NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL03. Bad Day?

Pagi itu seharusnya tidak dimulai dengan teriakan.

Namun bagi Lyana Shaqiera, hari bahkan belum benar-benar dimulai ketika suara alarm dari ponselnya sudah berdering untuk kesekian kalinya. Tangannya bergerak malas di atas kasur, mencari sumber suara tanpa sedikit pun niat untuk membuka mata. Alarm pertama dimatikan. Alarm kedua menyusul. Alarm ketiga bahkan sempat berbunyi cukup lama sebelum akhirnya kembali hening.

Qiera menarik selimut lebih tinggi dan membenamkan wajah ke bantal, sama sekali tidak menyadari bahwa waktu terus berjalan dan kelas pertamanya pagi itu tinggal beberapa menit lagi.

“Lily..”

Tidak ada jawaban.

Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat.

“Lily, bangun.”

Qiera hanya bergumam tidak jelas sambil menarik selimut ketika seseorang menepuk pelan bahunya. Dalam keadaan setengah sadar, ia bahkan tidak benar-benar memahami siapa yang sedang mengganggunya. Yang ia tahu hanya satu: ia masih mengantuk dan siapa pun yang berani membangunkannya pagi-pagi seperti ini pantas mendapatkan protes.

“Lima menit lagi,” gumamnya.

“Sudah bukan lima menit lagi.”

“Lima menit.”

“Lyana..”

“Jangan ganggu..”

Ravian mengembuskan napas. Pagi itu ia sebenarnya sudah siap lebih dahulu. Kemeja putih yang dikenakannya belum sepenuhnya dikancingkan karena ia masih berusaha membangunkan istrinya yang tampaknya memiliki bakat luar biasa untuk mengabaikan alarm. Ia sudah memanggil namanya beberapa kali, tetapi hasilnya nihil.

“Kalau kamu tidak bangun sekarang, kamu akan terlambat.”

“Ngga bakal telat..”

“Kelas kamu mulai dua puluh menit lagi.”

Qiera membuka mata sedikit, lalu menutupnya kembali. “Masih lama.”

“Sekarang jam tujuh lewat sepuluh.”

Seketika kedua mata Qiera langsung terbuka. “Hah?”

Ia buru-buru bangkit, tetapi sebelum Ravian sempat mundur, tangan Qiera justru meraih lengan pria itu secara refleks dan menariknya. Ravian yang sama sekali tidak menduga gerakan tersebut kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terdorong ke depan hingga kedua tangannya bertumpu di sisi kepala Qiera.

Untuk beberapa detik, dunia terasa berhenti.

Qiera yang baru saja membuka mata mendapati wajah Ravian berada tepat di atasnya. Dekat, terlalu dekat bahkan keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.

Rambut pria itu masih sedikit berantakan, kemeja putihnya belum selesai dikancingkan, dan jarak wajah mereka begitu dekat hingga Qiera bisa melihat jelas ekspresi terkejut yang bahkan belum pernah ia lihat di wajah seorang Ravian.

Keduanya terdiam.

Qiera berkedip.

Ravian juga berkedip.

“...”

“...”

Seketika Qiera langsung melepaskan tangannya seolah baru saja menyentuh benda panas. “Astaga!”

Ravian segera bangkit dan merapikan kemejanya dengan tenang, meskipun sudut bibirnya terlihat seperti sedang menahan tawa. “Kamu yang menarik saya.”

“Aku enggak sengaja!”

“Saya tahu.”

“Terus jangan ketawa begitu!”

“Saya tidak tertawa.”

"Pak Ravi jelas ketawa!”

Wajah Ravian seketika berubah datar. “Kalau begitu, saya anggap pagi ini kamu memang ingin membuat saya terlambat.”

Melihat pria berstatus suaminya itu justru mendekat, Qiera sontak mengambil bantal dan melemparkannya. “Keluar! Aku mau siap-siap!”

Namun pria itu seolah tak mendengarkan Qiera. Ravi justru semakin mendekati Qiera yang sudah berdiri di atas ranjang.

Perasaan takut bercampur gugup menyerang Qiera. Dan sialnya, di saat seperti ini ia malah hilang keseimbangan sehingga tubuhnya limbung.

Grepp

Beruntung Ravi langsung memegangi pinggangnya agar tidak terjatuh dari kasur. Namun posisi itu justru lebih berbahaya karena membuat Qiera semakin tak karuan.

"Tadi manggil saya apa?" tanya Ravi dengan kedua tangan yang masih memegangi pinggang Qiera.

"Keceplosan.. Kali ini aja ya? Please..."

Oke, Qiera kalah. Ia tak mau membuang waktu untuk berdebat dan semakin telat nantinya.

"Coba ngomong yang benar."

Nada Ravi memang biasa saja, namun entah mengapa terasa sangat mengintimidasi di telinga Qiera.

Qiera menghembuskan nafasnya, menekan egonya demi bisa segera bersiap ke kampus. "Mas Ravi, Mas Ravi, Mas Ravi, Mas Ravi, Mas Ravi.. Tolong keluar ya, aku mau siap-siap.." mohon Qiera dengan wajah memelas.

