NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — Kebiasaan yang Mulai Terbentuk

Suara sendok yang beradu dengan cangkir terdengar pelan di ruang makan.

Alisha duduk sambil memperhatikan sarapan di hadapannya. Dia sesekali melirik jam dinding, memastikan masih memiliki cukup waktu untuk berangkat ke Sweet Morning Bakery.

Sejak menikah, dia mulai memahami satu hal tentang rumah itu: hampir semua orang memiliki kesibukan masing-masing, dan Adrian adalah orang yang paling jarang terlihat santai.

Bahkan ketika sarapan, laki-laki itu masih bisa membaca laporan pekerjaan.

Seperti sekarang.

Adrian duduk di seberang Alisha dengan sebuah tablet di tangannya. Sesekali dia berhenti membaca untuk menyeruput kopi, lalu kembali memeriksa dokumen.

Alisha sebenarnya ingin menanyakan sesuatu, tetapi dia ragu apakah Adrian sedang memiliki waktu untuk berbicara.

Akhirnya, dia memilih menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu.

"Aku berangkat sekitar sepuluh menit lagi," katanya ketika meletakkan sendok.

Adrian mengangkat wajah.

"Baik."

Alisha menunggu beberapa saat, tetapi tidak ada pertanyaan lanjutan.

Dia pun mengambil tasnya yang terletak di kursi sebelah.

"Kalau begitu, aku berangkat dulu."

Adrian mengangguk.

"Hati-hati."

Alisha membalasnya dengan senyum kecil sebelum meninggalkan ruang makan.

Namun, baru beberapa langkah menuju pintu depan, dia teringat bahwa jadwal kunjungan ibunya di rumah sakit mungkin berubah minggu ini. Dia harus mengatur waktu dengan lebih baik agar tidak mengganggu pekerjaannya.

Dia berhenti sebentar, kemudian kembali menghampiri ruang makan.

"Adrian, boleh aku bertanya?"

Adrian meletakkan tabletnya.

"Apa?"

"Kalau nanti aku perlu pulang sedikit lebih malam karena menjenguk Ibu, apakah aku harus memberi tahu kamu atau cukup memberi tahu orang rumah?"

Adrian menatapnya sebentar sebelum menjawab.

"Beri tahu orang rumah supaya mereka tahu kamu belum pulang. Kalau ada perubahan besar pada jadwalmu, kamu juga bisa memberi tahu saya."

Alisha mengangguk.

"Baik. Aku hanya ingin memastikan."

"Kalau itu saja, kamu bisa berangkat sekarang. Nanti terlambat."

Alisha tersadar ketika melihat jam.

"Oh, iya!"

Dia segera melangkah menuju pintu.

Adrian kembali mengambil tabletnya, sementara Alisha keluar dari rumah dengan sedikit tergesa-gesa.

Percakapan mereka hanya berlangsung singkat.

Namun, setidaknya Alisha tidak lagi harus menebak-nebak apa yang perlu dilakukannya. Adrian menjelaskan sesuatu secara langsung, dan dia bisa menyesuaikan diri tanpa harus merasa sungkan.

Bagi mereka, hal-hal kecil seperti itu perlahan menjadi bagian dari kehidupan bersama.

---

Di Sweet Morning Bakery, Alisha langsung disambut oleh kesibukan.

Beberapa pelanggan sudah berdiri di depan etalase, sementara pesanan untuk acara ulang tahun memenuhi meja bagian belakang.

"Alisha, kamu bisa bantu aku memeriksa pesanan ini?" panggil Rani.

"Iya, sebentar!"

Alisha meletakkan tasnya di ruang karyawan, mengenakan celemek, lalu menghampiri Rani.

Di atas meja terdapat beberapa kotak kue dengan nama pelanggan yang tertulis pada label.

"Kita harus memastikan semua pesanan sesuai sebelum dikirim," jelas Rani. "Kemarin ada pelanggan yang meminta tulisan khusus di atas kuenya."

Alisha mengambil daftar pesanan.

"Yang ini?"

"Iya. Tolong periksa tulisannya juga."

Alisha memeriksa satu per satu kotak kue, memastikan nama, tanggal, dan tulisan pada setiap pesanan sesuai.

Pekerjaan itu membuatnya sibuk sampai menjelang siang.

Ketika sedang menyusun kotak terakhir, Mira datang sambil membawa dua gelas air mineral.

"Ini untukmu."

Alisha tersenyum.

"Terima kasih."

Mira duduk di kursi dekat meja.

"Ngomong-ngomong, aku masih penasaran."

Alisha menoleh.

"Penasaran apa lagi?"

