Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi di Penthouse, Roti Gosong, dan Bayangan Raksasa
Sinar matahari pagi musim gugur menerobos masuk melalui kaca jendela setinggi langit-langit di lantai 45 menara Tianyu, menghangatkan lantai marmer yang dingin.
Sudah dua minggu sejak Lu Feng dan Lin Xiao resmi tinggal bersama di "penthouse" mewah ini. Hidup bersama ternyata membawa banyak penemuan baru yang tidak pernah mereka bayangkan saat masih pacaran di kampus.
Di area dapur "island" yang luas, Lu Feng berdiri mengenakan celana "sweatpants" abu-abu dan kaos putih tipis. Rambutnya masih berantakan khas orang bangun tidur. Pria yang biasanya ditakuti oleh para negosiator bisnis itu kini sedang menatap nanar pada dua lembar roti tawar yang hangus menghitam di dalam alat pemanggang.
Asap tipis mengepul, memicu alarm detektor asap berbunyi pelan sebelum Lu Feng buru-buru mematikannya dengan mengibaskan handuk dapur.
"Sialan," umpat Lu Feng pelan, membuang roti gosong itu ke tempat sampah dengan wajah frustrasi.
"Kudengar ada yang sedang berperang dengan 'toaster' pintar seharga sepuluh ribu yuan."
Lu Feng menoleh. Lin Xiao bersandar di ambang pintu lorong, mengenakan jubah mandi berbahan sutra merah marun yang membungkus tubuhnya dengan sangat pas. Rambutnya masih sedikit basah, wajahnya polos tanpa riasan, namun kecantikannya di pagi hari selalu berhasil membuat napas Lu Feng sedikit tercekat.
Lin Xiao berjalan mendekat, melihat isi tempat sampah, lalu tertawa pelan. Tawanya terdengar sangat merdu di telinga Lu Feng.
"Gue rasa alat panggangnya rusak, Yang," Lu Feng membela diri dengan wajah datar, meski telinganya sedikit memerah. "Udah di-set ke level medium padahal."
"Alatnya tidak rusak, Tuan CEO. Kamu saja yang tidak membaca manualnya," balas Lin Xiao santai. Ia mengambil alih posisi di depan meja dapur, mengikat rambutnya asal, lalu mulai mengeluarkan telur dan sayuran dari kulkas raksasa mereka. "Duduklah. Biar aku yang membuatkan sarapan. Kalau kubiarkan, kau bisa membakar apartemen baru kita."
Lu Feng tersenyum lebar. Ia tidak duduk di kursi "bar", melainkan melingkarkan lengannya dari belakang pinggang Lin Xiao, menyandarkan dagunya di bahu sang kekasih. Ia menghirup aroma sabun mandi dari ceruk leher wanita itu.
"Lo wangi banget pagi ini," bisik Lu Feng dengan suara serak yang berat. "Nggak usah ke kantor aja hari ini gimana? Kita 'meeting' di kasur aja seharian."
Lin Xiao menyikut pelan perut Lu Feng dengan sikunya, meski wajahnya merona. "Jangan mulai, Lu Feng. Hari ini ada rapat evaluasi dengan investor. Lepaskan aku, telurnya bisa gosong."
Lu Feng akhirnya melepaskan pelukannya dengan dengusan malas, duduk di kursi "bar" sambil menopang dagu, menatap Lin Xiao yang sedang memasak. Pemandangan ini... kedamaian ini... adalah hal yang selama ini ia perjuangkan mati-matian. Tinggal satu atap, berbagi udara yang sama, dan memulai hari dengan wajah wanita ini.
Namun, Lu Feng tidak tahu bahwa kedamaian di lantai 45 ini akan segera berakhir saat mereka menginjakkan kaki di kantor.
***
Pukul sepuluh pagi. Ruang rapat utama PT Campus Relay terasa seperti ruangan hampa udara.
Lu Feng duduk di ujung meja dengan rahang mengeras dan tatapan mata yang luar biasa gelap. Urat-urat di lehernya menonjol, menandakan ia sedang menahan amarah yang siap meledak. Di sebelahnya, Lin Xiao menatap layar tablet dengan dahi berkerut tajam, membaca dokumen elektronik yang baru saja dikirimkan.
Di depan mereka, Chen Hao berdiri dengan wajah pucat pasi dan kemeja yang basah oleh keringat dingin.
"Jelasin ke gue sekali lagi, Hao," suara Lu Feng terdengar sangat rendah dan dingin, membuat suhu ruangan seakan turun sepuluh derajat. "Gimana bisa tiga universitas terbesar di distrik timur membatalkan MoU logistik kita secara sepihak pagi ini?!"
Chen Hao menelan ludah dengan susah payah. "Gue baru dapet infonya jam delapan pagi tadi, Bos. Surat edaran dari pihak rektorat turun serentak. Mereka ngelarang semua kurir mahasiswa Campus Relay beroperasi di dalam area kampus dengan alasan... 'keamanan dan standarisasi logistik komersial'."
