"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.
Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04. Aksi Pertama Ziva, (Revisi)
Malam itu berakhir dengan aroma kafein murahan dan bau baju basah yang dikeringkan di depan kipas angin.
Rian tidak bisa tidur. Setiap kali dia memejamkan mata, memori tentang Keysha yang tertawa bersama Marvel di atas panggung aula langsung memotong napasnya.
Lalu, bayangan itu berganti menjadi Ziva. Ziva dengan mata bulatnya yang galak, tamparan kerasnya yang menyelamatkan kewarasan Rian, dan sebuah tawaran gila yang rasanya terlalu nekat untuk ukuran cowok kuper seperti dirinya.
“Mulai besok, lo jadi pacar sewaan gue.”
Kata-kata itu berputar seperti kaset rusak di kepala Rian sampai alarm ponselnya menjerit pukul lima pagi.
Senin pagi. Gerbang SMA Taruna Bakti selalu menjadi panggung pertunjukan kasta sosial. Di sana, motor-motor sport mahal bersaing deru, dan wangi parfum puluhan ribu hingga jutaan saling bertabrakan di udara.
Rian berdiri di depan halte yang berjarak lima puluh meter dari gerbang sekolah. Dia merapikan kerah seragamnya yang kaku.
Di cermin kecil toilet rumah tadi, dia memastikan lebam di pipinya akibat tamparan Ziva sudah tersamarkan.
Tapi yang tidak bisa dia samarkan adalah debaran sialan di dadanya. Dia gugup setengah mati.
"Jangan pasang muka kayak mau dihukum mati gitu. Jelek."
Rian menoleh cepat. Ziva sudah berdiri di sampingnya.
Hari ini, cewek itu tidak memakai jaket denim kebesaran. Dia memakai seragam sekolah standar, tapi entah bagaimana, cara dia mengancingkan kemeja dan mengikat rambut pendeknya menjadi half-up bun membuatnya terlihat berbeda.
Tidak ada lagi Ziva si tukang tidur di pojok kelas. Yang ada di depan Rian adalah cewek yang memegang kendali.
"Gue masih bisa mundur, kan?" bisik Rian, suaranya agak serak.
Ziva menaikkan satu alisnya. Dia melangkah mendekat, lalu tanpa permisi, jemari lentiknya bergerak merapikan dasi Rian yang agak miring. Jarak mereka begitu dekat hingga Rian bisa mencium wangi vanila yang sama seperti semalam.
"Nggak ada kata mundur setelah lo bilang 'oke' semalam, Rian," ucap Ziva pelan, matanya menatap tepat ke manik mata Rian. "Inget kesepakatan kita. Lo bukan lagi Rian si badut Keysha. Mulai detik ini, lo adalah cowok gue. Paham?"
Rian menelan ludah. "Tapi, Ziv... semua orang tahu gue ngejar Keysha dua tahun ini. Mereka gak bakal percaya."
"Justru itu poinnya," Ziva tersenyum miring, senyum yang membuat bulu kuduk Rian meremang sekaligus memicu adrenalinnya. "Mereka bakal mikir lo udah sadar, dan gue adalah alasan lo buat berpaling. Sekarang, kasih gue tangan lo."
Rian ragu sejenak, sebelum akhirnya menyodorkan lengan kirinya. Ziva tidak menyambut telapak tangan Rian, melainkan langsung menyusupkan jemarinya ke sela-sela jari Rian. Menautkannya dengan erat.
Kulit Ziva hangat, berbanding terbalik dengan tangan Rian yang sedingin es.
"Jalan," perintah Ziva singkat.
Mereka mulai melangkah beriringan menuju gerbang sekolah. Rian bisa merasakan setiap jengkal ototnya menegang. Setiap langkah terasa seberat semen.
Efeknya langsung terasa begitu mereka melewati garis gerbang besi.
Satu per satu pasang mata yang tadinya sibuk mengobrol langsung tertuju pada mereka. Suara tawa di koridor depan mendadak surut, digantikan oleh bisik-bisik kasak-kusuk yang menjalar cepat seperti api menyiram bensin.
"Eh, itu Rian, kan?"
"Kok jalan sama Ziva?"
"Bukannya semalam si Rian baru aja dipermaluin Marvel?"
"Tunggu, mereka pegangan tangan?!"
Rian mencoba menunduk, insting lamanya sebagai 'orang pinggiran' di sekolah mendadak bangkit. Namun, Ziva mempererat cengkeraman tangannya.
"Angkat dagu lo, Rian," bisik Ziva tanpa menoleh, suaranya tetap tenang dan datar. "Lo gak salah apa-apa. Jangan kelihatan kayak pecundang."
Rian menarik napas dalam-dalam. Dia menegakkan bahunya. Benar kata Ziva. Dia tidak boleh terlihat menyedihkan lagi.
Tepat di koridor utama dekat loker, kerumunan siswa agak merenggang, memberikan panggung bagi dua orang yang paling tidak ingin Rian temui hari ini.
Marvel dan Keysha.
Marvel sedang bersandar di depan loker dengan jaket tim basket yang disampirkan di bahu. Di sampingnya, Keysha—si kapten cheerleader yang semalam mengabaikan Rian—sedang memegang segelas es kopi.
Keysha terlihat secantik biasanya, dengan rambut panjang bergelombang dan riasan tipis yang sempurna.
Namun, begitu langkah kaki Rian dan Ziva mendekat, tawa Marvel terhenti. Es kopi di tangan Keysha perlahan turun.
