NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:315
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Bersujud di Hadapan Musuh dan Titik Terang Takdir Seo Jun

"Oleh karena itu, karena makhluk gaib itu lahir dari tanah mereka, maka kemungkinan besar... hanya sang ibu pemimpin, Jin Hwa Young, yang mengetahui secara pasti mengenai mantra rahasia serta ritual khusus untuk mengeluarkan cacing darah tersebut dari dalam inti energi seorang penyihir tanpa perlu merenggut nyawanya."

Mendengar pernyataan krusial dari salah satu peserta pertemuan umum tersebut, pandangan mata Han Seol yang berdiri di sudut aula seketika berkilat tajam. Ia langsung melirik ke arah kursi kosong Jinyowon, menyadari bahwa benang takdir penyelamatan Seo Jun kini kembali berputar dan mengarah lurus ke dalam benteng misterius milik ibu mertuanya sendiri.

****

Langkah kaki Jin Wu terasa begitu berat saat menapak masuk ke pelataran terdalam benteng sakral Jinyowon.

Di hadapannya, berdiri Jin Hwa Young dengan keanggunan seorang pemimpin mutlak. Wanita itu berdiri di atas anak tangga, menatap kehadiran sang Gwanju Cheonbugwan dengan sepasang mata yang dipenuhi pendaran dingin penghinaan.

Tidak pernah terbayangkan di dalam benak siapa pun, seorang Jin Wu yang terkenal licik, angkuh, dan memegang otoritas hukum penyihir tertinggi di kerajaan, kini harus melangkah dengan bahu yang merosot lemas.

Ego besar yang selama puluhan tahun ia agung-agungkan terpaksa ia kesampingkan sepenuhnya malam ini. Ya, bagaimana tidak, ngerinya bayang-bayang amukan dan kekuatan tak tertandingi dari Han Seol yang memegang Batu Es-lah yang akhirnya membuat Jin Wu bersedia melakukan apa saja demi bertahan hidup.

Di bawah tatapan sinis para pengawal wanita, Jin Wu menekuk lututnya, menjatuhkan tubuhnya, dan dengan sangat terhina bersujud pasrah di hadapan kaki Jin Hwa Young. Sebuah pemandangan yang pada dasarnya sangat tidak wajar dan mustahil dilakukan oleh seorang pria berstatus agung seperti pemimpin Cheonbugwan.

"Angkat kepalamu, Tuan Jin Wu," desis Jin Hwa Young, suaranya sedingin es yang membeku di dinding Jinyowon.

"Sungguh sebuah kehormatan sekaligus keanehan melihat seorang Pemimpin Cheonbugwan yang agung bersujud di tanah berlumpur milikku. Apa yang membuat rubah licik sepertimu merangkak ke sini?"

Jin Wu mengepalkan tangannya yang menyentuh tanah, menahan rasa malu yang membakar dadanya sebelum perlahan mendongak. "Nyonya Jin... aku tidak akan berbasa-basi lagi. Nyawaku dan Cheonbugwan sedang berada di ujung tanduk. Han Seol... iblis itu sedang mengepung markasku. Dia telah membantai seluruh pasukan elitku tanpa ampun."

Melihat musuh bebuyutannya bersujud gemetar di bawah kakinya, raut wajah Jin Hwa Young sama sekali tidak menunjukkan rasa iba. Sebenarnya, Jin Hwa Young sama sekali tidak peduli dengan kehancuran politik atau nasib buruk apa pun yang sedang menimpa Jin Wu saat ini. Di samping itu, bagi hatinya yang beku, sama sekali tidak penting juga apakah Baek Seo Jun akan hidup atau mati di Seojukwon.

"Lalu, apa hubungannya amukan menantuku itu dengan Jinyowon?" Jin Hwa Young tersenyum sinis, sengaja menekankan kata 'menantu' untuk memprovokasi.

"Jika dia ingin meratakan Cheonbugwan, silakan saja. Aku tidak akan membuang tenagaku untuk menyelamatkan penjahat sepertimu."

"Ini tentang cacing darah!" potong Jin Wu dengan napas memburu, suaranya sedikit meninggi karena panik.

"Parasit cacing darah yang kukirim melalui Jung Min telah bersarang di tubuh Baek Seo Jun, dan sekarang pemuda itu sekarat! Han Seol mengamuk karena sahabatnya di ambang kematian!"

Mendengar kata 'cacing darah', senyuman di wajah Jin Hwa Young seketika lenyap total. Keheningan batinnya terusik. Setelah merenungkan fakta bahwa parasit pemakan energi itu murni berasal dari tanah suci Jinyowon, Jin Hwa Young akhirnya sadar sepenuhnya akan konsekuensi hukum yang mengintai.

Jika Seo Jun—putra dari Jenderal Baek yang memimpin pasukan tempur utama di perbatasan—sampai mati akibat makhluk terkutuk dari Jinyowon, maka namanya dan martabat seluruh klannya dipastikan akan ikut terseret ke dalam lubang kehancuran politik kerajaan serta amukan militer yang mengerikan.

"Kau bedebah ceroboh, Jin Wu!" bentak Jin Hwa Young, emosinya meledak hingga energi di sekelilingnya bergetar.

