NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar Pertama di Dua Dunia

Cahaya matahari pagi menerobos melintasi tirai tipis transparan di lantai delapan belas The Grand Zenith Hotel. Sinar emas itu menyirami tempat tidur berukuran king-size, memantulkan binar kehangatan di atas sprei sutra putih yang begitu lembut.

Arini membuka matanya perlahan. Untuk beberapa detik, ia merasa seolah-olah sedang berada di dalam sebuah mimpi yang teramat indah. Tidak ada bau lengket dari selokan yang meluap, tidak ada derit kipas angin tua di atap, dan tidak ada suara mesin motor bebek tua milik Dimas yang memanaskan mesin di teras rumah. Yang ada hanyalah keheningan berkelas, aroma wewangian bunga segar dari meja rias, dan udara sejuk pendingin ruangan yang membelai kulitnya.

Ia menggeliat pelan, menikmati sensasi kebebasan yang merasuk hingga ke tulang. Arini bangkit dari ranjang, mengenakan jubah mandi porselen putih berlogo emas milik hotel, lalu berjalan mendekati jendela kaca raksasa. Di bawah sana, kota Jakarta membentang dengan deretan gedung pencakar langit dan arus kendaraan yang padat.

"Ini hidupku yang baru," bisik Arini pada dirinya sendiri di depan kaca. Ada senyum kemenangan tersungging di bibirnya. "Aku tidak salah memilih jalan. Aku memang pantas berada di tempat ini."

Tok, tok, tok.

Ketukan lembut di pintu utama kamar memecah kesunyian. Arini merapikan jubah mandinya, lalu melangkah menuju pintu. Saat ia membukanya, Rian berdiri di sana.

Pria itu tampak sangat tampan dan segar. Ia mengenakan kemeja kasmir warna biru muda yang dipadukan dengan celana bahan berpotongan modern. Di tangan kanannya, Rian memegang sebuah tas kertas belanja tebal bermerek busana ternama dunia, sementara di tangan kirinya ada buket bunga mawar merah segar.

"Selamat pagi, primadona," sapa Rian dengan suara baritonnya yang hangat dan senyuman yang begitu memikat.

"Rian... Selamat pagi," sahut Arini, pipinya mendadak merona merah.

Rian melangkah masuk, menyerahkan buket mawar dan tas belanjaan itu ke tangan Arini. "Aku sempatkan mampir ke boutique di lantai bawah sebelum naik ke sini. Ada beberapa gaun dan pakaian santai untukmu. Aku tahu kamu tidak membawa banyak barang dari... tempat lamamu."

Arini mengintip ke dalam tas belanjaan itu. Di dalamnya ada beberapa helai pakaian bermerek internasional yang harganya jika ditotal mungkin setara dengan gaji Dimas selama setengah tahun. Rasa takjub dan haru membuncah di dada Arini.

"Rian... ini terlalu banyak," bisik Arini malu-malu, walau matanya tak bisa menyembunyikan binar kegembiraan.

"Untuk wanita secantik kamu, ini belum ada apa-apanya, Arini," Rian melangkah mendekat, memegang kedua bahu Arini dengan lembut namun protektif. Tatapannya begitu dalam. "Mulai hari ini, kamu tidak perlu memikirkan harga dari barang yang ingin kamu beli. Aku yang akan menanggung semuanya. Yang perlu kamu lakukan hanya satu: tersenyum dan jadilah wanita paling bahagia di sampingku."

Rian membawa Arini menuju meja makan kecil di sudut kamar, tempat petugas hotel telah menyajikan sarapan continental—roti croissant hangat, buah-buahan impor, keju kualitas terbaik, dan cangkir kopi cappuccino beraroma harum.

Sambil menikmati sarapan, Rian menggenggam jemari Arini di atas meja. "Hari ini kita akan mengurus kepindahanmu ke salah satu unit apartemenku di kawasan Permata Hijau. Tempat itu lebih privat dan nyaman untukmu sebelum urusan perpisahanmu dengan suamimu selesai secara hukum."

Arini mengangguk tanpa ragu sedikit pun. Kata 'suami' yang diucapkan Rian sama sekali tidak memicu rasa bersalah di hatinya; sebaliknya, itu terdengar seperti sebuah formalitas lama yang harus segera dihempaskan dari hidupnya.

