NovelToon NovelToon
Terlambat, Mas! Aku Sudah Mati Rasa

Terlambat, Mas! Aku Sudah Mati Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.

Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.

Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri Tidak Tau Diri!

Kabar mengenai gugatan cerai yang dilayangkan Yoselin akhirnya sampai juga ke telinga keluarga besar Galvano. Keputusan tegas itu rupanya memicu ledakan amarah di pihak keluarga Edward. Bukannya mengoreksi tabiat buruk sang putra, mereka justru beramai-ramai menyudutkan Yoselin dan melancarkan berbagai desakan agar gugatan itu segera dicabut.

​Pagi itu, saat Yoselin baru saja tiba di rumah kontrakan barunya setelah menyelesaikan urusan di kantor, ponsel pribadinya tak berhenti bergetar. Rentetan pesan dan panggilan telepon dari ibu mertuanya Siska serta kakak perempuan Edward Helena masuk bertubi-tubi.

​Dengan helaan napas berat, Yoselin akhirnya menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari Siska. Ia berniat menyelesaikan polemik ini secara dewasa.

​"Yoselin! Apa-apaan kamu ini?!" suara Siska melengking penuh nada tuduhan dari seberang telepon.

"Kamu benar-benar tidak punya hati nurani, ya! Edward sedang terbaring di rumah sakit dengan tangan patah, dan kamu malah mengirimkan surat gugatan cerai?!"

​Yoselin mencoba menata suaranya agar tetap tenang dan sopan. "Selamat pagi, Ibu. Keputusan saya untuk bercerai sudah bulat. Hal ini tidak ada hubungannya dengan kondisi fisik Edward sekarang, melainkan murni karena pernikahan kami yang memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi."

​"Tidak bisa dipertahankan bagaimana?!" potong Siska tajam tanpa mau mendengar penjelasan.

"Pernikahan baru dua tahun sudah mau menyerah! Pernikahan itu masih bisa diperbaiki, Yoselin! Jangan kekanak-kanakan dan membuat malu nama keluarga Galvano di depan publik!"

​"Saya sudah bertahan selama dua tahun dalam pengabaian, Bu," balas Yoselin lirih namun memendam kegetiran yang mendalam.

"Edward tidak pernah menganggap saya sebagai istri. Dia bahkan melakukan kekerasan fisik pada saya dan terang-terangan berhubungan dengan wanita lain."

​Bukannya merasa prihatin atas penderitaan sang menantu, jawaban yang keluar dari mulut Siska justru membuat Yoselin terhenyak tak percaya.

​"Hanya karena hal sepele begitu kamu sampai minta cerai?!" cemooh Siska diiringi decakan nafas yang meremehkan.

"Dengar ya, Yoselin. wajar jika seorang suami bermain-main sedikit di luar dengan wanita lain! Pria itu punya kebutuhan dan kejenuhan sendiri. Tugas kamu sebagai istri itu melayani, bersabar, dan mengalah! Bukan malah kekeuh minta cerai seperti wanita egois!"

​Yoselin membeku di tempatnya. Kata-kata yang meluncur santai dari ibu mertuanya terasa begitu menohok dan gila. Bagaimana mungkin seorang wanita, sesama perempuan, menganggap perselingkuhan dan KDRT sebagai hal yang wajar?

​"Wajar, Bu?" bisik Yoselin dengan suara yang bergetar menahan gejolak emosi.

"Menelantarkan istri tanpa nafkah lahir dan batin selama dua tahun, membawa mantan kekasihnya ke mana-mana, lalu menampar dan mencekik leher saya hingga memar... Ibu bilang itu hal yang wajar?"

​Sebelum Siska membalas, terdengar suara ponsel yang diambil alih secara kasar oleh Helena, kakak perempuan Edward.

​"Heh, Yoselin! Jangan sok menjadi korban di sini!" bentak Helena dengan nada mengintimidasi.

"Kamu pikir kamu siapa, hah?! Sebelum menikah dengan kamu, Edward itu pria terpandang! Kamu yang tidak becus menjadi istri, tidak bisa melayani adikku dengan benar sampai dia harus mencari kenyamanan di luar!"

​"Mbak Helena, tolong jaga bicaranya—"

​"Kamu yang harusnya jaga kelakuanmu!" potong Helena kejam.

"Meninggalkan suami yang sedang terluka parah di rumah sakit itu mencerminkan kalau kamu adalah istri yang sangat jahat dan tidak tahu diri! Kamu cuma menumpang hidup di keluarga kami!"

​Sebuah senyuman sinis yang penuh pahit terukir di bibir Yoselin. Ternyata, kegagalan Edward menjadi seorang pria sejati dan suami yang bertanggung jawab bukanlah hal yang muncul begitu saja. Bukti kebusukan moral itu rupanya diturunkan langsung dari doktrin keluarga besarnya yang kolot dan manipulatif.

​"Saya tidak pernah menumpang hidup di keluarga Galvano, Mbak," ucap Yoselin dengan suara yang amat jernih dan tegas.

"Selama dua tahun ini, saya membeli pakaian, makanan, dan pemenuhan kebutuhan pribadi saya menggunakan uang hasil keringat saya sendiri. Edward bahkan tidak pernah memberiku uang bulanan sepeser pun."

​"Halah! Alasan saja kamu!" tukas Helena tidak mau kalah.

"Dengarkan aku baik-baik, Yoselin. Kamu harus cabut gugatan cerai itu sekarang juga! Datang ke rumah sakit, minta maaf pada Edward dan Mama, lalu rawat adikku sampai sembuh!"

​"Saya tidak akan pernah mencabut gugatan itu," jawab Yoselin tanpa keraguan sedikit pun.

​"Kamu berani melawan?!" ancam Helena dengan nada suara yang membahayakan.

"Kalau kamu tidak mencabut gugatan itu sampai besok pagi, jangan salahkan kami kalau kami hancurkan kariermu! Kami punya jaringan luas di industri ini. Kami bisa buat kamu dipecat dari kantormu dan nama baikmu hancur di mana-mana!"

​Suara Siska kembali terdengar dari kejauhan, ikut menimpali ancaman sang putri. "Benar! Kami akan pastikan kamu tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan lagi di kota ini kalau kamu nekat menceraikan Edward! Cabut gugatan itu, Yoselin!"

​Ancaman bertubi-tubi dan tuduhan keji dari keluarga Galvano yang seharusnya membuat seorang wanita ketakutan, justru tidak menggoyahkan pertahanan Yoselin sama sekali. Rasa hormat yang dulu pernah ada untuk keluarga mertuanya kini telah musnah sepenuhnya, berganti menjadi benteng ketegaran yang tak tertembus.

​Yoselin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia menyunggingkan senyuman tipis, sebuah senyuman penuh kebebasan yang belum pernah ia rasakan selama dua tahun terakhir.

​"Silakan lakukan apa pun yang ingin kalian lakukan," pukas Yoselin tenang namun setiap kata yang diucapkannya menghantam tajam.

"Ancam saya, hancurkan nama saya, atau lakukan hal sejahat apa pun yang kalian mau. Saya tidak akan pernah mundur."

​"Yoselin! Kamu—"

​"Bagi kalian, pernikahan ini mungkin soal gengsi keluarga," potong Yoselin dengan nada penuh penekanan.

"Tapi bagi saya, lepas dari Edward dan keluarga kalian adalah tiket menuju surga. Sudah cukup saya terkurung selama dua tahun menjadi wanita bodoh tanpa kepastian. Selamat tinggal."

​Bip.

​Tanpa memberi kesempatan bagi mereka untuk memaki lebih jauh, Yoselin mematikan sambungan telepon secara sepihak.

​Tak berhenti di sana, beberapa detik kemudian pesan demi pesan teror bernada makian masuk ke ponselnya dari nomor keluarga Edward. Mereka mengatai Yoselin sebagai wanita tak berhati, menuduhnya berniat menguasai harta, hingga mengancam akan membawa kasus ini ke ranah hukum.

​Yoselin menatap layar ponselnya yang terus berkedip tanpa sedikit pun rasa gentar atau sedih. Ia tidak peduli lagi. Semua ancaman dan teror itu tak lebih dari bisikan angin lalu yang tidak akan bisa mengubah keputusannya.

​Yoselin membuka menu pengaturan ponselnya, lalu memblokir nomor Siska, Helena, serta nomor keluarga Edward lainnya satu per satu.

​Setelah meletakkan ponselnya di atas meja, Yoselin melangkah menuju jendela ruang tamu rumah barunya. Ia menatap langit siang yang cerah di luar sana seraya mengusap lembut dadanya yang kini terasa jauh lebih lapang.

​"Dua tahun penderitaan itu sudah berakhir," bisik Yoselin tulus pada dirinya sendiri.

"Kini saatnya aku mengambil kembali kebahagiaan dan jalanku sendiri."

Bersambung...

1
falea sezi
mampus lu daniel
falea sezi
Daniel Daniel oon🤣
Sribundanya Gifran
lanjut
Luna
ingat jika ada orang yg belum selesai dengan masa lalu nya jangan coba coba jadi pahlawan yg ada kamu cuma dianggap sekedar ada,,, apalagi kalo keduanya masih sama sama cinta ,jadi GK usah seperti korban drama,GK perlu nunggu 2 tahun ,5 bulan menikah kalo masih tak Sudi melihat mending pergi,
Luna
kenapa kamu mau yg menjadi pahlawan padahal sudah jelas dari awal,,,kamu berharap bisa dicintai,disini kamu bukan korban kamu sendiri yg cari penyakit, untuk apa mengobati luka orang lain tapi kamu sendiri tak ada yg ngobatin ,,,
Halimatun Saadiah
lanjut
Ruryn Amanda
ayo lanjut Thor,,😄
Ruryn Amanda
🤣🤣🤣dasar laki2 manipulatif,,licik,,penuh akal bulus tp q suka,,,,🤭
Ruryn Amanda
🤣🤣javierrr gue bius yaaaa,,,,
Ruryn Amanda
ayo Javier,,hancurkan si ed itu,,pebinor yg kudukung,,🤭
It's me Ri🥕: No no yaa🤣
total 1 replies
falea sezi
lanjut🤭
Sribundanya Gifran
lanjutthor
merry yuliana
crazy up yq kak💪💪💪🙏🙏🙏😍😍😍
Potatoes 🥔
Cerai ajalah🥺
Potatoes 🥔
Kurangajar emang Edward!
Sribundanya Gifran
lanjut
Mia Camelia
makin membara nih javier🤭
Gustinur Arofah
ceraikan Thor, terus kasih liat Edward klo angela tidak sebaik yg dia kira. biar menyesalnya double😁
hayasna
next
It's me Ri🥕
Hmm... ntahlah ya? Tunggu aja🤭🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!