NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH DUA

Amara terbangun di tengah kegelapan malam. Kesadarannya terkumpul perlahan, menyisakan rasa berat yang menekan seluruh tubuhnya. Saat mencoba menggerakkan bahunya, ada kehangatan yang mendekap pinggangnya begitu erat.

Zain tidur di sisinya, melingkarkan lengan tegapnya memeluk tubuh Amara.

"Aku... kenapa?" bisik Amara parau. Pandangannya bergulir ke arah punggung tangan kanannya. Sebuah jarum infus menancap di sana, menyalurkan cairan bening secara konstan.

Pergerakan halus itu membuat Zain mengusik tidur lelapnya. Kelopak mata pria itu terbuka perlahan. Begitu mendapati mata Amara menatapnya, Zain mendudukkan tubuhnya seketika.

"Mara? Kamu sudah sadar?" Zain mengulurkan tangannya, menempelkan telapak tangannya di kening Amara. "Suhu tubuhmu sudah turun."

Amara masih berada dalam kondisi setengah sadar. Ada rasa tak percaya yang membuncah saat melihat suaminya berada di ranjang yang sama dengannya, menatapnya dengan raut wajah yang tak lagi tertutupi topeng es.

"Kenapa... Kak Zain ada di sini?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir mungilnya yang pucat.

Zain menghela napas panjang, merapikan kacamata yang baru saja ia kenakan. "Syukurlah kamu sudah tidak demam. Kenapa kamu ceroboh sekali, tidak bisa menjaga kondisi tubuh sendiri? Dari siang sampai malam tidak makan apa-apa, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan?"

Zain mengomel tanpa henti. Pria yang biasanya irit bicara itu mendadak berubah menjadi sangat cerewet kala mendapati Amara terkulai sakit.

Amara terdiam membisu. Ia teringat kembali pada kejadian menyakitkan di ruang kerja Zain tadi siang. Kata-kata Bu Silvia, sikap kaku Zain, serta rasa diabaikan itulah yang secara perlahan mematikan nafsu makannya hingga maag akutnya kumat.

Melihat Amara yang hanya diam dengan tatapan hampa, raut wajah Zain mendadak panik. "Eh... Kenapa kamu malah menangis? Apa perutmu terasa sakit lagi? Katakan padaku, apa yang kamu rasakan saat ini? Apa kita perlu pergi ke rumah sakit sekarang?"

"Kak Zain... cukup," pangkas Amara lirih, memotong rentetan pertanyaan itu.

Amara memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap manik mata Zain. "Tinggalkan aku, Kak. Aku ingin sendiri. Sebaiknya Kakak tidur di kamar Kakak sendiri seperti malam-malam sebelumnya. Tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Malaikat juga masih enggan mengambil nya—"

Emmpp!

Ucapan sembarangan Amara terputus seketika. Zain menundukkan kepalanya secara mendadak, membungkam bibir tipis istrinya dengan ciuman yang sangat brutal dan penuh pelepasan rasa frustrasi.

Tangan tegap Zain menyusup ke belakang kepala Amara, menahannya erat hingga gadis itu tidak memiliki celah sedikit pun untuk melepaskan diri. Antara terkejut, syok, marah, dan malu bercampur menjadi satu gejolak liar di dalam dada Amara. Air matanya menetes pelan, membasahi pipi saat Zain menciumnya secara tiba-tiba tanpa bersuara.

Merasakan lelehan asin air mata di sela ciumannya, Zain menyadarkan diri. Pria itu menyentak tubuhnya mundur, menghentikan pagutan itu secara mendadak. Ia berdiri tegak di tepi ranjang, merapikan kemejanya, lalu secepat kilat memasang kembali raut wajah yang dingin, cuek, dan tak tersentuh.

Namun, tepat di detik itu juga, sebuah gema suara yang sangat riuh mendadak meledak keras di dalam kepala Amara.

’Walah... Walah... Zain! Kenapa kamu bodoh sekali sih! Istrimu itu sedang sakit keras, bisa-bisanya kamu malah berbuat mesum! Matilah kamu, Zain!’

Suara itu lagi!

Amara mengerjap pelan, menatap raut wajah Zain yang begitu datar dan kaku di depannya. Pemandangan luar pria itu berbanding terbalik seribu derajat dengan raungan batinnya yang sedang merutuki kebodohannya sendiri.

"Tunggu di sini. Jangan tidur lagi," ujar Zain dengan suara bass yang diusahakan setenang mungkin. "Aku akan mengambilkan bubur hangat di bawah."

Zain berbalik badan melangkah keluar kamar. Namun, saat tubuhnya melewati ambang pintu, jari-jemarinya menyentuh bibirnya sendiri yang baru saja mengecap rasa manis dari bibir istrinya.

’Semakin manis... Sangat manis dan lembut sekali... Ingin rasanya aku mengulanginya lagi!’

Gema suara hati itu masih bergetar sangat jernih di dalam benak Amara, meskipun fisik Zain telah menghilang sempurna di balik pintu yang tertutup.

Amara mengepalkan jemarinya kencang di atas selimut. Dadanya bergemuruh hebat. Ia merasa dirinya sangat konyol dan terjebak dalam situasi ganjil yang tidak memiliki arah pasti.

Mengapa di saat aku memutuskan untuk mundur dan pergi, ada hal seperti ini yang seolah-olah membuat hatiku ragu? batin Amara pilu. Antara hati dan sikapmu, mana yang sebenarnya nyata, Kak Zain? Apa maksud dari semua ini... suara hatimu, sikap dinginmu, dan pilihanmu untuk terus menyembunyikan status pernikahan kita? Ada apa sebenarnya di balik semua ini?

Sepuluh menit kemudian, Zain kembali ke kamar membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih.

