Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Yang Yang Bahagia Sesungguh nya
Dua minggu setelah kepergian Bara dari sekolah Alesha, hidup kami kembali normal, bahkan lebih bahagia dari sebelumnya.
Aku tidak pernah mencari tahu ke mana Bara pergi. Revan juga tidak. Kami sepakat untuk membiarkan masa lalu benar-benar pergi dan terkubur bersama surat lusuh yang Bara tinggalkan di pos satpam itu.
Surat itu tidak panjang. Hanya tiga baris tulisan tangan yang sudah hampir luntur karena hujan.
Arini, maaf. Jaga Alesha. Aku titip dia sama kamu dan Revan. Bara.
Revan membacanya sekali, lalu melipatnya kembali. Tanpa kata-kata, dia membawanya ke taman belakang dan membakarnya di atas pot tanah liat. Abunya kami tabur di bawah pohon bunga matahari kesukaanku yang paling besar. Biarlah masa lalu menjadi pupuk. Biarlah rasa sakit yang dulu pernah ada, berubah menjadi sesuatu yang tumbuh dan mekar.
Itulah Revan. Dia tidak pernah banyak bicara tentang Bara. Dia tidak cemburu, tidak marah. Dia hanya berkata, "Dia sudah memilih pergi. Tugas kita adalah memastikan Alesha tidak pernah merasa ditinggalkan."
Dan dia menepati janji itu.
Hari ini adalah hari Minggu. Hari keluarga. Aturan yang Revan buat sejak kami menikah 4 tahun lalu. Tidak ada meeting, tidak ada laporan keuangan, tidak ada klien yang harus ditemui, tidak ada panggilan telepon dari kantor. Hari Minggu adalah milik kami bertiga. Hanya kami.
Pukul 7 pagi, matahari belum terlalu tinggi. Aku sengaja meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan di taman belakang, bukan di ruang makan utama yang dingin dan terlalu formal. Meja kayu putih kecil di tengah hamparan bunga matahari yang sedang mekar sempurna. Aroma roti panggang, telur dadar, dan madu hutan bercampur dengan wangi bunga.
Aku memakai dress santai berwarna kuning lembut, warna yang dulu Bara benci karena katanya membuatku terlihat pucat. Revan justru bilang aku terlihat seperti matahari itu sendiri.
Revan duduk di sebelahku. Dia tidak lagi memakai setelan CEO Argan Group yang kaku dan mahal itu. Hanya kaos putih polos dan celana pendek abu-abu, rambutnya sedikit berantakan karena baru bangun dan belum disisir. Wajahnya tanpa beban. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu ini, aku melihatnya benar-benar rileks.
Di depan kami, Alesha, yang kini sudah berusia 5 tahun setengah, berlarian di taman dengan gaun putihnya yang mengembang. Gaun yang kemarin Revan belikan dari butik di Paris, tapi Alesha bilang, "Kayak putri, Mama!" Rambut kuncir duanya bergoyang-goyang lucu setiap dia melompat. Dia mengejar kupu-kupu kuning yang beterbangan di antara bunga matahari, sambil tertawa cekikikan. Tawa yang lepas, tawa yang tidak dibuat-buat, tawa seorang anak yang merasa dunianya aman.
Di tangannya, dia masih memegang boneka beruang murah yang dulu Bara berikan saat dia baru lahir. Boneka dengan bulu yang sudah sedikit botak di bagian perut karena terlalu sering dipeluk dan dicuci. Boneka yang bertuliskan di punggungnya dengan spidol hitam yang sudah mulai pudar: Untuk Alesha, dari Om Bara.
Entah kenapa, dari sekian banyak boneka mahal dari Paris, boneka beruang raksasa seukuran manusia, boneka kelinci limited edition yang Revan belikan seharga puluhan juta, hanya boneka murah itu yang selalu dia bawa kemana-mana. Tidur dipeluk, ke sekolah dimasukkan ke dalam tas, bahkan saat sarapan pagi ini pun masih digendong.