"Beraninya kau menggunakan relik terlarang milik keluargaku untuk misi kotor kalian?! Jika Jenderal Baek menarik pasukannya dari perbatasan dan meratakan kota ini karena kematian anaknya, Jinyowon tidak akan tinggal diam melihatmu menyeret kami!"

****

Ketegangan itu kian memuncak ketika utusan istana datang menjemput mereka secara paksa. Jin Hwa Young dan Jin Wu diseret langsung ke hadapan Yang Mulia Raja Go Haneul di aula sidang darurat.

Di bawah tatapan tajam sang Raja yang memaksanya dengan titah mutlak agar segera bertindak menyelamatkan nyawa putra panglima perang utara, benteng keangkuhan Jin Hwa Young akhirnya runtuh.

"Nyonya Jin," ucap Raja Go Haneul dengan suara bariton yang menggema penuh ancaman di aula sidang. "Aku tidak peduli apa intrik di antara kalian. Tapi jika Baek Seo Jun mati, Niskala akan dilanda perang saudara. Sebagai pemimpin Jinyowon, keluarkan cacing itu dari tubuhnya atau aku akan mencabut seluruh hak artefak keluargamu!"

Di depan takhta yang sah, Jin Hwa Young akhirnya mengepalkan tangan dan mau membuka mulut. "Hamba mengerti, Yang Mulia. Hamba akan bertindak."

Sementara itu, di selasar luar istana yang dilingkupi kabut malam, Han Seol masih berdiri tegak layaknya patung batu hitam yang tak tergoyahkan. Ia masih setia menunggu di sana sepanjang malam, menolak bergeser satu jengkal pun demi memastikan keselamatan nyawa sahabat karibnya. Penantian dingin sang Penyihir Agung akhirnya menemui titik terang yang dinantikan terkait nasib kelanjutan hidup Baek Seo Jun.

Dari balik pintu besar aula sidang, tiga tokoh agung tampak berjalan melangkah keluar secara serentak. Pangeran Go Si Woo berjalan di depan, diikuti oleh Jin Wu yang tampak lesu, serta Jin Hwa Young yang berjalan dengan jubah kebesarannya yang berkibar rendah.

Mereka bersama-sama keluar menuruni tangga istana untuk memberikan kepastian hukum dan janji penyembuhan langsung kepada Han Seol.

Namun, sebelum pembicaraan krusial itu dimulai, sebuah pemandangan janggal kembali terjadi. Dengan perasaan gugup, cemas, dan ketakutan yang terlihat sangat jelas terpancar dari raut wajahnya yang memucat, Jin Wu melangkah maju mendekati Han Seol.

Di hadapan sang Pemilik Bintang Kerajaan, untuk pertama kalinya Jin Wu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Han Seol..." ucap Jin Wu dengan suara yang bergetar kaku, menelan habis seluruh harga dirinya di depan umum.

"Aku... aku meminta maaf atas tindakan pasukanku di rumah judi. Tindakan Jung Min yang membahayakan nyawa Baek Seo Jun berada di luar kendaliku. Aku berjanji akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahan ini."

Han Seol tidak mengedipkan mata sedikit pun. Sorot matanya sedingin es kutub, menembus langsung ke dalam suratan ketakutan di wajah Jin Wu.

"Simpan maafmu untuk jasad anak buahmu, Jin Wu. Jika Seo Jun tidak bangun besok pagi, kepalamu adalah barang pertama yang akan kupersembahkan di altar Cheon Gi Won."

Pangeran Go Si Woo segera melangkah ke tengah untuk meredam ketegangan. "Cukup, Han Seol. Fokus kita saat ini adalah menyelamatkan Seo Jun. Nyonya Jin sudah setuju untuk membantu."

Jin Wu yang merasa posisinya semakin terdesak segera menoleh dan meminta dengan isyarat tangan agar Jin Hwa Young segera angkat bicara mengenai teknis ritual penyembuhannya.

"Nyonya Jin... tolong katakan padanya apa yang harus kita lakukan."

Jin Hwa Young maju selangkah, menatap menantunya itu dengan rahang yang mengeras menahan dongkol. Mengingat kembali beberapa jam lalu sebelum sidang digelar, Han Seol sebenarnya sudah terlebih dahulu mendatangi Jin Hwa Young secara pribadi di paviliunnya untuk meminta bantuan spiritual.

Dan seperti yang sudah bisa ditebak, kala itu permintaan tolong Han Seol ditolak mentah-mentah dengan penuh caci maki oleh Jin Hwa Young, mengingat betapa besarnya rasa benci wanita itu kepada Han Seol yang dianggap telah merebut dan membawa lari Jin So Hwa dari kekuasaannya.

"Kau lihat sekarang, Han Seol?" ucap Jin Hwa Young dengan nada ketat dan penuh sindiran, mencoba mengembalikan sisa harga dirinya yang runtuh.

"Tadi siang kau datang ke paviliunku seperti pengemis yang meminta bantuan, dan aku menolakmu. Tapi sekarang, takdir justru memaksaku untuk berdiri di sini demi menghentikan seluruh kengerian, tekanan sihir, serta ancaman pembantaian massal yang kau timbulkan sejak semalam di Cheonbugwan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!