NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34 - Sampel Rambut

Bima dan Maya kembali dari Semarang membawa bau asap, debu arsip, dan wajah kurang tidur.

Mereka tiba di rumah Prameswari menjelang malam. Nadira masih duduk di ruang tamu dengan buku catatan Mama Ratih di pangkuan. Arga baru selesai bicara dengan polisi setempat. Papa Hendra membuat teh, tapi tidak ada yang benar-benar meminumnya.

Maya masuk lebih dulu dan langsung memeluk Nadira.

"Bu Salmah aman."

Nadira memejamkan mata. "Map?"

Maya melepas pelukan. "Hilang. Tapi tidak semua habis."

Bima meletakkan tas plastik bukti di meja. "Pelaku terburu-buru. Mereka mengambil map utama, tapi meninggalkan buku tamu lama dan beberapa fotokopi daftar anak. Bu Salmah juga menyimpan catatan pribadi di rumahnya."

"Ada namaku?"

"Ada nama kecilmu," kata Maya. "Nira. Tanggal masuk panti. Barang bawaan. Sama seperti catatan Mama Ratih."

Nadira mengembuskan napas. "Gelang?"

Bima menggeleng. "Tidak ada. Tapi Bu Salmah yakin gelang itu diserahkan ke orang tua angkat saat adopsi."

Maya membuka satu foto dari ponselnya. "Ini gudang arsip setelah dibobol."

Nadira melihat rak besi tua, kardus terbuka, dan lantai penuh kertas. Di sudut foto ada sandal kecil anak panti yang tertinggal. Entah kenapa benda kecil itu membuat dadanya lebih sakit daripada lemari yang rusak. Tempat yang seharusnya menyimpan awal hidupnya kini tampak seperti tubuh yang dipaksa dibuka.

"Anak-anak panti takut?" tanya Nadira.

"Iya," jawab Maya. "Bu Salmah bilang mereka kira ada maling biasa. Aku tidak menulis apa pun, tapi aku janji ke mereka kita akan bantu ganti kunci dan kamera."

Arga langsung berkata, "Aku urus biayanya lewat yayasan, bukan atas nama pribadi."

Nadira menatapnya.

Arga menambahkan cepat, "Kalau kamu setuju."

Nadira mengangguk. "Setuju. Tapi jangan pakai nama Wijaya besar-besar."

"Tidak akan."

Papa Hendra menutup mata. "Berarti dicuri dari rumah ini."

Fadli yang sejak tadi diam langsung berkata, "Aku yang jaga rumah. Aku kecolongan."

Nadira menoleh. "Fad."

"Aku di rumah, Kak. Aku harusnya dengar."

"Pelaku masuk saat kamu mengantar Papa ke mushala. Kamu bukan penjaga keamanan."

"Tapi..."

Arga memotong dengan tenang, "Menyalahkan diri sendiri tidak memberi kita bukti."

Fadli menatapnya, lalu menunduk. "Iya."

Maya membuka map tipis. "Ada satu hal lagi. Buku tamu panti mencatat nama donatur lama. Tahun saat kamu masuk, ada beberapa nama. Salah satunya Yayasan Wijaya Peduli."

Nadira menatap Arga.

Arga juga tampak kaget. "Aku tidak tahu."

Bima menambahkan, "Saya cek awal. Yayasan itu dulu dikelola Papa Surya bersama beberapa keluarga perwira. Salah satu mitra besarnya keluarga Santoso."

"Santoso?" tanya Papa Hendra.

Arga mengangguk pelan. "Letjen Purnawirawan Aditya Santoso. Papa saya kenal beliau."

Nadira merasa namanya asing tapi berat.

Maya berkata, "Bu Salmah ingat ada perempuan muda bernama Alya Santoso yang dulu beberapa kali datang ke panti sebelum kasus bayi Nira. Dia tidak yakin karena sudah lama."

Papa Hendra berbisik, "A.S."

Ruangan langsung diam.

Nadira menatap buku catatan. Huruf A.S. tidak lagi hanya goresan pada gelang. Huruf itu mulai punya nama, rumah, dan orang-orang yang masih hidup.

Arga tidak membiarkan suasana tenggelam terlalu lama. "Kita tidak menyimpulkan tanpa tes."

"Tes dengan siapa?" tanya Nadira.

Arga ragu. "Aku bisa meminta Papa bicara dengan Pak Aditya. Tapi kalau kita datang tanpa bukti, ini bisa melukai banyak orang. Termasuk kamu."

