Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.
Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.
Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.
Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seseorang yang Berniat Menguasai Alam Ini
Tidak ada seorang pun yang berani maju. Ribuan anggota Sekte Elang Pencabut Malam hanya bisa berdiri dengan wajah pucat. Mereka bahkan tidak berani bernapas terlalu keras, apalagi mengangkat senjata untuk menyerang pemuda yang berdiri di hadapan mereka.
Baru saja mereka menyaksikan pemandangan yang sulit dipercaya. Dalam satu serangan, pemuda itu telah membunuh ratusan anggota sekte mereka. Serangan tersebut begitu cepat dan mengerikan hingga sebagian besar orang bahkan tidak sempat memahami apa yang terjadi.
Lebih mengerikan lagi, Patriak dan Tetua Agung mereka juga tewas dalam serangan yang sama. Keduanya merupakan pendekar di ranah pendekar bumi. Di wilayah Kekaisaran ini, kekuatan semacam itu sudah cukup untuk membuat banyak kekuatan besar memperlakukan mereka dengan hormat.
Namun, di hadapan pemuda tersebut, keduanya bahkan tidak mampu bertahan dari satu serangan. Perbedaan kekuatan itu membuat semua orang kehilangan keberanian untuk melawan.
Pemuda tampan itu mengamati mereka satu per satu. Ketika menyadari tidak ada seorang pun yang berani maju, senyum di wajahnya semakin lebar.
"Kenapa kalian diam saja? Bukankah tadi kalian begitu bersemangat ingin membunuhku?"
Tidak ada yang menjawab.
Pemuda itu menggelengkan kepala seolah-olah merasa kecewa. Sesaat kemudian, sebuah aura berwarna hitam keunguan mulai keluar dari tubuhnya.
Aura tersebut menyebar dengan cepat ke segala arah. Dalam sekejap, halaman utama Sekte Elang Pencabut Malam diselimuti tekanan yang mengerikan. Udara malam seolah berubah menjadi dingin. Bahkan, cahaya bulan yang menerangi halaman itu terasa semakin suram di tengah aura pekat yang memenuhi tempat tersebut.
Itulah Aura Kematian. Aura itu begitu tebal hingga seolah-olah membawa hawa kematian dari medan perang yang telah menelan jutaan nyawa.
Begitu Aura Kematian menyentuh tubuh para anggota sekte, wajah mereka langsung berubah. Para pendekar yang berada di bawah ranah pendekar raja bahkan tidak mampu mempertahankan kesadaran mereka. Mata mereka berputar, tubuh mereka kehilangan tenaga, lalu satu per satu jatuh pingsan ke tanah. Dalam waktu singkat, ratusan orang kembali tumbang tanpa sempat melakukan perlawanan.
Sementara itu, para pendekar yang telah mencapai ranah pendekar raja atau lebih tinggi masih mampu bertahan. Namun, mereka harus mengerahkan seluruh tenaga untuk mempertahankan kesadaran.
Beberapa orang menggertakkan gigi. Sebagian lainnya berlutut dengan satu tangan menekan tanah, berusaha menahan tekanan yang seolah-olah hendak meremukkan jiwa mereka.
Keringat dingin membasahi wajah seorang tetua Sekte Elang Pencabut Malam. Ia telah hidup selama lama dan bertemu dengan banyak pendekar aliran hitam yang terkenal kejam. Bahkan, ia pernah menyaksikan seorang pendekar gila membantai ribuan orang tanpa menunjukkan sedikit pun belas kasihan.
Namun, tidak seorang pun dari mereka memiliki aura kematian sepekat milik pemuda di hadapannya. Bahkan Patriak sekte mereka sendiri, yang terkenal kejam dan telah membunuh banyak orang sepanjang hidupnya, tidak pernah memancarkan aura semengerikan ini.
Tetua itu menatap pemuda tersebut dengan tubuh gemetar.
“Sialan! Berapa banyak orang yang sudah mati di tangannya hingga aura kematian miliknya bisa sepekat ini?!”
Pikirannya dipenuhi ketakutan.
Ia tidak bisa membayangkan berapa banyak nyawa yang harus direnggut seseorang untuk memiliki aura semacam itu. Lebih dari itu, ia merasa pemuda tersebut sama sekali belum mengerahkan kekuatan penuhnya. Jika hanya dengan melepaskan aura saja ia mampu membuat ribuan orang kehilangan keberanian, seberapa mengerikan kekuatannya ketika benar-benar menyerang?
Tetua itu menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu bahwa jika mereka terus melawan, Sekte Elang Pencabut Malam mungkin benar-benar akan musnah malam ini.
Pada saat itulah, seorang tetua lain yang terlihat jauh lebih tua bergerak maju. Langkahnya berat dan tubuhnya juga merasakan tekanan aura kematian tersebut. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk mendekati pemuda itu.
Setelah berada beberapa langkah di hadapannya, pria tua tersebut segera membungkukkan badan dalam-dalam.
"Tuan, mohon tarik auramu!"
Suaranya terdengar sedikit bergetar.
