Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa di Bawah Langit Jeddah
Malam itu, udara di Jeddah terasa lebih dingin dari biasanya. Angin gurun yang biasanya kering dan panas, kali ini membawa hawa lembap dari Laut Merah, menyelinap masuk melalui celah ventilasi kecil di kamar Ratna. Jam dinding di dinding luar menunjukkan pukul 03.00 dini hari waktu setempat. Bagi kebanyakan orang, ini adalah waktu untuk tidur nyenyak. Namun bagi Ratna, ini adalah waktu sakralnya. Waktu di mana dunia sedang tertidur, dan hanya ia serta Tuhannya yang terjaga.
Ratna bangun dari kasur tipisnya dengan gerakan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Tubuhnya masih pegal sisa pekerjaan seharian kemarin—mengepel lantai marmer seluas lapangan bola, mencuci puluhan potong pakaian sutra dengan tangan, dan melayani tamu-tamu Nyonya Amira yang datang silih berganti. Namun, rasa lelah fisik itu seolah menguap begitu ia menyentuh sajadah usangnya yang sudah beberapa kali ditambal.
Ia berwudhu di wastafel kecil di sudut kamar. Air dingin membasuh wajahnya, menyegarkan pikiran yang mulai kabur karena kurang tidur. Ia mengenakan mukena sederhana berwarna putih polos, lalu membentangkan sajadahnya di atas lantai keramik yang dingin. Di hadapan sajadah, ia meletakkan ponselnya yang layarnya retak, menampilkan foto Lily dan Nenek Surti sebagai pengingat visual dari doanya.
Ratna mengangkat kedua tangannya, telapak tangan terbuka menghadap langit-langit kamar yang gelap. Napasnya teratur, namun dadanya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena intensitas harapannya.
"Ya Allah..." bisiknya, suaranya parau dan bergetar. "Di keheningan malam ini, hamba-Mu yang hina ini datang bersimpuh. Hamba tidak meminta kekayaan, Ya Rabb. Hamba tidak meminta kemewahan duniawi yang fana. Hamba hanya meminta satu hal: kekuatan."
Air mata mulai menetes, jatuh membasahi sajadah.
"Kuatkanlah kaki hamba ini untuk terus berdiri meski lelah mendera. Kuatkanlah punggung hamba ini untuk tetap tegak meski beban penghinaan sering menimpa. Dan yang paling penting, Ya Allah... kuatkanlah hati hamba. Hati seorang ibu yang rindu pada anaknya hingga ke tulang sumsum."
Ratna terisak pelan. Ia membayangkan wajah Lily. Wajah gadis itu yang kini mungkin sedang tidur pulas di kamar sempit rumah Nenek, bermimpi tentang masa depan cerah.
"Ya Allah, lindungilah Lily, anak hamba. Dia masih kecil, Ya Rabb. Dia belum tahu betapa kerasnya dunia ini. Jagalah hatinya dari kebencian terhadap ayahnya yang telah meninggalkan kami. Jangan biarkan dendam menggerogoti jiwanya yang murni. Jadikanlah dia anak yang sholehah, cerdas, dan berbakti. Berikanlah dia teman-teman yang baik, guru-guru yang sabar, dan lingkungan yang mendukung pertumbuhannya."
Ratna mengusap air matanya dengan ujung mukena. Ia melanjutkan doanya, kali ini dengan nada yang lebih mendesak.
"Dan Ya Allah... ringankanlah cobaan hamba selama dua tahun ini. Dua tahun terasa sangat panjang, Ya Rabb. Setiap hari adalah perjuangan. Setiap jam adalah ujian kesabaran. Jika memang ini adalah jalan terbaik untuk masa depan Lily, maka mudahkanlah jalannya. Jangan biarkan hamba jatuh dalam keputusasaan. Jangan biarkan hamba menyerah pada perlakuan majikan yang kadang melampaui batas kemanusiaan."
Ia terdiam sejenak, menghela napas panjang. Dalam keheningan itu, ia merasakan kehadiran Tuhan yang dekat, lebih dekat daripada napasnya sendiri. Perasaan tenang yang aneh merambat di seluruh tubuhnya, menggantikan rasa sakit di punggungnya.
"Tiga belas bulan lagi, Ya Allah," bisik Ratna. "Hitunglah setiap detik yang tersisa sebagai investasi cinta hamba untuk anak hamba. Beri hamba kesehatan agar hamba bisa pulang dengan utuh. Bukan hanya fisik, tapi juga mental. Agar saat hamba memeluk Lily nanti, hamba bisa tersenyum lebar, bukan menangis karena trauma."
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya. Ratna kaget, segera menutup doa dan bangkit berdiri. Siapa yang mengetuk di jam segini?
Dengan hati-hati, ia membuka pintu sedikit. Di luar, berdiri Fatimah, rekan sesama TKW dari rumah sebelah. Wajah Fatimah tampak cemas, matanya bengkak bekas menangis.
"Fat? Kenapa?" tanya Ratna pelan, menarik Fatimah masuk ke dalam kamarnya agar tidak terdengar oleh penjaga keamanan atau majikan.
Fatimah langsung duduk di lantai, memeluk lututnya. "Aku nggak kuat, Rat. Tadi malam, Tuan Ahmad... dia marah-marah nggak jelas. Dia bilang masakanku asin, padahal aku udah takar pakai sendok ukur. Dia lempar piring ke arahku. Pecah semua. Aku takut, Rat. Aku takut besok dia makin kasar. Aku mau pulang aja. Aku mau batalin kontrak."
Ratna duduk di samping Fatimah, memeluk bahu wanita itu erat-erat. Ia memahami betul rasa takut itu. Ia pernah merasakannya di bulan-bulan pertama kedatangannya.
