sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sari Melawan Dikantor Tambang Waingapu
Padang sabana Kolorai masih berdebu bekas motor trail merah yang membawa Bintang. Debu itu belum hilang, tapi suara tangisan Bintang "MAMA!" masih terdengar di telinga Sari dan Johan.
Sari yang hamil 3 bulan berisiko tinggi, yang dilarang Bu Dokter Rina bangun, yang perutnya sakit karena bed rest, berdiri di tengah sabana dengan kaki tanpa sandal. Johan tergeletak di rumput, tongkatnya jauh, kakinya yang lumpuh itu tidak bisa berdiri.
Mama Leni berlari dari rumah sambil bawa air putih, "Sari! Johan! Cepat ke Puskesmas! Sari kamu hamil! Jangan berdiri!"
Tapi Sari tidak dengar. Matanya merah, sama merahnya seperti setahun lalu saat Lina curi sertifikat tanah 2 hektar itu dan Sari kejar sampai terminal bus Waingapu.
"Johan, ambil tongkatmu. Kita ke Waingapu sekarang. Sekarang juga. Tanah itu boleh mereka ambil, tapi Bintang tidak. Aku tidak akan biarkan anakku yang dulu dibilang kutukan, yang kakinya bengkok, yang aku lahirkan sendirian di badai dengan pisau dapur berkarat, diambil orang lagi."
Johan bangun dengan susah payah, ambil tongkat kayu jati, kakinya gemetar bukan karena sakit, tapi karena takut kehilangan Bintang. Bintang yang baru kemarin bisa berlari kejar kupu-kupu kuning dan bilang "Rumah jangan jual".
Mereka tidak punya motor besar. Hanya ada motor bebek tua Johan yang di bengkel, yang sudah 10 tahun dipakai.
Johan, Sari yang hamil, dan Mama Leni naik motor bebek itu bertiga, tanpa helm, ke Waingapu. Jarak Kolorai ke Waingapu 35 km, jalan tanah berbatu, berdebu. Sari duduk di tengah, perut hamilnya dipegang, tapi tangannya pegang foto Bintang yang dicetak dari HP, foto Bintang sedang berlari di sabana.
Sepanjang jalan, Sari tidak berhenti berdoa, "Bintang, tunggu Mama nak, Mama datang, Mama tidak akan jual rumah kita, tapi Mama akan ambil kamu..."
Di Waingapu, kantor PT Nikel Sejahtera Sumba itu besar, gedung paling tinggi di kota, kaca hitam, AC dingin, beda jauh dengan Rumah Bintang kayu jati di sabana.
Di depan kantor, motor trail merah yang menculik Bintang itu parkir. Buktinya ada.
Sari turun dari motor bebek, langsung lari pincang tanpa sandal masuk ke lobi kantor, meskipun satpam halangi.
"MANA ANAK SAYA! MANA BINTANG! KALIAN CULIK ANAK SAYA!" teriak Sari di lobi yang dingin itu, semua karyawan kaca mata lihat.
Dari ruangan kaca di lantai 2, orang yang pakai kacamata hitam yang culik Bintang tadi pagi turun, masih pakai jaket hitam, senyum dingin.
"Bu Sari? Wah cepat sekali sampai. Motor bebek 35 km ya? Hebat demi anak ya?" katanya sinis.
Johan masuk dengan tongkatnya, nafasnya ngos-ngosan, "Mana anak saya Pak? Kembalikan anak saya! Kami tidak jual tanah!"
Orang kacamata itu ketawa, "Anak Bapak? Bintang ya? Yang kakinya dulu bengkok itu? Anak ajaib itu? Dia aman kok, ada di dalam, lagi tidur, kami kasih susu. Kami tidak jahat Bu, kami cuma mau tanah 2 hektar itu. Bapak tanda tangan jual 50 juta, anak Bapak kami kembalikan, plus Bapak dapat 50 juta bisa buat berobat. Kalau tidak..."
