NovelToon NovelToon
Istri Cadangan Sang Mayor

Istri Cadangan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Ibu Tiri
Popularitas:58.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"

Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.

"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?

Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...

Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Kabar Orang Tua Satria

"Kita sebagai orang tua jangan suka memaksakan kehendak. Anak bungsu kita itu tipe perempuan yang sangat berbeda dengan almarhumah Vania. Vania dulu penurut, lembut, dan selalu mengikuti aturan. Sedangkan Keisha? Keisha itu barbar, apa adanya, dan tidak bisa diatur-atur seperti prajurit di lapangan."

Ayah Farrel menurunkan kacamatanya, lalu menatap istrinya dengan sorot mata bijak khas pensiunan perwira tentara. Ia justru menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis yang penuh keyakinan.

"Karena itulah Ayah langsung menyetujuinya saat Satria mengutarakan keinginannya kemarin malam, Bu," jawab Ayah Farrel dengan suara beratnya yang tenang. "Justru karena Keisha tidak bisa diatur dan terlalu absurd jalan pikirannya, Ayah yakin hanya laki-laki seperti Satria yang bisa membimbing anak kita dengan ketegasannya. Satria itu kaku tapi bertanggung jawab penuh. Dan yang paling penting, cucu kita, Rafka, akan jauh lebih aman dan terurus dengan tantenya sendiri ketimbang jika Satria menikah dengan perempuan asing lain yang belum tentu tulus menyayangi darah daging Vania."

Ibu Dania terdiam sejenak, merenungi kalimat suaminya yang memang masuk akal di satu sisi. Namun, ganjalan di hatinya sebagai seorang ibu tidak berhenti di situ saja. Ia memajukan tubuhnya, menatap suaminya lebih lekat dengan dahi yang berkerut cemas.

"Iya, Ayah benar soal Rafka. Tapi ... apakah orang tua Satria sendiri akan setuju kalau anaknya menikah lagi dengan adik iparnya sendiri?" tanya Ibu Dania kembali, menyuarakan kekhawatiran terbesar yang sejak semalam mengusik tidurnya. "Bagaimana kalau keluarga besar Satria tidak setuju, Yah? Bagaimana kalau mereka menganggap ini hal yang tabu atau tidak pantas setelah Vania tidak ada?"

Mendengar pertanyaan beruntun dari istrinya, Ayah Farrel mendesah berat. Ketegangan yang semula ia sembunyikan di balik ketenangannya kini tampak runtuh sedikit. Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu mengangkat tangan kanannya untuk memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Masalah restu dari pihak keluarga menantunya memang menjadi variabel besar yang belum sempat mereka diskusikan.

***

Sementara itu, di dalam kabin SUV hitam yang membelah jalanan pagi, suasana sunyi menyelimuti perjalanan Satria mengantarkan putranya menuju sekolah TK. Rafka duduk di kursi belakang, masih dengan bibir yang mengerucut sebal dan membuang muka ke arah jendela kaca luar, menolak untuk mengajak papanya mengobrol akibat kalimat Keisha di meja makan tadi.

Satria hanya melirik anaknya sesekali melalui kaca spion tengah tanpa berniat memecah keheningan dengan kalimat penghibur yang muluk. Ia tahu betul watak anaknya yang keras kepala, persis seperti dirinya.

Begitu mobil berhenti di depan gerbang sekolah, Satria turun dan membukakan pintu untuk Rafka. Ia berlutut di depan anaknya, membetulkan letak kerah seragam kotak-kotak bocah itu dengan telaten. "Belajar yang baik di dalam. Jangan cemberut terus, anak Papa harus kuat," ucap Satria pendek.

Rafka menatap papanya dengan mata bulatnya yang masih sedikit sembap. "Papa ... Tante Kei beneran suka sama Om Rendra ya? Papa kalah ganteng sama Om jaket biru?" tanya bocah itu dengan kepolosan yang menusuk.

Rahang Satria mengetat samar mendengar pertanyaan anaknya. Namun, ia tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar dan tenang. "Tidak ada yang kalah atau menang, Rafka. Sudah, masuk ke kelas. Nanti siang Eyang Putri yang akan menjemputmu."

Setelah memastikan Rafka berjalan masuk ke dalam area sekolah dengan aman di bawah pengawasan guru piket, Satria kembali berjalan tegap menuju mobilnya. Ia membuka pintu kemudi, melangkah masuk ke dalam kabin yang sejuk oleh embusan AC, lalu mendudukkan diri di balik kemudi dengan tatapan lurus ke depan jalan raya. Pikirannya mendadak melayang kembali pada penolakan tegas Keisha pagi tadi yang membawa-bawa nama Rendra di depan ayahnya. Ada rasa panas yang tidak nyaman kembali membakar di dalam dadanya.

Baru saja ia bersiap untuk memindahkan tuas transmisi dan mengendarai mobilnya menuju markas dinas, ponsel pintar miliknya yang diletakkan di dasbor tengah mendadak berdering nyaring. Layarnya menyala menampilkan nama kontak yang sangat ia hormati.

Rupanya Bu Reni—ibu kandungnya sendiri—yang menghubunginya sepagi ini dari kota asal mereka.

Satria menggeser tombol hijau pada layar, lalu menempelkan ponsel tersebut ke telinganya dengan posisi duduk yang tegak sempurna secara refleks. "Halo, Assalamualaikum, Ibu."

"Waalaikumsalam, Satria," suara lembut nan keibuan dari Bu Reni mengalun hangat dari seberang saluran telepon, memecah ketegangan tak kasat mata yang sejak tadi mengunci pikiran Satria. "Bagaimana kabarmu di Jakarta, Nak? Rafka sehat?"

"Kabar saya baik, Ibu. Rafka juga sehat, sekarang baru saja masuk ke kelas sekolahnya," jawab Satria dengan nada suaranya yang formal namun tetap santun penuh hormat.

"Alhamdulillah kalau kalian berdua sehat," sahut Bu Reni diiringi tawa kecil yang terdengar sangat bersemangat di seberang sana. "Oh iya, Satria ... Ibu menelepon sepagi ini karena ada kabar penting. Ibu sama Bapakmu kemungkinan nanti sore sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Tiket pesawatnya baru dikonfirmasi tadi malam sama adikmu."

Satria merajut alisnya tegap sejenak. "Ibu dan Bapak ke Jakarta sore ini? Ada keperluan mendadak?"

"Keperluan apa lagi kalau bukan karena Ibu sama Bapak sudah kangen sekali sama kamu dan cucu kami, Rafka," jawab Bu Reni dengan nada manja khas seorang nenek yang merindukan cucu tunggalnya. "Sudah lama sekali kan kita tidak kumpul. Makanya, nanti sore jangan lupa dijemput ya, Satria. Jangan sampai Ibu sama Bapak telantar di bandara gara-gara kamu sibuk latihan menembak."

"Baik, Ibu. Nanti sore jam empat saya sudah akan bersiap di area kedatangan bandara untuk menjemput Ibu dan Bapak," jawab Satria pasti, memberikan konfirmasi mutlak tanpa keraguan.

"Iya, Nak, terima kasih ya. Ya sudah, Ibu mau lanjut berbenah pakaian dulu ke dalam koper. Sampai ketemu sore nanti di Jakarta. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Ibu," jawab Satria pendek, sebelum akhirnya sambungan telepon tersebut diputuskan sepihak oleh ibunya.

Satria menurunkan ponselnya perlahan, meletakkannya kembali di atas dasbor dengan gerakan yang kaku. Pria itu menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menahannya selama beberapa detik di dalam dada sebelum mengembuskannya perlahan.

Kedatangan orang tuanya yang mendadak sore ini seolah menjadi babak baru yang tidak terduga di tengah rumitnya siasat pertarungan hati yang sedang ia lancarkan untuk mendapatkan adik iparnya. Teka-teki mengenai restu dan penerimaan orang tuanya terhadap niat pinangannya pada Keisha kini menggantung besar di dalam kepalanya, mengalir lambat bersama laju mobil SUV hitamnya yang mulai bergerak membelah kemacetan jalanan kota menuju markas dinas.

Bersambung...

1
Mulaini
Jangan-jangan orang tuanya Satria ingin menjodohkan Satria dengan Inggrid.
yuni ati
Lanjut Mom💪
Sugiharti Rusli
kalo si Ingrid yang diberikan peluang, pasti langsung terima dengan sangat bahagia, karena itu memang tujuan dia ikut ke Jakarta, cari kerjaan mah modus saja
Sugiharti Rusli
bahkan saat Satria sudah mengutarakan niatnya pun, Keisha menolaknya dan merasa tidak tertarik jadi istri tentara
Sugiharti Rusli
karena selama ini mana pernah si Keisha cari" perhatian pada dirinya yang sudah jadi duda kakaknya selama lima tahun ini,,,
Sugiharti Rusli
Satria malah ga suka perempuan yang merasa dirinya pantas menjadi pendamping dirinya saat ini, dia malah suka yang cuek model adik iparnye sendiri
Sugiharti Rusli
apalagi yang sok" caper dari dirinya dengan sangat kentara yah😁😁😁
Sugiharti Rusli
tapi sayang Ngrid, kamu bukan tipikal yang Satria inginkan sebagai calon istri,,,
Sugiharti Rusli
jadi penasaran sama reaksi kedua ortu Satria saat dia mengutarakan niatnya, apalagi sepertinya sang ibu sudah memilih perempaun lain yang dia bawa swkarang
Sugiharti Rusli
dan sekarang di saat ortunya datang ke Jakarta, mau tidak mau Satria harus membiacarakan hal itu nanti,,,
Sugiharti Rusli
karsna bagaimanapun Satria sudah mengutarakan niatnya meminang sang adik ipar ke ayah mertuanya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi saat sang ibu ingin segera bertemu cucunya dari bandara, hal itu akan membuat suasana tidak akan kondusif
Sugiharti Rusli
meski Satria belum tahu maksud kedua ortunya membawa serta si Ingrid bersama mereka, tapi feelingnya mengatakan lain deh,,,
Puput Assyfa
jangan harap satria mau melirikmu grind karena km terlalu banyak drama untuk cari perhatian supaya dilirik,
Puput Assyfa
pasti Inggrid gencar bgt pengen dapet satria ditambah dapat dukungan dr ibunya satria makin di atas angin
Engkar Sukarsih
nah kan dah ketauan...kalau kedatangan orang tua bang Satria,ada udang di balik bakwan 🤭🤭🤭nih
Wiek Soen
kayaknya Satria mw bilang klo sdh melamar Keisha
Wiek Soen
ternyata oh ternyata ada niat terselubung Ingrid,semoga Satria konsisten dg Keisha
Naufal Affiq
ngomong aja satria,kalau kau sudah punya pilihan calon istri,biar orang tua mu tau
Fa Yun
totalitas sekali carmuk mu Astrid
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!