"Kalau Vania sudah punya gelang, dia bisa datang lebih dulu."

Bima dan Maya saling pandang.

Nadira menangkap itu. "Apa?"

Maya mengeluarkan ponsel. "Aku dapat pesan dari sumber di lingkaran sosial. Vania terlihat masuk ke rumah Santoso sore ini bersama Dewi Lestari."

Nadira berdiri.

Arga mengambil ponsel itu. Foto buram dari jauh menunjukkan Vania di depan gerbang rumah besar. Kerudung putih. Kotak kecil di tangan.

"Dia sudah mulai," kata Nadira.

Arga langsung menelpon Papa Surya.

Papa Surya mengangkat dengan suara cemas. "Arga, kamu di mana? Mama kamu bilang Nadira ke Purwokerto."

"Pa, aku butuh bicara soal Yayasan Wijaya Peduli dan keluarga Santoso."

Di seberang, Papa Surya diam terlalu lama.

"Kenapa kamu tanya itu?"

"Ada kemungkinan Nadira terkait dengan Alya Santoso."

Suara Papa Surya berubah. "Jangan bicara sembarangan."

"Aku tidak. Ada catatan panti, gelang A.S., dan Vania sudah membawa gelang itu ke rumah Santoso."

Papa Surya mengumpat pelan, sesuatu yang jarang sekali Arga dengar.

"Papa akan hubungi Pak Aditya."

"Pa, hati-hati. Vania mungkin sudah masuk lewat Ibu Retno."

"Ibu Retno tidak stabil kalau soal Alya."

"Aku tahu."

"Tidak, kamu belum tahu." Suara Papa Surya berat. "Alya meninggal dengan tuduhan buruk. Keluarga Santoso hancur karena bayi itu hilang. Kalau Nadira benar anak Alya, banyak orang harus menelan ulang dosa lama."

Arga menatap Nadira. Ia tidak mengulang kalimat itu, tapi Nadira bisa membaca dari wajahnya.

Setelah telepon selesai, Arga berkata, "Papa akan bicara dengan Pak Aditya."

"Dan aku?"

"Kamu memutuskan sendiri apakah ingin tes."

Nadira tertawa pendek. "Aku benci kalau semua orang akhirnya bicara benar di saat hidupku berantakan."

Maya menyentuh bahunya. "Dir."

Nadira menarik napas. "Aku mau tes. Tapi bukan untuk memberi Vania panggung. Aku mau tahu untuk diriku."

Bima berkata, "Tes pembanding butuh sampel keluarga Santoso."

Arga mengangguk. "Papa bisa membantu. Tapi kita juga perlu jaga agar Vania tidak memakai rambut Nadira."

Maya langsung menatap Nadira. "Sisir kamu?"

"Di apartemen aman."

Arga terlihat tidak yakin. "Dulu di rumah Wijaya?"

Nadira mengingat kamar lama, meja rias, sisir yang ia tinggalkan saat pergi. "Ada."

Arga menutup mata sebentar. "Laras pernah masuk ke sana. Vania bisa dapat."

Nadira menatapnya. "Jadi dia bisa mengirim rambutku sebagai rambutnya?"

"Kalau dia cukup nekat."

"Dia cukup nekat."

Ponsel Arga bergetar. Pesan dari Papa Surya.

Pak Aditya bersedia bertemu besok pagi. Jangan bawa Nadira dulu. Situasi di rumah Santoso sudah kacau. Ibu Retno menganggap Vania sebagai anak yang harus dilindungi.

Nadira membaca pesan itu dari tangan Arga.

Ia tidak marah karena tidak diajak. Aneh, ia justru takut kalau diajak.

"Pergi," katanya.

Arga menatapnya. "Aku tidak akan mengambil keputusan tentang hidupmu."

"Aku tahu. Tapi Mas bisa ambil sampel pembanding resmi kalau Pak Aditya setuju. Aku akan siapkan sampelku dengan dokter forensik, bukan diam-diam."

Bima mengangguk. "Itu lebih kuat."

Maya menatap Nadira dengan bangga. "Kamu terdengar seperti orang yang sedang menggugat takdir."

Nadira memegang buku catatan Mama Ratih.

"Aku cuma lelah digugat oleh masa lalu yang bahkan belum kukenal."

Malam itu, Nadira akhirnya menelpon Mama Ratih. Bukan untuk bertanya soal gelang. Belum.

