NovelToon NovelToon
Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
​Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
​Dan malam itu, doa Arga terkabul.
​Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Begitu pintu utama dari kayu oak itu terbuka, hawa canggung yang sejak tadi mencekik Arga dan Nisa di dalam mobil mendadak sirna. Nisa yang sedari tadi memasang wajah datar dan dingin, tiba-tiba berubah. Matanya yang sembab perlahan berbinar saat melihat tiga sosok yang tengah duduk menanti di ruang keluarga.

"Mami! Papi! Kakek!"

Nisa setengah berlari, meninggalkan Arga yang masih mematung di ambang pintu. Wanita itu langsung menghambur ke pelukan Mami Kintan. Tangis Nisa pecah, tapi kali ini bukan tangis keputusasaan yang sunyi, melainkan tangisan manja seorang anak perempuan yang merindukan ibunya.

"Ya ampun, Sayang... Anak Mami..." Mami Kintan mendekap Nisa erat-erat, ikut meneteskan air mata seraya menciumi puncak kepala menantunya.

Setelah melepaskan pelukan Maminya, Nisa beralih memeluk Papi Tommy, lalu berlutut di samping kursi roda Kakek Hari. Ia menyandarkan kepalanya di pangkuan pria sepuh itu, membiarkan tangan keriput sang Kakek mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang.

"Kakek... Nisa kangen Kakek," rengek Nisa pelan, suaranya sengau dan serak.

Di ambang pintu, Arga berdiri terpaku. Matanya tak berkedip menatap pemandangan di depannya. Dada Arga bergemuruh aneh. Ia melihat Nisa yang tersenyum di sela tangisnya, Nisa yang bermanja-manja, Nisa yang merengek pelan mencari perhatian dari keluarganya.

Itu sifat asli Nisa, batin Arga tersentak.

Ya, Arga baru menyadari hal itu. Nisa pada dasarnya adalah wanita yang hangat, ceria, dan sedikit kekanakan saat sedang merasa aman.

Dan pemandangan itu menampar Arga dengan sangat keras. Entah sejak kapan—entah di bulan ke berapa dalam pernikahan mereka—istrinya berhenti bersikap seperti itu kepadanya.

Kapan terakhir kali Nisa merengek manja padanya? Kapan terakhir kali Nisa menatapnya dengan binar sehangat itu? Arga telah membunuh sisi terang Nisa, menggantinya dengan sosok wanita pendiam yang selalu ketakutan dan berhati-hati.

"Maafkan Papi dan Mami, Nak," ucap Papi Tommy dengan suara bergetar, menunduk menatap Nisa yang masih bersimpuh di dekat Kakek. "Waktu pemakaman kedua orangtuamu, kami benar-benar tidak bisa terbang ke sini."

Nisa mendongak, menghapus air matanya pelan. "Tidak apa-apa, Pi. Nisa mengerti."

"Kabut asap di Kalimantan sedang parah-parahnya minggu lalu. Semua penerbangan dibatalkan," lanjut Papi Tommy dengan raut penuh penyesalan. "Papi mau nekat bawa mobil jalur darat lalu menyeberang pulau, tapi jarak dari lokasi tambang kita ke pelabuhan terlalu jauh. Papi takut terlambat, dan nyatanya kami memang terlambat. Maafkan kami membiarkanmu sendirian melewati semua itu, Nak."

"Nisa sama sekali tidak mempermasalahkan itu, Pi, Mi," jawab Nisa lembut, memaksakan seulas senyum tulus. "Kalian datang menjenguk Nisa sekarang saja sudah membuat Nisa sangat senang."

Mendengar kebesaran hati menantunya, Mami Kintan menghela napas panjang. Wajah wanita paruh baya itu tiba-tiba mengeras. Ia menoleh tajam ke arah Arga yang perlahan melangkah mendekati ruang keluarga.

"Kami memang terjebak kabut asap. Tapi kamu, Arga?!" omel Mami Kintan dengan suara meninggi. Telunjuknya mengarah tepat ke dada putranya. "Istrimu sedang berduka! Mertuamu meninggal! Pantas kamu malah berangkat ke luar kota hari itu?!"

Arga tersentak. "Ke luar kota?"

"Iya! Masa' urusan pekerjaan lebih penting dari keluargamu sendiri?!" bentak sang Mami penuh amarah. "Nisa bilang kamu ada proyek mendadak yang tidak bisa ditinggalkan di luar kota. Apa kamu tidak punya hati nurani menukar saat-saat terakhir mertuamu demi sebuah proyek, hah?!"

Udara di paru-paru Arga seolah ditarik paksa. Pria itu menoleh patah-patah ke arah Nisa.

Nisa membalas tatapannya dengan wajah datar, lalu menunduk menatap lantai.

Hati Arga mencelos hebat. Rasa bersalah seketika menggulung kewarasannya menjadi kepingan-kepingan kecil yang menyakitkan. Nisa berbohong pada keluarganya. Nisa menutupi kebusukannya. Padahal, Nisa tahu persis bahwa hari itu Arga sama sekali tidak sedang mengurus pekerjaan. Nisa tahu bahwa hari itu suaminya sedang tertawa lepas, menghabiskan waktu liburan di Bali bersama Adelia.

Bahkan di saat hatinya hancur lebur berkeping-keping, di saat ia dicampakkan dan diusir secara tak kasatmata, Nisa masih menyempatkan diri mengarang alasan demi melindungi nama baik Arga di depan keluarganya.

"Mami sudah, jangan marahi Mas Arga lagi," sela Nisa pelan, bangkit berdiri dan memegang lengan ibu mertuanya. "Itu sudah berlalu. Yang penting sekarang kita kumpul sama-sama, kan?"

Arga menunduk dalam-dalam. Tenggorokannya terasa seperti disumpal ribuan duri. Ia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun untuk membela diri. Kebesaran hati Nisa justru menjadi cambuk yang melukai egonya hingga berdarah-darah.

Malam semakin larut. Kakek sudah diantar ke kamar tamu untuk beristirahat, disusul oleh Papi dan Mami di kamar sebelah.

Kini, hanya tersisa Arga dan Nisa di dalam kamar utama. Suasana yang tadinya diwarnai kehangatan keluarga, mendadak berubah menjadi canggung dan membekukan saat pintu kamar tertutup. Sandiwara telah usai. Realitas kembali mencekik mereka berdua.

Arga duduk kaku di tepi ranjang king size miliknya. Matanya tak lepas mengikuti setiap pergerakan Nisa. Wanita itu membuka pintu lemari, mengambil sebuah bantal cadangan, dan selembar selimut tebal. Tanpa menoleh sedikit pun pada Arga, Nisa melangkah menuju sofa panjang di sudut kamar dekat jendela.

Ini adalah rutinitas mereka setiap kali orang tua Arga datang menginap. Mereka harus berada di satu kamar untuk menghindari kecurigaan, namun Nisa akan selalu mengalah dan tidur di sofa.

"Nis," panggil Arga pelan, suaranya memecah keheningan kamar yang menyiksa.

Langkah Nisa terhenti. Ia tidak berbalik. "Ya?"

"Jangan tidur di sofa," ucap Arga, bangkit berdiri dari tepi ranjang.

Nisa menoleh sedikit, menatap Arga dengan kening berkerut. "Mami dan Papi bisa curiga kalau aku tidur di kamar lain, Mas. Sabar sedikit. Cuma untuk beberapa malam sampai mereka pulang."

"Bukan itu maksudku." Arga menelan ludah. Ia menatap ranjang luas di belakangnya, lalu menatap tubuh ringkih Nisa. "Tidurlah di sini. Di ranjang."

Nisa mendengus pelan, nyaris seperti tawa sinis yang tertahan. "Tidak usah, Mas. Aku di sofa saja."

"Ranjang ini cukup luas untuk kita berdua, Nis. Sofa itu terlalu sempit, tubuhmu akan sakit besok pagi," bujuk Arga, suaranya memelas. Ia mengambil satu langkah mendekat, namun Nisa dengan sigap mengambil satu langkah mundur.

"Lebih baik badanku yang sakit, daripada aku harus menahan sesak karena berbagi tempat denganmu," jawab Nisa telak, nadanya begitu dingin tanpa emosi. "Tidak perlu pura-pura peduli sekarang. Aku sudah terbiasa tidur di mana saja asal tidak di dekatmu."

Nisa melempar bantalnya ke atas sofa, merebahkan tubuh lelahnya menghadap ke arah jendela. Ia menarik selimut hingga menutupi sebatas leher, menyisakan punggung sempitnya yang benar-benar membelakangi Arga.

"Selamat malam," pungkas Nisa, menutup segala celah komunikasi malam itu.

Arga terdiam kaku di tengah kamar. Tangannya perlahan terkepal di sisi tubuhnya, sementara dadanya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang tak terlihat.

Ia memandangi punggung Nisa yang tak bergerak, dan tiba-tiba saja, potongan memori dari awal pernikahan mereka berputar dengan sangat jelas di kepalanya.

Di bulan pertama pernikahan mereka, Nisa pernah berdiri tepat di posisi Arga berdiri sekarang. Sambil memeluk bantalnya erat-erat, wanita itu menatap Arga yang sedang bersandar di kepala ranjang dengan tatapan memohon.

“Mas… di bawah dingin. Aku boleh tidur di sampingmu ya? Ranjangnya kan besar. Aku janji nggak akan banyak gerak, aku cuma mau di pinggir aja,” rengek Nisa malam itu, suaranya bergetar penuh harap.

Dan Arga mengingat dengan sangat jelas apa balasan yang ia berikan pada Nisa saat itu. Ia menatap istrinya dengan jijik.

“Tidur di bawah, atau keluar dari kamar ini sekarang juga! Jangan harap kamu bisa menyentuh ranjangku!” bentaknya kasar. Nisa menangis tanpa suara, lalu menggelar karpet di lantai dan tidur kedinginan semalaman.

Kini, posisi itu berbalik dengan menyakitkan.

Arga menatap kosong ke arah sofa. Ia baru menyadari sesuatu yang sangat menakutkan. Ia lupa... ia benar-benar lupa sejak kapan wanita itu berhenti merengek kepadanya. Sejak kapan Nisa berhenti mencoba menaiki ranjang itu? Sejak kapan wanita ceria itu patuh, menelan penolakannya, dan tidur di tempat yang diasingkan tanpa setetes pun air mata maupun drama, persis seperti yang dilakukannya malam ini?

Nisa tidak membantah. Nisa tidak lagi memohon. Wanita itu telah menyerah sepenuhnya.

1
Bella. pr1ncess
males thor kalau nisa mau kembali sama arga padahal kan arga udah berzina sama adel kenapa tidak ada tokoh wanita yg trgas disetiap cerita sih. yg ada hanya wanita yg mengalah menye menye bosan
Bella. pr1ncess
tolong jangan k mbalikan nisa sama arga thor kalau nnti nisa balek sama arag aku udah gak minat baca
Bella. pr1ncess
bangkitlah nisa kamu masih muda jemputlah takdirmu sendiri lepaskan bebanmu semoga kamu sudah tidak mau kembali pada laki2 durjana seperti arga
Bella. pr1ncess
heh laki2 bulshit dia yg minta cerai setelah nisa mengabulkan malah marah memang laki2 hanya kamu semoga nisa vertemu laki2 baik setelah berpisah dari arga
Bella. pr1ncess
bagus nisa jadilah wanita yg tegar jangan menye2 raihlah bahagiamu sendiri jangan terus mau diinjak lelaki durjana
Turi77 Turi77
Next selanjutnya thor 🥰
merry
jgn mau rujuk nisa laki murahan kyk segala gk pnts di perjuangkan,,
Adinda
bongkar aja lngsung sama keluarganya arga jangn mau dimanfaatin
Turi77 Turi77
skrng Arga bkn,suami km lg Nisa dri pda menutupi lbh baik jujur apapun kondisi Kakek Arga,
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
Mundri Astuti
ancem aja nis....kamu beberin selingkuhan Arga klo ga ngomong sama keluarganya
ryuka
baguussss.. dijamin seruu..
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
ryuka
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥 semangat nisaa 👍👍👍👍👍
Aidil Kenzie Zie
bagus Nis harus tegas👍🏻👍🏻👍🏻
Adinda
buat keluarga arga tau biar arga dimiskinkan biar belang pelakor ketahuan
Turi77 Turi77
Alhamdulillah akhirnya cerai jga, semoga setelah ini hari mu selalu bahagia lahirdan batin Nisa 🫰🥰....janda rasa perawan mkn kedepan 🥰🥰🥰💪💪💪
MamDeyh
Nahhhhh mantaap ortu sama kakek nya dtg
ryuka
kamu ga akan pernah menang batu kali/Puke//Puke//Puke//Puke//Puke/
Sri Widiyarti
Alhamdulillah ketahuan....
Enz99
Bagus
Heni Fitoria
nah lho ketahuan....
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!