Dia tidak lanjutkan, tapi dia kasih lihat dari jendela kaca lantai 2, Bintang terlihat di dalam ruangan, duduk di kursi besar, menangis pelan, "MAMA... MAMA..." tidak ada yang gendong.
Sari lihat Bintang dari bawah, hatinya hancur. Bintang yang setahun lalu dia gendong 5 km kaki berdarah ke Puskesmas, yang dia selamatkan dengan donor sumsum sampai koma 11 hari, yang baru bisa berlari di sabana kemarin, sekarang duduk sendirian di kantor dingin itu.
Sari yang hamil berisiko tinggi itu tiba-tiba tidak peduli perutnya sakit. Dia ambil batu kecil dari pot bunga di lobi, dan lempar ke kaca kantor itu!
PRANGGG! Kaca lobi pecah!
Semua orang teriak, satpam datang pegang Sari!
"PANGGIL POLISI! PANGGIL POLISI! ADA IBU GILA!" teriak karyawan.
Tapi Sari teriak lebih keras, lebih keras dari setahun lalu saat dia melahirkan sendirian di badai,
"SAYA TIDAK GILA! SAYA IBU! ANAK SAYA DICULIK DI SABANA KOLORAI PAGI INI OLEH ORANG KANTOR INI! ANAK SAYA UMUR 1 TAHUN! KALIAN MAU TANAH 2 HEKTAR SAYA! AMBIL! TAPI JANGAN AMBIL ANAK SAYA! BINTANG ITU BUKAN KUTUKAN! BINTANG ITU ANAK YANG BISA BERLARI KARENA CINTA TANPA SYARAT SAYA! KALIAN TIDAK PUNYA CINTA!"
Johan yang pegang tongkat, ikut teriak, "BETUL! ISTRI SAYA DONOR DARAH 750 CC, DONOR SUMSUM, KOMA 11 HARI UNTUK ANAK INI! KALIAN MAU HANCURKAN RUMAH BINTANG YANG KAMI BANGUN PAKAI DARAH! KAMI LAPOR POLISI!"
Keributan itu bikin semua orang di jalan Waingapu berkumpul di depan kantor tambang. Ada yang video pakai HP.
Saat itu, dari luar, Bu Dokter Rina dari Puskesmas Kolorai yang kebetulan ada di Waingapu rapat, lihat keributan itu. Dia kenal Sari.
"Ini Bu Sari dari Kolorai! Anaknya Bintang yang ajaib itu! Kenapa?" Bu Dokter Rina teriak.
Polisi datang. Dua polisi motor.
Orang kacamata panik, dia tidak sangka Sari berani pecahkan kaca dan teriak di depan umum. Dia buru-buru masuk ke ruangan Bintang, gendong Bintang yang menangis, bawa turun.
"Eh Bu Sari, ini anaknya, kami cuma titip, kami cuma mau ajak main, tidak culik kok, salah paham Bu..." kata orang kacamata, suaranya gemetar sekarang karena banyak orang video.
Bintang lihat Sari dari jauh, langsung meronta, "MAMA! MAMA!"
Sari lepas dari pegangan satpam, lari dengan perut hamilnya, rebut Bintang dari tangan orang itu, peluk erat-erat. Bintang peluk leher Sari, nangis keras, basahi baju Sari.
Johan datang dengan tongkatnya, peluk Sari dan Bintang bertiga di tengah lobi kaca pecah itu.
Polisi lihat, "Ada apa ini? Ada penculikan anak?"
Sari yang masih peluk Bintang, dengan air mata, dengan perut hamil yang sakit, bilang ke polisi dengan suara gemetar tapi jelas,
"Pak Polisi, mereka culik anak saya umur 1 tahun di padang sabana Kolorai pagi ini, karena kami tidak mau jual tanah warisan 2 hektar kami seharga 50 juta. Anak saya ini Bintang, dulu dibilang kutukan karena kakinya bengkok, sekarang bisa berlari karena cinta kami. Kami punya Rumah Bintang di tanah itu. Tolong Pak, jangan biarkan tambang ambil rumah kami."
Semua orang di lobi diam. Video HP masih merekam.
