Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Vivian
Matahari sore mulai meredup, membiaskan warna jingga temaram di atas meja kayu sebuah kafe terbuka di pinggir taman. Bumi sudah tertidur pulas di dalam garasi stroller setelah lelah bermain.
Keheningan melingkupi meja kecil tempat Radhit dan Vivian duduk berhadapan.
Di antara mereka, aroma kopi hitam yang mengepul menjadi saksi jarak tak kasat mata yang terbentang sangat jauh. Radhit menatap jemari Vivian yang bertaut di atas meja. Ada kerinduan yang begitu membakar di dadanya keinginan mendalam untuk meraih tangan itu, menggenggamnya, dan membawanya pulang.
Namun, cara Vivian menatapnya... penuh dengan ketenangan yang dingin. Tidak ada lagi amarah yang berapi-api, tapi justru itulah yang paling menakutkan bagi Radhit. Ketenangan itu adalah bukti bahwa Vivian telah belajar untuk tidak lagi melibatkan hatinya pada sosok Radhit.
"Terima kasih untuk hari ini, Mas," buka Vivian pelan, memecah keheningan. Suaranya terdengar begitu datar. "Bumi sangat senang."
Radhit menelan ludah dengan susah payah, mengumpulkan sisa keberaniannya.
"Vivian..." panggil Radhit lirih. Matanya menatap Vivian penuh harap. "Rumah lama kita... sudah saya renovasi total. Tidak ada lagi kenangan buruk di sana. Saya juga sudah menyiapkan apartemen terbaik di pusat kota kalau kamu tidak mau ke rumah lama..."
Radhit memajukan tubuhnya, tangannya bergetar menahan gejolak di dada.
"Pulanglah sama saya, Vi... Kita mulai semuanya dari awal. Saya janji, demi nyawa saya... saya tidak akan pernah menyakiti kamu dan Bumi lagi."
Vivian menatap Radhit lurus-lurus. Tidak ada kebencian di matanya, hanya ada rasa kepasrahan yang mendalam. Vivian menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.
"Nggak bisa, Mas," jawab Vivian tenang namun teramat menohok.
JLEB.
Satu kata sederhana itu bagaikan sabetan pisau yang mengiris dada Radhit.
"K-Kenapa, Vi?" bisik Radhit, suaranya pecah menahan sesak. "Saya sudah berubah... Saya rela lepas jabatan, saya alihkan harta buat kalian, saya bahkan hampir mati demi Bumi... Tolong beri saya satu kesempatan lagi, Vivian..."
"Karena kaca yang sudah pecah berhamburan... nggak akan pernah bisa utuh lagi, Mas," potong Vivian lembut, namun setiap kata yang terucap menusuk tepat di ulu hati Radhit.
Vivian memiringkan kepalanya, menatap bekas luka perban di kepala Radhit.
"Aku menghargai pengorbanan Mas Radhit kemarin. Aku bersyukur Mas menyelamatkan Bumi, dan aku sudah memaafkan semua perlakuan Mas di masa lalu... Tapi memaafkan bukan berarti aku harus kembali jadi istri Mas."
Vivian menarik napas dalam-dalam, menegaskan batasan yang telah dirancangnya dengan matang.
"Bumi butuh Ayahnya. Mas Radhit boleh bertemu Bumi kapan saja. Mas boleh ajak dia main, biayai sekolahnya, dan kasih dia kasih sayang seorang Ayah..."
Vivian jeda sejenak, menatap mata Radhit yang mulai berkaca-kaca.
"Tapi antara aku dan Mas Radhit... semuanya sudah selesai. Kita hanya orang tua bagi Bumi. Nggak lebih."
DUAR!
Kehancuran rasa di dada Radhit begitu dahsyat. Harapan yang sempat memercik indah di hatinya kini padam seketika, menyisakan puing-puing kepedihan yang kelam.
Pria yang dulu menganggap Vivian bisa dibeli dengan harta dan dikendalikan dengan kekuasaan... kini harus menelan kenyataan pahit bahwa ia telah kehilangan hati wanita itu selamanya.
"Apakah... karena dr. Julian?" tanya Radhit dengan suara gemetar hebat, menahan rasa cemburu dan tidak terima yang mendidih di tenggorokannya. "Kamu sudah mencintai dia?"
Vivian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Radhit dengan raut wajah yang sulit diartikan, sebelum akhirnya menjawab pelan:
"Dokter Julian ada di sana saat aku tidak punya siapa-siapa, Mas. Dia yang memegang tanganku saat aku kesakitan melahirkan Bumi... Jadi tolong, jangan pernah pertanyakan posisinya di hidupku."
Radhit tertunduk dalam-dalam. Tangannya meremas celananya sendiri di bawah meja hingga matanya meneteskan air mata hangat ke atas pangkuannya.
Ia mematung dalam kekalahan total. Kebenaran itu terlalu menyakitkan untuk diterima, namun ia tahu... ia tidak punya hak sedikit pun untuk protes. Ini adalah buah manis dari benih dosa yang ditanamnya sendiri di masa lalu.
Malam harinya, Radhit kembali ke rumah mewahnya yang sepi dan dingin.
Pria itu melangkah lunglai masuk ke dalam kamar utama. Di atas meja kerja, ia menatap foto Vivian dan Bumi yang diambilnya secara diam-diam tadi siang.
"Saya kalah, Vivian..." bisik Radhit meraung seraya meremas dadanya yang terasa kosong dan mati. "Saya kehilangan kamu..."
Tiba-tiba...
BZZZZ... BZZZZ...
Ponsel di atas mejanya bergetar keras. Sebuah panggilan masuk dari sekretaris pribadinya.
Radhit mengusap air matanya dan mengangkat telepon dengan suara parau. "Ada apa?"
"P-Pak Radhit..." suara sekretarisnya terdengar sangat panik dari ujung telepon. "Ada masalah besar di kantor cabang Jawa Tengah... Seseorang dari masa lalu Ibu Vivian baru saja muncul dan menyerahkan dokumen rahasia!"
Radhit mengerutkan dahi, firasat buruk mendadak menyergap dadanya. "Maksud kamu apa?! Dokumen apa?!"
"Dokumen medis dan hasil tes DNA dua tahun lalu, Pak! Dokumen yang selama ini disembunyikan oleh ibu tiri Anda... Dokumen yang membuktikan penyebab sebenarnya kenapa Ibu Vivian dulu mengalami pendarahan hebat!"
DEG.
Darah di tubuh Radhit seketika membeku!
Bukan hanya masalah penyesalan... ternyata ada konspirasi busuk dan kejahatan terencana di balik malam berdarah dua tahun lalu yang belum pernah diketahuinya!
Napas Radhit tersengal panik, jemarinya cemas meremas ponselnya.
"Katakan sekarang juga! Apa isi dokumen itu?!" bentak Radhit dengan nada yang keras.
"Pak Radhit... malam itu Ibu Vivian tidak mengalami pendarahan alami akibat stres..." bisik sekretarisnya bergetar. "Ibu tiri Anda... sengaja memasukkan racun penggugur kandungan ke dalam minuman Ibu Vivian sebelum Anda pulang ke rumah!"
PYARR!!
Ponsel di genggaman Radhit seketika terlepas dan jatuh membentur lantai marmer hingga pecah!
Mata Radhit membelalak lebar dalam kegelapan ruangan. Rahim Vivian yang robek... anak mereka yang hampir tewas... dan keharusan Vivian melahirkan sendirian... ternyata bukanlah sekadar akibat kemarahannya, melainkan pembunuhan berencana yang didalangi oleh keluarganya sendiri!
Bagaimana reaksi Radhit saat mengetahui rahasia kelam ini? Dan apa yang akan terjadi saat ia meluapkan amarahnya demi membalaskan dendam masa lalu Vivian?
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian