NovelToon NovelToon
Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Identitas Tersembunyi / Beda Usia
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.

Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.

Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.

Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.

Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.

Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.

Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tumbal Proyek Jalur VVIP

Tiga puluh menit berlalu sejak Andrian menyerahkan fotokopian dokumen dan segelas es kopi aren di atas meja Budi. Keringat dingin masih sedikit membekas di pelipisnya setelah ia berlari-lari kecil dari lantai dasar ke lantai lima belas demi memastikan esnya tidak terlalu banyak mencair.

“Pas banget rasanya, Ndri. Lu emang berbakat,” puji Budi sambil menyeruput kopinya dengan wajah puas. “Masa depan lu cerah di sini.”

“Makasih, Mas Budi,” balas Andrian dengan senyum dipaksakan. Dia melangkah menuju kursi kosong di sebelah Rendy, membayangkan punggungnya akhirnya bisa bersandar.

Namun, sebelum Andrian benar-benar mendaratkan tubuhnya di kursi, dering telepon di meja Fajar memecah kesibukan tim operasional.

Fajar yang sedang fokus menatap layar komputernya mengangkat gagang telepon tanpa melihat caller ID. “Tim Operasional, dengan Fajar.”

Hening sejenak. Mata Fajar yang semula menyipit karena fokus tiba-tiba melebar. Punggungnya yang bersandar langsung tegak lurus seolah baru saja disengat listrik.

“B-Bu Maya? Ya, selamat pagi, Bu.” Nada suara Fajar berubah 180 derajat menjadi sangat sopan dan berhati-hati.

Mendengar nama 'Bu Maya' disebut, Budi yang tadinya santai langsung berhenti memutar pulpennya. Beberapa staf lain di kubikel terdekat juga refleks menahan napas. Maya adalah tangan kanan langsung dari Sang Ratu Es. Telepon dari lantai teratas jarang sekali membawa kabar baik untuk staf operasional.

“Anak magang baru? Atas nama Andrian?” Fajar menelan ludah, matanya melirik tajam ke arah Andrian yang masih berdiri mematung di dekat mejanya. “Ya, Bu. Ada di tim saya. Kenapa, Bu? Apakah dia membuat kesalahan di lobi tadi?”

Andrian merasakan darahnya berdesir. Rendy dan Doni secara otomatis menggeser kursi mereka menjauh sekitar lima sentimeter dari Andrian, seolah pemuda itu baru saja terdeteksi membawa virus mematikan.

Di seberang sana, suara Maya terdengar tenang namun mutlak. “Tidak ada kesalahan. Hanya saja, Bu Elena kebetulan meninjau daftar anak magang hari ini dan beliau ingin memastikan bahwa divisi Anda tidak bersantai. Khusus untuk Andrian, Bu Elena berpesan agar dia diberikan beban kerja ekstra. Uji kapasitasnya sampai batas maksimal hari ini juga.”

Fajar berkeringat dingin. CEO secara spesifik menyebut nama anak magang di hari pertamanya? Ini anomali tingkat tinggi. Apakah Andrian adalah kerabat dewan direksi yang sedang dididik keras? Atau justru pemuda ini punya dosa besar yang membuat CEO ingin menyiksanya perlahan?

“B-Baik, Bu Maya. Akan saya pastikan Andrian mendapatkan... pengalaman magang yang tidak terlupakan.”

“Bagus. Laporan progresnya saya tunggu sore ini. Selamat bekerja, Fajar.” Klik.

Fajar meletakkan gagang telepon perlahan. Ruangan itu hening. Fajar menatap Andrian dengan tatapan campuran antara kasihan, horor, dan rasa hormat yang aneh.

“Mas Fajar... ada apa?” tanya Andrian ragu-ragu.

Fajar bangkit berdiri. Dia berjalan ke lemari arsip, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan dua tumpuk map tebal yang penuh dengan debu tipis. Dia meletakkannya di atas meja Andrian dengan bunyi debum yang berat.

“Andrian,” panggil Fajar dengan nada berat. “Saya tidak tahu dosa apa yang kamu perbuat di kehidupan sebelumnya, atau keluarga siapa yang kamu singgung hari ini. Tapi instruksi barusan turun langsung dari lantai teratas.”

Mata Andrian membulat. “Lantai teratas? Maksudnya...”

“Ya. Bu Elena sendiri yang meminta agar kamu diberikan pekerjaan ekstra.” Fajar menepuk tumpukan map itu. “Ini arsip laporan keuangan mentah dari dua tahun lalu yang belum sempat di-digitalisasi. Tugasmu hari ini: pindahkan semuanya ke Excel, buat grafiknya, dan gabungkan dengan tugas rangkuman 300 halaman yang tadi pagi.”

“Mas, ini serius? Hari ini?!” Andrian menatap tumpukan itu dengan ngeri.

“Kalau kamu mau protes, silakan naik ke lantai VIP dan bicara langsung dengan CEO kita,” ucap Fajar final sebelum kembali ke mejanya. “Selamat bekerja, Tumbal.”

Budi hanya bisa memberikan tatapan iba sambil terus menyeruput kopi arennya. Sementara itu, Doni menepuk bahu Andrian dengan dramatis.

“Gue bakal pesenin lu nisan yang bagus, Ndri. Kalau lu gugur hari ini, minimal skripsi lu gue tahlilin,” bisik Doni.

Andrian mengusap wajahnya kasar. “Gue salah apa sih sama bos di sini? Ketemu aja belum pernah!”

Dengan pasrah, Andrian menghidupkan komputernya dan mulai mengetik deretan angka yang seolah menari-nari mengejeknya. Waktu berjalan terasa sangat lambat. Jam makan siang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, membuat seisi ruangan perlahan kosong saat para karyawan turun ke kafetaria.

Rendy dan Doni sempat menawari Andrian untuk ikut, tetapi pemuda itu hanya melambaikan tangan dengan lemas. “Lu berdua pergi aja. Kalau gue ninggalin meja sekarang, ini dokumen baru selesai pas gue punya cucu.”

Tinggallah Andrian sendirian di kubikel operasional. Dia membuka bungkus roti isi yang dia beli di minimarket tadi pagi, menggigitnya tanpa selera. Tangan kirinya memegang roti, sementara tangan kanannya meraih ponsel.

Dia butuh tempat mengeluh, dan satu-satunya orang yang terasa masuk akal saat ini adalah teman chat nya.

> Andrian: Elena, tolong kasih tau gue cara resign yang elegan tapi nggak bikin HRD marah.

> Andrian: Sumpah, gue rasa bos gue punya dendam kesumat. Lu tahu nggak? Gue baru napas di kantor, tiba-tiba turun perintah langsung dari CEO buat ngasih gue kerjaan segunung. CEO! Orang nomor satu di sini! Kenal aja nggak, mukanya aja gue cuma lihat sekilas dari jauh, masa tiba-tiba nargetin anak magang?!

Setelah mengirim pesan itu, Andrian meletakkan ponselnya dan kembali mengetik di keyboard.

Sementara itu, di sebuah restoran eksklusif bernuansa Prancis yang hanya berjarak lima menit dari gedung NSM, Elena sedang menikmati hidangan Escargot dan secangkir teh Chamomile. Duduk di seberangnya adalah Clara, sahabat terdekatnya sejak masa kuliah yang kini mengelola sebuah galeri seni elit.

Clara sedang bercerita tentang kliennya yang menyebalkan ketika dia menyadari Elena sama sekali tidak mendengarkan. Tatapan CEO dingin itu terpaku pada layar ponsel yang diletakkan di samping piring, dan yang paling membuat Clara merinding adalah: Elena sedang tersenyum.

Senyum yang sangat geli.

“El,” tegur Clara sambil mengetuk gelasnya dengan sendok. “Tolong jangan bilang lu lagi baca laporan pemecatan karyawan sambil senyum psikopat gitu.”

Elena mengangkat wajahnya, senyum itu segera dia sembunyikan kembali di balik ekspresi tenangnya. “Bukan. Hanya pesan dari kenalan.”

Clara mencondongkan tubuhnya, matanya menyipit penuh selidik. “Kenalan? Sejak kapan Elena Puspasari punya 'kenalan' yang bisa bikin senyum di tengah jam kerja? Laki-laki?”

“Bukan urusanmu, Clara.” Elena mengambil ponselnya dan mengetikkan balasan dengan santai, mengabaikan tatapan curiga sahabatnya.

> Elena: Mungkin bosmu melihat potensi besar dalam dirimu, Andrian. Pemimpin yang hebat tahu bagaimana menempa berlian dari tekanan yang kuat. Bersyukurlah.

Beberapa detik kemudian, balasan Andrian masuk.

