Aluna Putri adalah mahasiswi yatim piatu yang menghabiskan waktunya bekerja keras, hingga suatu hari ia nyaris tumbang karena kelelahan di depan Kayvan Dipta Madhava, CEO kaku sekaligus om dari sahabatnya, Raline.
Pertemuan canggung itu menjadi awal dari skenario besar yang disusun oleh Baskara Madhava yaitu papa dari Kayvan dengan alasan kesehatan yang menurun, tuan Baskara mendesak Kayvan untuk segera menikahi gadis pilihannya yang tak lain adalah Aluna.
Terdesak masalah finansial yang mengancam pendidikannya, Aluna terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Kayvan.
Meski terpaut usia dua belas tahun, benih cinta mulai tumbuh di sela-sela kesibukan kuliah Aluna dan jadwal padat Kayvan.
Pada akhirnya, Aluna dan Kayvan membuktikan bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu memiliki, melainkan tentang siapa yang sanggup bertahan dan melindungi dalam diam.
Bagaimana Kelanjutannya??
Yukkk Gass Bacaaaa!!!!!
IG: LALA_SYALALA13
YT: NOVELALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Formal?
Di dalam mobil Raline, Aluna masih terdiam sambil memeluk tas barunya dengan perasaan campur aduk.
"Luna, kamu tahu tidak?" Raline memulai saat mereka sudah keluar dari gerbang rumah.
"Om Kayvan itu orangnya sangat simpel, dia tidak suka bicara tapi tindakannya selalu punya maksud. Tas itu, jemputan kemarin, bahkan keberaniannya menikahimu meski Opa sedang pura-pura sakit... menurutku dia benar-benar tertarik padamu." ucap Raline.
"Jangan bercanda Raline, dia menikahiku karena kasihan melihat masalah finansialku dan karena dia anak yang berbakti pada Opa." bantah Aluna.
"Mungkin awalnya begitu." Raline memutar kemudi dengan lihai.
"Tapi Om Kayvan bukan orang yang mau repot-repot memperhatikan detail seperti tas atau kesehatan tulang belakang seseorang kalau orang itu tidak penting baginya. Aku keponakannya selama dua puluh tahun dan dia tidak pernah sekalipun membelikanku tas karena alasan ergonomi, dia biasanya cuma bilang 'Ini uang, beli sendiri'." seru Raline.
Aluna terdiam, kata-kata Raline ada benarnya. Kayvan memiliki cara yang unik untuk menunjukkan perhatian.
Tidak ada bunga, tidak ada kata-kata manis, hanya tindakan-tindakan praktis yang justru terasa sangat nyata dan melindungi.
Sampai di kampus suasana terasa berbeda, beberapa mahasiswa memperhatikan saat Aluna turun dari mobil mewah Raline.
Meskipun Raline adalah sahabatnya sejak lama, biasanya Aluna selalu minta turun di halte bus depan kampus agar tidak mencolok.
Namun hari ini, Raline bersikeras mengantarnya sampai ke depan lobi gedung fakultas ekonomi.
"Luna nanti sore kau masih mengajar les?" tanya Raline.
"Iya, kenapa?"
"Aku diperintah Om Kayvan untuk menjemputmu setelah les.l, jangan berani-berani kabur naik bus atau aku yang akan kena semprot." Raline nyengir.
"Dia benar-benar protektif, ya?" seru Aluna sambil menghela nafasnya panjang.
"Dia itu posesif cuma dia belum sadar saja." goda Raline sebelum melesat pergi menuju parkiran fakultas hukum.
Aluna berjalan menyusuri koridor dengan tas barunya, ia merasa tidak nyaman dengan tatapan beberapa senior wanita yang biasanya mengabaikannya.
Kehidupan barunya sebagai Nyonya Madhava ternyata membawa tantangan tersendiri.
Ia harus menjaga sikap agar tidak merusak nama baik keluarga Kayvan, namun di sisi lain, ia tidak ingin kehilangan jati dirinya sebagai Aluna yang mandiri.
Sepanjang kuliah, konsentrasi Aluna sering terganggu, ia terus terbayang wajah Kayvan saat merapikan kerahnya kemarin.
Ada sesuatu yang hangat dalam kedinginan pria itu yaitu sesuatu yang membuat Aluna merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, pernikahan jebakan ini bukanlah sebuah musibah, melainkan sebuah pelabuhan yang selama ini ia butuhkan tanpa ia sadari.
Sore harinya, saat ia baru saja selesai memberikan materi matematika pada muridnya, ia melihat mobil Raline sudah terparkir di depan gerbang perumahan.
Namun yang mengejutkan bukan Raline yang duduk di kursi kemudi.
Pintu mobil terbuka, dan Kayvan turun dengan kemeja hitam yang kerahnya terbuka sedikit.
"Mas? Di mana Raline?" tanya Aluna heran.
"Dia ada urusan mendadak dengan organisasi kampusnya, nadi aku yang menjemputmu." jawab Kayvan sambil membukakan pintu untuk Aluna.
Aluna masuk ke mobil, merasakan hawa sejuk AC dan wangi maskulin yang kini mulai ia sukai.
"Terima kasih sudah menjemput." ucap Aluna pelan.
"Sama-sama." jawab Kayvan singkat.
Mobil mulai melaju menembus kemacetan kota, tiba-tiba Kayvan mengulurkan sebuah kotak kecil berwarna biru ke arah Aluna.
"Apa lagi ini?" Aluna ragu untuk menerimanya.
"Buka saja."
Aluna membukanya dan menemukan sebuah ponsel pintar keluaran terbaru.
"Mas, aku sudah punya ponsel." seru Aluna.
