Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Di dalam mobil yang masih terjebak di tengah kemacetan Jakarta malam, suasana sempat sepi selama beberapa menit. Lampu merah menyala panjang, deru klakson dari kendaraan lain terdengar samar di balik kaca gelap. Dera duduk diam, jari-jarinya sesekali memainkan ujung tas di pangkuannya. Pikirannya masih sempat kembali ke sesi konsultasi tadi, ke pesan ibunya, dan ke rasa lega yang tipis setelah bercerita pada Gio.
Mario yang sejak tadi fokus mengemudi akhirnya memecah keheningan dengan nada santai.
“Kamu sering ke mal?” tanyanya.
Dera menggeleng pelan. “Jarang. Biasanya langsung pulang setelah kerja. Atau makan malam sebentar sama Rere.”
Mario mengangguk. “Malam ini beda sedikit. Jangan terus memikirkan hal-hal berat.”
Percakapan berlanjut ringan. Mario bertanya tentang pekerjaan Dera, tentang rekan kerja yang menyebalkan, tentang makanan kantin yang tidak pernah berubah. Dera menjawab singkat di awal, lalu perlahan lebih panjang. Tanpa ia sadari, ketegangan di bahunya sedikit berkurang.
Di tengah percakapan, Dera tanpa sengaja melontarkan pertanyaan yang membuatnya sendiri menyesal sedetik kemudian.
“Kamu, tidak ada yang menunggu di rumah?”
Mario menoleh sebentar, lalu tersenyum singkat ke arahnya. “Aku belum menikah. Jadi tidak ada yang menungguku, kecuali kedua orang tuaku"
Jantung Dera berdegup kencang. Ia langsung mengalihkan pandangan ke arah jendela, pura-pura memperhatikan deretan kendaraan di samping. Pipinya terasa hangat. Di dalam hati, satu kalimat terucap tanpa bisa dicegah.
"Dia sangat tampan kalau lagi tersenyum"
Dera menggigit bibir dalam diam. Ia tidak terbiasa memikirkan hal seperti itu. Setelah pengkhianatan Galih, ia memasang tembok tinggi terhadap laki-laki. Tapi malam ini, di dalam mobil yang bergerak lambat di tengah macet, tembok itu terasa sedikit retak. Hanya sedikit. Cukup untuk membuatnya gelisah pada dirinya sendiri.
Mario seolah tidak menyadari gejolak di sampingnya. Ia kembali fokus ke jalan, sesekali mengomentari kemacetan yang luar biasa malam itu. “Jakarta emang selalu begini kalau malam minggu. Sabar sedikit lagi kita sampai"
Perjalanan yang seharusnya hanya tiga puluh menit berubah menjadi hampir satu jam. Dera sempat beberapa kali menghela napas, tapi tidak mengeluh. Ia malah memanfaatkan waktu itu untuk menenangkan diri. Setiap kali Mario tersenyum atau tertawa kecil karena sesuatu di radio, dada Dera terasa aneh. Ia segera mengalihkan perhatian ke luar jendela, menghitung lampu jalan, apa saja asal tidak terus memikirkan pria di sampingnya.
Akhirnya, mobil berbelok masuk ke area parkir bawah tanah salah satu mal terbesar di Jakarta. Lampu-lampu terang dan papan petunjuk parkir menyambut mereka. Mario memarkirkan mobil di tempat yang cukup dekat dengan lift, lalu mematikan mesin.
“Ayo turun,” ajaknya sambil membuka pintu.
Dera mengangguk. Ia melepas seatbelt terlebih dahulu, lalu membuka pintu dan keluar dari mobil. Udara parkir bawah tanah terasa lebih panas. Mario sudah berdiri di sisi lain, menungguinya dengan tangan di saku celananya.
Mereka berjalan beriringan menuju lift. Tidak ada yang memegang tangan siapa pun, jarak di antara mereka tetap terjaga, tapi langkah mereka selaras.
Ting
Dera dan Mario masuk kedalam lift.
Di dalam lift yang cukup ramai, Dera berdiri di pojok, sementara Mario berdiri di sampingnya dengan tenang. Beberapa orang sempat melirik, mungkin mengenali wajah Mario, tapi tidak ada yang menyapa.
