NovelToon NovelToon
EMBER

EMBER

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.

Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.

Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.

Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.

Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Keheningan malam merayap masuk melalui celah kaca jendela apartemen studio.

Di dalam ruangan yang hangat beraroma lavender itu, Cinderella sedang duduk bersandar di kursi kerja.

Matanya yang tajam dan fokus masih menatap layar laptop rahasia milik Ember, mengamati pergerakan grafik saham serta skema investasi berkisaran kecil yang telah ia susun untuk melipatgandakan tabungan raga ini.

Di samping laptop, ponsel murah bertayar retak milik Ember bergetar singkat.

Cahaya layarnya menyala di atas meja kayu.

Bzzzt.

Cinderella melirik santai ke arah layar ponsel. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak asing lagi:

[Draxler Ashford]: Di mana rumahmu?

Cinderella memandangi baris kalimat singkat itu dengan sudut bibir terangkat membentuk ukiran senyum tipis yang dingin. Ia tidak terkejut.

Sebagai mantan pimpinan eksekutif yang kenyang pengalaman menghadapi tipikal pria ber-ego tinggi dari kalangan elite, reaksi Draxler sangat mudah ditebak.

Pria muda yang terbiasa dipuja dan dikejar akan merasa terusik saat barang yang dikiranya telah menjadi miliknya mendadak berbalik memunggunginya.

Cinderella sama sekali tidak membalas pesan itu. Ia bahkan tidak menyentuh ponselnya. Dengan gerakan santai, ia membalikkan layar ponsel hingga menghadap ke bawah, membiarkan keheningan malam menenggelamkan pesan bernada menuntut dari pemuda Ashford tersebut.

"Simpan amarahmu untuk dirimu sendiri, Mr. Ashford," gumam Cinderella lirih seraya kembali memfokuskan pandangannya pada analisis keuangan di layar laptop.

"Aku punya hal yang jauh lebih penting untuk dikerjakan daripada melayani ego priamu."

Sementara itu, di penthouse mewah keluarga Ashford.

Draxler duduk kaku di tepi tempat tidurnya. Manik matanya menatap lurus pada layar ponsel di genggamannya.

Tanda centang dua pada pesan yang dikirimkannya sepuluh menit lalu telah berubah warna, menandakan bahwa pesan tersebut telah dibaca.

Namun, tidak ada tanda-tanda balasan.

Tidak ada gelembung ketikan, tidak ada balasan singkat, apalagi balasan heboh khas Ember di masa lalu.

"Dia... membaca pesanku dan mengabaikannya?!" desis Draxler dengan suara rendah dan tidak percaya.

Napasnya memburu.

Pria berusia 19 tahun itu mengusap wajahnya kasar.

Rasa tak terima yang tadinya sekadar percikan kini meledak menjadi kemarahan yang membakar dada.

Selama enam bulan di kampus, tidak pernah sekalipun Ember mengabaikan pesannya. Jangankan mengabaikan, gadis itu biasanya membalas dalam hitungan detik dengan rentetan kalimat panjang.

Plak!

Draxler melempar ponselnya ke atas kasur dengan rasa frustrasi yang tak tertahan. Ia bangkit berdiri, melangkah lebar menuju balkon kamar pribadinya.

Angin malam California yang dingin menerpa dada bertelanjang miliknya, namun hawa dingin itu sama sekali tidak sanggup mendinginkan gejolak emosi di dalam kepalanya.

"Kau pikir kau bisa mengabaikanku begitu saja, Ember?" bisik Draxler dengan gigi terkatup rapat. "Kita lihat seberapa jauh kau bisa bersandiwara besok pagi."

...ΩΩΩ...

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyiram pelataran parkir Universitas California dengan cahaya keemasan.

Suasana kampus sudah mulai ramai oleh mahasiswa yang lalu-lalang menuju gedung fakultas masing-masing.

Sebuah mobil sports hitam mengilap meluncur masuk ke area parkir VIP. Deru mesinnya yang halus namun perkasa seketika menarik perhatian banyak pasang mata.

Pintu pengemudi terbuka, dan Draxler Lutolf Ashford melangkah keluar.

Pria itu mengenakan kemeja kasual yang digulung hingga sikut, memancarkan aura tampan yang dingin dan tak tersentuh.

Namun hari ini, tatapan mata Draxler sama sekali tidak ramah. Ia berdiri bersandar di samping pintu mobilnya, melipat kedua tangan di dada, dan menatap lurus ke arah gerbang utama kampus.

Brave dan Kal El yang baru tiba dari mobil sebelah menghampirinya dengan raut wajah heran.

"Hei, Drax! Kau menunggu siapa di sini?" tanya Brave seraya menepuk bahunya.

"Kelas kita akan mulai tiga puluh menit lagi."

"Bukan siapa-siapa," jawab Draxler pendek tanpa mengalihkan pandangannya dari gerbang.

Kal El menyipitkan mata, lalu menyunggingkan senyum jahil. "Jangan bilang kau menunggu gadis Vitiello itu? Sejak kemarin kau bertingkah aneh sekali setiap kali mendengar namanya."

Draxler tidak membalas godaan temannya. Namun di dalam hatinya, setiap detik yang berlalu terasa begitu menyiksa. Ia menunggu moment di mana Ember akan berjalan melewatinya seperti biasa.

Tak berapa lama, dari arah halte bus di depan kampus, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul.

Cinderella melangkah masuk ke area kampus.

Pagi ini, ia mengenakan celana kain berpotongan tinggi berwarna krem dipadu dengan kemeja putih bersiluet kaku namun sangat pas di tubuh tipis Ember.

Rambut hitam lurusnya diikat rapi ke belakang, memamerkan garis leher yang jenjang dan wajah pucat yang dipoles riasan tipis nan tegas. Ia berjalan dengan gestur tubuh yang sempurna, tenang, dan memancarkan wibawa yang tak tertandingi.

Saat melintasi area parkir, pandangan Cinderella sempat berpapasan dengan Draxler yang berdiri tegak menatapnya dari kejauhan.

Draxler menegakkan posisinya, bersiap untuk menghentikan langkah gadis itu. Ia mengepalkan tangannya, menunggu momen saat Ember mendekat.

Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat Draxler membeku di tempat.

Cinderella menatap Draxler selama satu detik—sebuah tatapan datar, kosong, dan sama sekali tanpa emosi—seolah Draxler hanyalah sebatang tiang listrik atau papan iklan yang kebetulan berdiri di sana.

Setelah itu, Cinderella memalingkan wajahnya kembali ke depan dan melanjutkan langkah kakinya secara konstan, melewati Draxler begitu saja tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.

"WOAH!" Brave bersiul heboh, matanya membelalak tak percaya. "Kau disapu bersih, Drax! Dia bahkan tidak menyapamu!"

"Ini gila..." gumam Kal El ikut syok.

"Apakah itu benar-benar Ember yang biasa mengejar-ngejarmu? Dia melewatimu seperti kau ini angin lalu!"

Draxler berdiri mematung.

Darahnya rasanya berhenti mengalir sejenak.

Tatapan kosong dari mata Ember barusan menghantam dadanya jauh lebih keras daripada tamparan fisik.

Pengabaian total itu terasa begitu nyata dan menyakitkan bagi egonya.

"Sialan..." rahang Draxler mengeras.

Tanpa memedulikan panggil terkejut dari Brave dan Kal El, Draxler membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar memburu Cinderella yang baru saja hendak menaiki tangga gedung fakultas.

"Marcella Ember Vitiello!" panggil Draxler dengan suara berat dan tegas yang menggelegar di sepanjang koridor, membuat puluhan mahasiswa di sekitar mereka mendadak menghentikan aktivitas dan menoleh terkejut.

Cinderella menghentikan langkahnya di anak tangga ketiga. Ia menarik napas pelan, mengutuk dalam hati atas kegilaan pemuda Ashford ini yang menarik perhatian publik.