Mira mengangkat alis.

"Suamimu itu. Kamu bilang dia sibuk bekerja, tapi apa kalian pernah menghabiskan waktu bersama di rumah?"

Alisha terdiam sejenak.

"Ya, pernah. Kami tinggal di rumah yang sama."

Mira menatapnya datar.

"Alisha, maksudku bukan sekadar tinggal di rumah yang sama."

Alisha tertawa kecil.

"Aku tahu."

"Lalu?"

Alisha memikirkan jawabannya.

"Kadang kami sarapan bersama atau bertemu saat makan malam. Tapi dia sering bekerja sampai malam, jadi tidak banyak waktu untuk berbicara."

Mira menghela napas dramatis.

"Kalau aku jadi kamu, mungkin aku sudah bosan."

"Kenapa harus bosan?"

"Ya, karena kalian baru menikah. Bukannya biasanya pasangan baru menikah ingin menghabiskan waktu bersama?"

Alisha tersenyum tipis.

"Mungkin setiap orang berbeda, Mira."

Mira memperhatikan wajah temannya itu.

"Kamu benar-benar tidak keberatan?"

Alisha tidak langsung menjawab.

Dia memang terkadang merasa canggung tinggal bersama Adrian. Namun, dia juga tidak pernah berharap laki-laki itu tiba-tiba mengubah seluruh kehidupannya demi dirinya.

Sejak awal, dia memahami bahwa pernikahan mereka tidak dimulai dengan perasaan cinta.

"Aku sedang belajar menyesuaikan diri," jawab Alisha akhirnya. "Aku juga masih punya pekerjaan dan harus sering menjenguk Ibu."

Mira mengangguk pelan.

"Kalau begitu, semoga semuanya berjalan baik."

"Amin."

Mira berdiri ketika kepala toko memanggilnya.

"Sudah, aku kembali bekerja. Jangan melamun terus!"

Alisha menggeleng sambil tersenyum.

"Aku tidak melamun!"

"Bagus kalau begitu!"

Mira berjalan pergi, meninggalkan Alisha yang kembali memeriksa pesanan.

Meski percakapan itu membuatnya memikirkan pernikahannya sendiri, Alisha tidak ingin terlalu memusingkan apa yang dianggap wajar oleh orang lain.

Dia dan Adrian memiliki cara hidup masing-masing.

Selama mereka masih bisa saling menghormati, Alisha akan berusaha menjalani semuanya dengan baik.

---

Menjelang sore, Adrian keluar dari ruang rapat dengan beberapa dokumen di tangan.

Daniel berjalan di sampingnya sambil menjelaskan jadwal berikutnya.

"Pak, rapat dengan tim pemasaran dipindahkan ke besok pukul sepuluh. Untuk sore ini, hanya ada satu dokumen yang membutuhkan persetujuan Anda."

Adrian menerima berkas yang disodorkan Daniel.

"Baik. Letakkan di ruang kerja saya."

"Siap, Pak."

Mereka berjalan menuju lift.

Ketika pintunya terbuka, Adrian masuk terlebih dahulu. Daniel mengikuti di belakangnya.

"Untuk acara makan malam bersama keluarga akhir pekan ini, apakah Anda akan hadir?" tanya Daniel setelah melihat jadwal pada tabletnya.

Adrian mengerutkan kening tipis.

"Acara apa?"

"Undangan dari Tuan Hendrik, Pak. Beliau meminta Anda dan Ibu Alisha datang ke rumah keluarga pada hari Minggu."

Adrian terdiam sebentar.

Dia memang ingat ayahnya sempat menyebutkan rencana makan malam keluarga, tetapi belakangan ini pekerjaannya membuat dia tidak memikirkan hal tersebut lagi.

"Jam berapa?"

"Pukul tujuh malam."

Adrian mengangguk.

"Kosongkan jadwal saya pada jam itu."

"Baik, Pak. Apakah perlu saya menghubungi Ibu Alisha untuk menyampaikan informasinya?"

"Tidak perlu. Saya akan memberi tahu dia sendiri."

Daniel mengangguk tanpa bertanya lebih jauh.

Lift berhenti di lantai dasar.

Adrian keluar dan berjalan menuju mobil yang telah menunggunya.

Di dalam pikirannya, makan malam itu hanyalah salah satu agenda keluarga yang perlu dimasukkan ke dalam jadwal. Dia tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa.

Namun, dia juga memahami bahwa Alisha perlu mengetahui rencana tersebut agar bisa mempersiapkan diri.

Karena itu, sesampainya di rumah nanti, dia akan menyampaikan informasi tersebut.

Setelahnya, dia bisa kembali berkonsentrasi pada pekerjaan.

---

Alisha baru selesai membantu merapikan toko ketika ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari rumah sakit muncul di layar, mengingatkannya tentang jadwal pemeriksaan ibunya.

Dia segera membalas pesan tersebut, kemudian memeriksa waktu.

Hari itu dia masih memiliki kesempatan untuk mengunjungi Ratih sebelum pulang.

Alisha berpamitan kepada kepala toko dan rekan-rekannya, lalu berangkat menuju rumah sakit.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang harus diaturnya.

Pekerjaan.

Kebutuhan ibunya.

Jadwal kunjungan.

Dan kehidupan barunya bersama Adrian.

Dia tidak pernah menyangka bahwa setelah menikah, dia tetap harus mengatur begitu banyak hal sendiri.

Namun, Alisha tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang harus disesali. Sejak awal, dia terbiasa berusaha menyelesaikan masalah tanpa terlalu banyak meminta bantuan orang lain.

Sesampainya di rumah sakit, dia langsung menuju kamar rawat ibunya.

Ratih sedang duduk bersandar di tempat tidur ketika Alisha masuk.

"Alisha?"

Alisha tersenyum.

"Iya, Bu. Aku datang."

"Kamu tidak sedang bekerja?"

"Sudah selesai. Jadi, aku mampir sebentar."

Alisha meletakkan tasnya di kursi, lalu mendekati ibunya.

"Bagaimana keadaan Ibu hari ini?"

"Lebih baik. Tadi perawat juga bilang kondisiku cukup stabil."

Alisha menghela napas lega.

"Syukurlah."

Dia duduk di samping tempat tidur dan membantu merapikan selimut ibunya.

Ratih memperhatikan putrinya beberapa saat.

"Kamu kelihatan lelah."

Alisha tersenyum kecil.

"Hari ini memang cukup sibuk, Bu. Banyak pesanan di toko."

"Kalau lelah, istirahatlah. Kamu tidak harus selalu datang setiap hari."

"Tidak apa-apa. Aku ingin melihat keadaan Ibu sendiri."

Ratih menggenggam tangan putrinya.

"Ibu senang kamu datang. Tapi jangan sampai kamu mengabaikan kesehatanmu sendiri."

Alisha mengangguk.

"Iya, Bu."

Mereka berbicara cukup lama tentang keadaan Ratih, makanan yang disukainya, dan rencana pemeriksaan berikutnya.

Alisha berusaha membuat ibunya tertawa dengan menceritakan kejadian lucu di toko. Untuk beberapa saat, Ratih tampak lebih santai.

Sebelum Alisha pulang, Ratih kembali menanyakan kehidupan barunya.

"Bagaimana dengan Adrian? Apakah kalian sudah mulai terbiasa tinggal bersama?"

Alisha merapikan tasnya sebelum menjawab.

"Masih belajar, Bu. Dia sibuk bekerja, sedangkan aku juga bekerja. Jadi, kami belum banyak menghabiskan waktu bersama."

Ratih mengangguk pelan.

"Jangan terburu-buru menilai hubungan kalian. Kalian baru memulai kehidupan bersama."

"Iya."

"Tapi ingat, Alisha. Kamu juga berhak didengarkan. Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, bicarakan baik-baik."

Alisha tersenyum.

"Aku mengerti, Bu."

Setelah berpamitan, Alisha meninggalkan kamar rawat dengan perasaan sedikit lebih ringan.

Melihat keadaan ibunya yang semakin stabil selalu memberinya semangat.

Setidaknya, ada satu hal yang perlahan membaik dalam hidupnya.

---

Ketika Alisha tiba di rumah, suasana ruang tengah cukup tenang.

Dia menyerahkan tasnya kepada dirinya sendiri untuk dibawa ke kamar, lalu menyapa pekerja rumah yang sedang merapikan meja.

"Selamat malam, Bu."

"Selamat malam, Bu Alisha. Tuan Adrian sudah pulang."

Alisha mengangguk.

"Baik. Terima kasih."

Dia tidak langsung menuju kamar. Setelah meletakkan tas, dia berjalan ke ruang makan karena belum sempat makan malam.

Namun, sebelum mencapai pintu, dia melihat Adrian keluar dari ruang kerjanya.

Laki-laki itu membawa sebuah gelas kosong dan tampak hendak menuju dapur.

"Adrian," panggil Alisha.

Adrian berhenti.

"Ada apa?"

"Aku baru pulang dari rumah sakit. Ibu baik-baik saja."

Adrian mengangguk.

"Bagus."