Aku pernah bertanya pelan, "Sayang, kenapa masih bawa boneka itu? Kan sudah jelek."
Alesha memeluknya erat dan menjawab dengan polos, "Karena Om Bara kasih pas Alesha masih di perut Mama. Om Bara sayang Alesha dulu, kan Ma? Sekarang Om Bara udah gak ada, jadi Alesha yang sayang bonekanya."
Jawaban itu membuat dadaku sesak. Anak sekecil itu mengerti arti kehilangan dan kesetiaan lebih dari orang dewasa.
Revan mendengar itu. Dia tidak merebut boneka itu. Dia hanya mengelus kepala Alesha dan berkata, "Pintar. Kalau kamu sayang, jaga baik-baik."
Itulah yang membuatku semakin cinta pada Revan. Dia tidak pernah menghapus Bara dari hidup Alesha. Dia tidak pernah memaksa Alesha melupakan. Dia hanya hadir, memberikan cinta yang lebih besar, lebih stabil, lebih nyata, sehingga pada akhirnya Alesha sendiri yang akan memilih.
"Mama! Papa Revan! Lihat! Kupu-kupunya banyak! Kuning kayak baju Mama!" teriak Alesha, berlari ke arah kami dengan napas terengah-engah, pipinya merah karena matahari.
Revan langsung berdiri dan menggendongnya, memutarnya tinggi di udara. Gaun putih Alesha mengembang seperti parasut.
"Waaaa! Papa! Tinggi banget!" Tawa Alesha pecah di seluruh taman, membuat beberapa kupu-kupu beterbangan.
Aku tertawa melihat mereka. Pemandangan yang dulu hanya ada dalam mimpiku. Seorang suami yang menggendong anakku dengan penuh cinta, tanpa beban masa lalu, tanpa tatapan menghakimi.
Setelah puas diputar, Alesha duduk di pangkuan Revan. Revan menyuapkan pancake madu buatanku ke mulut Alesha, lalu ke mulutku.
"Enak?" tanyanya padaku, matanya menatapku lekat.
Aku mengangguk, air mata tiba-tiba menggenang tanpa bisa kutahan. "Enak. Karena kamu yang temani makan. Karena kita makan bersama."
Revan mengerti. Dia menghapus air mataku dengan ibu jarinya. "Jangan nangis. Hari ini hari bahagia."
Aku mengangguk. Aku mencoba tersenyum.
Dulu, vonis dokter itu masih terngiang jelas di telingaku. "Maaf Bu Arini, kemungkinan Anda untuk hamil sangat kecil. Hampir mustahil. Anda mengalami kemandulan."
Kalimat itu menghancurkan pernikahan pertamaku. Bara, lelaki yang ku nikahi selama 3 tahun, yang bersumpah di depan penghulu akan menjagaku dalam sakit dan sehat, meninggalkanku tepat di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-3. Dia membawa Luna, wanita yang sedang hamil 5 bulan anaknya, ke dalam rumah kami. Dia melemparkan surat cerai ke wajahku dan berkata, "Maaf, Arini. Aku butuh anak. Kamu tidak bisa memberikannya. Kamu wanita tidak sempurna."
Aku diusir dengan hanya satu koper dan boneka beruang murah itu, satu-satunya hadiah dari Bara untuk calon anak yang dia kira tidak akan pernah ada.
Aku ingat malam-malam aku menangis di kontrakan kecil, memeluk perutku yang kosong, bertanya pada Tuhan, apa salahku? Kenapa aku diciptakan tidak sempurna?
Dan Tuhan menjawab, tidak dengan kata-kata, tapi dengan kehadiran Alesha.
Aku hamil. Keajaiban. Dokter bahkan tidak bisa menjelaskan. Alesha tumbuh di rahim yang katanya mandul itu. Dia adalah bukti bahwa vonis manusia bukanlah vonis Tuhan.
