Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bantuan rahasia
Motor Devan membelah lebatnya hujan malam itu menuju kediaman Aura. Sepanjang jalan, Aura memeluk erat pinggang Devan dari belakang, menyandarkan kepalanya yang berselimut helm ke punggung tegap Devan.
Di tengah dinginnya malam dan guyuran air hujan, rasa hangat dari jaket kulit serta tubuh Devan benar-being meresap ke dalam hatinya.
Begitu sampai di depan pagar rumah Aura, Devan mematikan mesin motornya. Aura buru-buru turun dan melepas helm, menyodorkannya kembali pada Devan.
"Makasih ya, Devan... sudah mengantar aku pulang," kata Aura pelan, suaranya sedikit gemetar menahan dingin.
Devan menerima helm itu dan memasangnya di stang motor. Ia menatap Aura yang masih terbungkus jaket kulit tebal miliknya. "Masuk sana. Langsung mandi air hangat, jangan sampai sakit."
Aura memegang kelim jaket kulit di dadanya. "Eh, jaket kamu... mau aku kembalikan sekarang?"
Devan menggeleng singkat. "Nggak usah. Baju kamu di dalam masih basah. Pakai saja dulu, besok baru kembalikan di kampus."
Aura menatap Devan dengan pandangan tersentuh. "Tapi kamu gimana? Pulang cuma pakai kaos begini dalam keadaan hujan deras?"
"Gue nggak apa-apa," sahut Devan datar, memutar kunci kontak motornya. "Udah, masuk sana. Udah malam."
Aura mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan ya, Devan."
Devan tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menganggukkan kepala sekilas sebelum menarik gas dan berlalu menembus kegelapan malam.
Aura berdiri di depan pagar sampai bayangan motor Devan hilang di belokan jalan, baru kemudian melangkah masuk ke rumahnya.
Keesokan harinya, suasana kampus mendadak terasa makin tegang buat Aura. Batas waktu tiga hari dari Pak Surya untuk membuktikan siapa pemilik akun @BehindTheLens terus membayangi pikirannya.
Aura berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya di lantai dua. Di tangannya, ia membawa sebuah tas kertas berisi jaket kulit milik Devan yang sudah ia cuci bersih dan ia setrika rapi semalam.
Bau wangi pelembut pakaian kini menggantikan aroma khas kayu manis dan tembakau dari Devan.
Aura berniat mencari Devan di tempat parkir atau di kantin, tapi cowok itu tidak kelihatan sama sekali sejak pagi.
Bahkan Bimo dan Rian yang biasanya menempel dengan Devan terlihat duduk berdua saja di bangku taman.
"Nis, kamu lihat Devan nggak pagi ini?" tanya Aura pada Nisa begitu mereka masuk ke dalam ruang kelas yang masih sepi.
Nisa yang sedang merapikan alat tulisnya menoleh heran. "Devan? Nggak lihat, Ra. Biasanya kan dia baru datang siang kalau ada jadwal kuliah. Mumpung belum ada dosen, kamu kenapa nyari si bad boy itu?"
Aura menggeleng cepat, meletakkan tas kertas berisi jaket di atas mejanya. "Nggak apa-apa. Cuma mau mengembalikan barang dia."
Nisa memicingkan mata curiga, tapi sebelum sempat menginterogasi Aura lebih lanjut, dosen pengajar sudah melangkah masuk ke dalam kelas. Pelajaran pun dimulai.
Aura berusaha fokus mendengarkan penjelasan dosen di depan, namun pikirannya terus melayang ke acara seminar besar kampus yang tinggal dua hari lagi.
Masalah mobil panitia yang bumpernya tergores belum selesai, ditambah ancaman sanksi dari Pak Surya. Kepala Aura rasanya mau pecah.
Saat jeda istirahat jam pertama, Aura beranjak ke toilet sebentar untuk mencuci wajahnya yang terasa lelah. Nisa tetap di dalam kelas untuk menjaga barang-barang mereka.
Ketika Aura kembali ke kelas sepuluh menit kemudian, kelas sudah agak senggang. Namun, mata Aura langsung tertuju pada bangku tempat duduknya.
Di atas mejanya, tas kertas berisi jaket Devan masih ada di sana. Tapi yang membuat Aura melotot kaget adalah apa yang tergeletak tepat di atas kursi duduknya.
Sebuah jaket kulit hitam tebal—yang mirip sekali dengan milik Devan—tergeletak begitu saja di sana. Namun saat Aura mendekat, ia menyadari itu bukan sekadar jaket asal ditaruh.
Di dalam lipatan jaket tersebut, terselip sebuah amplop cokelat tebal yang tertutup rapat, dan di atas amplop itu ada selembar kertas catatan kecil (sticky note) berwarna kuning yang tertulis pesan singkat dengan tulisan tangan yang agak berantakan:
'Buka amplopnya. Ini buat selesaikan masalah mobil panitia dan urusan Pak Surya. Jangan banyak tanya, pakai saja. - D'
Aura menahan napasnya. Tangannya perlahan terulur mengambil amplop cokelat tebal itu. Saat ia membuka perekatnya dan mengintip ke dalam, mata Aura membelalak sempurna.
Di dalam amplop tersebut terdapat lembaran uang tunai dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki bumper mobil panitia, ditambah sebuah flashdisk hitam.
Aura buru-buru merogoh flashdisk itu dan menancapkannya ke laptop miliknya yang menyala di meja. Dengan tangan bergetar, ia membuka folder di dalam flashdisk tersebut.
