NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Tembok Api di Mulut Muara

Panah suar merah yang meledak di langit muara memancarkan cahaya silau yang memantul di atas permukaan air yang bergolak. Sebelum gema ledakan di udara reda, suara desingan anak panah baja menyambar lurus menembus kabut tebal. Anak panah berukuran besar itu mengincar bagian dada Ma Huang yang berdiri kaku di atas haluan sampan.

Ma Huang menggeser badannya setengah jengkal ke kiri. Pedang Tulang Hitam di tangan kirinya diayunkan mendatar, menghantam batang anak panah baja itu tepat di bagian lehernya. Benturan logam bergema nyaring, memercikkan bunga api yang menyambar ujung kain jubah birunya. Rasa sakit membakar dari luka panah di bahu kanannya menjalar kencang hingga ke tulang rusuk, memicu muntahan darah hitam kental dari sudut bibirnya.

Anak panah yang terlepas itu menghantam papan kayu haluan sampan, menembus kayu tebal dan memicu percikan api dari bumbung minyak tanah yang terikat di bawahnya. Lidah api merah langsung membumbung tinggi, membakar ujung galah bambu milik Lu Gang.

"Tuan Muda!" teriak Lu Gang seraya menyiramkan air sungai menggunakan gayung tembaga untuk memadamkan kobaran api di haluan.

Ma Huang tidak memalingkan pandangannya sedikit pun dari kabut tebal di depan mereka. Dua perahu perang berukuran sedang milik Sekte Pedang Suci muncul secara mendadak dari balik kegelapan, memotong arus muara dari sisi kiri dan kanan untuk menjepit posisi sampan kecil itu.

Geladak kayu kedua perahu perang itu dipenuhi oleh puluhan prajurit berlapis zirah besi yang memegang tombak panjang dan busur silang raksasa. Di atas geladak perahu perang sebelah kanan, Jian Yue berdiri kaku dengan gaun merah bersulam emasnya yang terikat rapi di bagian pinggang. Tangannya memegang busur kayu naga dengan anak panah kedua yang sudah terkunci lurus.

"Lempar jangkar kait! Kunci perahu mereka!" perintah seorang komandan prajurit dari atas geladak perahu perang sebelah kiri.

Empat pasang jangkar besi bergerigi dilemparkan bersamaan dari atas geladak perahu musuh. Ujung-ujung kait besi yang tajam menancap kencang di pinggiran kayu sampan Ma Huang. Tali-tali tambang tebal ditarik kencang oleh sepuluh prajurit musuh, menyeret sampan kecil itu mendekat ke dinding perahu perang yang tinggi.

Sampan kayu itu miring berbahaya, air sungai yang dingin mulai meluap masuk melewati bagian pinggiran kayu. Master Han berpegangan erat pada tiang dudukan dengan wajah pucat pasi, sementara Lu Gang berusaha memotong salah satu tali tambang menggunakan pisau pemotong dagingnya.

"Jangan potong talinya, Lu Gang!" pangkas Ma Huang dingin.

Ia menjejakkan tumit kencang ke atas papan kayu sampan yang miring. Menerobos air yang memercik deras, tubuh Ma Huang melesat menaik menembus udara malam, melompati celah air setinggi satu meter yang memisahkan sampan dengan dinding perahu perang sebelah kiri.

Ma Huang mendarat telungkup di atas pagar kayu perahu perang musuh. Dua prajurit pemegang tali jangkar terbelalak kaku melihat sosok berwajah pucat dengan urat leher kehitaman mendadak muncul di depan mata mereka.

Sebelum kedua prajurit itu sempat mencabut pisau di pinggang, Pedang Tulang Hitam di tangan kiri Ma Huang sudah meluncur melintang. Bilah pedang hitam merobek dua tenggorokan prajurit itu secara bersamaan. Darah segar menyembur deras, menyiram kayu geladak yang licin oleh uap air malam.

Ma Huang mendarat mulus di atas lantai kayu geladak. Ia memutar badannya seratus delapan puluh derajat, menghantamkan tumit kirinya ke dada prajurit ketiga yang hendak melayangkan tombak panjang. Hantaman keras itu mematahkan tulang dada prajurit tersebut, melempar tubuhnya jatuh terhempas ke dalam air sungai yang dingin.

Jeritan panik bergema di atas geladak perahu perang pertama. Lima prajurit pemanah memutar busur silang mereka, mencoba mengarahkan anak panah ke posisi Ma Huang dari jarak dekat.

Ma Huang meluncur rendah di atas lantai kayu yang licin. Tangannya menyambar tubuh prajurit ketiga yang tewas sebagai perisai manusia. Belasan anak panah baja menancap kencang di zirah besi jasad prajurit itu dengan suara desingan menakutkan.

Memanfaatkan celah waktu pengisian kembali panah musuh, Ma Huang melempar jasad tersebut ke arah dua pemanah terdepan. Tubuh mereka roboh bersamaan menimpa tumpukan tali tambang. Ma Huang melompat maju, membenamkan Pedang Tulang Hitam lurus menembus leher pemanah ketiga hingga ujung pedangnya menancap di papan kayu geladak.

Dari atas perahu perang sebelah kanan, Jian Yue melancarkan anak panah keduanya. Anak panah berujung kait besi itu membelah malam, mengincar punggung Ma Huang yang sedang mencabut pedangnya dari lantai kayu.

Ma Huang merasakan desingan angin tajam dari balik bahunya. Tanpa membalikkan badan, ia memutar posisi Pedang Tulang Hitam di samping pinggangnya. Batang anak panah Jian Yue menghantam bilah pedang hitam Ma Huang, memercikkan bunga api yang membakar ujung lengan baju Ma Huang.

