Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Spora Darah Hitam dan Catur Sang Tabib
Keteraturan yang dibawa Diakon Han Mo mencekik Sektor Ketiga layaknya jerat kawat. Selama dua bulan berturut-turut, pos penimbangan dijaga dengan formasi pengawasan spiritual. Jaringan rahasia Ah San dan para veteran pencari herbal lumpuh total. Jangankan menyelundupkan Teratai Hitam Rawa, menyembunyikan sehelai rumput biasa pun bisa berujung pada pancung.
Bagi Han Mo, Sektor Ketiga adalah deretan angka di atas sempoanya. Angka kematian menurun, angka produksi stabil. Ia sedang membangun pijakan yang sempurna untuk dipromosikan ke Sekte Dalam.
Namun bagi Li Yun, stagnasi ini adalah racun mematikan. Tulang Kayu Besi-nya membutuhkan pasokan esensi spiritual tingkat menengah yang masif untuk disempurnakan. Berdiam diri berarti menunggu kematian karena usia tua di dunia fana. Ia butuh sumber daya Lapis Ketujuh milik Han Mo, tetapi mencurinya dari pria seteliti itu sama saja dengan menaruh kepala di rahang naga.
"Jika kau tidak bisa masuk ke dalam benteng musuh," gumam Li Yun pada suatu malam di kedalaman ruang bawah tanahnya, "maka kau harus membuat musuh yang membukakan gerbangnya untukmu."
Di atas meja batunya, terdapat sebuah cawan berisi cairan kental berwarna keabu-abuan. Ini bukanlah obat, melainkan mahakarya alkimia tergelapnya.
Selama berminggu-minggu, Li Yun membiakkan Spora Kabut Hantu—jamur parasit dari kedalaman rawa—lalu menyiramnya dengan darah babi hutan yang telah dicampur sisa ampas Ginseng Giok Bulan. Hasilnya adalah mikroorganisme mengerikan yang tidak mematikan bagi manusia biasa, tetapi memiliki sifat yang sangat unik: ia kelaparan akan energi spiritual murni.
Ia memanggil Ah San yang datang mengendap-endap melalui terowongan pembuangan.
"San," Li Yun menyodorkan botol porselen kecil berisi cairan abu-abu itu. "Teteskan ini ke dalam sumur air minum di Zona Penambangan Timur dan Selatan besok fajar. Jangan sampai terkena kulitmu."
Ah San menelan ludah, menatap botol itu dengan ngeri. "Tabib Li... apa ini akan membunuh mereka?"
"Tidak. Ini hanya akan membuat mereka sangat lelah dan membatukkan darah hitam," jawab Li Yun datar. "Lakukan dengan bersih. Masa depan kita bergantung pada seberapa kacau sekte ini dalam minggu depan."
Tiga hari kemudian, bencana yang diprediksi Li Yun meledak.
Dimulai dari belasan budak di Zona Timur yang tiba-tiba pingsan saat mengayunkan beliung. Pembuluh darah di leher dan lengan mereka menonjol hitam legam. Mereka batuk berdarah, dan suhu tubuh mereka anjlok. Dalam waktu dua hari, wabah itu menyebar ke ratusan pekerja. Angka produksi Sektor Ketiga terjun bebas hingga lima puluh persen.
Diakon Han Mo murka. Promosinya terancam. Ia segera mengerahkan lima tabib kultivator dari paviliun dalam untuk mengatasi apa yang ia anggap sebagai wabah rawa biasa.
Namun, di sinilah kengerian racun Li Yun bekerja.
Di tengah pelataran paviliun, seorang tabib kultivator Lapis Ketiga mencoba mengobati seorang budak yang sekarat. Ia mengeluarkan Pil Pemurni Darah tingkat satu dan menyalurkan Qi apinya ke dalam dada budak itu untuk mengusir wabah.
Srrrtt!
Tepat saat Qi murni itu memasuki tubuh sang budak, spora bayangan di dalam darahnya bereaksi. Bukannya mati, spora itu berpesta pora memakan Qi sang tabib. Pembuluh darah si budak meledak. Kulitnya robek, memuncratkan darah hitam berbisa tepat ke wajah sang tabib kultivator. Tabib itu menjerit histeris saat darah beracun itu mulai menggerogoti energi di wajahnya sendiri.
Han Mo, yang berdiri di undakan, meremukkan gagang sempoanya hingga hancur. Matanya membelalak tak percaya.
Wabah ini melahap energi spiritual. Semakin tinggi kualitas pil atau Qi yang digunakan untuk menyembuhkannya, semakin cepat wabah itu berkembang biak dan meledakkan inangnya. Ilmu medis sekte yang bergantung pada energi spiritual lumpuh total menghadapi parasit ini.
Kekacauan melanda kamp. Ratusan budak merintih kesakitan di atas lumpur, tak ada yang berani mendekat, apalagi menyalurkan Qi.
Pada saat kritis itulah, sebuah laporan janggal masuk ke meja Han Mo.