Akhirnya pria itu melepaskan Qiera. Ravian kemudian berjalan menuju pintu sambil tertawa kecil. “Cepat, Lily. Jika terlambat, tidak ada toleransi untukmu, meskipun kamu istriku.”

Qiera memandang pintu yang tertutup setelah pria itu keluar. “Cepat, Lily. Jika terlambat, tidak ada toleransi untukmu, meskipun kamu istriku,” celoteh Qiera menirukan Ravi.

“MATI AKU!” teriak gadis itu setelah melihat jam di kamarnya.

...🍀🍀🍀...

Qiera berlari menuju gedung fakultas dengan rambut yang dicepol berantakan dan napas tersengal. Ia bahkan tidak sempat sarapan. Satu-satunya hal yang membuatnya sedikit lega adalah ia berhasil sampai sebelum kelas benar-benar berakhir.

Sayangnya, lega itu hanya bertahan sampai tangannya membuka pintu ruang kelas.

Semua kepala langsung menoleh. Dan di depan ruangan, Ravian Aryasatya sedang berdiri dengan spidol di tangannya.

Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima. Qiera terlambat lima belas menit.

Ravian menatapnya tanpa ekspresi. “Selamat pagi, Shaqiera.”

Qiera berdiri kaku di depan pintu. “Pagi, Pak.”

Beberapa mahasiswa menahan tawa.

Ravian melihat jam, lalu kembali menatapnya. “Silakan masuk.”

Qiera buru-buru berjalan menuju tempat duduknya. Namun baru dua langkah, suara Ravi kembali terdengar.

“Dan jangan lupa kesepakatan kita di awal semester.”

Seketika langkah Qiera terhenti.

Oh, tidak!

Ia perlahan menoleh. “Kesepakatan yang mana, Pak?”

“Mahasiswa yang datang terlambat wajib membantu menjelaskan materi yang sedang dibahas.”

Beberapa teman Qiera langsung menatapnya dengan ekspresi prihatin. Qiera hanya bisa menutup mata sebentar. Hari baru dimulai dan ia sudah ingin pulang.

“Baik, Pak.”

Ravian mengangguk. “Silakan siapkan diri. Lima menit lagi Anda menggantikan saya menjelaskan bagian berikutnya.”

Qiera akhirnya duduk dengan wajah masam. Untungnya, materi yang sedang dibahas bukan sesuatu yang benar-benar asing. Ia sudah membaca sebagian bahan tersebut kemarin meskipun tidak terlalu mendalam. Jadi ketika lima menit kemudian ia berdiri di depan kelas, ia masih mampu menjelaskan konsep dasarnya dengan cukup lancar.

Masalahnya muncul ketika Ravi mulai bertanya.

“Kalau menurut Anda pendekatan tersebut diterapkan pada kasus dengan kondisi berbeda, apakah kesimpulannya tetap sama?”

Qiera berpikir sebentar. “Tetap, karena prinsip dasarnya tidak berubah.”

“Tidak selalu.”

Qiera menoleh. “Kenapa?”

“Karena Anda mengabaikan kondisi pada pihak kedua.”

“Saya tidak mengabaikannya. Saya hanya menganggap—”

“Anggapan itu yang menjadi masalah.”

Qiera menarik napas.

Beberapa mahasiswa mulai menoleh ke arah mereka seperti sedang menonton pertandingan yang sudah mereka kenal hasilnya.

“Kalau begitu, menurut Bapak bagaimana?” tanya Qiera.

Ravian mengangkat sebelah alis. “Saya sedang bertanya kepada Anda.”

“Saya sudah menjawab.”

“Dan jawaban Anda masih memiliki celah.”

Qiera mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Kalimat itu lagi.

Masih memiliki celah

Entah kenapa setiap mendengarnya dari mulut Ravi, kesabarannya langsung turun beberapa tingkat.

“Kalau semua jawaban mahasiswa selalu dianggap punya celah, lalu kami harus menjawab apa?” celetuknya.

Kelas langsung hening.

Ravian justru terlihat tenang. “Jawaban yang lebih kuat.”

Beberapa mahasiswa tertawa kecil.

Qiera mendengus. “Nyebelin.”

“Di kelas, tolong gunakan bahasa yang lebih akademis.”

“Baik, Pak.”

Sungguh, Qiera ingin melempar spidol ke arahnya. Untung kelas segera berakhir sebelum tragedi itu benar-benar terjadi.

.

.

Saat makan siang, Qiera sudah tidak punya tenaga untuk memikirkan kuliah berikutnya. Ia duduk bersama Nisa dan Salsa di kantin sambil menusuk-nusuk makanan di piringnya tanpa selera. Kedua temannya sudah tahu bahwa ekspresi tersebut berarti ada sesuatu yang membuat Qiera kesal.

“Jangan bilang karena Pak Ravi lagi,” kata Nisa.