Pria itu duduk di kursi kayu tepat di samping ranjang Amara. Dengan wajah yang amat datar dan tanpa ekspresi, Zain menyendok bubur, meniupnya perlahan hingga uap panasnya berkurang, lalu menyodorkannya ke depan bibir Amara.

"Buka mulutmu," perintah Zain kaku.

Amara menatap sendok itu sejenak, lalu perlahan menerima suapan demi suapan dari suaminya. Zain menyuapinya dengan sangat telaten dan sabar. Mulut pria itu terkunci rapat, tidak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibirnya.

Akan tetapi, di dalam kedalaman benak Amara, suara batin Zain justru sedang berisik luar biasa, mengoceh tanpa henti bagaikan radio tua yang rusak.

’Ayo, makan yang banyak, Istri Kecilku... Setiap kali kamu sakit begini, rasanya jantungku mau copot! Nanti setelah bubur ini habis, aku akan usap-usap perutmu supaya tidak mual lagi. Tapi... apa aku boleh minta cium lagi sebagai imbalannya? Ah, tidak! Tidak boleh mesum, Zain! Dia sedang sakit!’

Amara menahan napasnya, berusaha mati-matian agar tidak tersedak atau menyunggingkan senyum di depan wajah kaku Zain. Kontras antara muka sedingin es dan celotehan batin yang menggemaskan itu benar-benar menguji pertahanan batinnya.

Setelah suapan terakhir tuntas dan segelas air hangat diminumkan, Zain merapikan nampan ke meja kecil di sudut. Ia kembali duduk tegak di kursi kayu samping kasur, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Tidurlah. Aku akan berjaga di sini sampai infusnya habis," kata Zain datar, memejamkan matanya seolah hendak beristirahat.

Namun di saat yang sama, batinnya meraung frustrasi. ’Aaahhh! Bodoh sekali kamu, Zain! Bodoh kuadrat! Kesempatan emas seperti ini tidak akan datang dua kali dalam hidupmu!’

"Kak Zain..." panggil Amara pelan.

Zain tidak membuka matanya, hanya menyahut kaku. "Tidurlah. Jangan berkata apa-apa lagi."

Padahal di dalam pikirannya, Zain terus bersorak. ’Ayolah, Mara! Ajak aku tidur di kasurmu! Mintalah aku untuk memeluk dirimu, aku sungguh tidak akan menolak sama sekali! Cepat katakan, Mara!’

Amara mendengkus pelan. Ocehan-ocehan batin suaminya yang sangat bising itu membuat kepalanya semakin berdenyut dan mustahil untuk bisa terlelap.

"Kak Zain, tidurlah di sebelahku," ujat Amara akhirnya, mengalah pada keadaan. "Tidak baik tidur di kursi keras seperti itu semalaman. Itu juga... jika Kak Zain tidak jijik untuk tidur satu ranjang denganku."

Kedua mata Zain terbuka perlahan. Di luar, pria itu hanya mengangguk pelan dengan raut wajah sok tenang. "Baiklah, jika itu permintaanmu."

Tetapi di dalam hatinya, Zain sedang melompat-lompat kegirangan bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan impiannya. ’Asyik! Asyik! Malam ini aku bisa tidur nyenyak! Nanti Zain akan memeluk tubuh Amara erat-erat sampai pagi!’

Zain melepas kacamatanya, memadamkan lampu utama kamar hingga menyisakan remang lampu tidur, lalu merebahkan tubuh tegapnya di sisi kosong tempat tidur Amara. Pria itu menarik selimut, memiringkan tubuhnya menghadap Amara.

Meski tubuh mereka kini berbaring berdampingan, ocehan-ocehan batin Zain tidak kunjung mereda. Pria itu terus mengagumi aroma tubuh Amara, merutuki rasa canggungnya sendiri, hingga merencanakan hal-hal absurd di dalam kepalanya.

Amara yang telinganya terus dipenuhi gema batin super bising itu akhirnya kehilangan sisa kesabarannya.

"Berisik!"

Kata itu meluncur begitu saja dari bibir Amara. Tanpa memedulikan sebelah tangannya yang masih terikat selang infus, Amara memiringkan tubuhnya, menyeberangkan tangannya, lalu memeluk erat tubuh tegap Zain.

Ia membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, menyerap kehangatan yang terpancar dari sana. Dan di tengah dekapan erat itu, Amara dapat mendengar secara teramat sangat jelas detak jantung Zain yang berdegup liar, saling berlarian tanpa kontrol.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
Muft Smoker
gengsi di gedein zaiiin ,, zaiiin ,,
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
Muft Smoker: waah dtggu banget tuh kak dew ,, penasaran ma ekspresi ny si zain ,,
muka doank dingin ,, tp curahan hati ny sangat2 berbahaya 🤭🤭😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
zain peka dikit jd suami ,, sebelum semua terlambat
Muft Smoker
ni dosen kyak ny pake jalur instan nih ,, gx da adab ny
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
apakah ini ciri ciri amara mau pisah?
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain tidak bisakah kau turunkan egomu itu jika Amara sudah memasuki fase lelah padamu yang ada kalian akan bubar 🤔🥹
SENJA
mantabs pak wanto 🤣
SENJA
sok tau lo 🤣
SENJA
yeeeeeey huuuu ga tau malu🤣🤣🤣
SENJA
laaaah siapa elu 🤣🤣
SENJA
lu dosen ga ada adab woeee
SENJA
jangan2 zain bisa juga 😳🤣
SENJA
laaah kok timbul tenggelam gitu suara bathinnya🤣
SENJA
perbuatan laki lu 🤣
SENJA
ishh isssh ketagihan🤣
SENJA
kejem amat ihhh ama bini 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!