"Melapor, Diakon Han!" seorang penjaga berlutut dengan gemetar. "Di tenda medis pinggiran... Tabib Li, budak fana yang lengannya terbakar bulan lalu itu... ia berhasil menstabilkan dua puluh pasien yang terinfeksi!"
Mata Han Mo menyipit tajam. Tanpa membuang waktu, ia melesat ke tenda medis Li Yun, membanting pintu kayunya hingga hancur.
Di dalam, udara dipenuhi asap berbau sangat menyengat yang berasal dari pembakaran kotoran kelelawar dan belerang kasar. Li Yun, dengan wajah cemong oleh jelaga dan pakaian kotor, sedang menempelkan lintah-lintah rawa biasa ke leher seorang pasien. Ia menaburkan bubuk kapur mentah di atas luka pasien, menekan racun hitam itu secara fisik dan brutal.
Ini adalah metode barbar, kotor, dan sama sekali tidak melibatkan sehelai energi spiritual pun.
"Kau!" bentak Han Mo, melangkah maju sambil menahan napas dari bau menjijikkan itu. "Apa yang kau lakukan?! Bagaimana kau bisa menghentikan pembusukan itu?"
Li Yun menjatuhkan diri berlutut seketika, berpura-pura gemetar ketakutan melihat kedatangan Diakon agung.
"Y-Yang Mulia Diakon! Ampuni hamba!" suara Li Yun bergetar hebat. "H-Hamba tidak tahu ilmu gaib sekte! Hamba hanya melihat darah hitam ini sifatnya dingin, jadi hamba menggunakan lintah rawa untuk menyedot darah kotornya, lalu membakar suhu tubuh mereka dengan sup empedu ular tanah dan kapur panas! Hamba hanya menggunakan cara orang kampung, Yang Mulia!"
Han Mo terdiam. Kesadaran Spiritualnya menyapu seluruh ruangan. Persis seperti laporan, tidak ada fluktuasi Qi sedikit pun. Tabib bodoh ini benar-benar hanya menggunakan limbah beracun fana untuk membunuh wabah yang mengakar.
Otak analitis Han Mo segera menarik kesimpulan: wabah parasit ini berevolusi untuk memakan Qi kultivator. Menggunakan kekuatan sihir ibarat menyiram api dengan minyak. Namun, di hadapan metode fana yang murni fisik dan menjijikkan—lintah, kapur, empedu beracun—parasit spiritual itu justru mati kelaparan dan hancur.
Ironi yang mengerikan: nyawa ribuan budak dan karir Han Mo kini bergantung pada tabib fana paling rendah dan kotor di seluruh kamp.
"Berapa lama untuk menyembuhkan mereka semua?" tanya Han Mo dingin.
"M-Menjawab Yang Mulia, sangat lama!" Li Yun bersujud, suaranya dipenuhi keputusasaan. "Hamba harus merebus empedu ular dengan api arang selama sepuluh jam untuk satu panci. Dan hamba butuh ruang yang tertutup rapat, karena asap kapur ini akan menguap jika terkena angin malam di tenda reyot ini. Hamba rasa... butuh sebulan penuh untuk mengobati lima ratus orang."
"Sebulan?!" Han Mo menggertakkan giginya. Jika kuota lumpuh selama sebulan, Sekte Dalam akan mencopot kepalanya. "Aku tidak punya waktu sebulan!"
Han Mo berpikir cepat. Ia butuh tabib fana ini meracik obat secara massal, dan itu membutuhkan suhu yang stabil serta fasilitas alkimia, tapi tanpa menggunakan manipulasi Qi.
"Tinggalkan gubuk kotor ini," perintah Han Mo mutlak. "Kau dan seluruh panci busukmu akan dipindahkan ke Paviliun Dalam, tepat di sayap barat. Di sana ada Ruang Tungku Besi yang terhubung dengan formasi api bumi. Itu akan memangkas waktu rebusanmu menjadi satu jam per panci."
Di balik wajahnya yang tertunduk cemas, jantung Li Yun berdetak dalam ritme kemenangan yang dingin.
Sayap barat Paviliun Dalam. Tempat yang hanya berjarak satu dinding tebal dari Ruang Kultivasi Pribadi milik Diakon Han Mo. Tempat berkumpulnya urat nadi formasi spiritual pengumpul Qi Lapis Ketujuh dan brankas penyimpanan herbal langka sekte.
"B-Baik, Yang Mulia! Hamba yang bodoh ini akan bekerja siang malam untuk Anda!" seru Li Yun, bersujud berulang kali.
Malam itu, di bawah pengawalan ketat penjaga sekte, Li Yun melangkah keluar dari tenda kumuhnya dan memasuki area inti Sektor Ketiga yang tak pernah bisa diinjak oleh budak mana pun. Matanya yang selalu tertunduk sopan menatap lantai pualam dan pilar-pilar berukir dengan keheningan kayu mati.