Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - DEMAM DAN MENGIGAU
Suara dengungan pelan dari mesin sirkulasi udara menjadi satu-satunya nada yang mengisi keheningan bunker bawah tanah itu. Entah sudah berapa jam mereka tertidur, Kael sendiri kehilangan konsep waktu.
Bagi Kael, tidur bersebelahan dengan Valeria adalah ujian mental paling berat yang pernah dia alami. Selama berjam-jam pertama, dia cuma bisa berbaring kaku, berusaha menetralkan detak jantungnya sendiri karena kepala sang ratu bersandar nyaman di dadanya. Namun, rasa lelah yang luar biasa akhirnya menyeret kesadaran Kael ke alam mimpi.
Hingga tiba-tiba, insting Kael yang sudah terlatih untuk selalu waspada merespons sebuah perubahan kecil.
Kael membuka matanya. Gelap temaram. Ada yang salah.
Hawa panas yang menempel di dadanya terasa tidak wajar. Tubuh Valeria yang meringkuk di pelukannya bergetar hebat. Napas wanita itu terdengar sangat pendek, kasar, dan memburu.
"Val?" panggil Kael pelan, suaranya serak khas orang bangun tidur.
Tidak ada jawaban. Getaran di tubuh Valeria semakin kencang, giginya bergemeretak menahan dingin, padahal kulitnya memancarkan suhu yang membakar.
Kael langsung bangkit ke posisi setengah duduk, mengabaikan rasa ngilu di bahu kanannya yang baru saja dijahit beberapa jam lalu. Dia menyentuh kening Valeria dengan punggung tangan kirinya.
"Sial, panas banget," umpat Kael panik. Suhu tubuh Valeria rasanya nyaris menyentuh angka empat puluh derajat.
Kael buru-buru menyalakan lampu tidur di sebelah nakas menjadi sedikit lebih terang. Di bawah cahaya lampu, wajah Valeria terlihat sangat pucat, bibirnya kering dan sedikit membiru, sementara keringat dingin membanjiri dahi dan lehernya. Wanita itu terus menggeliat gelisah sambil merintih pelan.
"Val, bangun. Anda bisa dengar saya?" panggil Kael menepuk pelan pipi Valeria.
Kelopak mata Valeria bergerak-gerak, tapi dia tidak benar-benar bangun. Kesadarannya sudah tenggelam dalam lautan demam.
Otak analitis Kael langsung bekerja. Demam setinggi ini yang muncul secara tiba-tiba pasti disebabkan oleh infeksi. Malam ini mereka terkena serpihan ledakan, berguling di aspal kotor, dan berenang di air laut pelabuhan yang penuh bakteri dan limbah.
Kael menyingkap selimut yang menutupi tubuh Valeria. Mata elangnya memindai dengan cepat dari atas ke bawah. Saat pandangannya turun ke kaki Valeria, Kael mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Di balik ujung celana *training* yang digulung, tepat di betis sebelah kiri Valeria, ada luka goresan yang cukup panjang dan dalam. Luka itu pasti didapat Valeria saat dia terpelanting akibat ledakan mobil SUV di pelabuhan. Karena adrenalin dan fokus untuk bertahan hidup, Valeria sama sekali tidak menyadari luka itu, dan Kael pun kelewatan untuk memeriksanya karena sibuk dengan lukanya sendiri.
Sekarang, luka di betis itu terlihat sangat mengerikan. Pinggirannya membengkak merah pekat, dan area sekitarnya terasa panas saat Kael mendekatkan tangannya. Bakteri dari air laut pelabuhan benar-benar sudah menginfeksi luka terbuka itu dengan cepat.
"Bertahanlah, Val. Saya akan mengurusnya," bisik Kael bergegas turun dari ranjang.
Pria raksasa itu berjalan sedikit tertatih menuju lemari medis. Dia mengambil baskom kecil, mengisinya dengan air bersih dan cairan antiseptik, lalu meraup beberapa botol antibiotik spektrum luas, obat penurun panas berdosis tinggi, kapas, dan perban baru.
Saat Kael kembali ke ranjang, Valeria sedang mengigau. Kepala wanita itu menggeleng ke kiri dan ke kanan dengan gelisah.
"Paman... jangan... kenapa..." rintih Valeria dengan mata terpejam erat. Air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal. Trauma pengkhianatan malam ini rupanya langsung menyerang alam bawah sadarnya saat pertahanan fisiknya runtuh.
Kael merasakan dadanya berdenyut nyeri melihat ratunya yang biasa tak tersentuh kini terlihat begitu rapuh dan hancur.
"Saya di sini, Val. Paman Surya tidak akan bisa menyentuh Anda lagi," ucap Kael menenangkan, duduk di tepi ranjang.
Kael memeras handuk kecil yang sudah direndam air hangat, lalu melipatnya dan meletakkannya dengan lembut di atas dahi Valeria untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya. Setelah itu, Kael beralih ke betis Valeria.
"Ini akan sedikit perih, maafkan saya," guman Kael, meskipun dia tahu Valeria tidak bisa mendengarnya.
Dengan sangat hati-hati, Kael membersihkan luka infeksi itu menggunakan kapas yang sudah dibasahi cairan antiseptik. Bau obat yang menyengat menguar di udara.
"Akh! Sakit!" jerit Valeria tiba-tiba, tubuhnya tersentak keras merespons rasa perih yang membakar betisnya. Tangannya meremas seprai dengan kuat.
Kael menahan kaki Valeria dengan lengan kirinya agar wanita itu tidak menendang tanpa sadar. "Sstt... sebentar lagi selesai, Val. Tahan sedikit."
Setelah memastikan semua kotoran dan nanah tipis dari infeksi itu bersih, Kael mengoleskan salep antibiotik tebal-tebal, lalu membalutnya dengan perban steril. Gerakan tangan Kael sangat luwes dan telaten, berbanding terbalik dengan tangan yang sama yang beberapa jam lalu mematahkan leher orang dengan kejam.
"Dingin... Kael, dingin banget..." igau Valeria lagi, tubuhnya kembali menggigil hebat hingga giginya beradu. Tangan wanita itu meraba-raba udara dengan panik, mencari kehangatan.
Kael segera meletakkan peralatan medisnya ke meja nakas. Dia mengambil dua butir pil penurun panas dan antibiotik, lalu menuangkan air mineral ke dalam gelas.
"Val, buka mulut Anda sedikit. Anda harus minum obat ini," bujuk Kael, menyelipkan satu lengannya di bawah leher Valeria untuk mengangkat kepala wanita itu sedikit.
Valeria tidak merespons, bibirnya terkatup rapat sambil terus merintih kedinginan.
Kael menghela napas. Dia tidak punya pilihan lain. Kael memasukkan dua butir pil itu ke dalam mulutnya sendiri, meminum sedikit air, lalu menundukkan kepalanya. Pria itu menempelkan bibirnya ke bibir Valeria yang kering dan panas.
Dengan sangat lembut, Kael memaksa bibir Valeria terbuka, lalu mendorong pil dan air itu masuk ke dalam mulut Valeria, memastikannya menelan obat tersebut.
Begitu Kael menjauhkan wajahnya, Valeria terbatuk pelan, tapi obatnya berhasil tertelan.
"Kael..." igau Valeria, tangan kecilnya mendadak mencengkeram kerah kemeja Kael yang sudah robek. Cengkeramannya luar biasa kuat untuk ukuran orang yang sedang sakit parah.
Kael menahan napasnya. Wajah mereka sangat dekat.
"Saya di sini, Val," bisik Kael membalas genggaman tangan Valeria, mengusap punggung tangan wanita itu dengan ibu jarinya.
Mata Valeria masih tertutup rapat, tapi air matanya mengalir semakin deras. Racauan delirumnya kini berubah arah, dari ketakutan akan pengkhianatan pamannya, menjadi ketakutan terbesarnya yang paling dalam.
"Jangan mati... Kael, jangan pergi..." isak Valeria putus asa, suaranya pecah dan sangat menyayat hati. "Jangan tinggalin aku... aku sendirian... jangan ke laut..."
Igauan itu menampar Kael dengan sangat keras. Valeria sedang mengulang kembali memori ledakan di pelabuhan tadi, saat dia mengira Kael mati tertelan api. Ratu mafia yang kejam ini ternyata menyimpan ketakutan yang begitu besar akan kehilangannya.
"Saya tidak ke mana-mana, Nyonya," jawab Kael serak, hatinya terasa seperti diremas.
Kael menarik tubuhnya naik kembali ke atas ranjang, merebahkan dirinya di sebelah Valeria. Pria raksasa itu menarik selimut tebal untuk menutupi mereka berdua, lalu merengkuh tubuh Valeria yang masih menggigil kedinginan ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh.
Valeria secara insting langsung menyusupkan wajahnya ke dada Kael, mencari sumber panas. Tangannya melingkar erat di pinggang Kael, seolah takut pria itu akan menghilang kalau dia melepaskan pelukannya sedetik saja.
"Aku nggak mau kehilangan kamu..." bisik Valeria parau, napas panasnya mengenai leher Kael.
"Anda tidak akan pernah kehilangan saya, Val. Itu janji saya pada takdir," balas Kael mencium pelan puncak kepala Valeria.
Sisa malam itu dihabiskan Kael dengan mata terjaga. Dia sama sekali tidak peduli pada rasa ngilu di bahu dan lengannya sendiri. Fokusnya seratus persen hanya untuk Valeria. Setiap kali kompres di dahi Valeria mulai mengering dan hangat, Kael dengan sabar menggantinya dengan yang baru. Setiap kali Valeria menggigil dan merintih, Kael mengeratkan pelukannya, menyalurkan panas tubuhnya sebanyak mungkin.
Di luar bunker sana, dunia mungkin sedang memburu mereka. Paman Surya mungkin sedang tertawa merayakan kemenangannya. Tapi di dalam ruangan sempit ini, melihat sisi paling rapuh dari sang ratu mafia yang menangis dalam pelukannya, Kael bersumpah bahwa dia akan menjadi mimpi buruk paling mengerikan bagi siapa pun yang berani membuat wanita ini meneteskan air mata.
Batas antara atasan dan bawahan itu sudah lenyap tak berbekas. Yang tersisa kini hanyalah seorang pria yang rela membakar dunia demi wanita di lengannya.