NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Malam itu Kos Putra Putri Melati terasa lebih meriah dari biasanya.
Budi pulang kerja dengan senyum yang mengembang hingga ke telinga.
Di tangannya terdapat dua kotak martabak manis ukuran besar yang masih hangat.
Aroma cokelat dan keju langsung menyebar memenuhi teras depan kamar Rahman.
"Ayo semuanya kumpul, malam ini saya yang traktir!" teriak Budi dengan nada riang.
Maya dan Rina segera keluar dari kamar mereka dengan wajah sumringah.
Dimas juga ikut bergabung sambil membawa piring-piring kecil dari dapur umum.
Rahman membuka pintu kamarnya dengan wajah pura-pura terganggu.
"Berisik sekali, ada perayaan apa lagi buruh pabrik?" tanyanya sambil duduk di kursi goyang.
"Bonus akhir tahun saya cair hari ini, Pak Bos!"
"Jumlahnya lumayan besar karena pabrik sedang untung banyak berkat kinerja divisi saya," jawab Budi dengan dada membusung bangga.
"Baguslah kalau begitu."
"Berarti uang sewa kamarmu bulan depan aman tanpa tunggakan," balas Rahman dengan komentar khasnya.
Budi tertawa renyah sambil membagikan potongan martabak kepada teman-temannya.
"Bukan cuma aman, Pak."
"Saya berencana pakai uang bonus ini untuk membayar uang muka perumahan subsidi di pinggiran kota."
Semua orang di teras itu langsung menatap Budi dengan tatapan kagum.
Membeli rumah sendiri adalah impian terbesar setiap anak rantau.
"Wah, Mas Budi hebat banget sudah mau punya rumah sendiri!" puji Maya antusias.
"Iya, Mas."
"Nanti kalau rumahnya sudah jadi, kita semua diundang syukuran ya," tambah Dimas ikut senang.
Budi mengangguk penuh semangat.
"Pasti dong, kalian semua adalah keluarga pertama yang akan saya undang."
"Agen propertinya bilang kalau saya transfer uang mukanya besok, kuncinya bisa saya terima bulan depan," jelas Budi dengan mata berbinar.
Rahman yang sedang mengunyah martabak tiba-tiba menghentikan kunyahannya.
Insting bisnisnya menangkap sesuatu yang janggal dari ucapan Budi.
"Kunci diserahkan bulan depan?"
"Perumahan subsidi mana yang proses pembangunannya secepat itu?" tanya Rahman dengan dahi berkerut.
"Itu rumah batalan orang lain, Pak."
"Jadi bangunannya sudah jadi, tinggal balik nama saja kata agennya," jawab Budi yakin.
Rahman mendengus pelan.
"Hati-hati, jangan mudah percaya mulut manis agen."
"Pastikan kau cek lokasi dan legalitasnya sebelum menyerahkan uang hasil keringatmu itu."
"Tenang saja, Pak Rahman."
"Saya sudah cek brosurnya, perusahaannya resmi kok," Budi berusaha meyakinkan bapak kosnya.
Acara makan martabak itu pun berlanjut dengan penuh tawa.
Tidak ada yang menyangka bahwa kebahagiaan malam itu adalah awal dari sebuah mimpi buruk.
Tiga hari kemudian, langit mendung menyelimuti kota sejak sore hari.
Hujan gerimis turun rintik-rintik membasahi halaman Kos Putra Putri Melati.
Brak.
Suara gerbang besi yang didorong dengan kasar mengejutkan Rahman yang sedang membaca koran.
Ia melihat Budi berjalan terhuyung-huyung memasuki halaman.
Pakaian seragam pabriknya basah kuyup dan kotor oleh lumpur.
"Mas Budi? Kenapa hujan-hujanan begini?" sapa Maya yang baru keluar dari kamar mandi.
Budi tidak menjawab sama sekali.
Ia terus berjalan gontai menuju kamarnya dengan pandangan kosong.
Bruk!
Tubuh kekar Budi tiba-tiba ambruk menabrak tiang teras.
Maya langsung berteriak panik.
"Ya ampun, Mas Budi pingsan!"