"Ponselmu sering mati saat aku hubungi, baterainya sudah rusak." ucap Kayvan tanpa ekspresi.
"Dan di dalamnya sudah ada nomor darurat keluargaku, nomor papa, nomor Raline, dan... nomorku di urutan pertama, jadi pastikan ponsel ini selalu aktif." ujar Kayvan panjang lebar.
Aluna menatap ponsel itu, lalu menatap Kayvan, pria ini benar-benar efisien, ia tidak bertanya apakah Aluna butuh, ia hanya mengamati masalah dan memberikan solusinya secara langsung.
"Terima kasih, Mas Kayvan." ucap Aluna dan kali ini dengan suara yang lebih mantap dan tulus.
Kayvan tidak membalas dengan kata-kata, namun ia mengulurkan tangannya dan menepuk puncak kepala Aluna sekilas yaitu sebuah gerakan yang sangat singkat, namun cukup untuk membuat jantung Aluna berdetak tak karuan.
"Sama-sama, sayang." balas Kayvan pelan.
Di bawah lampu jalanan kota yang mulai menyala satu per satu, Aluna menyadari bahwa dinding es di antara mereka mungkin masih tebal, namun perlahan tapi pasti, mulai muncul retakan-retakan kecil yang membiarkan kehangatan merembes masuk ke dalam hati mereka masing-masing.
Dan bagi seorang yatim piatu yang terbiasa menghadapi dinginnya dunia sendirian, kehangatan itu adalah segalanya.
...****************...
Malam merayap perlahan di kediaman Madhava, setelah makan malam yang penuh dengan gurauan Tuan Baskara mengenai rencana liburan keluarga, Aluna kembali ke kamar utama.
Ruangan itu kini terasa sedikit lebih akrab, meski setiap kali matanya membentur bingkai foto pernikahan mereka yang diletakkan di atas nakas, jantungnya masih melakukan lompatan kecil yang aneh.
Ponsel baru pemberian Kayvan bergetar di atas meja rias, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang berada di urutan teratas daftar kontaknya.
Mas Kayvan: [Aku masih ada pekerjaan sedikit, jangan menungguku kalau mengantuk.]
Aluna menggigit bibir bawahnya setelah melihat pesan tersebut.
'Siapa yang menunggu?' batinnya menyangkal.
Namun, jemarinya justru mengetik balasan dengan cepat.
^^^Aluna: [Baik, Mas. Jangan terlalu larut, besok ada rapat pagi kan?]^^^
Ia tidak mendapat balasan lagi yang sebenarnya sangat khas seorang Kayvan Dipta Madhava, pria itu tidak suka basa-basi di ruang obrolan.
Aluna memutuskan untuk mandi air hangat guna merelaksasi otot-ototnya yang tegang setelah seharian di kampus dan mengajar les.
Saat ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama katun berlengan panjang, ia terkejut melihat sosok Kayvan sudah berdiri di depan balkon kamar, menatap kegelapan taman bawah.
"Sudah selesai kerjanya?" tanya Aluna lembut sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Kayvan berbalik setelah mendengar suara Aluna.
"Hanya memeriksa beberapa laporan keuangan, tidak terlalu mendesak." jawab Kayvan.
Pria itu berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang, ia memperhatikan Aluna yang tampak kesulitan mengeringkan bagian belakang rambutnya.
Tanpa suara, Kayvan bangkit kembali dan mengambil handuk dari tangan Aluna.
"Eh? Mas Kayvan?" seru Aluna terkejut.
"Diamlah, nanti bantalnya basah." ucap Kayvan datar.
Tangan besar itu mulai mengusap rambut Aluna dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah Aluna adalah porselen yang bisa retak kapan saja.
Keheningan yang tercipta di antara mereka tidak lagi terasa mencekam seperti malam pertama.
Ada kenyamanan yang mulai tumbuh, sebuah ritme yang perlahan-lahan mereka temukan dalam interaksi sehari-hari.
"Aluna." panggil Kayvan pelan.
"Iya?"
"Besok malam akan ada jamuan makan malam formal di rumah kolega Papa, aku ingin kamu ikut."
Gerakan tangan Aluna yang sedang merapikan piyamanya terhenti.
"Jamuan formal? Apakah aku harus memakai gaun mewah?"
Kayvan meletakkan handuk ke kursi di dekat mereka.
"Semua sudah disiapkan di lemari, kamu hanya perlu memakainya dan aku ingin memperkenalkanmu secara resmi kepada rekan bisnisku sebagai istriku bukan sebagai mahasiswi yang kebetulan tinggal di sini." seru Kayvan.
Aluna menunduk, dia gugup dan takut setelah mendengar ucapan dari Kayvan.
"Apakah ini perlu? Maksud aku... apakah mas tidak malu membawa seseorang seperti aku ke lingkungan mas?"
Kayvan mengernyitkan dahi, ia menarik dagu Aluna agar gadis itu menatap matanya.
"Apa yang salah dengan seseorang seperti kamu? Kamu mahasiswi berprestasi, pekerja keras dan kamu adalah Nyonya Madhava, tidak ada satu pun alasan bagiku untuk merasa malu justru mereka yang harus merasa terhormat bisa bertemu denganmu." ucap Kayvan.
Pujian yang diucapkan dengan nada datar dan tanpa ekspresi itu justru terasa ribuan kali lebih tulus bagi Aluna.
Ia tersenyum tipis merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke pipinya.
"Terima kasih, Mas."
Kayvan terdiam sejenak mendengar panggilan itu, ia berdeham dan mencoba menutupi kegugupannya sendiri.
"Sekarang tidurlah, aku akan mematikan lampu utamanya." ucap Kayvan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
ud gt cwek ny sok ni x... harga dr hrga dr....🙏🏻