Tapi keajaiban itu datang bersamaan dengan air mata. Aku harus membesarkan Alesha sendirian. Bekerja sebagai admin di sebuah perusahaan kecil, dengan gaji pas-pasan, sambil mengandung dan membesarkan bayi.
Sampai aku bertemu Revan.
Revan Adhitama. CEO Argan Group. Lelaki dingin yang terkenal tidak pernah tersenyum di kantor. Lelaki yang pertama kali kutemui saat aku salah masuk ke ruang meetingnya sambil membawa tumpukan berkas dan perut besar hamil 8 bulan.
Dia tidak menghakimiku. Dia memberiku pekerjaan yang lebih layak. Dia memberiku kursi untuk duduk saat aku kelelahan. Dan perlahan, dia memberiku hatinya.
Dia melamar bukan dengan cincin berlian besar, tapi dengan janji, "Aku tidak bisa menjanjikanmu anak, karena kamu sudah punya Alesha yang sempurna. Tapi aku bisa menjanjikanmu, aku akan menjadi ayah untuk Alesha, dan menjadi rumah untukmu. Selamanya."
Dan dia menepatinya. Selama 4 tahun pernikahan kami, dia tidak pernah sekali pun menyinggung soal mandul. Dia tidak pernah membeda-bedakan Alesha. Di akta kelahiran yang baru, nama ayah Alesha adalah Revan Adhitama. Di sekolah, di undangan, di mana pun, Revan memperkenalkan Alesha sebagai "Putri saya."
"Mama kok nangis?" Alesha tiba-tiba menyentuh pipiku dengan tangan kecilnya yang masih lengket madu.
Aku menggeleng dan memeluknya. "Mama gak nangis sayang. Mama bahagia. Mama bersyukur."
Aku menatap Revan. Lelaki yang datang bukan untuk memberiku anak, tapi memberiku kehidupan yang baru.
"Revan, terima kasih," bisikku.
"Untuk apa?" dia balik berbisik.
"Karena sudah mencintaiku, bahkan saat aku pikir aku tidak layak dicintai."
Revan tersenyum, senyum tulus yang hanya dia tunjukkan untuk kami. "Kamu selalu layak dicintai, Arini. Dari dulu."
Alesha yang berada di tengah kami, memandang Mama dan Papanya bergantian, lalu berkata dengan polos, "Mama Papa jangan berantem ya. Alesha sayang Mama. Alesha sayang Papa Revan. Alesha juga sayang Om Bara, tapi Alesha lebih sayang Papa Revan karena Papa Revan di sini."
Ucapan polos itu adalah penutup yang sempurna. Anak 5 tahun itu mengajarkan kami tentang keikhlasan. Tentang memaafkan tanpa melupakan, dan mencintai tanpa membandingkan.
Aku dan Revan saling tatap dan mengangguk bersamaan.
Kami menatap surat yang sudah tidak ada. Abunya sudah menjadi bagian dari bunga matahari.
Kami menatap boneka beruang murah di tangan Alesha. Kami biarkan dia menyimpannya, sebagai pengingat bahwa dia pernah disayangi, bahkan oleh orang yang salah, dan sekarang dia disayangi dengan benar oleh orang yang tepat.
Matahari semakin tinggi. Angin berhembus lembut, membuat bunga matahari bergoyang.
Aku bukan lagi wanita yang dicerai karena mandul.
Aku adalah Arini. Istri Revan. Mama Alesha. Wanita yang pernah hancur, tapi sekarang utuh kembali. Bukan karena aku disembuhkan, tapi karena aku dicintai dengan utuh.
Dan di taman bunga matahari itu, di bawah langit Minggu yang cerah, dengan tawa Alesha dan genggaman tangan Revan, aku tahu.
Ini adalah akhir yang bahagia yang sesungguhnya. Bukan akhir yang sempurna tanpa luka, tapi akhir yang bahagia karena kami memilih untuk bahagia, bersama.
TAMAT