"Kami mengakui bahwa kami bukan tandinganmu. Bolehkah kami mengetahui apa keperluan datang ke Sekte Elang Pencabut Malam?"
Ia tidak berani bersikap sombong lagi.
Patriak dan Tetua Agung mereka telah tewas. Jika ia masih bersikeras mempertahankan harga diri sekte, yang tersisa hanyalah menunggu kematian. Baginya, hidup jauh lebih penting daripada mempertahankan kehormatan yang sudah tidak berarti di hadapan pendekar sekuat ini.
Pemuda tampan itu memandang pria tua tersebut selama beberapa saat. Senyum tipis kemudian muncul di wajahnya.
"Ternyata masih ada orang pintar di sekte ini."
Setelah mengatakan itu, ia perlahan menarik kembali aura kematian miliknya.
Tekanan mengerikan yang memenuhi halaman mulai menghilang. Udara kembali terasa normal, membuat para pendekar yang masih sadar bisa bernapas dengan lebih lega.
Beberapa orang langsung terjatuh terduduk. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa sejak tadi tubuh mereka telah dibasahi keringat.
Namun, sebelum mereka sempat merasa lega sepenuhnya, pemuda itu kembali membuka mulut.
"Aku tidak tertarik mendengar alasan kalian. Aku juga tidak datang ke sini untuk menghabiskan waktu berbicara panjang lebar."
Ia memasukkan kedua tangan ke balik lengan jubahnya, kemudian menatap ribuan anggota sekte tersebut.
"Bagi siapa pun yang masih ingin hidup, tunduklah kepadaku!"
Suaranya tidak keras. Namun, setiap perkataannya terdengar jelas di telinga semua orang.
Begitu mendengar tuntutan itu, banyak anggota Sekte Elang Pencabut Malam langsung menelan ludah. Mereka saling memandang dengan ekspresi rumit.
Sekte mereka telah berdiri selama bertahun-tahun. Meskipun dikenal sebagai kekuatan aliran hitam, mereka tetap memiliki aturan, wilayah kekuasaan, serta banyak anggota yang setia kepada patriak sebelumnya. Kini, pemuda asing itu meminta mereka untuk tunduk kepadanya.
Tidak sedikit orang yang merasa keberatan. Namun, ketika mengingat nasib Patriak dan Tetua Agung, keberanian mereka langsung menghilang. Siapa yang berani menolak?
Mereka telah melihat sendiri kemampuan pemuda tersebut. Ratusan anggota sekte tewas dalam satu serangan, sementara banyak diantara yang lainnya bahkan tidak mampu bertahan dari aura kematian miliknya. Melawannya sama saja dengan mencari kematian.
Akhirnya, seorang murid yang berdiri di barisan depan menjatuhkan diri berlutut.
"Aku bersedia tunduk kepada Tuan!"
Suaranya terdengar gugup, tetapi cukup jelas untuk didengar orang-orang di sekitarnya.
Begitu ia berlutut, seorang pria paruh baya di sampingnya segera mengikuti.
"Aku juga bersedia tunduk!"
Satu demi satu, semakin banyak anggota sekte menjatuhkan diri berlutut.
Dalam waktu singkat, halaman utama yang sebelumnya dipenuhi ribuan orang yang berdiri dengan senjata terhunus berubah menjadi lautan manusia yang berlutut.
Bahkan, beberapa tetua yang semula masih ragu akhirnya ikut menundukkan kepala. Mereka tidak ingin mati sia-sia.
Pemuda tampan itu mengamati pemandangan tersebut dengan puas. Ia tidak merasa terkejut melihat keputusan mereka. Sejak awal, ia memang tidak berniat memberikan kesempatan kepada orang-orang itu untuk memilih jalan lain.
Ia membutuhkan kekuatan untuk membangun kekuasaannya. Sekte Elang Pencabut Malam hanyalah salah satu dari sekian banyak kekuatan yang akan ia taklukkan.
Setelah memastikan sebagian besar anggota sekte telah berlutut, pemuda itu melangkah maju. Tatapannya menyapu wajah-wajah yang tertunduk di hadapannya.
"Dengarkan baik-baik."
Semua orang segera menegakkan punggung, tetapi tidak berani mengangkat kepala terlalu tinggi.
"Namaku Jung Wu."
Ia berhenti sejenak, membiarkan nama itu tertanam dalam ingatan setiap orang yang hadir. Kemudian, pemuda bernama Jung Wu itu tersenyum lebar.
"Mulai malam ini, kalian akan menjadi bagian dari kekuatanku."
Ia mengangkat dagunya, menatap langit malam yang luas tanpa sedikit pun keraguan.
"Aku adalah orang yang akan menguasai alam ini!"
Suaranya menggema di seluruh kompleks Sekte Elang Pencabut Malam. Tidak seorang pun berani membantah.
Malam itu, sebuah sekte aliran hitam telah jatuh ke tangan seorang pria bernama Jung Wu. Namun, bagi orang yang memiliki ambisi untuk menguasai seluruh alam ini, penaklukan satu sekte hanyalah langkah awal.