Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Pandangan Mata Sang Kapten
"Sertu Budi! Cepat bantu berdirikan motornya! Ambilkan kotak P3K dari bawah jok belakang mobil!" perintah Reihan tegas tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Mita. Suaranya yang melengking tenang membelah keheningan jalanan perkebunan yang sepi.
"Siap, Kapten!" Budi, prajurit muda berbadan tegap yang menjadi pengemudi mobil dinas tersebut, segera melompat keluar dari balik kemudi. Dengan gerak sigap dan cekatan khas personel terbiasa lapangan, ia mengapit stang lalu menegakkan sepeda motor bebek milik Mita. Ia menggesernya pelan ke tepi jalan, mematikan stop kontak yang masih menyala, lalu berlari cepat menuju bagian belakang mobil dinas untuk menyambar kotak P3K berbahan plastik putih dengan logo silang merah mencolok.
Sementara Budi berurusan dengan kendaraan, Reihan berlutut lebih dekat di atas tanah berdebu yang panas. Seragam dinas lapangan lorengnya tak ragu menempel pada kerikil tajam. Dengan gerak jemari yang terlatih namun sengaja dibuat sepelan dan sehati-hati mungkin, perwira berpangkat Kapten itu memeriksa luka berdarah di siku serta lutut kanan Mita yang koyak.
"Mbak, coba rasakan perlahan. Ada bagian tulang yang terasa patah, retak, atau bergeser? Bisakah Mbak menggerakkan jari-jari kaki?" tanya Reihan lembut. Nada bicaranya yang tegas kini dilunasi oleh kehangatan yang kontras dengan seragam garang yang kenakannya.
Mita hanya menggelengkan kepala secara lambat. Ia sama sekali tidak merasakan ngilu patah tulang; rasa perih di kulitnya seolah terhimpit mati oleh kebas dan rasa hampa luar biasa yang memenuhi rongga dadanya. Rambut panjangnya yang terurai sebagian tampak kotor terkena debu jalanan, menyelimuti sebagian pipinya yang pucat pasi dan basah oleh sisa air mata.
"Bisa berdiri? Mari saya bantu," ajak Reihan lembut seraya mengulurkan tangannya yang kekar dan berurat.
Mita mencoba mengumpulkan sisa tenaganya, bertumpu pada kedua telapak kakinya. Namun, begitu ia mencoba bangkit meluruskan lutut, rasa lemas luar biasa menjalar kencang dari pangkal paha hingga ke seluruh tubuhnya. Pandangannya mendadak berputar sejenak. Lututnya gemetar hebat dan tubuh jangkungnya hampir kembali roboh menabrak tanah jika saja lengan kekar Reihan tidak dengan cepat menyergap, menahan pinggang serta bahunya dengan kokoh.
Tubuh Mita lemas bukan hanya karena dampak benturan kecelakaan fisik belaka, melainkan karena seluruh daya dukung mental dan semangat hidupnya telah habis terkuras tanpa sisa oleh berita pengkhianatan Mas yang begitu tiba-tiba. Dunia yang ia bangun selama lima tahun hancur runtuh dalam hitungan detik, meninggalkannya dalam kerapuhan total.
Melihat kondisi Mita yang sama sekali tidak berdaya dan tak sanggup menopang berat badannya sendiri, Reihan mengambil keputusan cepat. Tanpa ragu ataupun canggung, ia menyelipkan satu tangan kekarnya di bawah punggung Mita dan tangan lainnya menyusup mantap di bawah lipatan lutut perempuan itu. Dengan satu gerakan terukur dan bertenaga, Reihan mengangkat tubuh jangkung namun terasa sangat ringan bagi standar fisik prajurit itu ke dalam dekapan dadanya.
Mita tersentak kaget ketika tubuhnya melayang dari tanah, namun ia terlalu lelah, terlalu lunglai, dan terlalu pasrah untuk sekadar memprotes atau memberontak. Wajah manisnya bersandar secara tidak sengaja di dada bidang bernuansa seragam militer Reihan. Aroma kain seragam yang khas—bercampur antara minyak kayu putih, antiseptik tipis, dan wangi maskulin khas pria lapangan yang sering terpapar matahari—terhirup tajam merasuk ke dalam indra penciumannya. Untuk beberapa detik yang berharga, di dalam dekapan dada yang begitu kokoh, hangat, dan protektif itu, Mita merasakan sebuah kehangatan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, seolah dada bidang itu adalah benteng kokoh di tengah badai yang menghancurkan hidupnya.
Langkah kaki Reihan bergerak mantap dan stabil menyusuri bahu jalan menuju pintu belakang mobil dinas double cabin-nya. Budi dengan sigap membukakan pintu. Dengan penuh kehati-hatian, Reihan mendudukkan Mita secara perlahan di atas jok empuk mobil, memastikan kepala perempuan itu tidak terbentur pinggiran pintu. Ia lalu mengambil rolls kain kasa, alkohol, dan cairan antiseptik dari kotak P3K yang disodorkan Budi.
