuhi ruangan, menutupi pandangan dan membuat udara terasa bagai semburan lahar.
Ma Huang tidak bergerak sedikit pun sampai derap langkah kaki terakhir kelompok pembunuh bayaran itu runtuh ditelan kegelapan malam. Udara di sekitarnya begitu menyengat, tetapi rasa dingin membeku dari dalam dadanya jauh lebih mengerikan.
Racun Ular Hijau Jiwa Kelam terus mengikis daging di sekitar tulang rusuknya. Setiap kali embusan napas pendek berusaha ditariknya, serpihan paru-parunya seolah disayat sembilan puluh bilah pisau tipis.
Ma Huang merayap perlahan di atas lantai marmer yang kini licin oleh darah tebal keluarganya. Kedua siku tangannya bertumpu pada serpihan ubin pecah, menancap hingga kulit lengannya terkelupas, mengabaikan rasa perih yang menjalar.
Ibu jarinya menekan permukaan marmer hingga retak halus, menyeret tubuhnya yang lumpuh beberapa inci demi beberapa inci. Di sampingnya, wajah sang ibu membeku kaku, tatapan matanya yang hampa masih mengarah ke pintu utama.
Ma Huang menahan geram yang nyaris meledak di balik celah giginya. Tetesan air mata bercampur darah dan jelaga menetes dari dagunya, jatuh tepat di atas pipi pucat ibunya.
Ia tidak boleh mati di sini. Jika ia menjadi abu di tempat ini, tawa puas Jian Yue dan ayahnya akan menggemakan kemenangan abadi atas sisa-sisa kehormatan Keluarga Ma.
Di bawah lipatan baju pengantinnya yang koyak, dada Ma Huang naik-turun secara kaku. Laut Qi di Dantiannya memang telah musnah total, tersisa retakan hitam yang tak lagi menampung energi spiritual biasa.
Namun, di balik kehancuran itu, ada gesekan panas yang sangat asing di dalam sumsum tulangnya. Racun pekat yang disuntikkan Jian Yue tidak sepenuhnya membunuh organ dalamnya.
Cairan hijau itu justru diserap oleh pembuluh darah liar yang selama ini tersembunyi di balik dinding tulang rusuknya. Jalur Darah Pemakan Bencana, warisan kuno Keluarga Ma, kini terbangun karena rangsangan racun mematikan.
Ma Huang memutar tubuhnya ke arah lorong rahasia di balik panggung utama. Lorong bawah tanah itu tertutup oleh reruntuhan patung batu yang roboh terhantam api.
Dengan sisa-sisa tenaga di kedua lengannya, Ma Huang merayap menembus celah-celah pilar yang panas terbakar. Kulit dadanya tergores batu tajam, meninggalkan jejak merah pekat di sepanjang jalan yang dilaluinya.
Setiap inci pergerakan terasa seperti siksaan neraka. Namun, bayangan senyum sinis Jian Yue di balik kain pengantin merah terus menancap kaku di dalam ingatannya, membakar setiap sel sarafnya untuk tetap bertahan hidup.
Lorong sempit di bawah tanah membawanya keluar ke tepi tebing belakang Kediaman Ma. Bau asap kebakaran masih tercium pekat, membumbung tinggi melukai langit malam Kota Yunjiang yang kelam.
Di bawah guyuran angin malam yang menusuk tulang, Ma Huang kehilangan pijakan dan jatuh berguling menuruni lereng tebing berbatuan tajam. Tubuhnya menghantam semak berduri sebelum akhirnya berhenti di dasar jurang.
Tempat itu adalah Lembah Bangkai di kaki Pegunungan Mayat. Bau busuk dedaunan basah dan bangkai menyengat hidungnya, bercampur dengan keharuman racun yang masih mengepul dari lukanya.
Ma Huang bersandar kaku pada dinding gua kecil di dasar jurang. Darah hitam pekat terus menetes dari celah dadanya, meresap ke dalam tanah lembap di bawah kakinya.
Sensasi membakar di dalam tubuhnya mendadak meningkat sepuluh kali lipat. Racun Ular Hijau Jiwa Kelam kini telah merayap sepenuhnya ke dalam sumsum tulang belakangnya.
Ma Huang mencengkeram tanah basah di sampingnya, kuku-kukunya menancap dalam-dalam ke dalam lumpur hitam hingga jemarinya menegang kaku. Gigi-giginya bergemeletuk halus, menahan geram yang nyaris meledak dari tenggorokannya.
Kulit di seluruh tubuhnya mulai memerah menyala, menyerupai besi panas yang baru diangkat dari tungku pembakaran. Urat-urat hitam menonjol tajam di leher dan wajahnya, memancar bagai akar pohon beracun yang merambat cepat.
Proses pembersihan dan rekonstruksi fisik baru telah dimulai secara paksa. Ini bukan lagi kultivasi normal yang menuntut ketenangan pikiran, melainkan pembantaian internal terhadap sel-sel tubuhnya sendiri.
Daging di sekitar luka tikaman Jian Yue meluruh sedikit demi sedikit, menyisakan struktur tulang rusuknya yang berubah warna menjadi hitam pekat bagai jelaga besi.