"Alasan omong kosong!" Lu Feng menggebrak meja dengan kepalan tangannya, membuat Chen Hao tersentak mundur. "Kita udah beroperasi setahun lebih tanpa ada satu pun insiden keamanan! Pasti ada yang main di belakang rektorat!"
"Kamu benar, Lu Feng. Ada yang bermain kotor," potong Lin Xiao tiba-tiba. Suaranya sangat tenang, kontras dengan kemarahan Lu Feng, namun matanya memancarkan kilat berbahaya.
Lin Xiao memutar tabletnya agar Lu Feng bisa melihat layar tersebut.
"Lihat ini," tunjuk Lin Xiao pada sebuah artikel berita ekonomi yang baru rilis satu jam lalu. "Titan Freight, konglomerasi logistik raksasa nomor satu di Tiongkok. Mereka baru saja mengumumkan peluncuran program 'Kampus Terpadu'. Mereka menyumbangkan dana hibah miliaran yuan ke sepuluh universitas besar di Beijing, dengan syarat... universitas tersebut harus menggunakan layanan logistik eksklusif dari Titan."
Hening sejenak. Rahang Lu Feng semakin mengeras hingga berbunyi gemeretak.
Titan Freight. Ikan hiu raksasa di industri ini. Mereka melihat pertumbuhan Campus Relay yang tidak wajar dan memutuskan untuk mematikan mereka sebelum tumbuh lebih besar. Mereka tidak bersaing secara sehat di pasar; mereka menggunakan uang raksasa mereka untuk menyuap institusi dan memotong jalur nadi Campus Relay secara langsung.
"Kalau tiga kampus itu putus kontrak, kita kehilangan empat puluh persen pemasukan bulan ini. Investor dari Alpha Ventures pasti bakal narik dana putaran kedua," Lu Feng memijat pangkal hidungnya, matanya memancarkan rasa frustrasi yang sangat dalam. "Bajingan. Mereka nekan kita pakai 'power' orang dalam."
Chen Hao terlihat putus asa. "Bos... kalau kita ngelawan Titan... itu kayak semut ngelawan gajah. Valuasi mereka triliunan. Pengacara mereka isinya orang-orang tua yang udah makan asam garam pengadilan Tiongkok."
Lu Feng terdiam. Untuk pertama kalinya sejak ia mendirikan perusahaan ini, ia merasa benar-benar terpojok. Serangan ini terlalu masif, terlalu tiba-tiba, dan dilakukan oleh musuh yang ukurannya jauh di luar kapasitas mereka.
Tepat pada saat keputusasaan mulai menjalar di udara ruang rapat, sebuah suara map tebal yang dibanting ke atas meja memecah keheningan.
Brak!
Lu Feng dan Chen Hao menoleh.
Lin Xiao sudah berdiri dari kursinya. Ia melepaskan kacamata anti-radiasinya, melemparkannya ke atas meja. Tatapan mata wanita itu tajam, dingin, dan penuh dengan adrenalin pertarungan. Ia bukan lagi Lin Xiao yang sedang memasak telur di dapur mewah pagi tadi. Ia adalah Kepala Departemen Legal yang insting membunuhnya baru saja terpancing.
"Gajah juga bisa tumbang kalau kau tahu di mana titik buta mereka," desis Lin Xiao tajam, menatap Lu Feng dengan kepercayaan diri yang absolut.
"Lin Xiao..." gumam Lu Feng.
"Pasal 42 Undang-Undang Anti-Monopoli Tiongkok," Lin Xiao mulai berbicara dengan cepat dan presisi. "Memaksa mitra dagang untuk menolak transaksi dengan pihak ketiga menggunakan posisi dominan pasar adalah tindakan ilegal. Rektorat mungkin menerima dana hibah, tapi mereka tidak bisa menjadikan kampus sebagai area monopoli bisnis Titan."
Lin Xiao menoleh ke arah Chen Hao. "Chen Hao, kumpulkan semua bukti kinerja kurir kita, tingkat kepuasan mahasiswa, dan semua dokumen MoU lama. Siapkan konferensi pers. Kita akan gunakan opini publik mahasiswa untuk menekan balik rektorat."
Lalu, wanita itu kembali menatap Lu Feng. Tatapannya melembut sesaat, sebelum kembali mengeras.
"Dan kau, Tuan CEO," ucap Lin Xiao dengan senyum sinis yang sangat arogan dan mematikan. "Fokuslah mencari cara agar armada kita tidak mati kelaparan bulan ini. Biarkan aku yang mengurus anjing-anjing hukum dari Titan Freight. Aku akan menyeret mereka ke meja hijau dan membuat mereka memuntahkan kembali setiap sen hibah yang mereka berikan."
Melihat wanita yang berdiri di depannya—wanita yang berani menantang raksasa demi melindungi perusahaan mereka—darah Lu Feng yang tadi membeku kembali mendidih oleh semangat yang membara. Senyum berandalnya kembali terukir di wajahnya.
Perang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Lu Feng tahu pasti, dengan jenderal hukum seperti Lin Xiao di garis depan, ia siap menghancurkan dunia.