Rahman segera berlari keluar kamarnya diikuti oleh Dimas dan Rina.
Mereka menghampiri Budi yang tergeletak di lantai teras.
Saat Rahman mendekat, hidungnya langsung mencium bau yang sangat menyengat.
Bau alkohol murahan bercampur dengan aroma asam lambung.
"Anak ini mabuk?!"
"Berani-beraninya dia membawa kebiasaan buruk ini ke halamanku!" bentak Rahman marah.
Dimas dan Rahman segera mengangkat tubuh Budi dan memapahnya masuk ke dalam kamar nomor tujuh.
Mereka membaringkan Budi di atas kasurnya.
Budi perlahan membuka matanya yang memerah dan bengkak.
Air mata langsung mengalir deras dari sudut matanya.
"Habis, Pak..."
"Uang saya habis semua dibawa kabur," isak Budi dengan suara serak yang menyayat hati.
Maya dan Rina menutup mulut mereka karena terkejut.
"Dibawa kabur siapa, Mas?" tanya Dimas pelan.
"Agen perumahan itu... dia penipu."
"Kantornya palsu, tanah yang dia tunjukkan ternyata milik sengketa orang lain."
"Uang tiga puluh juta hasil kerja kerasku selama lima tahun hilang begitu saja," Budi menangis sejadi-jadinya sambil memukul-mukul kasurnya.
Suasana di kamar itu mendadak hening dan kelam.
Tiga puluh juta bukanlah uang yang sedikit bagi seorang buruh pabrik.
Itu adalah seluruh tabungan masa depannya yang lenyap dalam sekejap.
Rahman menatap Budi dengan rahang yang mengeras.
Ia benci melihat pria dewasa menangis, tapi ia lebih benci lagi pada penipu yang memangsa orang kecil.
Ting!
[Peringatan: Kondisi mental penyewa Budi berada di ambang kehancuran.]
[Trauma finansial ini akan membuatnya menjadi pecandu alkohol dan kehilangan pekerjaannya dalam waktu dekat.]
[Misi Utama Darurat: Lacak agen bodong tersebut dan kembalikan uang Budi secara utuh.]
Rahman membaca layar biru itu tanpa berkedip.
Kali ini, ia tidak mempedulikan apa hadiah atau hukumannya.
Darah lintah daratnya benar-benar mendidih melihat anak asuhnya dihancurkan.
"Budi, berhenti menangis seperti bayi!"
"Air matamu tidak akan membuat penipu itu mengembalikan uangmu!" bentak Rahman dengan suara yang sangat keras.
Budi sedikit tersentak mendengar bentakan itu, tangisannya sedikit mereda.
"Berikan ponselmu padaku sekarang."
"Buka riwayat obrolanmu dengan agen keparat itu dan tunjukkan nomor rekeningnya," perintah Rahman sambil menyodorkan tangannya.
Budi dengan tangan gemetar memberikan ponselnya yang layarnya sedikit retak.
"Ponselnya sudah tidak aktif, Pak."
"Saya sudah coba telepon ratusan kali sejak pagi tadi."
"Itu urusanku."
"Kalian bertiga, jaga Budi dan jangan biarkan dia minum alkohol racun itu lagi!"
"Aku akan keluar sebentar mengurus sampah masyarakat ini," ucap Rahman sambil berbalik keluar kamar.
"Bapak mau ke mana hujan-hujan begini?" tanya Maya cemas.
"Mencari keadilan dengan caraku sendiri."
Rahman mengambil payung hitam bututnya dan melangkah menembus hujan gerimis malam itu.
Setengah jam kemudian, Rahman tiba di sebuah warung kopi remang-remang di sudut pasar induk.
Warung itu adalah tempat berkumpulnya para penagih hutang kelas bawah.
Rahman melipat payungnya dan masuk dengan langkah tegap.
Aura Tuan Tanahnya langsung menyapu seluruh ruangan, membuat beberapa preman bertato menoleh segan.
Ia berjalan menuju meja di sudut ruangan tempat seorang pria paruh baya berkepala plontos sedang minum kopi.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...