NovelToon NovelToon
Suamiku, Beban Atau Rumah?

Suamiku, Beban Atau Rumah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sindiran di Garasi

Suara dering jam weker di atas meja belajar membangunkan Eda tepat pukul empat pagi. Udara Kota Solo masih terasa menggigit kulit, namun Eda tak mengulur waktu di atas kasur. Usai menunaikan salat Subuh, ia menyalakan laptopnya yang sudah agak lemot. Pagi ini, Eda berniat mematangkan draf Modul Ajar dan skenario simulasi mengajar sepuluh menit untuk tahap tes Guru Penggerak berikutnya.

Jemarinya dengan lincah mengetik langkah-langkah pembelajaran interaktif di Microsoft Word. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan antusiasme seperti ini—rasa berdaya sebagai seorang pendidik yang punya cita-cita tinggi, bukan sekadar pelayan di rumahnya sendiri.

Pukul setengah enam, Eda keluar dari kamar untuk mengambil air minum di dapur. Di ruang tengah, Doni sedang sibuk memotong kain lap bekas untuk membersihkan kaca mobil sewaan yang diparkir di garasi depan. Begitu melihat Eda melintas membawa botol air, Doni menghentikan usapannya lalu mendecak keras.

"Walah, yang mau jadi orang sukses di SD Harapan Bangsa lewat terus, tapi rumah sendiri dianggurin," sindir Doni keras-keras, sengaja agar terdengar sampai ke kamar Ibu Ratna. "Dapur dingin kayak kuburan, Mama batuk-batuk dari semalam tidak ada yang bikinkan teh hangat."

Eda menghentikan langkahnya di dekat pintu dapur. Ia membalikkan badan, menatap Doni lurus-lurus tanpa raut takut sedikit pun.

"Mas Doni kan punya tangan dan kaki sehat," sahut Eda tenang namun menohok. "Mbak Rini juga ada di dalam kamar. Kalau Mama batuk dan butuh teh hangat, kenapa Mas Doni atau Mbak Rini tidak buatkan sendiri? Kenapa harus nunggu Eda yang dari pagi sudah harus persiapan mengajar?"

Wajah Doni seketika memerah. Ia melempar kain lapnya ke atas kap mobil dengan kasar. "Kamu itu makin tuman ya, Ed! Dikasi tahu malah ngelawan! Kamu pikir gara-gara kamu lolos tes di sekolah itu kamu jadi lebih tinggi dari orang rumah?!"

"Eda tidak pernah merasa lebih tinggi, Mas," balas Eda tegas. "Eda cuma minta satu hal: stop posisikan Eda seperti pembantu yang wajib melayani semua orang di rumah ini, sementara kalian cuma bisa menuntut dan menyindir."

"Ada apa sih pagi-pagi sudah teriak-teriak?!" suara Ibu Ratna terdengar dari balik pintu kamar. Wanita tua itu keluar sambil memegangi pinggangnya, melemparkan pandangan tajam pada Eda. "Eda! Kamu ini tidak bisa ya sehari saja bikin rumah ini tenang? Nasihatin kakakmu sedikit saja pakenya urat!"

Eda menarik napas panjang, enggan melayani perdebatan kusir yang hanya menguras energi paginya. Tanpa membalas perkataan ibunya, Eda membawa botol airnya kembali ke kamar, lalu memutar kunci dari dalam. Klek.

Di SD Harapan Bangsa, Eda memanfaatkan jam istirahat pertama untuk berlatih simulasi mengajar di depan Bu Maya. Mereka menggunakan ruang kelas lima yang sedang kosong karena siswanya sedang berolahraga di lapangan.

"Selamat pagi, anak-anak! Hari ini kita akan belajar tentang jaring-jaring bangun ruang sederhana," Eda memperagakan gaya mengajarnya dengan suara lantang, gestur tangan yang luwes, dan senyum hangat. Ia memperagakan penggunaan media kardus bekas yang sudah dipotong-potong menjadi jaring-jaring kubus.

Bu Maya yang duduk di bangku paling belakang bertepuk tangan renyah begitu Eda menyelesaikan latihan simulasi tepat di menit kesembilan.

"Luar biasa, Bu Eda!" puji Bu Maya antusias sambil melangkah mendekat. "Intonasi suaranya pas banget, penggunaan alat peraganya juga kontekstual. Pembukaan dan penutupannya mengalir alami sekali. Saya yakin pengawas dari dinas nanti pasti terpesona!"

Eda menghela napas lega, menyapu peluh tipis di dahinya dengan tisu. "Beneran bagus ya, Bu Maya? Saya sempat agak gugup tadi, takut waktunya lewat dari sepuluh menit."

"Sangat bagus, Bu! Tinggal pertahankan rasa percaya diri seperti ini saat tampil secara daring atau luring nanti," hibur Bu Maya tulus.

Sore harinya, saat bel pulang sekolah berbunyi, Pak Burhan menyempatkan diri mampir ke ruang guru. Beliau menyerahkan selembar kertas berisi jadwal latihan bersama pengawas pembina gugus.

"Bu Eda, ini jadwal coaching ringan dari pengawas kita untuk peserta yang lolos tahap dua," ujar Pak Burhan. "Manfaatkan betul kesempatan ini ya. Saya lihat potensi Bu Eda sangat besar."

"Siap, Pak Burhan. Matur nuwun sanget atas fasilitas dan bimbingannya," jawab Eda tulus.

Perjalanan pulang ke kontrakan di Solo sore itu diwarnai gerimis tipis. Namun di dalam angkot, Eda sibuk memandangi catatan skenario pembelajarannya di dalam buku agenda kecil. Pikirannya dipenuhi ide-ide kreatif untuk mengajar, bukan lagi ratapan atas perlakuan keluarganya.

Begitu sampai di kontrakan, Eda melihat Agus sedang duduk di teras depan. Pria itu menatap Eda yang turun dari angkot dengan raut wajah rumit—antara gengsi yang terluka, cemburu melihat istrinya makin mandiri, dan kekesalan karena silent treatment-nya tidak mempan sama sekali.

Eda melangkah melewati teras, mengangguk tipis pada suaminya, lalu mengucapkan salam dengan tenang.

"Assalamu’alaikum."

Agus tidak menjawab secara lisan, hanya mendesis pelan sambil membuang muka ke arah jalanan gang. Tapi Eda tidak peduli lagi. Ia masuk ke dalam rumah, melepaskan sepatu pantofelnya, dan melangkah mantap menuju kamarnya.

Eda tahu, jalan menuju kebebasan dan kehormatan dirinya masih panjang, tapi tiap langkah kecil yang ia ambil hari ini makin menjauhkannya dari kubangan penderitaan masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!