Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Permintaan Maaf
[Maria, Dokter Sisil ada di Klinik?] Pesan itu dikirimkan oleh Komandan Kaivan pada Maria.
"Eh! Tumben sekali Komandan mengirimkanku pesan?" Tanya Maria sambil menunjukkan pesan yang ia terima dari Komandan Kaivan pada Jopi.
Keduanya lalu menoleh ke arah Dokter Sisil yang sedang memainkan ponselnya.
"Pasti ada sesuatu nih, Mar." Sahut Jopi sambil berbisik.
"Untuk apa Komandan menanyakan Dokter Sisil ke kamu? Kan Komandan bisa kirim pesan sendiri ke Dokter Sisil." Imbuh Jopi yang dijawab anggukan setuju oleh Maria.
"Jadi, aku harus jawab apa ini, Jop?" Tanya Maria kemudian.
"Apa aku tanyakan ke Dokter Sisil dulu, ya?" Tanyanya lagi.
"Tapi, kalau nanti Dokter Sisil bilang, jangan di jawab, bisa-bisa Komandan marah denganmu." Kata Jopi.
"Lalu, aku harus bagaimana?" Tanya Maria.
Belum sampai Maria membalas pesan dari Komandannya, Komandannya itu langsung menelfon ke nomor Maria hingga membuat Maria dan Jopi terkejut. Bahkan, ponsel yang di genggam Maria pun terlepas dari tangannya.
"Ya Tuhan!" Seru Maria sambil buru-buru memungut ponselnya yang masih terus berdering.
"Angkat... Angkat..." Perintah Jopi yang membuat Maria buru-buru menjawab panggilan telfon dari Komandan Kaivan.
"Ya, Ndan." Ujar Maria saat menerima panggilan telfon dari Komandan Kaivan. Mendengar Maria mengucapkan kata 'Ndan', seketika Dokter Sisil langsung menoleh ke arah Maria dan Jopi.
"Kenapa ko lama sekali balas pesan saya?" Tanya Komandan Kaivan.
"Ah itu, Ndan..." Maria menatap ke arah Dokter Sisil yang mengodenya.
"Saya baru kembali dari toilet." Jawab Maria.
"Dokter Sisil ada di Klinik?" Tanya Komandan Kaivan yang membuat Maria dan Jopi kembali menoleh ke arah Dokter Sisil yang menyilangkan kedua tangannya.
"Dokter Sisil...."
"Dokter Sisil sedang mengunjungi pasien di Desa, Ndan." Jawab Maria yang beralasan hingga membuat Dokter Sisil tersenyum sembari mengacungkan kedua jempolnya.
"Ada apa, Ndan?" Tanya Maria kemudian.
"Tidak ada. Yasudah, kabari saya kalau Dokter Sisil sudah kembali." Pinta Komandan Kaivan.
"Siap, Ndan!" Jawab Maria sebelum panggilan telfon itu terputus.
Maria dan Jopi sama-sama menghela nafas panjang ketika panggilan telfon dari Komandan Kaivan itu berakhir. Sementara Dokter Sisil hanya bisa terkekeh geli melihat reaksi kedua rekannya.
"Ada apa lah, Dokter? Kenapa Komandan sampai menelfon saya?" Tanya Maria yang menuntut penjelasan pada Dokter Sisil.
"Saya sedang marah dengan Komandan." Jawab Dokter Sisil dengan santai.
"Gimana bisa?" Tanya Jopi yang makin penasaran. Dua orang itu pun langsung duduk di sebelah dan di hadapan Dokter Sisil.
"Saya minta Komandan mengurangi kebiasaan minum kopi berlebihan. Tapi, sepertinya dia lebih cinta dengan kopi, ketimbang dengan saya." Jawab Dokter Sisil yang membuat Maria dan Jopi saling bertatap-tatapan.
"Memang Komandan minum kopi berlebihan, Dok?" Tanya Maria yang sama sekali tak mengetahui hal itu. Ia hanya tau jika Komandan memang selalu meminum kopi hitam setiap pagi.
"Iya. Komandan Kaivan bisa minum empat sampai lima gelas kopi dalam sehari." Jawab Dokter Sisil yang membuat Maria dan Jopi geleng-geleng kepala.
"Makanya, Komandan Kaivan itu jarang makan, karena dia sudah kenyang minum kopi." Imbuh Sisil lagi.
"Wah, luar biasa sekali Komandan kita itu. Dukun saja tidak minum kopi sebanyak Komandan Kaivan." Komentar Maria.
"Memang ko tau dari mana, Mar, kalau Dukun tidak minum kopi sebanyak komandan Kaivan?" Tanya Jopi.
