NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Inisial "F"

"Sesi makan malam kita sudah selesai," ujar Ayden santai, seolah tidak pernah terjadi apa-apa beberapa detik lalu. Ia merangkul jemari Aisyah yang terasa dingin kaku. "Mari kita pulang. Udara di atas sini mulai terlalu dingin untukmu."

Aisyah tidak menjawab. Ia hanya pasrah saat Ayden menuntun langkahnya menuju lift khusus yang membawa mereka turun ke area parkir VIP di lantai bawah.

Mobil sedan mewah berwarna hitam mengilap itu membelah jalanan protokol kota yang mulai lengang menjelang tengah malam. Pendar lampu jalanan dan papan reklame memantul bergantian pada kaca depan mobil, menciptakan bayangan garis-garis cahaya yang menari cepat di dalam kabin.

Di dalam kendaraan mahal itu, tidak ada alunan musik yang terputar. Yang ada hanyalah kesunyian pekat yang teramat menekan dada.

Ayden duduk di balik kemudi dengan kedua tangan memegang roda setir tegap. Pandangannya lurus menatap jalanan di depan, rahangnya terkatup rapat, dan raut wajahnya kembali mengeras datar tanpa ekspresi.

Di kursi penumpang di sampingnya, Aisyah memiringkan tubuh membelakangi Ayden, menempelkan keningnya pada kaca jendela mobil yang terasa dingin. Jemari tangan kirinya mengelus perlahan area tulang rusuknya yang masih menyisakan rasa ngilu akibat pelukan posesif Ayden di rooftop tadi.

Aisyah melempar tatapan kosong pada deretan gedung tinggi yang melintas cepat di luar sana. Bayangan ucapan ayahnya sewaktu kecil kembali bergema di kepalanya: 'Suatu hari nanti, kamu harus menjadi wanita kuat yang tidak bisa ditundukkan oleh siapa pun...'

Namun malam ini, Aisyah merasa dirinya begitu rapuh dan tak berdaya.

"Kenapa diam saja dari tadi, Aisyah?" suara Ayden mendadak memecah kesunyian kabin mobil. Intonasinya rendah, datar, dan memancarkan dominasi yang terselubung.

Aisyah tidak memutarkan tubuhnya. Ia tetap menatap kaca jendela yang embunnya mulai merambat. "Aku hanya lelah, Ayden."

"Lelah karena makan malam, atau lelah karena memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya kamu pikirkan?" tanya Ayden lagi, sudut matanya melirik tajam ke arah Aisyah melalui spion tengah.

Aisyah menelan ludah yang terasa mengganjal tebal di tenggorokannya. "Aku hanya memikirkan ucapanmu tadi saat kita berdansa."

"Yang mana?"

"Tentang... aku yang tidak akan pernah bisa lari darimu," bisik Aisyah, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin mobil. "Kenapa kamu mengucapkan kalimat seperti itu, Ayden? Bicaramu terdengar seolah-olah... seolah-olah kamu adalah pemilik yang sedang mengunci barang miliknya di dalam sangkar."

Ayden terkekeh pelan, sebuah bunyi tawa dingin yang membuat bulu kuduk Aisyah berdiri seketika. Pria itu sedikit menambah kecepatan laju mobilnya, membiarkan jarum spedometer bergerak naik.

"Bukankah memang begitu kenyataannya, Istriku?" jawab Ayden tenang namun begitu menghujam batin. "Kamu adalah milikku. Aku yang menyelamatkanmu dari kemiskinan dan kesepian. Aku yang memberimu perlindungan. Jadi wajar jika aku memastikan kamu tetap berada di tempat yang seharusnya."

"Tapi perlindungan tidak harus terasa mencekik, Ayden!" tegas Aisyah, akhirnya memutar tubuhnya dan menatap wajah samping suaminya dari kegelapan dalam mobil. "Pelukanmu tadi... bicaramu... semuanya terasa sangat asing bagiku! Kamu bukan Ayden yang kukenal sewaktu kita pertama kali menikah!"

Ayden memelankan laju kendaraan secara mendadak saat lampu lalu lintas di perempatan jalan berubah menjadi merah. Mobil berhenti mulus tepat di garis henti.

Ayden memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Aisyah. Dalam remang pendar lampu merah dari luar, separuh wajah Ayden tertutup bayangan kelam. Matanya menatap lurus ke dalam mata Aisyah tanpa berkedip sedikit pun.