Daya dorong panah Jian Yue membuat luka di bahu kanan Ma Huang kembali terobek kencang. Cairan darah hitam kental menyembur keluar dari celah perban bakarannya, membasahi seluruh bagian samping jubah birunya. Dantiannya bergejolak hebat, memompa hawa racun Ular Hijau secara ganas ke seluruh jaringan ototnya.

Jian Yue melompat turun dari geladak perahu perang kanan, melintasi celah air dengan gerakan sehalus burung walet. Gaun merahnya meliuk di udara, sementara kipas besi bertatahkan mata pisau tipis di tangan kanannya meluncur mengincar leher Ma Huang.

Ma Huang menangkis sabetan kipas besi itu menggunakan bagian samping Pedang Tulang Hitam. Dentingan nyaring logam beradu memecahkan keheningan malam di atas muara. Hawa dingin dari racun Ular Hijau bergesekan keras dengan energi murni dari kipas besi Jian Yue, memicu percikan gelombang tekanan yang membendung uap air di sekitar geladak.

"Kau melangkah terlalu jauh, Ma Huang!" bentak Jian Yue dengan suara melengking tajam. Matanya yang jernih memancarkan kebencian mendalam saat melihat kotak kayu berukir naga yang menyembul dari balik jubah Ma Huang.

Jian Yue memutar kipas besinya dengan kecepatan tinggi, mengarahkan sembilan tusukan mata pisau tipis ke arah sembilan titik meridian di dada Ma Huang. Gerakannya presisi dan sangat mematikan, mengunci setiap sudut pertahanan Ma Huang.

Ma Huang tidak mencoba menghindar. Menerobos jaring serangan kipas besi itu, ia membiarkan dua mata pisau tipis Jian Yue menancap dan merobek daging dada kirinya. Pada saat bersamaan, Ma Huang memajukan langkah kakinya kencang, menghantamkan telapak tangan kirinya yang terbungkus lapisan racun hitam pekat lurus ke bahu kiri Jian Yue.

Suara gemeretak kaku bergema nyaring saat tulang bahu Jian Yue retak terhantam kekuatan racun Inti Bencana. Jian Yue menjerit parau, tubuhnya terlempar mundur lima langkah hingga menghantam tiang layar utama perahu perang. Kipas besinya terlepas dari genggaman, jatuh berdenting di atas lantai kayu yang berdarah.

Darah segar merembes cepat dari balik gaun sutra merah Jian Yue. Wajah cantiknya berubah pucat pasi saat merasakan hawa dingin racun Ular Hijau mulai menggerogoti jalur meridian di lengannya.

"Tangkap iblis itu!" jerit Jian Yue parau sambil memegang bahunya yang patah.

Delapan prajurit cadangan melesat keluar dari bilik kemudi bawah geladak dengan pedang panjang terhunus.

Ma Huang tidak membiarkan mereka mengepungnya. Ia memutar badannya menuju tungku pembakaran minyak tanah yang digunakan untuk memberi penerangan di haluan perahu. Dengan satu tendangan tumit yang sangat keras, Ma Huang menghantamkan bumbung tembaga berisi puluhan kati minyak tanah membara lurus ke arah tumpukan kargo kain layar di tengah geladak.

Bumbung tembaga itu meledak kencang saat menghantam kayu geladak. Minyak tanah membara menyembur luas ke segala arah, menyambar tubuh delapan prajurit dan kain layar utama secara bersamaan.

Lidah api raksasa meledak membakar udara malam di atas perahu perang tersebut. Jeritan histeris prajurit yang tubuhnya terbakar membahana, beradu kencang dengan derak kayu geladak yang pecah dimakan api. Kobaran api raksasa itu tercipta dalam sekejap mata, menjalar cepat ke arah perahu perang kedua milik Sekte Pedang Suci yang berada di sebelahnya.

Tembok api membara yang membumbung tinggi di atas air muara memotong pandangan dan jalur pengejaran perahu-perahu perang Sekte Pedang Suci yang berada di belakang mereka.

Ma Huang memanfaatkan kekacauan tersebut untuk melompat kembali ke bawah. Tubuhnya meluncur mendatar di udara, mendarat dengan selamat di atas geladak sampan kayu Lu Gang yang masih terikat tali jangkar.

"Potong talinya sekarang!" perintah Ma Huang dengan suara serak menahan sakit yang luar biasa.

Lu Gang menyambar pisau pemotong dagingnya, memotong empat tali jangkar besi yang menancap di sampan mereka dengan empat tebasan cepat. Sampan kayu kecil itu terbebas seketika, terseret deras oleh dorongan arus muara yang membawa mereka meluncur keluar dari kepulan asap dan tembok api membara.

Master Han mendekap kotak kayu kunci makam erat-erat di dalam pelukannya, matanya memandang cemas ke arah Ma Huang yang tergeletak berlutut di haluan sampan. Darah hitam terus merembes dari dua luka di dada dan bahu Ma Huang, membasahi lantai kayu yang bergoyang mengikuti gulungan gelombang muara luar.

Sampan kecil mereka berhasil meloloskan diri dari kepungan perahu perang, meluncur menembus pekatnya kabut malam menuju lautan lepas di depan tebing terjal Lembah Tengkorak.

Tiba-tiba, dari dalam kegelapan air laut di depan haluan sampan mereka, terdengar suara gemuruh air yang sangat dahsyat. Sebuah benteng batu buatan yang tersembunyi di bawah permukaan air muncul terangkat perlahan ke atas.

Dua rantai besi raksasa berukuran sebesar paha manusia terangkat mendadak dari dasar laut, membentang kaku memotong seluruh jalur muara luar. Sampan kayu mereka meluncur deras dengan kecepatan tinggi, mengarah lurus ke arah benturan rantai besi membara yang siap menghancurkan lambung sampan menjadi serpihan kayu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!