NovelToon NovelToon
Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fikafiky

Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.

Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.

Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara di Depan Mertua

Keheningan yang dingin seketika memotong habis sisa-sisa kehangatan dari semangkuk mi rebus sederhana tadi. Dapur yang tadinya dipenuhi tawa tipis kini kembali membeku. Naya berdiri kaku di dekat tempat cuci piring, matanya terpaku pada layar ponsel pintar yang masih bergetar di atas meja makan.

Nama "Kania Putri" berkedip-kedip di layar, seolah sedang menertawakan kenyataan palsu yang sedang Naya jalani.

Raka tidak langsung mengangkatnya. Ia meraih ponsel itu dengan gerakan tenang, namun Naya bisa melihat bagaimana buku-buku jari pria itu mengencang. Sejenak, sepasang mata elang Raka beralih menatap Naya, sebuah tatapan rumit yang amat sulit diartikan.

Ada kilatan rasa bersalah yang terlintas sekejap, sebelum akhirnya meredup dan kembali digantikan oleh topeng dinginnya yang tak tertembus.

Raka menempelkan ponsel ke telinganya, lalu berjalan menjauh menuju balkon luar penthouse. Pintu kaca tebal digesernya hingga rapat, memisahkan suara percakapan mereka dari jangkauan indra pendengaran Naya.

Naya berdiri sendirian di tengah ruang dapur yang sunyi. Dada wanita itu terasa sedikit sesak oleh hembusan angin malam yang mendadak terasa menusuk. Kenapa aku harus merasa goyah? batin Naya merutuhi dirinya sendiri. Ia memegangi dadanya yang berdetak abnormal. Ingat Naya, pria itu bukan suamimu yang sebenarnya. Kamu di sini cuma penambal lubang kekacauan yang dibuat Mbak Kania. Begitu enam bulan selesai, dia akan kembali ke dunianya, dan kamu kembali ke duniamu.

Naya menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang terasa hangat, lalu berbalik melangkah cepat menuju kamar tamunya tanpa menunggu Raka selesai bicara di balkon. Ia tidak sudi terlihat penasaran atau peduli.

Keesokan paginya, udara di penthouse belum sepenuhnya membaik. Naya sengaja bangun lebih awal, bersiap-siap dengan pakaian kerjanya, dan berusaha menghindari kontak mata dengan Raka yang sudah duduk rapi di meja makan seraya memeriksa beberapa dokumen kantor.

"Naya," panggil Raka dengan nada datar saat Naya hendak menggemblok tasnya dan melangkah keluar menuju pintu utama.

Naya menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "Ya, Pak Raka?"

"Hari ini jangan langsung pulang ke kantor setelah jam kerja selesai," kata Raka tanpa mengangkat wajahnya dari lembaran kertas. "Ibu menelepon tadi pagi."

Deg.

Naya memutar tubuhnya perlahan. "Ibu... maksud Anda, Ibu kandung Anda?"

"Ya. Siska Mahendra," jawab Raka ketus. Pria itu melepas kacamata berbingkai tipisnya, memijat pangkal hidungnya yang tampak lelah. "Ibu baru kembali dari acara sosialitasnya di Bali. Beliau memintaku dan istri baruku untuk datang makan malam di rumah utama nanti malam."

Naya meneguk ludahnya. Jika kemarin Nenek Rahma sudah cukup membuat senam jantung karena ketelitiannya, kini ia harus berhadapan dengan Ibu mertua panggungnya, wanita berkelas tinggi yang konon sangat perfeksionis dan selektif.

"Apakah saya harus berakting lagi jadi Mbak Kania?" tanya Naya dengan nada berbisik.

"Tentu saja!" bentak Raka pelan seraya memandang Naya dengan tatapan tajam. "Kamu pikir Ibu boleh tahu kalau kita menukar pengantin?! Ibu jauh lebih rumit daripada Nenek. Beliau tahu persis seperti apa profil Kania karena Ibu yang paling gencar mengurus perjodohan ini dari awal."

"Lalu saya harus bagaimana?!" balas Naya mulai panik. "Kalau Nenek cuma lihat foto sepintas, Ibu Anda pasti punya data lengkap Mbak Kania!"

"Tenang," potong Raka tegas. Pria itu berdiri dari kursinya, merapikan jas mewahnya. "Ibu hanya pernah bertemu Kania dua kali secara langsung, itu pun dua tahun lalu sebelum Kania kuliah ke luar negeri. Yang perlu kamu lakukan nanti malam hanyalah diam, tersenyum, dan biarkan aku yang bicara jika ada pertanyaan yang menjebak. Mengerti?"

Naya menghela napas pasrah, mengetukkan ujung sepatunya ke lantai. "Baik, Pak Bos. Terserah Anda saja."