Racun itu dipaksa masuk ke dalam sumsum tulang oleh darah pemakan bencana. Setiap tetes racun melelehkan kulit lamanya, menggantikannya dengan jaringan sel baru yang jauh lebih padat.
Tahap pertama Pemurnian Tubuh dimulai kembali dari titik nol.
Kulit lamanya yang terbakar terkelupas, jatuh berkeping-keping bagai sisik ular. Di bawahnya, lapisan kulit baru muncul berwarna pucat, namun berketahanan luar biasa.
Ma Huang menggigit bibir bawahnya rapat-rapat hingga cairan amis membasahi lidahnya, menolak untuk kehilangan kesadaran. Jika matanya terpejam di tengah proses ini, jiwanya akan langsung dilahap oleh gelombang energi raksasa yang tak terkendali.
Setelah lapisan kulit, giliran jaringan ototnya yang direkonstruksi secara paksa. Serat-serat otot di lengan, dada, dan kakinya terputus secara bersamaan sebelum merapat kembali dengan kerapatan tiga kali lipat dibanding manusia biasa.
Suara gemeretak halus bergema di dalam gua kecil itu saat tulang-tulangnya retak dan menyambung ulang. Struktur tulangnya menyerap esensi racun hijau, memadat bagai baja murni yang dibentuk dalam tempaan api neraka.
Dua belas meridian utama yang semula tersumbat oleh darah mati kini terbuka lebar secara paksa. Bukan aliran energi Qi jernih yang melintasi pembuluh darah itu, melainkan cairan energi hitam beracun yang memancarkan bau kematian yang pekat.
Ma Huang bernapas memburu. Dadanya naik-turun kaku, memompa energi baru yang bergejolak liar di seluruh penjuru fisiknya.
Laut Qi di Dantiannya memang telah hancur dan tak dapat dipulihkan. Namun, seluruh jaringan tubuh, darah, dan tulangnya kini telah berubah menjadi wadah penampung energi itu sendiri.
Sensasi dingin melingkupi kepalanya saat penataan sumsum tulang selesai. Energi beracun kini menstabilkan aliran darahnya, memberikan kekuatan fisik melampaui batas tingkat Pemurnian Tubuh.
Tiga jam berlalu dalam siksaan yang meremukkan jiwa.
Ketika matahari belum menyingsing dari ufuk timur, Ma Huang perlahan membuka kedua matanya. Lingkaran hitam pekat mengelilingi iris matanya yang kini memancarkan kilatan merah darah yang dingin dan tak bersahabat.
Ia berdiri tegap di atas kedua kakinya. Tidak ada lagi rasa sakit dari luka tikaman belati Jian Yue. Dada kirinya kini dihiasi oleh bekas luka hitam berbentuk pola rantai berduri, tanda abadi dari pengkhianatan malam pernikahan itu.
Ma Huang melangkah keluar dari gua kecil menuju genangan air jernih di antara celah batu tebing. Ia menatap bayangan dirinya di atas permukaan air.
Wajahnya masih sama, namun ketenangan dan kelembutan seorang pemuda jenius dari Keluarga Ma telah musnah tanpa sisa. Yang tersisa hanyalah raut kaku dengan garis rahang yang keras menegang.
Ia mencoba mengepalkan tangan kanannya. Udara di sekitarnya mendadak berderit pelan saat hembusan Qi hitam meletup tipis dari celah jemarinya, melelehkan dedaunan kering yang melayang di dekatnya dalam hitungan detik.
Fisiknya kini telah melampaui puncak Alam Pemurnian Tubuh biasa, langsung melompat menembus Alam Pembukaan Meridian dengan fondasi beracun yang teramat mengerikan.
Sesuatu yang dingin berkilat di balik reruntuhan batu di dasar tebing tak jauh dari posisinya. Ma Huang mendekat dan menyibak semak berduri yang menutupi sebuah celah tersembunyi.
Di sana tergeletak kotak kayu jati berlambang kuno Keluarga Ma. Di dalamnya terbaring pedang tanpa sarung dengan bilah hitam pekat terbuat dari tulang binatang purba.
Ma Huang mengulurkan tangannya, menyentuh gagang Pedang Tulang Hitam tersebut.
Bilah pedang itu langsung merespons aliran Qi beracun dari tangan Ma Huang, memancarkan dengungan halus yang haus akan darah.
Tiba-tiba, suara kepakan sayap burung merpati terdengar dari atas tebing. Sebuah burung pembawa pesan milik Keluarga Jian terbang melintas rendah, membawa gulungan kertas berstempel lilin merah menuju arah Kota Yunjiang.
Ma Huang menengadah kaku. Rahangnya mengatup rapat hingga garis otot di lehernya menegang.
Pusaran Qi hitam meletup kencang dari telapak tangannya, menyambar burung merpati itu di udara hingga hancur menjadi debu darah sebelum sempat menyelesaikan tugasnya.
Garis perang telah ditarik, dan perburuan pertamanya baru saja dimulai.