Ia hanya berkata, "Ma, aku aman. Aku sayang Mama. Tapi aku tidak akan pulang karena rasa takut yang ditanam orang lain."

Mama Ratih menangis di seberang.

"Ibu tidak tahu mana pikiran Ibu sendiri, Nad."

"Tidak apa-apa. Kita cari pelan-pelan."

"Kamu masih anak Ibu?"

Pertanyaan itu menghancurkan Nadira lebih dari surat ancaman.

"Selalu," jawabnya. "Apa pun isi gelang itu."

Setelah telepon ditutup, Nadira duduk lama tanpa bicara.

Maya menyodorkan segelas air. "Kamu tidak harus memilih malam ini."

"Semua orang bilang begitu, tapi semua kejadian memaksaku memilih."

"Kalau begitu pilih yang paling kecil dulu. Minum. Tidur satu jam. Besok baru menjadi tokoh utama lagi."

Nadira menerima gelas itu. "Kamu buruk dalam membuat lelucon saat serius."

"Aku tahu. Tapi kamu minum."

Arga berdiri di sisi lain ruangan, pura-pura memeriksa pesan dari Bima. Nadira tahu ia mendengar semuanya. Kali ini, ia tidak keberatan.

Sebab ada jenis diam yang mengawasi, dan ada jenis diam yang menemani. Malam itu, diam Arga untuk pertama kalinya terasa seperti yang kedua.

Nadira belum siap menyebutnya nyaman. Tapi ia tidak lagi ingin mengusirnya.

Itu saja sudah perubahan besar untuk malam sepanjang itu.

Ia membiarkannya tetap ada.

Untuk sekarang.

1
neni supraptini
seorang ibu bisa merasakan keresahan anaknya meski ditutupi
Wa Sarah
kalau Vania suka Kevin trus siblaras suka Arga....ya sudah atuh....ambil aja.
ayok Nadira selesaikan perceraiannya lalu pindah ketempat lain, punya ijazah dokter mau kerja di rumah sakit mana aja sama aja.
Wa Sarah
benar2x ye.....ceritanya. kan mau cerai, trus hubungannya sama si Vania tu apa kok ceritanya malah melenceng🙏
Wa Sarah
ini si Arga komndan ya....jadi ceritanya ni....soal parcntaan atau pekerjaan yg gak masuk dalam alur ceritanya.🙏🙏🙏
Amelia suhartono
wanita bodoh,sok kuat,tinggal lepas yg bukan urusannya
Nyagus Gunawan
𝙠𝙡𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥 𝙨𝙞𝙝 𝙘𝙚𝙧𝙖𝙞 𝙖𝙟𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝘼𝙧𝙜𝙖...𝙟𝙜𝙣 𝙢𝙖𝙪 𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙞 𝙡𝙪𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖...𝙣𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙤𝙧𝙜 𝙗𝙖𝙧𝙪...
Sintaram Keumala
2in broo🗿👍
Dokkan Battle
nama Arga emang goblok dan tukang selingkuh amit amit
Si Memeh
bagus cerita nya thor
Wakana
arga kena azab
Wakana
nadira kamu malaikat atau apa
Hamdiah Arrahim
makanya jangan cepat2 ambil keputusan... kalau begini baru sadar... ternyata istrinya hebat...
Hera sasuwe
👍
Nurul Syahriani
ini cerita kenapa sih? vania gak suka nadira kenapa? karna kevin? kok sampe segitu misterius nya
Annie Soe..
Makin belibet, rumit tapiii aku sukaaa. Genre romance tapi jadi misteri ato apalah tapi selama benang merahnya terjaga ga masalah..
Jadi ga membosankan ga melulu romance, masalah rumah tangga,
Semangaatt thor..
😍💪
Andri Yeni
komunikasi nadira sama raka padahal dah nikah lama punya nak.kok msh kaku.kayak percakapan AI
Eka Anam
Nadira di telantarin 4 tahun tp nyamperin Laras bisa,udah gitu 4 th gaji nya di TF kesiapa?
Econ Ibrahim Latawa
♥️♥️
Annie Soe..
Ini bukan sekedar bacaan novel atau karya tulis biasa,,
Ada banyak pembelajaran yg bisa diambil, terutama di dialog dr. shafira sebagai psikiater. Thanks thor ..
Anita Shabrina
Kapan malam pertamanya...tau2 sdh hamidun sj... diskip yaaa ninaninuuuu nya thor... kan pengen tau awal ciuman dkk nya 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!