Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Tiga Orang yang Hilang
Dao tiba di mulut tambang dengan napas memburu dan sekop di bahu. Di belakangnya, Lin Xue berlari sambil memeluk dua gulung perban besar. Di antara kepulan debu yang masih keluar dari celah gelap, Dao langsung menghampiri Jian Chen dan mengangkatnya setengah berdiri.
"Kau luka?" tanya Dao.
"Lutut saja," jawab Jian Chen.
"Lutut saja, katanya." Dao menoleh ke Lin Xue. "Dia bilang lutut saja."
"Aku lihat darahnya." Lin Xue berlutut di depan Jian Chen, menyingkap celana yang sobek, dan memeriksa luka itu dalam dua tarikan napas. "Tidak dalam. Nanti kubalut. Sekarang cerita: berapa yang keluar, berapa yang di dalam?"
"Tiga belas keluar," jawab Jian Chen. "Tiga di dalam."
"Siapa?" tanya Lin Xue.
Jian Chen menoleh ke kerumunan murid yang bersandar di dinding bukit, terbatuk dan menyeka wajah. Ia memeriksa mereka satu per satu. Tan Fu, duduk dengan wajah abu-abu. Qiu Bo, berdiri di samping pengawas dengan kedua tangan masih gemetar. Murid kurus yang sinis tadi tidak ada di antara mereka.
"Ma Rui," katanya. "Dan dua orang lagi dari kelompok kita. Tadi mereka ada di dekat cabang lorong lima."
"Cabang lorong lima?" ulang pengawas berewok. Ia menghampiri dengan wajah keras. "Kenapa mereka di sana? Perintahku semua di lorong empat."
"Aku tidak tahu, Pengawas. Mungkin beristirahat," jawab Jian Chen.
Pengawas itu mengumpat pelan. "Anak-anak bodoh."
"Itu soal nanti," potong Dao. "Sekarang kita gali. Ada yang punya ide dari mana?"
Semua orang menoleh ke Jian Chen. Ia menelan ludah. Tangannya masih gemetar, tetapi kepalanya jernih. Dua puluh tahun lalu ia pernah menggali puing tambang itu dengan tangan kosong, dan ia masih ingat bagaimana rasanya terlambat.
"Jangan dari mulut utama," katanya. "Langit-langit tangga sudah rusak, dan kalau digali, batu di atasnya akan jatuh. Gali dari sisi kiri, tempat ada celah ventilasi sebelum lorong lima. Jalurnya tipis, tetapi menuju langsung ke cabang."
"Kau tahu dari mana ada celah itu?" tanya Dao.
"Aku melihatnya waktu turun tadi," jawab Jian Chen.
"Dengan lampu seremang itu?" balas Dao.
"Aku punya mata bagus."
Dao menatapnya lama, lalu mengangkat bahu. "Baik. Semua yang bisa memegang sekop, ikut aku. Pengawas, kau jaga tangga supaya tidak ada yang masuk."
"Aku yang memerintah di sini," geram pengawas itu.
"Kalau begitu perintahkan sesuatu yang berguna, atau minggir," balas Dao.
Pengawas berewok membuka mulut, tetapi menutupnya kembali. Ia menggeram dan berbalik. "Semua yang masih kuat, ambil sekop! Yang terluka ke Tabib Lin Xue!"
Mereka menggali. Di sisi kiri mulut tambang, tanah berbatu itu lebih lunak dari yang Jian Chen duga, tetapi tetap berat. Dao menggali seperti kerbau, mengayunkan sekop tanpa jeda. Qiu Bo dan Tan Fu menyusul, lalu beberapa murid lain. Jian Chen sendiri hanya bisa mengangkat sekop beberapa kali sebelum lengannya menyerah. Ia memilih mengatur arah, menunjuk bagian yang boleh digali dan bagian yang harus dibiarkan.
Menjelang petang, seseorang datang berlari dari arah kampung. Shen Yu, dengan napas tersengal, membawa dua gulung tali dan sebuah ember. Wajahnya tegang.
"Aku dengar dari penjaga gerbang," katanya sambil menaruh tali. "Berapa yang terjebak?"
"Tiga," jawab Jian Chen.
"Hanya tiga?" Shen Yu menatapnya sebentar, lalu cepat-cepat mengangguk. "Bagus. Maksudku, bagus dibanding yang bisa terjadi. Di mana aku bisa bantu?"
"Pegang tali itu," kata Jian Chen. "Ikat ke batu besar di sini, lalu turunkan ke celah kalau sudah terbuka."
"Baik," jawab Shen Yu.
Dari balik tumpukan batu, Dao tiba-tiba mengangkat tangan. "Diam semua! Aku dengar sesuatu!"
Semua orang berhenti. Di dalam keheningan itu terdengar ketukan lemah dari bawah tanah, tiga ketukan, jeda, lalu tiga ketukan lagi.
"Mereka hidup!" seru Qiu Bo.
"Gali lebih cepat!" teriak Dao.
Menjelang matahari tenggelam, celah itu terbuka. Dao memasukkan lampu minyak lewat lubang sempit, dan cahaya kuning menerangi ruang kecil di bawah sana. Dua murid meringkuk berpelukan di sudut yang tidak runtuh, wajah mereka penuh debu tetapi mata mereka terbuka. Di samping mereka terbaring seorang murid kurus dengan kaki terjepit balok kayu dan darah menggenang di tanah.
"Ma Rui!" seru Qiu Bo.
Lin Xue menyusup ke dalam celah lebih dulu, tubuhnya kecil dan lincah. Beberapa saat kemudian suaranya terdengar dari bawah, tenang tetapi tajam. "Dua selamat. Cedera ringan. Yang satu lagi..." Ia berhenti.
"Yang satu lagi bagaimana?" tanya Jian Chen.
Hening sebentar. "Dia sudah tidak bernapas," jawab Lin Xue pelan. "Kakinya terjepit dan darahnya terlalu banyak keluar sebelum kita datang. Aku tidak bisa menolongnya."
Tidak ada yang berbicara. Qiu Bo menutup mulutnya dengan tangan. Tan Fu mengusap wajahnya dengan lengan baju. Shen Yu berdiri diam di dekat tali, menatap lubang gelap itu dengan wajah yang tidak terbaca. Jian Chen berdiri di tepi celah. Satu orang. Dua belas di masa lalu, satu hari ini. Ia tahu angka itu adalah kemenangan, tetapi di dadanya ia tidak merasakan kemenangan, hanya wajah sinis Ma Rui yang berkata bahwa Jian Chen tidak punya wewenang.
"Kau menyelamatkan dua," kata Dao di sampingnya, suaranya rendah. "Dan tiga belas di atas. Itu bukan kegagalan."
"Aku tahu," jawab Jian Chen.
"Kalau kau tahu, wajahmu tidak akan seperti itu," kata Dao.
"Aku masih belajar," jawab Jian Chen.
Qiu Bo menghampiri sambil menyeka wajah dengan lengan baju. "Jian Chen," katanya. "Kalau tadi aku tidak lari waktu kau suruh, aku pasti masih di dalam sana."
"Kau lari karena aku menyuruhmu," balas Jian Chen. "Itu sudah cukup."
"Aku berutang padamu," kata Qiu Bo.
"Bayar dengan tidak mengorok semalaman," sahut Jian Chen.
Qiu Bo tertawa pendek, dan tawanya bergetar. Tan Fu menepuk bahu Jian Chen dari belakang. "Aku tarik kata-kataku tadi," kata Tan Fu. "Aku membantumu bukan hanya demi perutku."
Ketika semua orang sudah dikeluarkan dan tubuh Ma Rui ditutup kain dan diangkat ke tandu, malam sudah turun. Obor-obor dinyalakan di sekitar mulut tambang. Murid-murid yang selamat duduk berkelompok, dibalut dan dihibur seadanya. Lin Xue membalut lutut Jian Chen dengan gerakan cepat dan tidak berbicara.
Pengawas berewok menghampiri mereka. Wajahnya letih, dan matanya merah. Ia berdiri diam sebentar sebelum berbicara.
"Jian Chen," katanya.
"Ya, Pengawas?"
"Kau menyelamatkan lebih banyak dari yang seharusnya. Aku tidak akan mencambukmu." Ia berhenti. "Ikut aku. Berdua saja."
Mereka berjalan menjauh dari kerumunan. Di bawah sebatang pohon tua, pengawas itu merendahkan suaranya.
"Aku mengirim orang ke aula kontribusi sore tadi untuk menanyakan soal perintah pemajuan jadwal," katanya. "Kau tahu apa jawabannya?"
"Apa?" tanya Jian Chen.
"Mereka bilang tidak pernah mengeluarkan perintah itu."
Jian Chen menegang. "Tapi perintahnya ada segel aula."
"Memang. Aku lihat sendiri. Dan sekarang mereka bilang segel itu palsu." Pengawas itu menatapnya tajam. "Seseorang memajukan jadwal kita dua hari, tepat sebelum lorong itu runtuh. Dan kau, anak muda, termasuk sedikit orang di kampung ini yang berbicara soal lorong itu sebelum hari ini."
"Aku tidak memajukan jadwal," kata Jian Chen.
"Aku tidak bilang kau yang melakukannya." Pengawas itu menghela napas panjang. "Tapi aku ingin kau berhati-hati. Entah siapa yang bermain, dia tahu lorong itu akan runtuh. Dan sekarang dia tahu kau juga tahu."