"Orang-orang berubah sesuai dengan kebutuhan situasi, Aisyah," bisik Ayden dengan intonasi pelan yang amat mematikan. "Aku bersikap hangat padamu karena aku menginginkan kehangatanmu. Tapi jika kamu mulai mencoba melompati batas dan menggali hal-hal yang bisa merusak ketenangan kita... maka kamu akan melihat sisi lain dari perlindungan yang kupunya."

"Sisi lain apa?" desak Aisyah, dadanya berdegup kencang oleh ketakutan yang kian nyata.

Ayden mengulurkan tangan kirinya, membelai garis rahang Aisyah dengan ujung jemarinya yang dingin. Sentuhan itu terasa begitu halus, namun Aisyah bisa merasakan ketegangan otot tangan Ayden yang siap mencengkeram kapan saja jika ia memberontak.

"Sisi di mana kamu akan menyadari," ujar Ayden pelan saat lampu lalu lintas berubah kembali menjadi hijau dan ia menekan pedal gas perlahan, "bahwa melarikan diri dariku adalah hal paling sia-sia yang pernah terpikirkan oleh otakmu."

Aisyah membisu total. Kata-kata Ayden malam itu merobek sisa-sisa harapan dan kepercayaan yang sempat ia bina dengan susah payah.

Perjalanan menuju penthouse berlanjut dalam kesunyian yang kian mencekam. Aisyah merapatkan kedua tangannya di pangkuan, merasakan dingin yang teramat sangat merambat dari ujung jemari kakinya hingga merayap naik menembus tangkai jantungnya.

***

Kegelapan malam di kamar tidur utama penthouse terasa bagaikan air raksa yang dingin dan pekat. Keheningan yang menggantung setelah kepulangan mereka dari restoran rooftop bukannya mereda, melainkan kian menghimpit dada. Di atas tempat tidur berukuran king size, Aisyah berbaring miring menatap samar bayangan tirai tebal yang sedikit tersingkap ditiup angin pendingin ruangan.

Tulang rusuknya masih menyisakan rasa ngilu yang samar—bekas cengkeraman posesif Ayden saat mereka berdansa beberapa jam lalu. Setiap kali Aisyah mencoba memejamkan mata, bayangan sorot mata dingin suaminya di dalam mobil kembali terngiang, membawa bisikan ancaman yang mematikan: 'Melarikan diri dariku adalah hal paling sia-sia yang pernah terpikirkan oleh otakmu.'

Di sampingnya, napas Ayden teratur dan dalam. Pria itu tampak tertidur lelap dengan posisi melentang, separuh selimut menutupi dadanya yang tegap.

Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...

Tepat pukul dua pagi, keheningan pekat itu mendadak terobek oleh getaran dan dering nyaring ponsel di atas nakas kayu mahoni di sisi tempat tidur Ayden. Pendar cahaya biru terang dari layar ponsel langsung menyambar langit-langit kamar yang gelap.

Aisyah tersentak kecil, matanya membelalak seketika. Debaran jantungnya melonjak cepat oleh bunyi nyaring yang memecah malam tersebut.

Secara refleks, Aisyah menoleh ke arah nakas. Layar ponsel yang terus menyala terang itu memantulkan deretan huruf tegas yang membentuk satu inisial kontak penelepon: "F".

Belum sempat Ayden terbangun, sebuah notifikasi pesan singkat menyusul di atas layar menyala tersebut. Aisyah menyipitkan matanya, membaca kalimat mendesak berhuruf kapital yang terpampang jelas di bawah nama kontak "F":

’HENDRA MULAI CURIGA DAN MENGATAKAN SESUATU PADA AISYAH. TAHAP DUA HARUS SEGERA DIEKSEKUSI MALAM INI JUGA. JAWAB TELEPONKU, AYDEN!’

Napas Aisyah seketika berhembus tersendat. Pak Hendra? Tahap dua? jemari tangannya gemetar hebat di bawah lipatan selimut.

Bip.

Sebuah tangan tegap berurat melintas cepat di atas kepala Aisyah. Dengan gerakan kilat yang terlatih, Ayden menyambar ponselnya sebelum dering berikutnya bergema. Pria itu tidak terkejut atau tampak baru terbangun dari tidur nyenyak; gerakannya begitu sigap, seolah-olah seluruh sarafnya memang berjaga sepanjang malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!