Alisha menunggu sejenak, tetapi Adrian tidak bertanya lebih jauh.

Dia tidak tersinggung. Dia hanya belum tahu apakah Adrian ingin mendengar cerita tambahan atau tidak.

Akhirnya, Alisha memutuskan untuk menjelaskan seperlunya.

"Kata perawat, kondisinya cukup stabil. Pemeriksaan berikutnya juga sudah dijadwalkan."

"Baik. Kalau ada perubahan yang penting, beri tahu saya."

"Iya."

Percakapan itu hampir berakhir ketika Adrian teringat sesuatu.

"Alisha, hari Minggu nanti kita harus datang ke rumah orang tua saya."

Alisha sedikit terkejut.

"Ke rumah Tante Ratna dan Om Hendrik?"

Adrian mengangguk.

"Ada makan malam keluarga. Pukul tujuh."

Alisha mulai memikirkan jadwal kerjanya.

"Baik. Aku akan memastikan pekerjaanku selesai sebelum berangkat."

"Kalau jadwalmu berubah, beri tahu saya."

"Iya."

Adrian mengangguk sekali lagi.

"Saya kembali bekerja."

Alisha memandangnya berjalan menuju ruang kerja.

"Adrian."

Laki-laki itu berhenti untuk kedua kalinya.

"Ya?"

"Terima kasih sudah memberi tahu lebih awal."

Adrian menatapnya sebentar, seolah tidak memahami mengapa hal sederhana itu perlu disyukuri.

"Itu memang perlu kamu ketahui."

Setelah mengatakan itu, dia kembali melangkah.

Alisha berdiri beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

Jawaban Adrian memang terdengar datar, tetapi setidaknya dia tidak perlu mengetahui rencana keluarga itu secara mendadak.

Dia kemudian menuju ruang makan untuk menikmati makan malam.

---

Malam semakin larut ketika Alisha selesai membereskan barang-barangnya.

Dia duduk di tepi tempat tidur, memeriksa jadwal kerja untuk beberapa hari berikutnya. Hari Minggu masih beberapa hari lagi, tetapi dia ingin memastikan tidak ada pesanan besar yang membuatnya kesulitan meninggalkan toko tepat waktu.

Setelah selesai, dia meletakkan ponsel di meja.

Pikirannya kembali pada percakapan singkat dengan Adrian.

Laki-laki itu memang tidak banyak bicara. Dia juga tidak menunjukkan perhatian dengan cara yang sering diceritakan orang-orang dalam kisah pernikahan.

Namun, Adrian menyampaikan informasi yang perlu diketahui Alisha dan tidak melarangnya bekerja atau mengunjungi ibunya.

Mungkin memang seperti itulah cara Adrian menjalani kehidupan.

Alisha tidak ingin mengharapkan sesuatu yang belum pernah dijanjikan kepadanya.

Untuk sekarang, dia akan menjalani rutinitasnya dan membiarkan waktu menunjukkan bagaimana kehidupan mereka akan berkembang.

Di kamar lain, Adrian baru saja menyelesaikan pekerjaan terakhirnya.

Dia menutup laptop, mematikan lampu ruang kerja, lalu berjalan menuju kamar pribadinya.

Sebelum masuk, dia melihat jam dinding dan mengingat bahwa akhir pekan akan segera tiba.

Ada beberapa hal yang perlu diselesaikan di kantor sebelum hari Minggu.

Dia akan mengatur semuanya agar makan malam keluarga tidak terganggu oleh urusan pekerjaan.

Setelah itu, Adrian masuk ke kamarnya sendiri.

Pintu tertutup.

Rumah kembali tenang.

Malam itu, tidak ada percakapan panjang di antara mereka. Tidak ada pula perubahan besar dalam hubungan yang masih canggung tersebut.

Namun, tanpa mereka sadari, beberapa kebiasaan baru mulai terbentuk.

Alisha mulai memberi tahu ketika pulang terlambat.

Adrian mulai menyampaikan agenda keluarga yang melibatkan mereka berdua.

Mereka masih hidup dalam dunia masing-masing, tetapi perlahan belajar bahwa tinggal bersama berarti harus memberi ruang bagi keberadaan orang lain.

Dan hari Minggu nanti, Alisha akan kembali bertemu keluarga Mahendra sebagai istri Adrian.

Pertemuan itu mungkin hanya makan malam biasa bagi Adrian.

Namun, bagi Alisha, itu akan menjadi kesempatan lain untuk memahami kehidupan yang kini menjadi bagian darinya.

1
katya
Good luck with your novel, it's quite an interesting novel.👍
cintra
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
katya
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!