"Dengar, Fat," kata Ratna lembut namun tegas. "Aku tahu kamu takut. Aku juga takut. Setiap hari kita hidup dalam ketakutan. Tapi kalau kita pulang sekarang, apa yang kita dapat? Nol. Malah mungkin utang biaya agen. Kita pulang dengan kepala tertunduk, gagal, dan tangan kosong."
"Tapi aku menderita, Rat!" isak Fatimah.
"Aku juga menderita, Fat," akui Ratna jujur. "Tapi lihat ini." Ratna menunjuk foto Lily di ponselnya. "Ini alasan aku bertahan. Anakku. Masa depannya. Kalau aku pulang sekarang, siapa yang bayar sekolahnya? Siapa yang beli buku-bukunya? Penderitaan kita sekarang adalah tiket kebahagiaan mereka nanti."
Fatimah menatap foto Lily, lalu menatap Ratna. "Kamu kok bisa sekuat itu, Rat? Kamu nggak pernah mengeluh di depan kami."
Ratna tersenyum tipis. "Aku mengeluh, Fat. Tapi aku mengeluh pada-Nya, bukan pada manusia. Saat aku merasa hancur, aku berdoa. Aku minta sama Allah buat dikuatin. Dan percayalah, setelah sholat tahajud tadi, hatiku jadi ringan. Rasanya seperti ada tangan vô hình yang menopang pundakku. Aku jadi ingat, aku nggak sendirian. Allah lihat perjuangan kita."
Fatimah mengusap air matanya. "Doa... ya, mungkin aku lupa berdoa. Aku terlalu sibuk marah sama keadaan."
"Mari kita berdoa bersama," ajak Ratna. Ia mengambil sajadahnya lagi, membentangkannya untuk Fatimah. "Angkat tanganmu, Fat. Mintalah sama Allah. Minta kekuatan. Minta perlindungan. Karena hanya Dia yang bisa mengubah hati majikan kita, atau setidaknya, memberi kita ketenangan di tengah badai."
Fatimah mengangguk ragu-ragu, lalu mengikuti gerakan Ratna. Keduanya duduk bersimpuh, mengangkat tangan ke langit-langit kamar yang rendah.
"Ya Allah..." Ratna memulai, suaranya lirih namun penuh khidmat. "Hamba-Mu ini bernama Fatimah. Dia sedang lelah, Ya Rabb. Dia sedang takut. Berikanlah dia ketenangan. Lindungilah dia dari kejahatan tuan rumahnya. Mudahkanlah urusannya. Dan satukanlah hati kami berdua dalam kesabaran."
Fatimah ikut berdoa, suaranya bergetar. "Ya Allah, tolong aku. Aku nggak kuat sendiri. Beri aku tanda bahwa Engkau masih sayang padaku."
Setelah beberapa menit berdiam dalam doa, suasana di kamar kecil itu berubah. Ketegangan di bahu Fatimah tampak mengendur. Napasnya menjadi lebih teratur. Ada cahaya harapan yang kembali menyala di matanya, meski redup.
"Terima kasih, Rat," ucap Fatimah pelan setelah menurunkan tangannya. "Rasanya... lebih lega. Seperti ada beban yang diangkat."
"Itulah kekuatan doa, Fat," kata Ratna sambil tersenyum. "Kita lemah, tapi Allah Maha Kuat. Selama kita bersandar pada-Nya, kita nggak akan pernah benar-benar jatuh."
Fatimah berdiri, mencium tangan Ratna sebagai tanda terima kasih. "Aku akan coba bertahan. Demi anakku juga. Dia baru kelas 5 SD. Aku janji akan kirim uang bulan depan lebih banyak."
"Semangat, Fat. Kita berjuang bareng-bareng. Ingat, tinggal tiga belas bulan lagi buat aku. Dan buat kamu? Berapa lama lagi kontrakmu?"
"Masih delapan belas bulan," jawab Fatimah.
"Kita bisa lewatini. Pelan-pelan. Satu hari demi satu hari. Dan setiap kali kamu merasa mau menyerah, ingatlah wajah anak-anak kita. Senyum mereka adalah obat paling manjur."
Fatimah mengangguk, lalu keluar dari kamar Ratna dengan langkah yang lebih ringan daripada saat ia masuk.
Ratna menutup pintu, lalu kembali ke sajadahnya. Ia belum selesai berdoa. Ia memiliki satu permintaan terakhir, permintaan yang paling pribadi dan mendalam.
"Ya Allah," bisiknya lagi, menatap foto Lily. "Percepatlah waktu. Buatlah dua tahun ini terasa seperti dua detik. Agar hamba bisa segera pulang. Agar hamba bisa memeluk Lily, mencium keningnya, dan mengatakan langsung padanya bahwa Mama berhasil. Bahwa kita menang."
Ia sujud, membenamkan dahinya di sajadah. Di posisi itu, dalam kerendahan hati yang paling dalam, Ratna menemukan kekuatannya yang sejati. Bukan dari otot-ototnya yang lelah, melainkan dari iman yang tak tergoyahkan.
Di luar, fajar mulai merekah di ufuk timur Jeddah. Cahaya oranye perlahan menggantikan kegelapan malam. Ratna bangkit dari sujudnya, wajahnya basah oleh air mata, namun matanya bersinar terang. Ia siap menghadapi hari baru. Siap menghadapi Nyonya Amira. Siap menghadapi pekerjaan berat. Karena ia tahu, setiap tetes keringatnya adalah batu bata yang membangun istana masa depan untuk putrinya. Dan doanya? Doanya adalah sayap yang akan membawanya pulang, lebih cepat dari yang ia bayangkan.