Ting
Begitu pintu lift terbuka di lantai utama, hiruk-pikuk mal langsung menyambut. Cahaya terang, suara pengumuman, derap langkah pengunjung, dan aroma makanan dari food court bercampur menjadi satu. Dera sedikit terpana. Sudah lama ia tidak berada di tempat seramai ini tanpa tujuan spesifik.
Mario berjalan di depan, sesekali menoleh memastikan Dera mengikuti. “Kita ke Timezone dulu,” katanya.
Dera mengernyit. “Timezone? Arena bermain?”
“Iya. Sekali-sekali main yang ringan. Biar kepala tidak penuh terus.” ucap Mario.
Mereka menyusuri koridor mal yang ramai. Dera berjalan di samping Mario, pandangan sesekali tertuju pada etalase toko, pada keluarga yang berjalan bersama, pada pasangan yang bergandengan tangan. Ada rasa aneh di dadanya, bukan iri, melainkan kesadaran bahwa hidupnya selama ini terlalu dipenuhi luka dan kewaspadaan.
Di depan pintu Timezone yang penuh lampu warna-warni dan suara mesin permainan, Mario berhenti. Ia menoleh ke Dera dengan senyum kecil.
“Siap?”
Dera menghela napas, lalu mengangguk pelan. “Jangan terlalu lama, ya. Aku masih harus pulang.”
Mario terkekeh. “Iya, iya. Hanya sebentar.”
Mereka masuk ke dalam arena bermain yang ramai. Cahaya neon, suara tembakan dari mesin game, tawa anak-anak, dan musik elektronik memenuhi ruang. Dera berdiri di dekat pintu sejenak, sedikit kewalahan, sementara Mario sudah berjalan menuju mesin tukar koin.
Usai mendapatkan kartunya dari mesin tukar, Mario kembali menghampiri Dera yang masih berdiri di dekat pintu masuk Timezone. Lampu-lampu warna-warni dan suara mesin permainan membuatnya agak pusing, tapi ada rasa penasaran yang mulai muncul.
Mario tersenyum lebar sambil mengangkat kartu di tangannya. “Ayo kita main itu,” ajaknya, jari menunjuk ke arah mesin dance yang sedang kosong di pojok arena. Layar besarnya menyala cerah, menampilkan panah-panah berwarna yang bergerak cepat.
Dera langsung menggeleng. “Aku tidak bisa. Yang lain saja,” tolaknya cepat, sudah membayangkan dirinya kaku dan salah langkah di depan banyak orang.
Tapi Mario tidak peduli. Ia meraih tangan Dera dengan gerakan tegas namun tidak kasar, lalu menariknya pelan menuju mesin tersebut. Dera sempat menarik napas kaget, tapi tidak melawan terlalu keras.
“Coba dulu. Kamu pasti bisa,” ujar Mario sambil tersenyum. Ia menggesekkan kartunya ke mesin. Layar langsung menyala lebih terang, dan suara musik upbeat langsung memenuhi telinga mereka.
Panah-panah mulai berjatuhan di layar. Mario langsung naik ke platform dan mulai melangkah mengikuti irama. Ia menoleh ke Dera yang masih ragu di sampingnya. “Naik. Ikuti saja.”
Dera menghela napas, lalu akhirnya naik ke platform di sebelahnya. Awalnya langkahnya kaku dan terlambat. Ia hampir terjatuh sekali, membuat Mario tertawa kecil. Tapi perlahan, ia mulai menangkap iramanya. Kaki bergerak, tangan ikut mengayun, dan tanpa sadar senyum mulai mengembang di wajahnya.
Ketika lagu mencapai bagian cepat, Dera salah langkah lagi, tapi kali ini ia tertawa lepas. Suara tawanya nyaring, bebas, sesuatu yang jarang keluar sejak ia meninggalkan Bandung. Mario ikut tertawa, sesekali sengaja salah langkah agar Dera tidak merasa sendiri.
Di tengah keramaian Timezone, di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, malam ini Dera benar-benar melupakan masalahnya, permasalahannya dengan sang kakak, dan semua rasa sesak di dada. Yang ada hanya musik, panah yang terus jatuh, dan tawa yang tidak lagi ditahan.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa