NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Hari Minggu pagi biasanya menjadi waktu yang paling tenang di Kos Putra Putri Melati.

Namun hari ini, suasana terasa seperti pangkalan militer yang sedang bersiap menghadapi perang.

Teng teng teng!

Rahman memukul tiang listrik berkarat di depan halamannya menggunakan sendok sayur.

"Ayo bangun semua pasukan kuli gratisanku!"

"Matahari sudah tinggi, jangan bermimpi bisa tidur sampai siang hari ini!" teriak Rahman lantang.

Ceklek.

Pintu-pintu kamar mulai terbuka secara bersamaan.

Budi keluar dengan mengenakan kaos oblong lusuh dan celana pendek selutut.

Di tangannya sudah tergenggam sebuah palu godam berukuran sedang.

Dimas menyusul dengan membawa ember berisi air dan sikat lantai.

Maya dan Rina juga sudah bersiap dengan celemek dapur yang terpasang rapi di tubuh mereka.

"Lapor, Komandan Rahman!"

"Pasukan siap menerima perintah kerja bakti hari ini!" seru Maya sambil memberi hormat ala militer.

Rahman berkacak pinggang menatap para penyewanya dengan ekspresi galak yang dibuat-buat.

"Bagus, jangan ada yang malas-malasan."

"Hari ini kita akan mengecat ulang seluruh pintu kamar dan mengganti keramik teras yang pecah."

"Siap, Pak!"

"Tapi materialnya mana, Pak?" tanya Budi sambil melihat ke sekeliling halaman yang masih kosong.

"Bapak bilang sudah pesan keramik dan cat dari toko Koh Aseng kemarin sore."

Rahman melihat jam dinding tua dari balik jendela kamarnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.

Seharusnya mobil bak Koh Aseng sudah tiba sejak satu jam yang lalu.

"Tunggu sebentar, biar aku telepon si Aseng yang lamban itu."

Rahman mengeluarkan ponsel tuanya dan menekan nomor langganannya.

Tuuut... Tuuut...

"Halo, Koh Aseng? Kenapa barang pesananku belum sampai juga hah?!" semprot Rahman tanpa salam.

Suara di seberang telepon terdengar sangat gugup dan ketakutan.

"Aduh, maaf beribu maaf, Ko Rahman."

"Truk saya tadi dicegat di tengah jalan oleh orang dari perusahaan properti besar."

Rahman mengerutkan keningnya dengan tajam.

"Dicegat bagaimana maksudmu?"

"Mereka memborong semua sisa cat dan keramik murah di toko saya dengan harga dua kali lipat, Ko."

"Termasuk barang yang mau saya kirim ke tempat Ko Rahman."

"Mereka bilang mau memonopoli semua bahan bangunan di daerah ini," jelas Koh Aseng dengan nada menyesal.

Rahman mendengus kasar.

"Dan kau berikan begitu saja barang milikku pada mereka?!"

"Habisnya mereka bayar tunai pakai harga tinggi, Ko."

"Nanti uang muka Ko Rahman saya transfer balik seratus persen ditambah kompensasi deh."

"Sekali lagi maaf ya, Ko," ucap Koh Aseng sebelum memutuskan panggilan dengan terburu-buru.

Tut tut tut.

Rahman menurunkan ponselnya dengan rahang mengeras.

Ting!

[Peringatan: Sabotase bisnis terdeteksi.]

[Pihak Kos Nusantara telah memblokir jalur pasokan material murah untuk menunda renovasi pengguna.]

[Misi Sampingan: Atasi sabotase dan dapatkan bahan material sebelum jam dua belas siang ini.]

"Sialan, manajer berdasi itu berani bermain kotor rupanya."

"Dia pikir dengan memutus pasokan barang murah, aku akan menyerah?" batin Rahman dengan mata menyipit tajam.

"Ada apa, Pak Rahman?"

"Koh Aseng tidak jadi kirim barangnya ya?" tanya Rina yang melihat wajah bapak kosnya memerah.

"Pesanan kita dibajak oleh manajer tengik dari proyek sebelah itu."

"Dia memborong semua material murah di sekitar sini agar kita tidak bisa merenovasi kos ini," jawab Rahman jujur.

Budi langsung memukulkan palunya ke telapak tangannya sendiri karena kesal.

"Wah, ini sih sudah ngajak perang beneran, Pak!"

"Biar saya samperin proyek sebelah sekarang juga!" ancam Budi emosi.

"Jangan gegabah, buruh pabrik!"