Sementara itu, di sudut lain kota, fajar menyingsing di atas pemukiman padat gang sempit.

Matahari pagi menyinari teras rumah petak nomor empat. Tidak ada kehangatan di sana, hanya kehampaan yang terasa kaku.

Di dalam rumah, Dimas selesai menunaikan salat Subuh di atas sajadah kusam yang terbentang di kamar tidur yang kosong. Pria itu duduk bersila beberapa lama, menangkupkan kedua tangannya, memohon kekuatan dari Sang Pencipta untuk melapangkan dadanya yang remuk. Tidak ada lagi air mata yang menetes di pipinya. Rasa sakit yang bertubi-tubi semalam telah membakar sisa-sisa kelemahannya, meninggalkan keheningan yang dingin dan tegas di dalam jiwanya.

Dimas berdiri, melipat sajadahnya dengan rapi. Ia melangkah ke arah lemari pakaian. Dengan tenang dan sistematis, ia mengumpulkan seluruh pakaian Arini yang tersisa, jepit rambut kecil yang tertinggal, serta barang-barang pribadi milik istrinya. Ia memasukkannya ke dalam sebuah kardus besar, melakbarnya rapat-rapat, lalu meletakkannya di sudut ruangan.

Ia tidak ingin meratapi masa lalu. Bagi Dimas, saat seorang wanita secara sadar melangkah keluar dari garis kesetiaan dan membuang harga diri suaminya, maka kewajiban dan rasa cintanya telah usai.

Dimas mengganti pakaiannya dengan kemeja bersih yang rapi, meski sederhana. Ia merapikan tempat tidur, membersihkan meja dapur, dan menyapu seluruh lantai rumah hingga bersih tanpa cela.

Sebelum berangkat kerja, Dimas mengambil selembar kertas putih bersih dan sebuah pulpen. Dengan jemari yang mantap dan tanpa getaran, ia mulai menulis sebuah pesan yang ditujukan kepada ibu mertuanya, Bu Ratna:

"Ibu, maafkan Dimas. Dimas belum bisa menjaga Arini dengan baik sesuai amanah Ibu dan almarhum Bapak. Arini telah memilih jalannya sendiri, dan Dimas menghormati keputusan itu. Dimas akan mengurus surat perpisahan ini dengan baik tanpa memberatkan siapa pun. Terima kasih atas segala kebaikan dan kasih sayang Ibu selama ini. Dimas akan selalu menyayangi Ibu seperti ibu kandung Dimas sendiri."

Setelah menaruh surat itu di atas meja beserta kunci cadangan rumah, Dimas melangkah keluar. Ia mengunci pintu depan dari luar, lalu memasukkan kunci utama ke dalam saku celananya.

Saat ia menyalakan mesin sepeda motor tuanya di teras, Pak Joko—pemilik bengkel yang juga tetangga dekatnya—melintas berjalan kaki. Pak Joko menghentikan langkahnya, menatap Dimas dengan raut wajah prihatin.

"Dim... kamu mau berangkat kerja?" tanya Pak Joko pelan. "Istriku cerita... semalam lihat Arini pergi membawa tas besar naik taksi."

Dimas menoleh ke arah Pak Joko. Wajahnya tenang, matanya jernih tanpa raut dendam. Pria itu mengangguk tipis.

"Iya, Pak Joko. Arini sudah melangkah maju mengejar impiannya," jawab Dimas dengan suara yang datar namun mantap. "Dan saya juga harus melangkah maju untuk menata hidup saya sendiri."

Pak Joko menatap Dimas lama, lalu mengangguk penuh rasa hormat. "Bagus, Dim. Kamu laki-laki sejati. Kalau butuh bantuan apa pun, rumah saya selalu terbuka."

"Terima kasih, Pak."

Dimas memutar gas sepeda motornya. Suara mesin bebek tua itu meraung membelah kesunyian gang sempit, membawa Dimas melaju menuju jalan raya. Pria itu tidak menoleh lagi ke belakang. Babak lama dalam hidupnya telah resmi ditutup, dan di balik kelelahan fisiknya, sebuah ketabahan baru mulai mengakar kuat di dalam jiwanya.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!