Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Janji di Bawah Lampu Minyak
Sebelas hari Andien menunggu.
Setiap pagi ia menyiram kebun sebelum matahari naik, seperti yang diajarkan Carlo. Setiap sore ia berdiri sebentar di ujung jalan desa, memandangi tikungan tempat pria itu menghilang, lalu pulang dengan perasaan yang tak mau ia beri nama.
"Kalau menunggu itu bisa bikin orang kenyang, kamu sudah gemuk, Nduk," sindir Bu Rukmini sambil batuk kecil.
"Dien tidak menunggu, Bu. Dien cuma lewat."
"Lewat ke ujung jalan, setiap hari, jam yang sama."
Andien tak membalas. Ia menunduk pada tumbukan jamunya, telinganya memerah.
Hari kedua belas, menjelang magrib, terdengar suara yang asing bagi desa kecil itu: deru mesin mobil.
Anak-anak berlarian ke jalan. Sebuah mobil hitam mengilap berhenti di depan balai desa, tampak janggal di antara motor tua dan gerobak sapi. Pintunya terbuka, dan keluarlah seorang pria berkemeja putih bersih dengan jas tersampir di lengan. Bahunya tegap, langkahnya mantap, tak ada lagi sisa pria sekarat yang dulu diseret Andien dari lumpur.
Andien menjatuhkan ember airnya.
"Mas Carlo?"
Carlo menoleh. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Andien melihat pria itu tersenyum lebar.
"Aku bilang akan kembali."
Ia tak sempat berpikir. Kakinya sudah berlari, dan baru berhenti dua langkah di depan Carlo, tiba-tiba sadar puluhan mata tetangga sedang menatap. Ia berdiri kikuk, tangan saling meremas, dada naik turun.
"Mas... sehat?"
"Sehat." Carlo menatapnya lekat, seolah ingin memastikan gadis itu nyata. "Kamu menunggu?"
"Sedikit," bisik Andien.
"Sedikit?"
"Banyak," koreksinya, dan wajahnya terbakar malu.
Carlo tertawa pelan, suara yang belum pernah ia dengar. Lalu ia berbalik pada sopir yang membuka bagasi. "Ambil semuanya."
---
Malam itu gubuk bambu Bu Rukmini dipenuhi barang-barang yang tak pernah mereka bayangkan: karung beras, minyak, gula, obat-obatan dalam kantong plastik berlogo rumah sakit, dan sebuah amplop tebal yang diletakkan Carlo di atas balai-balai.
"Ini untuk biaya berobat Ibu. Besok pagi kita ke rumah sakit di kota kabupaten. Aku sudah bicara dengan dokternya."
Bu Rukmini menatap amplop itu, lalu menatap Carlo. Tak ada rasa senang di wajahnya, hanya kewaspadaan yang tenang.
"Nak Carlo," katanya pelan. "Uang sebanyak ini bukan uang orang biasa."
"Saya bekerja keras, Bu."
"Bekerja keras tidak membuat orang dikejar sampai hampir mati."
Hening. Andien menahan napas. Carlo tak langsung menjawab, dan Andien melihat rahangnya mengeras, seperti orang yang menimbang berapa banyak kebenaran yang boleh keluar.
"Ibu benar," akhirnya ia berkata. "Saya punya musuh. Orang-orang yang saya percaya mengkhianati saya. Karena itulah saya belum bisa menceritakan semuanya. Tapi saya bersumpah, apa pun yang terjadi, saya tidak akan membiarkan Ibu dan Andien terluka karena saya."
Bu Rukmini mengamatinya lama. Batuk kecil lolos dari dadanya, dan Carlo spontan menyodorkan segelas air hangat. Gerakan sederhana itu, tangan yang cekatan, mata yang cemas, sedikit melunakkan sorot Bu Rukmini.
"Besok kita ke rumah sakit," katanya. "Tapi Nak Carlo harus ingat, Andien ini anak saya satu-satunya. Dia polos. Jangan kamu mainkan perasaannya."
"Saya tidak akan."
Carlo mengucapkannya tanpa berkedip. Dan Andien, yang menyaksikan dari sudut ruangan, percaya sepenuhnya.
---
Hasil pemeriksaan keluar tiga hari kemudian: infeksi paru kronis, bisa disembuhkan jika dirawat teratur. Bu Rukmini dirawat seminggu penuh di bangsal kelas satu yang bersih dan sejuk, hal yang membuatnya terus menggumam, "Mubazir, mubazir," meski setiap pagi tidurnya makin pulas.
Selama itu, Carlo hampir tak pernah pergi. Ia duduk di kursi samping ranjang, mengupas jeruk dengan tangan yang canggung, membacakan koran untuk Bu Rukmini, bahkan menyuapi bubur saat Andien tertidur kelelahan. Perawat-perawat berbisik di koridor tentang pria tampan yang begitu berbakti pada "ibu mertuanya".
Andien pura-pura tak mendengar. Tetapi dalam hati, ia menyimpan setiap kata itu seperti benda berharga.
Pada malam terakhir di rumah sakit, ketika Bu Rukmini sudah tertidur, Carlo mengajaknya keluar ke selasar. Angin malam berembus lembut, membawa aroma tanah basah dari taman rumah sakit.
"Dien."
"Iya, Mas?"
"Aku mau bicara sesuatu yang penting."
Jantung Andien berdetak tak karuan. Ia menunduk, jemarinya memilin ujung kerudungnya.
"Aku tidak pandai berkata-kata," Carlo memulai, suaranya rendah. "Seumur hidup, aku dikelilingi orang yang bicara manis tapi berniat buruk. Kamu orang pertama yang menolongku tanpa meminta apa-apa. Orang pertama yang membuatku..." Ia berhenti, menelan ludah. "Aku ingin kamu ada di hidupku. Bukan sebentar, tapi seterusnya."
Andien mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca.
"Menikahlah denganku."
Dunia seakan berhenti berputar. Suara mesin, langkah perawat, bahkan angin, semuanya hilang. Yang tersisa hanya wajah Carlo di bawah lampu selasar yang temaram.
"Mas..." suaranya pecah. "Saya cuma anak buruh tani. Mas orang kota, pasti keluarga Mas..."
"Aku tidak punya keluarga yang akan peduli." Jawaban itu datang terlalu cepat, dan Andien tak menangkap getar halus di baliknya. "Hanya kamu dan Ibumu yang kupunya sekarang."
"Tapi kenapa buru-buru?"
"Karena aku tak mau kehilangan kesempatan. Sekali lagi." Carlo meraih kedua tangannya, menggenggamnya erat. "Dan ada satu syarat. Pernikahan kita harus dirahasiakan, setidaknya untuk sementara. Musuhku masih mencariku. Kalau mereka tahu kamu istriku, kamu akan jadi sasaran."
Andien terdiam. Sebagian dirinya, bagian kecil yang pernah mendengar nasihat ibunya, merasa janggal. Pernikahan sembunyi-sembunyi bukan hal yang lazim bagi gadis desa.
Tetapi ia menatap mata Carlo, mata yang malam itu tampak begitu jujur, begitu membutuhkan, dan keraguan itu luruh seperti garam dalam air.
"Saya mau, Mas," bisiknya.
Carlo memejamkan mata sesaat, seperti orang yang baru saja menaruh beban berat. Ia menarik Andien ke dalam pelukannya.
Andien tak melihat ekspresi wajahnya saat itu. Ia tak melihat rasa bersalah yang melintas cepat, lalu ditelan oleh tekad yang lebih dingin. Ia hanya merasakan detak jantung pria itu yang berpacu, dan mengira itu karena bahagia.
---
Pernikahan digelar tiga hari setelah Bu Rukmini pulang, di gubuk bambu itu, saat matahari baru condong ke barat.
Tak ada pelaminan, tak ada tamu undangan. Hanya seorang penghulu tua dari desa sebelah yang dijemput diam-diam oleh sopir Carlo, dua tetangga yang dipercaya Bu Rukmini sebagai saksi, dan secarik kebaya putih sederhana yang dijahit Bu Rukmini sendiri dari kain kenangan mendiang suaminya.
Andien duduk bersimpuh di depan penghulu, tangannya dingin, kepalanya tertunduk. Sanggul kecil menghiasi rambutnya, dengan sekuntum melati yang dipetik dari halaman.
"Saya terima nikah dan kawinnya Andien binti Suparman dengan mas kawin tersebut, tunai."
Suara Carlo terdengar mantap, tanpa ragu sedikit pun. Dan pada kata "sah" yang diucapkan dua saksi, air mata Andien jatuh menetes ke pangkuannya.
Ia istri seseorang sekarang. Istri pria yang ia selamatkan dari kematian, yang kini menyelamatkan ibunya.
Bu Rukmi menyeka matanya diam-diam. Ia tersenyum, tetapi senyum itu tak sampai ke seluruh wajahnya.
Ketika cincin emas sederhana disematkan ke jari manis Andien, Carlo menunduk begitu dekat hingga hanya gadis itu yang mendengar bisikannya. "Terima kasih, Dien. Untuk segalanya."
Andien mengangguk, tak sanggup berkata-kata. Matanya turun pada tangan Carlo yang memegang jemarinya, dan sekilas ia menangkap sesuatu yang aneh: sebuah garis pucat melingkar di jari manis kiri pria itu. Kulitnya sedikit lebih terang dari kulit di sekitarnya, seperti bekas sesuatu yang lama dikenakan dan baru saja dilepas.
Ia berkedip. Hanya itu. Garis itu tertutup bayangan, dan saat ia menatap lagi, tangan Carlo sudah bergerak, menyentuh pipinya.
"Kenapa melihat tanganku?"
"Tidak, Mas." Andien tersenyum, malu. "Tangan Mas hangat."
Carlo tersenyum balik. Tak ada yang menyadari, termasuk Andien sendiri, bahwa pertanyaan itu hampir terlalu cepat.
---
Malam pertama sebagai suami istri, hujan turun lagi, seperti pada malam ketika mereka bertemu.
Andien duduk di tepi balai-balai, mengenakan kain batik tidur pemberian ibunya, jantungnya berdebar. Carlo berdiri di dekat jendela anyaman, memandangi tetesan hujan yang menetes dari tepi seng. Di tangannya ada sebuah ponsel hitam tipis yang tak pernah Andien lihat sebelumnya.
"Mas?"
"Sebentar, Dien."
Layar ponsel itu menyala, menerangi wajahnya yang mendadak mengeras. Dari tempat duduknya, Andien melihat sebuah nama di sana, sebuah panggilan tak terjawab yang jumlahnya belasan.
*Laras.*
Hanya satu kata. Andien tak sempat membacanya utuh, karena Carlo sudah membalik ponsel itu ke bawah dan menyelipkannya ke saku.
"Siapa, Mas?"
"Bukan siapa-siapa." Carlo menoleh dan tersenyum, senyum yang sempurna, hangat, dan tanpa celah. "Urusan pekerjaan. Tidak penting malam ini."
Ia berjalan mendekat, duduk di sisi Andien, dan menggenggam tangannya. Hujan mengetuk atap seng dengan irama yang menenangkan. Di luar, kegelapan menelan desa, menelan jalan setapak, menelan segala pertanyaan yang belum sempat diajukan.
"Malam ini," bisik Carlo, "yang penting cuma kamu."
Andien mempercayainya.
Dan jauh di dalam saku pria itu, ponsel yang terbalik itu bergetar lagi, sekali, dua kali, tiga kali, tak kunjung berhenti.
---
*Bersambung ke Bab 4...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya