NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raya: Batas Kesabaranku

Beberapa waktu berlalu.

Aroma masakan mulai memenuhi ruang makan. Rara baru saja meletakkan hidangan terakhir di atas meja ketika suara langkah sepatu terdengar samar dari arah pintu depan.

Rara menoleh.

Tak lama kemudian, Zevan muncul dari ambang pintu sambil membawa sebuah kantong plastik berukuran cukup besar.

“Ini, Ra. Mas sudah bawakan mangga,” ujar Zevan sambil meletakkan kantong tersebut di atas meja. “Mas nggak tahu kamu suka mangga yang mana, jadi Mas beli beberapa.”

Rara segera menghampiri meja makan.

“Terima kasih, Mas.”

Ia membuka kantong plastik itu dan melihat beberapa buah mangga di dalamnya.

Senyum tipis muncul di wajahnya saat melihat mangga itu sudah ada di depan matanya.

“Makan siang sudah matang. Makan dulu saja, Mas.”

Zevan hanya mengangguk lesu. Ia kemudian menarik kursi yang biasa ditempatinya dan duduk.

Rara kembali memperhatikan hidangan yang telah ia siapkan.

Beberapa detik kemudian, Zevan mengangkat wajah.

“Oh, ya. Di mana Raya? Mobilnya masih ada di depan.”

Tangan Rara yang hendak mengambil piring berhenti.

“Aku nggak tahu, Mas.” Ia menoleh kepada Zevan. “Tadi ada seorang pria yang datang. Dia cuma menitipkan kunci mobilnya Mbak Raya dan mobilnya saja.”

Helaan napas berat terdengar dari arah Zevan.

“Mas kenapa nggak makan di luar saja?” tanyanya.

Zevan mengangkat wajah dan menatapnya sekilas.

“Mas nggak terbiasa makan di luar, Ra.”

Rara terdiam.

Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Tangannya hanya sibuk menata lauk di atas meja.

“Ra, kamu sudah dapat pesan dari Ibu, Ra?”

Rara mengangguk. “Sudah, Mas. Nanti kita malam berangkat bersama saja. Bertiga ke rumah Ibu mertua.”

“Iya.”

Jawaban singkat itu kembali mengakhiri percakapan.

Rara duduk di kursinya. Ia mengambil sendok, tetapi pandangannya sempat beralih kepada kursi kosong di meja makan.

Kursi yang biasanya ditempati Raya.

Rara segera menundukkan wajah dan mulai menyantap makanannya.

Tidak ada lagi percakapan di antara mereka.

Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring, mengisi keheningan ruang makan.

.

.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Matahari yang sejak siang menggantung tinggi perlahan mulai condong ke ufuk barat. Cahaya keemasan menyelimuti jalanan, sementara langit yang semula biru mulai berubah menjadi semburat jingga.

Mobil yang dikendarai Kansa akhirnya memasuki jalan menuju rumah Raya. Tidak lama kemudian, kendaraan itu berhenti tepat di depan gerbang.

Raya menatap rumahnya dari balik kaca jendela mobil. Sesaat, senyum di wajahnya perlahan menghilang.

Raya segera mengalihkan pandangan, lalu menoleh kepada Kansa.

“Terima kasih sudah mau mengantar saya pulang, Pak,” ucapnya.

Kansa menoleh sebentar.

“Saya yang seharusnya berterima kasih kepada Anda karena sudah mau membantu saya dan menemani Syila.”

Raya terdiam.

Tatapan mereka bertemu.

Jantung Raya seketika berdetak lebih cepat. Tatapan Kansa terasa begitu jelas hingga membuatnya kehilangan kata-kata selama beberapa detik.

Raya buru-buru memalingkan wajah ke arah jendela.

‘Kenapa jantungku malah berdebar seperti ini?’

Ia menarik napas pelan, berusaha mengabaikan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.

“Kalau begitu, saya dulu, Pak,” ucapnya setelah berhasil menguasai diri. “Bapak hati-hati di jalan.”

“Iya.”

Raya mengangguk kecil. Ia membuka pintu mobil, lalu turun. Namun, baru beberapa langkah, Raya berhenti.

Raya kembali berbalik..Tangannya terangkat dan melambaikan tangan kepada Kansa yang masih berada di balik kemudi.

Kansa membalasnya dengan anggukan kecil.

Tin!

Suara klakson terdengar ketika mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah.

Raya masih berdiri di depan gerbang. Tangannya perlahan turun, sementara pandangannya mengikuti mobil tersebut hingga semakin jauh.

Kendaraan itu akhirnya menghilang di balik tikungan. Rara kemudian menoleh ke arah rumah. Senyumnya kembali menghilang.

Setelah beberapa saat berdiri, Raya akhirnya berbalik dan melangkah melewati gerbang.

Langkahnya perlahan membawanya kembali ke rumah yang sejak pagi berusaha ia hindari.

. . .

Begitu melewati pintu depan, Raya baru saja hendak melangkah menuju tangga langkahnya terhenti.

Sorot matanya langsung tertuju ke ruang tamu. Di sana, Zevan dan Rara kembali terlihat terlalu dekat. Keduanya bahkan tidak menyadari kedatangannya.

Suara kecupan dan lenguhan yang terdengar samar membuat Raya spontan mengernyit. Ada rasa geli yang menjalar hingga tengkuknya.

‘Sudah kuduga. Akan begini lagi. Memang, manusia nggak punya malu.’

Raya menarik napas, lalu melangkah beberapa langkah mendekat.

“Memangnya rumah ini rumah kalian berdua?”

Suaranya cukup untuk membuat keduanya tersentak.

Zevan tampak terkejut lalu segera menjauh dari Rara. Begitu dengan Rara yang buru-buru merapikan jilbabnya yang berantakan.

“Ray, kamu sudah pulang,” ucapnya. “Kamu salah paham... kami tadi,” Zevan mencoba menjelaskan.

Raya terkekeh hambar.

“Salah paham apa?” tanyanya, memotong ucapan Zevan. “Memangnya aku buta dan bodoh sampai nggak tahu apa yang baru saja aku lihat?”

“Bukan begitu, Ray.”

“Lalu bagaimana?” tanyanya dengan nada mendesak.

Raya menatap mereka bergantian. Tatapannya tidak lagi menunjukkan kesedihan seperti pagi tadi. Justru ada ketegasan yang membuatnya enggan berlama-lama di sana.

Rara terlihat tampak menundukkan wajah.

“Mbak Raya, jangan marah. Ini salahku karena aku nggak bisa menahan diri.”

Raya terdiam sesaat sebelum akhirnya ia tawa kecil keluar dari bibirnya.

“Oh, aku paham.”

Rara mengangkat wajah.

“Jadi saat melihat Mas Zevan pertama kali, fev*k mu selalu berkedut dan akhirnya menggoda Mas Zevan?”

“B-bukan begitu, Mbak...”

“Sudahlah.” Raya mengangkat satu tangan, menghentikan ucapannya. “Nggak usah mengelak lagi.”

Raya tidak ingin mendengar alasan apa pun dari si joli itu.

Pagi tadi ia sudah mendengar kalimat yang sama, Salah Paham. Sekarang, melihat mereka kembali melakukan hal serupa di ruang tamu membuatnya semakin yakin bahwa tidak ada gunanya memperdebatkan sesuatu yang sudah jelas.

Ia mengalihkan pandangan. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Raya berbalik dan berjalan menuju tangga.

Baru dua anak tangga yang diinjak, suara Zevan terdengar dari belakang.

“Raya, Ibu kirim pesan ke kamu nggak?”

Raya berhenti. Namun, ia tidak langsung menoleh apalagi menyahut.

“Malam ini kita disuruh ke rumah Ibu untuk makan malam,” lanjut Zevan.

Raya akhirnya menoleh sedikit. “Berangkat saja sama Rara.”

“Tapi kamu juga istri Mas, Raya.”

Senyum getir terukir di bibir Raya. “Lihat saja nanti.”

Ia kembalil melanjutkan langkahnya menaiki tangga tanpa menunggu jawaban.

. . .

Beberapa saat kemudian, Raya akhirnya tiba di kamarnya.

Ia melangkah masuk sambil meletakkan tas di atas meja. Begitu sampai di sisi ranjang, tubuhnya perlahan dijatuhkan ke kasur. Raya mengembuskan napas panjang, seolah baru saja melepaskan beban yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Panggilan gadis kecil di rumah sakit tadi kembali terngiang di telinganya.

“Mamah...”

Raya tersenyum tipis.

“Aneh banget rasanya,” gumamnya.

Ia sendiri tidak pernah menyangka akan mendengar panggilan itu dari seorang anak yang baru pertama kali ditemuinya. Apalagi setelah mengetahui kisah hidup Syila, hatinya seakan sulit untuk tidak merasa iba.

Namun, lamunannya terhenti ketika ia teringat sesuatu.

Raya mengalihkan pandangan ke arah tas yang tergeletak di atas meja. Ia bangkit, kemudian berjalan menghampiri tas tersebut dan merogoh bagian dalamnya untuk mengambil ponsel.

Begitu ponsel berada di tangannya, Raya langsung menyalakan layar.

Benar saja.

Beberapa pesan dari ibu mertuanya memenuhi layar, disusul beberapa panggilan masuk yang tidak sempat ia angkat.

Raya hanya menatap layar ponsel itu selama beberapa detik.

‘Sepertinya aku memang harus ikut ke rumah mertua malam ini.’

Ia mengunci ponselnya, lalu meletakkannya kembali di atas meja. Pandangan Raya kemudian beralih ke lemari pakaian di sudut kamar.

Tanpa banyak berpikir, ia berjalan ke sana dan membuka pintunya. Beberapa dress tergantung rapi di dalam lemari. Tangannya terangkat, menggeser satu per satu pakaian yang tergantung di hadapannya.

Sampai akhirnya, gerakan tangannya berhenti.

Sebuah dress berwarna merah mencolok menarik perhatiannya. LRaya menarik dress tersebut dari gantungan, lalu membawanya ke depan cermin.

Ia berdiri di hadapan pantulan dirinya sendiri sambil menempelkan dress itu ke tubuhnya. Tatapannya perlahan berubah. Ada keteguhan yang mulai muncul di balik wajahnya.

Raya menatap pantulan dirinya di cermin, kemudian tersenyum tipis.

“Baiklah, aku akan datang,” ucapnya pelan.

Tangannya menggenggam dress merah itu sedikit lebih erat.

“Malam ini, akan aku tunjukkan kalau aku bukan Raya yang sama lagi. Lihat… apa reaksi kalian setelah ini.”

{Revisi}

1
Tining Revi
ceritanya bagus. makin seru.
ary daramita
good job. tinggal jual aja tu rumah biar nanti mereka jadi gembel
Arieee
mantap 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
sunaryati jarum
Memang benalu raksasa bukan hanya lintah,kenapa tersinggung
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 mampus kalian, Zevan nanti setelah di cerai Raya langsung kalang kabut cara menutupi kebutuhan rumah tangga, karena gajinya ,dipotong pinjaman dan angsuran mobil.Diusir dari rumah Raya.Komplit , tahunya Rara hanya minta
lelih aliah
Maaf Aotor,dalam ajaran agama Islam ,adik kakak kandung tidak diperbolehkan untuk dinikahi ,kecuali kalau sudah bercerai
sunaryati jarum
Astaghfirullah suami,adik, mertua dan ibu dagjal.Setelah itu proses pasal pencurian dan perzinahan Raya.
sunaryati jarum
Segera usir mereka.Raya .emak saja enak akan kelakuan mereka.Emak cicin yang dicuri mertuamu harus dilaporkan ke pihak hukum,biar tahu rasa.
sunaryati jarum
Nah gitu Raya,pasti dengan adanya bukti dan kuasa Pak Kansa proses cerai lancar dan semua hak milikmu kembali.Biarkan adikmu yang tidak tahu terimakasih ,suami ,ibumu dan mertuaku gigit jari.Atas pencurian cincin agar diproses sesuai hukum pasal pencurian
Iffanaya 😽
pengen rasanya maki² si Rara, adek gk ada akhlak gk tau diri 👊
Iffanaya 😽
buang aja semua parasit yg ada di rumah mu itu raya 🤪
sunaryati jarum
Disakiti begitu dalam kok melunak,melunak otakmu yang dangkal itu Zevan .Dapat surat cerai dan diusir baru tahu rasa
sunaryati jarum
Untuk tujuh bulanan sampai nyuri warisan,anakmu cacat baru tahu rasa,trus rahim diangkat.
Eneng Farida
suami dan adik tqk thu diri pengen d jorokin ke jurang jdinya d telqn bumi udah rya tinggalin pak kanza bakalan membantu untuk lepas sm 2 dua benalu
sunaryati jarum
Lelaki monokondo kok hamili, adik,suami dan mertua sama tidak tahu malu.Sudah terlalu lama memendam luka,usir saja mereka ,toh itu rumahmu.Walaupun serupiah jangan dikasih
sunaryati jarum
Percaya saja terus sama Rara, setelah miskin,dipecat baru nyesel.
Tining Revi
ada ya seorang ibu kandung begitu tega pd anaknya sendiri.
ary daramita
cerain aja tuh orang, rumahnya jual biar bingung tu benalu. hidup numpang aja sok2an mampu
sunaryati jarum: Benar segera cerai dari usir ,emak kasih 5 🌟
total 1 replies
Iffanaya 😽
Rara dengan tidak tahu malu nya minta duit ke raya setelah ngerebut suami kakak nya sendiri 🤪
Tining Revi
rara itu berhijab. tpi kok hatinya jahat banget ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!