"Ini akan terasa sedikit perih, tahan sebentar ya, Mbak," kata Reihan pelan seraya berlutut di ambang pintu mobil.
Dengan cermat dan penuh kesabaran, perwira berpangkat Kapten itu membersihkan butiran kerikil dan debu jalanan yang menempel di luka lecet siku dan lutut Mita. Sentuhan jemarinya yang kasar khas tentara justru terasa sangat hati-hati dan penuh kelembutan, berlawanan dengan raut wajahnya yang tegas serta perawakannya yang garang.
Mita hanya mengangguk pelan. Ia menahan perih rasa sengatan cairan antiseptik tanpa mengeluarkan suara erangan sedikit pun. Bibirnya terkatup rapat, sementara matanya kembali menatap lurus ke depan—kosong, redup, dan kehilangan binar kehidupan.
Setelah membalut luka-luka Mita dengan rapi menggunakan kain kasa steril dan memastikan sepeda motor korban diikat aman serta stabil di bak belakang mobil dinas oleh Budi, pintu mobil pun ditutup. Kendaraan bertransmisi empat roda itu melaju perlahan menyusuri jalanan tanah berlumpur dan berlubang menuju alamat mess sekolah tempat Mita mengajar, berdasarkan petunjuk singkat dari kartu identitas pegawai yang ada di dalam tas Mita.
Sepanjang perjalanan berdurasi empat puluh menit menembus hutan perbatasan yang mulai remang disentuh senja, suasana di dalam mobil terasa sangat hening. Budi fokus penuh mengemudikan kendaraan menyusuri jalanan rusak yang bergoyang, sementara Reihan duduk di jok depan samping pengemudi. Namun, perhatian Reihan sama sekali tidak tertuju pada pemandangan pohon kelapa sawit di luar. Melalui kaca spion tengah, Reihan tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah penumpang di belakangnya.
Mita menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil yang bergetar pelan. Wajah manisnya yang pucat tersinari oleh cahaya remang jingga dari matahari tenggelam di ufuk barat. Tetes demi tetes air mata masih mengalir pelan melewati pipinya yang mulus, menyuarakan rasa sakit, penderitaan, dan kesedihan yang teramat sangat tanpa perlu terucap lewat kata-kata.
“Siapa perempuan ini sebenarnya? Apa yang membuat seorang guru dengan wajah seanggun dan semanis ini memendam luka yang begitu berat hingga tak peduli lagi pada keselamatan nyawanya sendiri?” batin Reihan bertanya-tanya dalam diam.
Sebagai seorang komandan pos perbatasan yang biasa membaca gerak-gerik musuh, menganalisis medan bahaya, dan mengukur risiko pertempuran di lapangan, Reihan merasa sangat terlatih untuk selalu bersikap dingin, rasional, serta impassif. Namun, tatapan mata bening yang sarat dengan keputusasaan mendalam itu mendadak menjadi teka-teki terbesar yang mengacaukan konsentrasi dan ketenangan batin sang Kapten.
Ketika mobil dinas akhirnya tiba dan berhenti di depan rumah kontrakan tempat Mita tinggal, Reihan dan Budi segera turun. Mereka membantu menurunkan sepeda motor bebek dari bak belakang dengan hati-hati. Reihan kemudian memapah Mita dengan lembut, menyangga lengannya hingga mereka sampai di depan pintu rumah kontrakan yang sepi.
"Terima kasih... Om … " bisik Mita akhirnya saat memegang gagang pintu. Suaranya serak, parau, dan sangat pelan, namun entah mengapa terdengar begitu merdu dan bergetar indah di telinga Reihan.
"Sama-sama, Mbak. Nama saya Reihan. Jika Mbak butuh bantuan medis lebih lanjut atau ada hal lain yang diperlukan, pos pamtas kami ada di perbatasan desa sebelah," ucap Reihan seraya berdiri tegap dan memberikan salam hormat kecil yang sangat sopan.
Mita hanya mengangguk tipis tanpa sanggup mengukir senyum, sebelum akhirnya masuk dan mengunci diri di dalam rumahnya yang sunyi.
Malam itu, di dalam barak Pos Pengamanan Perbatasan (Pamtas) yang sepi dan hanya diterangi lampu neon temaram, Kapten Reihan Andrean tidak bisa memejamkan matanya. Meskipun kipas angin besi yang tergantung di dinding berputar kencang meniupkan udara malam yang gerah, ingatan Reihan terus melayang pada sosok guru PJOK yang ditolongnya tadi sore. Wajah manis dengan mata bening berkaca-kaca yang dipenuhi duka itu seolah telah terpatri rapat di dalam pikirannya, menimbulkan desiran aneh dan hangat yang belum pernah dirasakannya sepanjang 32 tahun usianya menjalani hidup sebagai prajurit tentara.