“Siapa lagi?” Qiera langsung menyahut. “Pagi-pagi aku terlambat gara-gara alarm, masuk kelas langsung disuruh menjelaskan materi, terus setelah aku menjelaskan malah dicari-cari celahnya.”

Salsa menahan tawa. “Tapi memang kamu datang terlambat.”

“Aku tahu!”

“Berarti salah siapa?”

“Jangan bela dia.”

“Aku enggak membela.”

Qiera menghela napas panjang. “Pokoknya dia itu menyebalkan. Di kampus enggak pernah bisa lihat orang menjawab tanpa dibantah. Sedikit-sedikit ‘argumen Anda kurang kuat’, ‘masih ada celah’, ‘coba jelaskan lagi’. Emangnya dia pikir otak manusia itu ChatGPT? GPT aja masih sering salah!” ucapnya mendengus kesal.

Nisa tertawa. “Tapi kalau dipikir-pikir, kamu hafal banget kalimat-kalimatnya.”

“Karena terlalu sering dengar!”

“Terus tadi kenapa kamu datang terlambat?”

Qiera mendadak diam.

Salsa mengangkat alis. “Kenapa?”

“Tidak ada.”

“Kamu nyembunyiin sesuatu?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Aku cuma... kesiangan.”

“Kenapa?”

“Alarmnya ngga bunyi,” beo Qiera ngasal.

Nisa menyipitkan mata. “Alarm atau emang ada yang kamu sembunyikan??”

Qiera baru hendak menjawab ketika suara yang sangat ia kenal terdengar dari belakang.

“Kalau saya boleh ikut menjawab, sepertinya masalahnya memang bukan alarm.”

Qiera membeku. Begitu pula dengan Nisa dan Salsa yang langsung terdiam.

Perlahan Qiera menoleh ke sumber suara. Ravian berdiri beberapa langkah dari meja mereka dengan ekspresi tenang, satu tangan memegang beberapa dokumen.

Saat itulah Qiera merasa seluruh kantin tiba-tiba menjadi terlalu terang.

“Pak...” ucapnya menyapa dengan ragu.

Ravian menatapnya dengan tatapan yang bahkan mereka tidak tahu apa maksudnya. “Setelah makan siang, datang ke ruangan saya.”

Qiera menelan ludah. “Sekarang?”

“Setelah selesai.”

Lalu pria itu berjalan pergi begitu saja.

Nisa menatap Qiera dengan mata membesar. “Mampus, Qie.”

“Diam.”

Salsa menahan tawa. “Dia denger kalau dia lagi kita ghibahin?"

“Kayaknya.”

“Semoga selamat, ya, Qie... Kita turut berduka.”

Qiera tak menghiraukan ucapan sahabatnya. Ia hanya menatap punggung Ravi yang semakin menjauh.

Hari yang menyebalkan!

Benar-benar menyebalkan!

...🍀...

Qiera berdiri di depan pintu ruangan Ravi dengan perasaan tidak enak. Ia mengetuk dua kali sebelum suara dari dalam mempersilakannya masuk.

“Duduk.”

Qiera duduk di kursi depan meja.

Ravian masih membaca dokumen di tangannya. Ia membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya mengangkat wajah.

“Bagaimana makan siangnya?”

Qiera mengerutkan dahi. “Baik.”

“Ghibahnya juga baik?”

Seketika wajah Qiera langsung berubah.

“Saya dengar semuanya.”

“Aku cuma bercanda,” beo gadis itu menunduk.

“Begitu?”

Qiera diam, tidak lagi menjawab.

Ravian menyandarkan tubuh ke kursinya. “Kamu tadi mengatakan saya terlalu suka mencari kesalahan mahasiswa.”

“Pak...”

Ravian mengangkat alis. Ia kemudian mengambil sebuah buku dari meja dan menyerahkannya kepada Qiera. “Hukuman.”

Qiera menatap buku tersebut. “Apa ini?”

“Bacakan dan buat rangkuman dua halaman.”

“Dua halaman?”

“Serahkan ke saya besok.”

Qiera mengeluh. “Ini karena aku ngomong di kantin?”

Ravian tersenyum tipis. “Good girl, kamu sadar kesalahan kamu.”

Qiera menatapnya tidak percaya. “Bapak dendam?”

“Saya dosen. Saya menilai berdasarkan perbuatan.”

“Nyebelin.”

“Terima kasih.”

Qiera mengambil buku tersebut dengan kesal. Namun sebelum ia pergi, Ravi berkata pelan, “Lily.”

Qiera menoleh.

“Jangan terlalu dipikirkan soal tadi pagi.”

Qiera mengerutkan kening. “Yang mana?”

Ravian hanya tersenyum tipis. “Yang kamu tarik sendiri.”

Wajah Qiera seketika memerah. “Pak Ravi!”

Tawa kecil pria itu terdengar ketika Qiera buru-buru keluar dari ruangan bahkan membanting pintu.

.

.

To be continued

See you🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!