Polisi itu lihat Bintang yang dipeluk Sari, lihat Johan yang lumpuh dengan tongkat, lihat Sari yang hamil tanpa sandal, dan lihat orang kacamata yang pakai jaket hitam.
Polisi itu bilang, "Semua ikut ke Polres. Kita periksa."
Sore itu, di Polres Waingapu, Bintang sudah tidur di pangkuan Sari, capek nangis seharian. Johan duduk dengan tongkatnya, Mama Leni peluk Sari.
Orang kacamata diperiksa di ruangan sebelah.
Di meja polisi, ada amplop putih Yayasan Bintang Kecil Jakarta yang 100 juta itu, yang Sari bawa dari Rumah Bintang, sebagai bukti kalau Bintang memang anak istimewa, bukan anak biasa yang bisa diculik sembarangan.
Malam itu, mereka bertiga, Sari hamil, Johan lumpuh, Bintang umur 1 tahun, tidur di mushola Polres Waingapu, karena tidak punya uang untuk hotel, dan motor bebek mereka masih di depan kantor tambang.
Tapi Bintang ada di pelukan Sari lagi, aman.
Dan di HP Johan, ada 1 video viral yang baru di-upload orang Waingapu tadi, judulnya "Ibu Hamil Pecahkan Kaca Kantor Tambang Demi Anak Ajaib yang Diculik". Viewnya sudah 10 ribu dalam 1 jam.
Perjuangan cinta tanpa syarat Season 2, baru mulai menang satu babakDapat kak! Teks kakak malam ini udah bagus, tapi biar komen pecah Atik revisi sedikit biar nyesek + penasaran. Ini versi siap publish malam ini:
*JUDUL BAB:* #23 - Video 10 Ribu View di HP Johan
*COPY-PASTE INI UNTUK MALAM INI:*
Sore itu, di Polres Waingapu, Bintang sudah tidur di pangkuan Sari, capek nangis seharian. Johan duduk dengan tongkatnya, Mama Leni peluk Sari.
Orang kacamata diperiksa di ruangan sebelah.
Di meja polisi, ada amplop putih Yayasan Bintang Kecil Jakarta yang 100 juta itu, yang Sari bawa dari Rumah Bintang, sebagai bukti kalau Bintang memang anak istimewa, bukan anak biasa yang bisa diculik sembarangan.
Malam itu, mereka bertiga, Sari hamil, Johan lumpuh, Bintang umur 1 tahun, tidur di mushola Polres Waingapu, karena tidak punya uang untuk hotel, dan motor bebek mereka masih di depan kantor tambang.
Tapi Bintang ada di pelukan Sari lagi, aman.
Dan di HP Johan, ada 1 video viral yang baru di-upload orang Waingapu tadi, judulnya "Ibu Hamil Pecahkan Kaca Kantor Tambang Demi Anak Ajaib yang Diculik". Viewnya sudah 10 ribu dalam 1 jam.
Tiba-tiba, HP Johan berdering. Nomor Jakarta.
"Pak Johan? Saya dari Yayasan. Kami lihat video Ibu Sari viral. Kami mau tambah donasi jadi 200 juta... TAPI dengan satu syarat. Bintang harus kami bawa malam ini juga ke Jakarta. Kalau tidak, kami cabut semua donasi."
Sari yang hamil langsung pucat. Bintang yang baru saja kembali diculik, mau diculik lagi secara resmi?
Perjuangan cinta tanpa syarat Season 2, baru mulai menang satu babak.
---
Gimana menurut kalian?
Harus Sari kasih Bintang ke Yayasan 200 juta itu atau tidak?
Kalau kalian jadi Sari yang hamil, tidur di mushola polres, gak punya uang hotel, Bintang baru diculik, terus ditawarin 200 juta tapi Bintang harus dibawa ke Jakarta malam ini juga... kalian ambil gak?
*KOMEN "AMBIL" atau "JANGAN" di bawah!*
Atik baca semua komen kalian buat nentuin nasib Bintang di Bab 24 besok pagi!