NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Perjalanan Menuju Ladang Timur

Arkan memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut. Suara melengking Ratih di pagi buta seperti ini benar-benar merusak sisa suasana hatinya yang sudah hancur sejak kemarin. Wanita kota yang agresif saja sudah cukup membuatnya muak, apalagi wanita desa yang bertingkah centil berlebihan seperti gadis di depannya ini.

Nayla tidak membalas semprotan Ratih dengan kemarahan. Ia hanya tersenyum tipis, jenis senyuman tenang yang justru membuat Ratih semakin meradang karena merasa diremehkan. Nayla mengalihkan pandangannya dari Ratih, lalu menatap Pak Barkah dengan hormat.

"Pak Barkah, Nayla jalan duluan ke balai desa ya. Nanti siang seperti pesan Pak Barkah, Nayla akan antarkan bekal sekalian menunjukkan jalan pulang untuk... tamu kotanya," ucap Nayla sengaja menekankan dua kata terakhir sambil melirik Arkan dengan tatapan malas.

Melihat Nayla hendak berbalik pergi, Arkan mendadak mengambil langkah seribu. Ia tidak sudi ditinggal berdua saja di halaman bersama Ratih yang tatapannya seolah ingin menelannya hidup-hidup. Dengan langkah lebar, Arkan berjalan mendahului Pak Barkah, bahkan melewati posisi berdiri Ratih begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.

"Heh, tunggu! Siapa bilang saya mau ditinggal di sini bersama wanita ini?" cetus Arkan dengan suara beratnya yang ketus. Pria berusia 25 tahun itu menatap Ratih dengan pandangan dingin yang menusuk. "Dan kamu... Ratih atau siapa pun namamu. Tolong menyingkir dari jalan saya. Bau minyak wangimu membuat kepala saya pusing."

Kalimat sarkas dan dingin yang keluar dari bibir tipis Arkan bagaikan petir di siang bolong bagi Ratih. Uluran plastik minuman di tangannya seketika lemas. Wajahnya yang bermakeup tebal memerah padam karena malu yang luar biasa, terutama karena penolakan itu diucapkan di depan musuh bebuyutannya, Nayla.

Nayla yang mendengar hal itu langsung menghentikan langkah kakinya di dekat pagar. Sepasang sudut bibirnya berkedut, menahan tawa yang hampir meledak melihat wajah Ratih yang tampak seperti ingin menangis sekaligus mengamuk.

Pak Barkah yang melihat gelagat itu hanya bisa menggelengkan kepala. Ia memakai capingnya dengan tenang, lalu menepuk pundak Ratih sekilas saat berjalan melewati gadis itu. "Terima kasih minumannya, Ratih. Tapi kami harus segera ke ladang sebelum matahari terlalu tinggi. Pulanglah, bantu bapakmu di toko."

"P-Pak Barkah! Mas Arkan! Tapi ini—" Ratih mencoba memanggil dengan suara yang bergetar menahan dongkol, namun Arkan sudah berjalan jauh di depan, mengekor di belakang langkah Nayla yang tampak santai menyusuri jalan setapak desa. Ratih menghentakkan kakinya ke tanah dengan kasar, menatap punggung Nayla dengan tatapan penuh dendam yang membara. "Awas kamu, Nayla! Ini pasti gara-gara kamu menghasut Mas Arkan yang tampan itu!" batinnya penuh amarah.

Sementara itu, di jalan setapak yang dikelilingi oleh rerumputan basah berembun, Arkan berjalan dengan langkah yang sangat kaku. Kaus oblong putih dan celana kain longgar milik Pak Barkah bergoyang tertiup angin pagi yang sejuk. Meskipun udara di Desa Sukmawarna ini terasa sangat segar dan bersih—jauh berbeda dengan polusi Jakarta—hati Arkan tetap saja dipenuhi kejengkelan.

Setiap kali kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit karet murahan menyentuh kerikil tajam atau tanah yang agak basah, Arkan akan mendecak frustrasi.

"Bisa jalan lebih cepat sedikit tidak?" protes Arkan dengan suara ketus dari arah belakang Nayla. "Langkah kakimu itu lambat sekali seperti siput. Saya mau urusan di ladang kotor itu cepat selesai."

Nayla menghentikan langkahnya secara mendadak. Hal itu membuat Arkan yang tidak siap hampir saja menabrak tubuh mungil gadis itu dari belakang. Arkan mundur satu langkah dengan wajah bersungut-sungut.

Nayla membalikkan badannya perlahan, menatap Arkan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara. Gadis berusia 21 tahun itu bersedekap dada. "Pria Kota, ini jalanan desa, bukan jalan tol Jakarta. Kalau kamu tidak suka dengan ritme jalan saya, silakan jalan duluan di depan. Tapi kalau kamu tersesat atau masuk ke dalam parit pembatas sawah, jangan harap ada yang mau menolongmu."

"Kamu menantang saya?" Arkan menyipitkan matanya, rahangnya mengeras. Keangkuhannya sebagai mantan direktur muda di Jakarta bergejolak hebat. "Saya ini lulusan luar negeri. Menghafal jalur desa kecil seperti ini adalah hal yang terlalu mudah bagi otak saya."

"Oh, ya?" Nayla menaikkan satu alisnya, memberikan senyuman menantang yang sangat menjengkelkan di mata Arkan. "Kalau begitu, silakan jalan duluan, Tuan Muda Arkananta yang terhormat. Jalur ke ladang timur masih melewati tiga belokan lagi di depan. Silakan tebak sendiri belokan yang mana."

Arkan mendengus kasar. Untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bisa diremehkan oleh seorang gadis desa, ia melangkah maju dengan angkuh, sengaja menyenggol bahu Nayla pelan saat melewatinya. Arkan berjalan memimpin di depan dengan punggung tegak, mencoba menunjukkan wibawa kotanya yang tersisa.

Nayla yang berjalan di belakangnya hanya menggelengkan kepala dengan senyuman geli yang tertahan. Ia memperhatikan bagaimana cara berjalan Arkan yang sangat tidak terbiasa dengan medan tanah. Benar saja, baru berjalan sekitar lima puluh meter di depan, Arkan tiba-tiba salah mengambil langkah di sebuah pertigaan jalan setapak yang ditumbuhi semak liar. Pria itu berbelok ke arah kiri yang jalurnya langsung menuju ke area rawa tempat pemandian kerbau warga.

"Heii, Pria Kota," panggil Nayla dengan nada suara yang sengaja dibuat malas.

Arkan menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badan. "Apa? Jangan mengganggu konsentrasi saya."

"Jalur kiri itu jalan menuju kubangan lumpur tempat kerbau-kerbau desa mandi," ujar Nayla santai sambil menunjuk ke arah kanan dengan dagunya. "Kalau kamu memang mau ikut mandi bersama kerbau pagi-pagi begini agar kulit putihmu itu eksotis, silakan lanjutkan jalanmu."

Wajah tampan Arkan seketika menegang. Ia menoleh sedikit dan melihat ke depan, dan benar saja, di ujung jalan itu tampak beberapa ekor kerbau besar sedang berkubang di dalam lumpur hitam. Suara lenguhan kerbau itu terdengar sahut-menyahut.

Dengan wajah yang memerah padam menahan malu yang luar biasa untuk kedua kalinya hari itu, Arkan membalikkan badannya dengan cepat. Ia berjalan kembali menuju jalur yang benar dengan langkah yang dihentak-hentakkan ke tanah, melintasi Nayla tanpa berani menatap mata gadis itu.

Nayla tidak bisa menahan tawa kecilnya lagi. Suara tawa jernihnya yang renyah terdengar di antara keheningan pagi Desa Sukmawarna, membuat telinga Arkan terasa panas.

"Jangan tertawa! Kamunya saja yang sengaja tidak memberi tahu dari awal!" bentak Arkan ketus, mencoba menutupi rasa malunya yang sudah jebol.

"Siapa suruh sombong dan sok tahu," balas Nayla acuh tak acuh, kembali berjalan memimpin di depan dengan langkah yang santai namun pasti. "Di desa ini, keangkuhan kotamu itu tidak akan bisa menolongmu dari kubangan lumpur, Arkan. Jadi, turunkan sedikit egomu itu kalau masih mau makan siang nanti."

Arkan tidak membalas lagi. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku celana kain longgarnya. Di dalam hatinya, Arkan bersumpah demi apa pun, ia akan mencari cara untuk segera keluar dari desa terkutuk ini dan membalas dendam pada gadis desa bernama Nayla yang telah berani menginjak-injak harga dirinya berulang kali. Namun untuk saat ini, ia terpaksa harus terus mengekor di belakang gadis itu jika tidak ingin berakhir di kubangan kerbau.

Dari arah belakang, Pak Barkah yang berjalan agak jauh memperhatikan dinamika kedua anak muda itu dengan senyuman tipis yang penuh arti. Proses "penjinakan" Tuan Muda Arkananta tampaknya baru saja dimulai dengan sangat menarik.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!