Suasana koridor mendadak hening. Ketegangan merayap di udara, begitu pekat hingga rasanya bisa dipotong dengan pisau.
Marvel menegakkan posisinya, matanya menyipit menatap tautan tangan Rian dan Ziva. Sudut bibirnya terangkat, mencoba memasang topeng ejekan setianya. "Wah, lihat siapa yang datang. Si badut semalam udah dapet pawang baru ternyata? Cepat banget ganti haluan, Yan? Frustrasi ya?"
Beberapa antek Marvel di belakangnya mulai tertawa kecil. Rian merasakan emosinya menyulut. Tangannya mengepal, tapi sebelum dia sempat membuka mulut, Ziva sudah mengambil alih.
Ziva menghentikan langkah tepat tiga langkah di depan Marvel dan Keysha. Dia tidak membalas ucapan Marvel. Dia bahkan tidak melirik Marvel sama sekali, seolah cowok itu hanyalah angin lalu yang tidak kasat mata.
Pandangan Ziva terkunci lurus pada Keysha.
"Pagi, Key," sapa Ziva dengan nada suara yang kelewat ramah, namun memiliki aura dingin yang menusuk. "Oh ya, gue cuma mau bilang makasih buat yang semalam."
Keysha mengernyit, wajah cantiknya tampak terusik. "Makasih buat apa?"
Ziva menoleh sedikit ke arah Rian, memberikan senyuman termanis yang belum pernah Rian lihat sebelumnya di kelas. "Makasih karena lo udah lepasin cowok seberharga Rian. Kalau bukan karena kebodohan lo semalam yang buang dia demi... well, barang tiruan," Ziva melirik Marvel sekilas dari ujung mata dengan tatapan menghina, "gue gak bakal tahu kalau Rian ternyata seromantis ini."
Wajah Marvel langsung berubah merah padam. "Maksud lo apa, Ziv?!" bentak Marvel, merasa harga dirinya diinjak di depan umum.
Ziva tidak memedulikan Marvel. Dia kembali menatap Keysha yang kini bibirnya sedikit terbuka, syok dan tidak siap dengan serangan verbal yang begitu teliti. Keysha terbiasa dipuja, bukan dikasihani, apalagi oleh cewek kuper seperti Ziva.
"Gue duluan ya, Key. Kasihan Rian, dia belum sarapan karena semalam sibuk... nemenin gue," ucap Ziva dengan penekanan yang ambigu namun mematikan.
Tanpa menunggu jawaban, Ziva menarik tangan Rian untuk kembali berjalan, melewati Marvel yang rahangnya mengeras menahan amuk, dan Keysha yang matanya bergetar menatap punggung Rian dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara tidak percaya, gengsi yang terluka, dan sesuatu yang mirip dengan rasa kehilangan yang terlambat.
Rian berjalan dengan dada yang bergemuruh. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dia tidak merasa kecil di depan Keysha.
Untuk pertama kalinya, dia melihat Keysha yang kehilangan kata-kata.
Begitu mereka berbelok di koridor menuju tangga laboratorium yang sepi, Ziva langsung melepaskan tautan tangan mereka dengan sentakan cepat.
Aura manis dan hangat dari cewek itu menguap dalam sedetik, kembali menjadi Ziva yang dingin dan efisien.
"Akting lo lumayan buat pemula," kata Ziva sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya, memeriksa jam tanpa melihat Rian. "Tapi tadi tangan lo keringatan. Kurangi gugup lo buat adegan berikutnya nanti pas istirahat."
Rian masih bersandar di dinding koridor, mencoba mengatur napasnya yang memburu akibat adrenalin yang melonjak. Dia menatap Ziva dengan pandangan tidak percaya. "Lo... lo bener-bener gila, Ziv. Lo lihat muka Marvel tadi? Dia kayak mau bunuh gue."
"Biarin aja. Emang itu tujuannya," Ziva memasukkan kembali ponselnya, lalu menatap Rian datar. "Inget, ini baru babak pemanasan. Jangan senang dulu. Marvel gak bakal tinggal diam setelah dipermaluin kayak tadi. Dia pasti bakal nyari cara buat ngebongkar kalau kita cuma akting."
Ziva melangkah pergi meninggalkan Rian, namun setelah tiga langkah, dia berhenti dan menoleh sedikit.
"Dan satu hal lagi, Rian."
"Apa?"
"Jangan pernah berani jatuh cinta sama gue selama permainan ini jalan. Gue gak suka urusan yang ribet."
Ziva melanjutkan langkahnya, menghilang di balik belokan tangga, meninggalkan Rian yang termangu sendirian di koridor.
Rian menyentuh dadanya. Jantungnya masih berdegup kencang. Tapi dia sendiri tidak tahu, debaran ini karena sisa ketakutannya pada Marvel, atau karena cewek aneh yang baru saja menyeretnya masuk ke dalam neraka yang terasa begitu candu.
Mata pelajaran pertama berlalu seperti angin lalu bagi Rian. Otaknya sama sekali tidak menangkap rumus fisika di papan tulis.
Pandangannya terus terlempar ke sudut belakang kelas, tempat Ziva duduk. Cewek itu kembali ke mode aslinya: menelungkupkan kepala di atas meja, tertidur pulas seolah badai yang dia ciptakan di koridor tadi pagi tidak pernah terjadi.
Gila. Cewek itu benar-benar punya kepribadian ganda, batin Rian.
......................
...****************...
Tbc,