****

Pukul enam sore, Naya berdiri di depan cermin kamar tamu penthouse dengan wajah kusut. Di atas ranjang, terhampar sebuah gaun berwarna krem yang dipilihkan oleh asisten pribadi Raka. Gaun itu sederhana, tetapi terlihat elegan dengan potongan yang sopan dan bahan lembut yang jatuh mengikuti tubuhnya.

Naya memandangi gaun tersebut sambil menghela napas panjang.

"Kenapa harus seribet ini, sih? Aku cuma mau makan malam, bukan mengikuti audisi menjadi menantu idaman keluarga kerajaan," gerutunya seorang diri.

Ia mengambil gaun itu, lalu memakainya dengan sedikit kesulitan saat merapikan resleting bagian belakang.

Setelah selesai berdandan, Naya menatap pantulan dirinya sekali lagi. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan sedikit gelombang di ujungnya, sementara riasan tipis membuat wajahnya tampak lebih segar.

"Semoga malam ini cepat selesai," gumamnya.

Namun, baru saja ia membuka pintu kamar, suara berat terdengar dari ruang tengah.

"Kamu sudah siap?"

Naya menoleh dan mendapati Raka berdiri di dekat sofa. Pria itu mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih dan dasi berwarna abu-abu gelap. Penampilannya begitu rapi hingga Naya sempat terpaku beberapa detik.

Sial! Kenapa pria ini harus setampan itu?

Naya buru-buru mengalihkan pandangan.

"Sudah, Pak."

Raka memperhatikannya dari atas hingga bawah. Dahinya sedikit berkerut, membuat Naya langsung merasa tidak nyaman.

"Kenapa? Gaunnya jelek?" tanyanya spontan.

"Tidak."

"Lalu?"

Raka terdiam sejenak sebelum menjawab, "Kamu terlihat berbeda."

Naya mengernyit. "Berbeda bagaimana? Saya masih punya dua mata, satu hidung, dan satu mulut, kok."

Raka menatapnya datar.

"Kamu selalu punya jawaban untuk segala hal, ya?"

"Kalau Bapak selalu punya komentar, saya juga harus punya jawaban."

Raka mengembuskan napas, tetapi sudut bibirnya nyaris terangkat. Entah mengapa, berdebat dengan perempuan itu mulai terasa seperti kebiasaan yang diam-diam ia nikmati.

Namun, ia segera mengingatkan dirinya sendiri bahwa Naya hanyalah pengganti Kania.

"Nanti, kalau Ibu bertanya tentang hubungan kita, jawab seperlunya. Jangan mengarang cerita yang aneh-aneh," pesannya.

Naya mengangguk. "Baik. Saya akan diam, tersenyum, dan mengikuti arahan Bapak."

"Bagus."

"Tapi kalau Ibu Bapak bertanya kapan mau punya anak, bagaimana?"

Raka yang sedang memeriksa jam tangannya langsung mengangkat kepala.

"Apa?"

Naya mengangkat kedua bahunya. "Saya hanya berjaga-jaga. Biasanya orang tua suka bertanya begitu kepada pengantin baru."

"Jawab saja kami belum memikirkannya."

"Kalau Ibu Bapak malah senang dan langsung menyuruh kami mempercepat?"

"Naya!"

Naya terkikik kecil melihat ekspresi kesal pria itu.

"Baiklah, baiklah. Saya tidak bercanda lagi."

Raka menggelengkan kepala. Perempuan ini benar-benar bisa membuat kesabarannya terkuras.

Beberapa saat kemudian, Raka menerima pesan dari ibunya yang mengingatkan mereka agar segera berangkat. Ia memasukkan ponsel ke saku jas, kemudian mengambil kunci mobil dari atas meja.

Sebelum melangkah keluar, ia menoleh kepada Naya.

"Satu hal lagi. Jangan terlalu gugup. Ibu tidak akan memakanmu."

Naya mendengus pelan. "Saya lebih takut ditanya macam-macam daripada dimakan."

Raka menatapnya beberapa saat, lalu berkata dengan suara lebih rendah, "Selama kamu bersamaku, ikuti saja arahanku. Aku tidak akan membiarkan Ibu mempermalukanmu."

Naya terdiam.

Untuk sesaat, ucapan itu terdengar seperti janji perlindungan yang tulus, bukan sekadar instruksi dari seorang suami dalam pernikahan kontrak.

Namun, sebelum hatinya sempat berharap terlalu jauh, Raka sudah berjalan menuju pintu.

"Ayo. Kita berangkat."

Naya menarik napas panjang, meraih tas kecilnya, lalu mengikuti langkah pria itu.

Malam ini, ia harus kembali berpura-pura menjadi Kania.

Dan tanpa disadarinya, peran yang semula hanya ingin ia jalani selama enam bulan itu perlahan mulai menyeret hatinya ke dalam sesuatu yang jauh lebih rumit

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!