> Andrian: Potensi jadi tumbal proyek, iya! Lu bayangin aja, temen-temen gue pada santai pergi makan siang, gue sendirian di sini makan roti keras sambil input data tahun jebot. Kalau gue ketemu bos gue itu di jalan, gue... ah sudahlah, nggak berani juga gue.

Elena hampir tertawa membacanya. Jemarinya kembali menari di atas layar.

> Elena: Semangat. Siapa tahu kalau kamu bekerja keras, Bu CEO akan memberikan penghargaan khusus untukmu.

> Andrian: Penghargaan apaan? Dikasih kerjaan tambahan iya. Udah ah, gue mau lanjut ngetik sebelum gue dipecat di hari pertama. Makasih ya udah mau dengerin keluhan gue, Len. Lu emang paling pengertian, nggak kayak bos gue.

Elena menutup ponselnya dan meletakkannya kembali di meja. Wajahnya terlihat jauh lebih rileks dan cerah dibandingkan saat dia keluar dari ruang rapat tadi pagi.

Clara yang sedari tadi mengamati, menyandarkan punggungnya sambil melipat tangan. “Gue nggak tahu siapa cowok malang di seberang sana. Tapi melihat wajah lu yang kayak habis menang tender triliunan ini... gue doakan cowok itu panjang umur.”

“Dia sangat menghibur, Ra,” jawab Elena santai sambil memotong daging steak-nya. “Sangat polos, dan tidak tahu apa-apa.”

Di sisa hari itu, Andrian benar-benar bekerja seperti mesin. Jari-jarinya kaku, matanya panas. Menjelang pukul lima sore, dia berhasil menyelesaikan instruksi Fajar yang mustahil itu. Saat dia menyerahkan dokumen tersebut ke meja Fajar, supervisor itu menatap Andrian dengan rasa takjub yang disembunyikan.

“Sudah semua?” tanya Fajar sambil membolak-balik halamannya.

“Sudah, Mas. Grafik, rangkuman, dan anomali datanya sudah saya tandai dengan sticky notes merah,” jawab Andrian dengan suara serak.

Tepat saat Fajar hendak merespons, suara langkah sepatu wanita terdengar memasuki kubikel operasional. Aroma parfum mahal yang elegan seketika menguasai udara. Maya, sang sekretaris utama, berdiri di sana dengan tablet di tangannya.

“Fajar. Bagaimana progres anak magang yang diminta Bu Elena?” tanya Maya tanpa basa-basi, matanya langsung tertuju pada pemuda berantakan yang berdiri di depan meja Fajar.

Fajar segera berdiri. “Luar biasa, Bu Maya. Andrian berhasil menyelesaikan seluruh input data tahun lalu dan merangkum 300 halaman laporan kuartal ini sebelum jam pulang.”

Maya mengangkat alisnya sedikit, menatap Andrian dari atas ke bawah. Kemeja pemuda itu kusut, rambutnya sedikit berantakan, dan kantung matanya terlihat jelas. Namun, ada kepuasan tersendiri dari sorot matanya karena berhasil membuktikan diri.

“Andrian?” tanya Maya, memastikan wajah pemuda yang entah kenapa bisa menarik perhatian bosnya itu.

“S-Saya, Bu,” jawab Andrian gugup.

Maya mengangguk pelan, mencatat sesuatu di tabletnya. “Kerja bagus. Bu Elena menghargai efisiensi. Pastikan Anda mempertahankan kinerja ini untuk hari-hari berikutnya.”

“B-Baik, Bu. Terima kasih,” ucap Andrian sambil membungkuk sedikit.

Maya berbalik dan pergi. Di dalam lift menuju ke lantai atas, Maya masih tidak habis pikir. Kenapa Elena repot-repot menyiksa—lalu mengawasi—seorang anak magang biasa? Apa yang tidak dia ketahui tentang Andrian?

Di lantai operasional, Andrian akhirnya bisa merosot ke kursinya dengan helaan napas terpanjang dalam hidupnya. Hari pertama selesai. Dia berhasil selamat dari kandang singa, dan anehnya, dia merasa harus berterima kasih pada Elena di seberang layar obrolannya yang sudah menjadi pendengar yang baik.

Andrian tidak tahu, bahwa hari-harinya ke depan di NSM Company akan dipenuhi dengan lebih banyak "kejutan" dari Sang Ratu Es.

Bersambung...

1
sphinxeditz77
Terima kasih buat kalian yang sudah mampir dan baca novel ini! 🥹❤️

Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥

Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆

Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥

Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!