Isinya adalah rekaman bukti digital beserta tangkapan layar percakapan dari sebuah akun anonim yang sengaja menyebarkan foto-foto Aura ke pihak rektorat untuk menjatuhkan nama baiknya.
Dan di dalam dokumen itu, tertera jelas siapa dalang di balik laporan palsu tersebut: Reno, ketua Senat Mahasiswa sekaligus cowok yang selama ini mengincar posisi Aura dan pernah ditolak cintanya oleh Aura!
"Ya ampun..." bisik Aura tak percaya, menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Devan tidak tinggal diam semalaman. Sementara Aura tertidur, Devan bergerak di balik layar, mengumpulkan semua bukti gila ini sendirian demi menyelamatkan Aura dari ancaman Pak Surya.
Aura buru-buru menoleh ke arah Nisa yang sedang mengobrol di dekat jendela. "Nis! Siapa yang ditaruh barang ini di kursi aku tadi?"
Nisa membalikkan badan, lalu mengerutkan dahi bingung. "Barang apa? Oh, jaket itu? Tadi... eh, tadi ada Devan masuk sebentar pas kamu ke toilet."
"Devan ke sini?" seru Aura kaget.
"Iya, dia cuma lewat, terus jalan ke bangku kamu. Katanya ke aku, 'Jaket gue ketinggalan di bangku Aura kemarin, jangan disentuh.' Habis itu dia langsung keluar lagi. Aku pikir dia cuma ambil barangnya yang ketinggalan!" jelas Nisa polos.
Aura memandangi jaket kulit itu dan flashdisk di tangannya. Devan sengaja pura-pura bilang jaketnya "ketinggalan" hanya sebagai alasan agar bisa memberikan bantuan rahasia ini tanpa perlu memancing kecurigaan anak-anak kelas!
Rasa haru dan hangat yang luar biasa mendadak memenuhi dada Aura. Cowok yang dianggap biang kerok oleh seluruh kampus ini ternyata rela melakukan hal sejauh ini hanya untuk melindunginya.
Tanpa membuang waktu, Aura menyambar flashdisk dan amplop itu, lalu berlari keluar kelas menuju gedung rektorat untuk membersihkan namanya di depan Pak Surya.
Dua jam kemudian.
Aura keluar dari ruangan Pak Surya dengan perasaan yang sangat lega. Pak Surya sudah menerima semua bukti dari flashdisk tersebut dan berjanji akan memanggil Reno untuk diproses secara tegas. Nama baik Aura bersih total, dan sanksi akademik yang membayanginya resmi dibatalkan.
Aura berjalan menelusuri koridor kampus dengan langkah cepat. Ia ingin mencari Devan. Ia harus mengucapkan terima kasih secara langsung pada cowok itu atas semua bantuan rahasianya.
Langkah Aura membawanya ke area belakang laboratorium—tempat sepi yang biasa jadi area Devan menyendiri. Dan benar saja, dari kejauhan, Aura melihat Devan sedang duduk di atas kap mobil bekas, menyandarkan punggungnya ke dinding sambil memejamkan mata.
Aura tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat. "Devan..."
Devan perlahan membuka matanya. Melihat Aura berdiri di depannya, Devan cepat-cepat mengubah posisinya jadi duduk tegak dan memasang kembali wajah cueknya.
"Urusan Pak Surya udah kelar?" tanya Devan pendek, suaranya terdengar agak serak.
Aura mengangguk mantap. "Sudah. Pak Surya sudah terima semua bukti dari kamu. Nama aku sudah bersih, Devan. Terima kasih banyak ya... aku nggak tahu harus balas bantuan kamu pakai apa."
Devan membuang muka ke arah lain, mengibaskan tangannya santai. "Gue cuma nggak mau repot. Lagian si Reno emang belagu, pantes dikasih pelajaran."
Aura melangkah satu tindak lebih dekat. "Kamu begadang semalaman cuma buat cari bukti itu kan, Devan?"
Devan diam, tidak menjawab.
Aura memperhatikan raut wajah Devan lebih teliti. Pria itu terlihat sangat pucat, dan bibirnya agak kering. Saat Aura tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Devan yang tergeletak di kap mobil, Aura terlonjak kaget.
Kulit Devan terasa sangat panas. Suhu tubuhnya tinggi sekali.
"Devan! Badan kamu panas banget!" seru Aura panik, refleks menempelkan telapak tangannya ke dahi Devan.
Devan meringis pelan, mencoba menepis tangan Aura dengan lemah. "Gue nggak apa-apa, Aura... cuma kurang tidur doang..."
"Kurang tidur apanya! Kamu demam tinggi ini, Devan!" pangkas Aura khawatir setengah mati. Ia baru sadar, Devan kena demam berat gara-gara menembus hujan deras semalam demi mengantarkan dirinya pulang tanpa memakai jaket!
Devan mencoba berdiri dari kap mobil untuk membuktikan dirinya baik-baik saja. Namun, begitu kakinya memijak tanah, pandangan Devan mendadak kabur dan tubuh tingginya limbung ke depan.
"Devan!" jerit Aura panik.
Aura refleks maju dan menahan tubuh Devan yang ambruk ke arahnya. Kepala Devan bersandar terkulai di bahu Aura, napasnya yang panas dan memburu menerpa leher gadis itu saat Devan mendadak hilang kesadaran di pelukannya.
Bersambung...