"Ya mana mampu Dukun beli kopi dan gula banyak-banyak? Harga kopi itu mahal disini, Jopi." Jawab Maria yang membuat Jopi dan Sisil tertawa.
"Saya kira, Komandan cuma minum kopi setiap pagi saja sebagai rutinitas sebelum menghadapi hidup yang tak mudah ini." Kata Jopi.
"Miko sendiri yang bilang, kalau Komandan Kaivan bisa minum empat gelas kopi dari pagi sampai sore hari. Belum lagi kalau di rumah. Setiap malam, dia sudah pasti minum kopi." Kata Sisil.
"Komandan banyak duit ee..." Kekeh Maria.
"Bukan masalah uangnya, tapi kesehatan Komandan yang penting. Usianya sudah tidak lagi muda. Terlalu beresiko untuk kesehatannya." Kata Dokter Sisil.
"Jadi, Dokter mengomel tadi, mengomeli Komandan?" Tanya Jopi yang di jawab anggukan oleh Sisil.
"Sepertinya cuma Dokter Sisil yang berani mengomeli Komandan di sini. Miko saja ta mungkin berani." Kata Maria yang membuat mereka bertiga tertawa.
"Biarkan saja Komandan Kaivan merenungi kesalahannya. Kalau Komandan tanya saya dimana, bilang saja sedang kunjungan ke Desa atau sudah ada di rumah." Pinta Dokter Sisil yang dijawab anggukan mengerti oleh Maria dan Jopi.
Di Markas Kodam, Komandan Kaivan terlihat gelisah sejak sore hari. Sisil benar-benar tidak mau membalas pesannya dan tidak mau mengangkat panggilan telfonnya. Tak hanya itu, ia juga tak mau membalas pesan yang dikirimkan oleh Miko.
"Dokter Sisil balas pesan ko?" Tanya Komandan kaivan yang dijawab gelengan oleh Miko.
"Miko, beri tau saya, bagaimana caranya supaya wanita tidak marah lagi?" Tanya Komandan kaivan pada Miko.
"memang Komandan mau mendengarkan saran saya? Selama ini, Komandan selalu cuek saat beri saran." Sahut Miko.
"Siapa bilang? Saya selalu lakukan waktu Ko kasih saran." Jawab Komandan Kaivan.
"Contohnya, saya ikuti saran ko untuk meminta izin mendekati Dokter Sisil pada Ayahnya. Selain itu, saya juga lakukan saran ko yang menyuruh untuk memasangkan sabuk pengaman supaya lebih romantis." Cerita Komandan Kaivan yang membuat Miko tersenyum senang.
"Nah! Saya punya saran, bagus to?" Komentar Miko dengan jumawa.
"Makanya, saya tanya kamu lagi. Saya butuh saran dari kamu." Jawab Komandan Kaivan.
Miko tampak berpikir beberapa saat, sementara Komandan Kaivan terlihat menunggu dengan harap-harap cemas.
"Ah! Lama sekali ko berpikir, Miko." Omel Komandan Kaivan yang sudah tak sabar.
"Sabar lah, Ndan. Saya sedang berpikir cara yang jitu supaya Dokter Sisil bisa memaafkan Komandan." Jawab Miko.
"Jangan ko suruh saya minta maaf, karena itu sudah tidak lagi mempan." Kata Komandan Kaivan.
Miko pun tersenyum saat melihat toko bunga yang mereka lewati. Ia kemudian menepikan mobilnya di depan toko bunga itu.
"Belikan saja bunga, Ndan. Kita juga bisa hias bagian bagasi mobil. Jadi, saat Dokter Sisil membuka bagasi mobil, ada makanan kesukaan dokter dan juga hiasan." Usul Miko yang tentu melihat hal ini dari film.
"Pandai juga ko." Komentar Komandan Kaivan sambil tersenyum.
Komandan Kaivan pun turun dari mobil dan memesan buket bunga. Kemudian mereka pergi ke minimarket untuk membeli makanan ringan dan coklat kesukaan Sisil.
Setelah itu, Komandan Kaivan dan Miko kembali lagi ke toko bunga untuk mengambil pesanan buket dan menghias bagasi mobil seperti apa yang digambarkan oleh Miko.
"Ah! mantap kan, Ndan?" Tanya Miko setelah melihat hasil dari usulannya.
Komandan Kaivan hanya tersenyum sembari mengacungkan kedua jempolnya. Ia juga terlihat puas dengan hasil dekorasi bagasi mobil sebagai permintaan maaf.
"Semoga Sisil suka dan mau memaafkanku." batin Komandan kaivan sambil memandangi buket bunga cantik yang ia pegang.
😄😄😄😄