"Kita tidak boleh menggunakan kekerasan fisik kalau mau menang dalam bisnis."

"Gunakan otakmu, bukan ototmu!" tegur Rahman menghentikan Budi.

Tepat pada saat itu, sebuah truk fuso besar berwarna merah berhenti di pinggir jalan.

Brummm.

Truk itu membawa muatan penuh keramik porselen berkualitas tinggi dan puluhan galon cat bermerek mahal.

Di badan truk itu terpampang spanduk bertuliskan "Pengiriman VIP PT Properti Nusantara Makmur".

Truk itu berhenti tepat di antara gerbang proyek dan gerbang Kos Putra Putri Melati.

Seorang supir turun sambil memegang selembar kertas nota pengiriman.

Ia tampak kebingungan melihat dua gerbang yang bersebelahan itu.

"Permisi, Pak."

"Ini benar proyek Kos Nusantara Tiga Lantai?" tanya supir itu kepada Rahman yang berdiri di dekat gerbang.

Otak licik Rahman langsung berputar dengan kecepatan penuh.

Ia melihat nota di tangan supir itu bertuliskan sistem pembayaran "Bayar di Tempat".

Sebuah senyum miring perlahan mengembang di wajah keriput pria tua itu.

"Ya, benar sekali."

"Tapi pintu masuk untuk penerimaan material elit ada di gerbang sebelah sini."

Rahman menunjuk ke arah halaman kontrakannya dengan wajah sangat meyakinkan.

Supir itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Oh, di sini ya, Pak?"

"Soalnya di nota tertulis untuk Pak Anton, manajer proyek."

Rahman langsung mengaktifkan Aura Tuan Tanahnya secara maksimal.

Ia membusungkan dadanya dan menatap supir itu dengan tatapan penuh wibawa dan intimidasi.

"Anton itu cuma manajer lapangan bawahanku!"

"Aku adalah Rahman Affandi, direktur utama sekaligus pemilik tanah di wilayah ini."

"Kau mau menentang perintah direktur dan membuat gajimu dipotong hah?!" gertak Rahman dengan suara menggelegar.

Supir itu langsung pucat pasi merasakan tekanan aura yang begitu kuat.

Ia tidak berani membantah lagi melihat gaya Rahman yang memang terlihat seperti bos besar yang galak.

"B-baik, Pak Direktur!"

"Saya akan turunkan semua keramik dan catnya di halaman bapak sekarang juga!" ucap supir itu ketakutan.

Budi, Dimas, dan Maya melongo melihat akting bapak kos mereka.

Mereka tidak menyangka Rahman berani membajak balik barang pesanan musuh tepat di depan mata.

"Cepat bantu supir itu menurunkan barangnya!"

"Susun yang rapi di teras kamarku, jangan sampai ada keramik yang pecah!" perintah Rahman kepada para penyewanya.

Budi dan Dimas yang tersadar dari keterkejutannya langsung tertawa kegirangan.

"Siap laksanakan, Pak Direktur!" seru Budi sambil berlari menghampiri truk.

Dalam waktu kurang dari setengah jam, puluhan dus keramik porselen elit dan cat mahal sudah berpindah tangan.

Semuanya tersusun rapi di halaman Kos Putra Putri Melati.

Supir itu menyodorkan nota pembayarannya kepada Rahman.

"Total semuanya lima belas juta rupiah, Pak."

"Sesuai kesepakatan bayar tunai di tempat."

Mendengar angka lima belas juta, hati Rahman rasanya seperti ditusuk belati.

Ini jauh melampaui anggaran renovasi murahnya.

Namun demi mengalahkan kesombongan Anton dan memenangkan misi sistem, ia harus rela berkorban.

"Tunggu di sini."

Rahman bergegas masuk ke kamarnya dan membuka brankas besinya.

Ia mengambil tumpukan uang tunai dengan tangan gemetar.

"Uang kesayanganku, maafkan aku harus mengorbankan kalian hari ini."

"Tapi tenang saja, aku pasti akan mendapatkan kalian kembali dari uang sewa anak-anak itu nanti," bisiknya pada tumpukan uang tersebut.

Rahman keluar dan menyerahkan uang itu kepada sang supir.

"Ini lima belas juta pas, cepat hitung dan berikan notanya padaku."

Supir itu menghitungnya sekilas dan mengangguk puas.

"Pas, Pak Direktur."

"Terima kasih banyak, saya pamit dulu."

Supir itu segera masuk ke truknya dan melaju pergi meninggalkan lokasi.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!