NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:564
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 - KETEGANGAN SEBELUM BADAI

Gudang senjata bawah tanah di markas utama klan mendadak berubah sibuk layaknya kamp militer yang bersiap maju ke medan perang. Bau tajam minyak pelumas senjata, mesiu, dan keringat bercampur jadi satu di udara.

Suara kokangan senapan dan magasin yang dimasukkan terdengar bersahut-sahutan. Tiga peleton pasukan elit klan yang dipimpin oleh Bastian udah berbaris rapi. Mereka mengenakan rompi anti peluru kelas berat, helm taktis, dan senapan serbu otomatis. Malam ini, mereka nggak lagi beroperasi sebagai mafia yang main di belakang layar. Malam ini adalah pembantaian terbuka.

Valeria berdiri di depan meja baja panjang yang dipenuhi berbagai macam senjata api dan peledak. Wanita itu udah mengganti kemejanya yang kotor dengan setelan tempur serba hitam yang pas di badan, lengkap dengan sabuk taktis yang melingkari pinggang rampingnya. Matanya yang tajam menatap kosong ke arah deretan peluru di depannya.

Pengkhianatan Paman Surya benar-benar menghancurkan sisa-sisa sisi manusianya. Pria yang dulu mengajarinya menembak untuk pertama kali, kini menggunakan senjata yang sama untuk menyingkirkannya.

"C4 udah disiapin semua di bagasi, Nyonya! Kita bawa cukup peledak buat ngeratain satu blok pelabuhan kalau Viper macam-macam," lapor Bastian berjalan mendekat, suaranya menggelegar penuh semangat tempur.

"Bagus," sahut Valeria dingin, tangannya sibuk memasukkan peluru ke dalam magasin Glock-19 miliknya satu per satu. Bunyi *klik, klik, klik* dari peluru itu seolah jadi detak jantung pembunuhannya. "Pastikan anak buahmu nggak ada yang nembak membabi buta. Aku mau Surya hidup. Aku sendiri yang bakal bolongin tempurung lututnya sebelum aku potong lehernya."

"Siap, Nyonya!" Bastian mengangguk tegas, lalu kembali berlari ke arah pasukannya untuk memberikan *briefing* terakhir.

Di sudut ruangan yang agak remang, Kael berdiri mematung. Pria jangkung itu udah sepenuhnya siap dengan perlengkapan tempurnya. MP5 tergantung di depan dadanya, dua pistol di paha, dan beberapa pisau lempar terselip rapi di sabuknya. Tapi bukannya ikut sibuk mengecek senjata, Kael malah terus-terusan menatap layar *tablet* di tangannya yang menampilkan denah *blueprint* gudang pelabuhan.

Alis tebal Kael berkerut dalam. Mata elangnya memindai setiap titik masuk, ventilasi, dan jalur evakuasi di denah itu. Insting monsternya, yang selama sepuluh tahun selalu berhasil menjaga Valeria tetap hidup, kini berteriak nyaring di dalam kepalanya.

Ada yang salah. Semuanya terasa terlalu mudah, terlalu... dipaksakan.

Kael meletakkan *tablet* itu di atas peti peluru, lalu melangkah lebar menghampiri Valeria.

"Val, kita harus menunda serangan ini," ucap Kael tanpa basa-basi, suaranya rendah tapi tegas.

Valeria menghentikan gerakannya memasukkan peluru. Dia mendongak, menatap Kael dengan kening berkerut tajam.

"Menunda? Kamu bercanda? Pasukan udah siap, mobil udah di depan, dan Surya lagi nunggu kita di sana. Nggak ada kata mundur," tolak Valeria judes, kembali fokus pada senjatanya.

Kael melangkah lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka. Tangan besarnya terulur, menahan pergelangan tangan Valeria dengan lembut tapi penuh tenaga, memaksa wanita itu berhenti dan menatapnya.

"Lepasin, Kael," desis Valeria penuh peringatan.

"Dengarkan saya dulu, Val," pinta Kael, matanya menatap lurus ke dalam manik mata sang ratu. "Saya baru saja mempelajari ulang denah gudang pelabuhan itu. Struktur bangunannya adalah jebakan maut. Hanya ada dua pintu akses yang bisa dilewati kendaraan, dan keduanya dikelilingi oleh kontainer tinggi yang membentuk lorong sempit. Itu *kill box* yang sempurna."

"Aku tahu itu *kill box*," balas Valeria keras kepala, menarik tangannya dari genggaman Kael. "Makanya kita bawa pasukan elit dan peledak. Kita jebol dindingnya dari luar. Kita serang mereka dari titik yang nggak mereka duga."

"Surya tahu taktik itu, Val!" debat Kael, suaranya sedikit meninggi. "Paman Anda bukan orang bodoh. Dia yang merancang protokol keamanan klan ini bersama mendiang ayah Anda. Dia tahu persis bagaimana cara pasukan elit kita bergerak. Dia tahu Anda lebih suka mendobrak dinding daripada masuk lewat pintu depan."

Valeria terdiam, tapi rahangnya mengeras karena gengsi dan amarah.

"Lalu? Kamu mau kita diam aja di markas nunggu Surya ngambil alih semua aset klan?" tantang Valeria sinis. "Kamu sendiri yang tadi pagi bersumpah bakal jadi pedangku dan ngebantai mereka semua, kan? Apa sekarang monsternya tiba-tiba ciut karena takut mati?"

Kata-kata Valeria cukup menusuk, tapi Kael sama sekali nggak terpancing emosi. Pria itu justru menatap Valeria dengan sorot mata yang luar biasa khawatir.

"Saya tidak pernah takut mati, Val. Saya sudah siap mati sejak sepuluh tahun lalu," jawab Kael serak, tangannya terkepal erat di sisi tubuh. "Tapi saya takut gagal melindungi Anda. Ini bukan sekadar jebakan biasa. Surya mengirim Haris untuk membocorkan lokasinya... itu artinya dia *ingin* kita datang malam ini. Dia sudah menyiapkan sesuatu yang dirancang khusus untuk menghancurkan kita."

"Aku nggak peduli seberapa besar jebakannya, Kael!" bentak Valeria akhirnya meledak. Suaranya menggema di sudut ruangan senjata itu, membuat beberapa anggota pasukan di kejauhan sempat menoleh kaget sebelum buru-buru buang muka lagi.

Dada Valeria naik turun dengan cepat. Matanya berkaca-kaca karena amarah yang nggak bisa dibendung lagi.

"Dia keluargaku, Kael! Dia paman kandungku!" desis Valeria dengan suara bergetar menahan tangis frustrasi. "Dia makan di meja yang sama denganku, dia tersenyum padaku tiap kali kita rapat, dan di belakangku dia ngasih kunci rumah kita ke musuh yang bunuh ayahku! Kalau aku biarin dia bernapas satu malam lagi aja... aku bisa gila. Aku harus ngebunuh dia malam ini juga."

Melihat pertahanan emosional Valeria yang runtuh perlahan, dinding logika Kael ikut goyah. Kael selalu punya titik lemah yang sama: air mata wanita di depannya ini. Saat Kael melihat rasa sakit yang begitu dalam di mata Valeria, semua perhitungan taktis di kepalanya menguap begitu aja.

Kael menghela napas panjang. Pria itu melangkah maju, menutup sisa jarak di antara mereka. Tangan kirinya terangkat, mengusap lembut rambut *ponytail* Valeria untuk menenangkannya.

"Baiklah," bisik Kael akhirnya mengalah. Suaranya kembali melembut, penuh dengan kepasrahan mutlak seorang pemuja. "Kalau Anda memang ingin masuk ke dalam neraka malam ini, saya akan berjalan di depan Anda. Tapi berjanjilah satu hal padaku, Val."

Valeria mendongak, menatap mata elang Kael yang kini memancarkan aura kematian yang pekat. "Apa?"

"Kalau firasat saya benar dan situasinya tidak bisa dikendalikan... Anda harus lari. Tinggalkan saya di belakang untuk menahan mereka, dan Anda harus lari sejauh mungkin," ucap Kael serius, mengunci tatapan Valeria.

Valeria langsung mendengus kesal, meninju pelan dada Kael yang terbalut rompi anti peluru.

"Jangan ngomong seolah-olah kamu mau mati konyol. Kita masuk berdua, kita keluar berdua. Itu perintah," tegas Valeria mutlak, kembali memasang topeng sang ratu mafia yang tak terkalahkan. Wanita itu mengambil pistolnya, memasukkannya ke sarung di pinggang, lalu berbalik.

"Bastian! Pasukan gerak sekarang!" teriak Valeria menggelegar ke seisi gudang.

"Siap gerak!" seru Bastian memimpin pasukannya berlari menuju deretan SUV dan truk taktis di *basement*.

Kael berdiri di tempatnya selama beberapa detik. Pria itu menarik napas dalam-dalam, merilekskan otot-otot lehernya. Dia memeriksa ulang magasin MP5-nya, memastikan pisau tempurnya mudah dicabut, dan membiarkan insting monsternya mengambil alih sepenuhnya. Firasat buruk itu masih bersarang kuat di dadanya, terasa seperti batu es yang berat. Tapi perintah ratunya adalah absolut.

Kael melangkah menyusul Valeria menuju mobil.

***

Konvoi besar-besaran klan Valeria melaju membelah jalanan kota yang mulai gelap. Hujan gerimis kembali turun, menambah nuansa suram di malam yang mencekam itu.

Mereka menggunakan rute yang memutar untuk menghindari penyergapan di jalan raya, memilih jalan-jalan kawasan industri yang lebar dan sepi. Sekitar empat puluh menit kemudian, aroma garam laut yang khas dan udara lembap mulai tercium. Mereka sudah mendekati area pelabuhan sektor barat.

Pelabuhan itu terlihat sangat sunyi. Terlalu sunyi.

Biasa malam hari dipenuhi aktivitas bongkar muat kargo gelap, malam ini pelabuhan itu seolah kota mati. Lampu-lampu sorot raksasa di sekitar *crane* dimatikan, hanya menyisakan lampu jalanan temaram yang berkedip-kedip.

Mobil yang ditumpangi Valeria dan Kael berada di tengah konvoi. Bastian memimpin di depan.

"Nyonya, kita udah sampai di perimeter luar gudang pelabuhan. Gerbang utama dikunci pakai rantai tebal, tapi nggak kelihatan ada penjaga di luar," lapor Bastian lewat *earpiece* komunikasi yang terpasang di telinga Valeria dan Kael.

Valeria yang duduk di kursi belakang mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jangan masuk lewat gerbang utama. Tabrak pagar seng di sebelah timur, kita masuk dari area penumpukan kontainer seperti rencanaku."

"Siap, Nyonya!"

Mobil Bastian langsung membelokkan arahnya, menabrak pagar seng berkarat dengan keras sampai roboh. Konvoi belasan mobil itu melesat masuk, menerobos masuk ke area pelabuhan yang dipenuhi ribuan kontainer warna-warni yang ditumpuk setinggi tebing.

Gudang utama yang menjadi target mereka terletak tepat di tengah-tengah area kontainer itu. Bangunan hanggar raksasa beratap melengkung yang terlihat gelap gulita.

Saat mobil-mobil klan Valeria berhenti menyebar di lapangan beton luas di depan gudang raksasa itu, Kael langsung merasakan bulu kuduknya berdiri. Udara di sekeliling mereka terasa sangat statis dan menekan.

"Semuanya keluar! Bentuk formasi setengah lingkaran!" teriak Bastian memberi komando.

Puluhan pasukan elit bersenjata laras panjang berlompatan turun dari truk dan SUV, langsung mengambil posisi berlindung di balik pintu mobil yang terbuka dan beberapa tong besi di sekitar lapangan. Suara kokangan senjata memecah keheningan pelabuhan.

Kael turun lebih dulu, matanya bergerak liar menyapu atap gudang dan celah-celah kontainer di sekeliling mereka. Gelap. Terlalu gelap.

Kael membukakan pintu untuk Valeria, tangannya refleks merangkul pinggang wanita itu agar tetap merunduk dan berada di belakang tubuh besarnya.

"Aneh," gumam Valeria pelan, matanya menyipit menatap pintu gudang raksasa yang tertutup rapat. "Di mana pasukan Viper? Haris bilang Surya memimpin langsung pengambilalihan malam ini."

"Ini yang saya takutkan, Val," desis Kael menaikkan senapannya ke depan dada, matanya terus bergerak awas. "Mereka tidak sedang mengambil alih gudang. Mereka sedang menunggu kita masuk ke dalam arena."

Tiba-tiba, suara derit besi yang sangat nyaring dan panjang menggema di seluruh area pelabuhan.

Pintu geser raksasa dari hanggar gudang di depan mereka perlahan-lahan terbuka, ditarik oleh mesin hidrolik. Dari dalam gudang yang awalnya gelap gulita, puluhan lampu sorot *halogen* berdaya tinggi mendadak menyala serentak, menyorot langsung ke wajah Valeria, Kael, dan seluruh pasukan elit klan di lapangan.

Cahaya yang menyilaukan itu membuat pasukan Bastian refleks mengangkat tangan menutupi mata mereka. Kael hanya memicingkan matanya, instingnya siap membunuh.

Di tengah-tengah cahaya terang itu, siluet seorang pria paruh baya berjalan santai keluar dari dalam gudang. Dia mengenakan jas rapi, memegang sebuah payung hitam klasik meski di dalam ruangan, dan tersenyum sangat ramah. Paman Surya.

Namun, yang membuat darah Valeria membeku bukanlah senyum pamannya. Melainkan pemandangan di belakang pria itu.

Di dalam gudang yang terbuka lebar, bukan hanya ada puluhan, melainkan ratusan pasukan elit bayaran bersenjata lengkap. Mereka berdiri berbaris rapi layaknya pasukan militer yang siap mengeksekusi tahanan perang. Dan di atas tumpukan kontainer yang mengelilingi lapangan beton tempat pasukan Valeria berada, puluhan *sniper* dengan laser merah sudah membidik tepat ke arah kepala mereka.

Perhitungan Kael seratus persen benar. Ini bukan serangan balik. Ini adalah kandang pembantaian.

"Selamat malam, keponakanku tersayang," sapa Surya dengan suara yang menggema lewat *megaphone*, senyum kebapakannya terlihat sangat menyeramkan di bawah lampu sorot. "Paman sudah menyiapkan pesta penyambutan yang meriah untukmu."

1
Putra kembar
sangat menegangkan, ceritanya bagus 🤙🏻
Putra kembar
ceritanya bagus, bikin greget dan menegangkan 😍👍
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!