Dengan ketenangan yang dipaksakan, Cinderella membalikkan tubuhnya, menatap Draxler yang kini berdiri di dasar tangga dengan napas sedikit memburu.

"Ya, Mr. Ashford?" tanya Cinderella dingin dari atas tangga.

Draxler menatap gadis itu dari bawah, dadanya naik turun menahan amarah yang berkecamuk. "Kenapa kau mengabaikan pesanku semalam?"

Deg!

Atmosfer di koridor mendadak membeku.

Bisik-bisik heboh seketika menyebar di antara para mahasiswa yang menyaksikan kejadian itu. Draxler Ashford... menuntut jawaban atas pesan yang diabaikan oleh Ember Vitiello?!

Cinderella menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sindiran. Ia melipat tangannya di dada, menatap Draxler dari posisi yang lebih tinggi.

"Aku tidak merasa punya kewajiban untuk membalas pesan dari orang yang tidak penting dalam hidupku, Mr. Ashford," jawab Cinderella tenang namun lantang, memastikan setiap orang di koridor mendengarnya.

"Pesanmu tidak ada hubungannya dengan akademisku, dan aku sibuk. Apakah jawaban itu cukup memuaskan rasa penasaranmu?"

Kata 'tidak penting' meluncur lurus menghantam Draxler. Wajah pria tampan itu memerah padam.

"Kau..." Draxler mengepalkan tangannya, mencoba maju satu anak tangga.

"Ikut aku sekarang. Kita harus bicara!"

"Tidak," potong Cinderella cepat dan tegas.

"Aku ada kelas sebentar lagi. Permisi."

Cinderella berbalik dan melanjutkan langkahnya menaiki tangga tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi Draxler untuk menyentuhnya atau mendebatnya lagi.

Draxler berdiri terpaku di dasar tangga, menatap punggung Cinderella yang menghilang di balik pintu koridor lantai dua.

Di sekelilingnya, bisikan mahasiswa makin riuh, namun Draxler tidak peduli lagi.

Di dalam benaknya yang berantakan, satu tekad liar membakar jiwanya: ia akan mencari tahu ke mana gadis itu pergi setelah jam kampus selesai, dan ia tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan kembali perhatian dari mata bundar yang kini terpancar dingin itu.

Marcella Ember Vitiello (18 Tahun)

Draxler Lutolf Ashford (19 Tahun)

1
Agus Tina
Bagus sekali ceritanya thor, sukaaaaa 🤍🤍🤍🤍
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶 sehat selalu 😍
total 1 replies
Agus Tina
Setepah kematian Cinderela aku berharap perusahaan ayahnya gulung tikar, kebenaran bahwa Cinderelalah itak dibalik kesuksesan perusahaan mereka terkuak ke publik ...
Yusry Ajay
semangat berkarya Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
mkasih uda up Thor 🤗🤗
Rosdianah 🌷: terimakasih kak readers 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
hu.... menegangkan thor...
Asriani Rini
Bagus banget ceritan aku suka sekali
Yusry Ajay
lanjut Thor kurang up nya...
Asriani Rini
Lanjut Thor
Heni Utami
sangat best
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Anonim
kereen abis
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Si penny end,, ember nya crazy up please,, 🤭
Rosdianah 🌷: besok mulai double bab kak🙏🏻
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita keluarga ashford emang gak pernahh gagal,di tunggu cerita nya Dominic thor🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
masih nyimak Thor 🤔🤔🤔
Yusry Ajay
pkoknya semangat selalu Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: sehat selalu ya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Yusry Ajay
kyknya ada yg mulai jatuh cinta nih🤗🤗
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat menata hidup kembali ember💪💪
Debu Nakal
typo kah thor
Debu Nakal
typo kah thor
Rosdianah 🌷: tidak kak.. First time Author buat novel Transmigrasi 🙏🏻
Cinderella Dan Ember itu satu🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!