Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Sakit
DUARRR!
Gemuruh petir terakhir mengiringi langkah gontai Valeska saat berhasil menyeret tubuhnya masuk ke dalam kontrakan. Tanpa sempat mengganti baju sekolahnya yang basah kuyup, Valeska langsung ambruk terlentang di atas kasur kapuk tipisnya. Pandangannya berputar hebat, nafasnya memburu, dan rasa dingin yang amat sangat menusuk sampai ke tulang-tulangnya.
Malam itu, tubuh Valeska akhirnya benar-benar menyerah.
Suhu tubuhnya melonjak tinggi membakar kulitnya. Rasa lelah, lapar, luka fisik, dan keputusasaan mental yang menumpuk berhari-hari akhirnya meledak, menumbangkan cewek yang selama ini berusaha sok kuat itu. Valeska terkulai lemas tak berdaya, terperangkap dalam demam tinggi yang membuatnya tak bisa memindahkan satu jari pun.
Keesokan paginya, matahari sudah meninggi, namun kontrakan cat hijau pudar itu masih sepi tanpa tanda-tanda kehidupan. Tidak ada suara langkah kaki Valeska yang bersiap pergi sekolah.
Nek Izah yang merasa curiga menghampiri pintu kontrakan dengan membawa baskom berisi air hangat dan sepinggan bubur polos.
Tok, tok, tok.
"Nduk... Valeska?" panggil Nek Izah lembut dari luar. "Sudah siang kok belum berangkat sekolah, Nduk?"
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.
Rasa cemas membuat Nek Izah mendorong pintu kayu yang ternyata tidak terkunci rapat. Begitu pintu terbuka, Nek Izah membelalakkan matanya kaget melihat Valeska meringkuk di atas kasur dengan bibir pucat membiru, napasnya tersengal-sengal, dan tubuhnya berguncang hebat karena menggigil.
"Astagfirullahaladzim! Nduk Valeska!" pekik Nek Izah panik, buru-buru menaruh baskom dan mangkuk di meja lalu menghampiri Valeska.
Nek Izah menempelkan telapak tangannya di dahi Valeska. "Panas banget gusti... Kamu demam tinggi ini, Nduk!"
Nek Izah dengan sigap meras kain kompresan dari dalam baskom, lalu menempelkannya perlahan di dahi Valeska yang membara. Merasakan sensasi dingin di dahinya, Valeska mulai memiringkan kepalanya, matanya terpejam rapat namun bibirnya bergerak-gerak mengigau parau.
"Pa... Papa..." igau Valeska dengan suara yang nyaris tak terdengar, air matanya menetes di sudut matanya yang tertutup. "Jangan dibawa, Pa... Valeska takut... Papa..."
"Iya Nduk, sabar ya... Nenek di sini," bisik Nek Izah mengusap kepala Valeska yang basah oleh keringat dingin.
"Ma... Mama..." Valeska mengigau lagi, dadanya naik turun dengan napas memburu. "Jemput Valeska, Ma... Valeska dingin... Valeska laparrr... Tangan Valeska sakit, Ma..."
Mendengar igauan pilu dari cewek belia yang biasa terlihat angkuh itu, air mata Nek Izah akhirnya menetes melintasi pipinya yang keriput. Hatinya teriris-iris melihat seorang anak tunggal dari keluarga terpandang kini terkulai sendirian di kontrakan sempit, merintih merindukan kasih sayang orang tuanya.
"Kasian banget kamu, Nduk..." bisik Nek Izah parau sambil menyapu air matanya. "Masih kecil sudah harus menanggung beban seberat ini sendirian..."
Nek Izah mengambil mangkuk berisi bubur polos hangat. Dengan penuh kesabaran dan kelembutan seorang ibu, Nek Izah menopang pelan bahu Valeska agar sedikit bersandar.
"Nduk... bangun sebentar ya? Minta tolong buka mulutmu sedikit," bujuk Nek Izah pelan. "Makan bubur dulu sedikit biar ada tenaganya, biar bisa minum obat."
Valeska perlahan membuka matanya yang sayu dan merah berat. Pandangannya kabur menatap sosok Nek Izah di depannya.
"N-nek..." cicit Valeska parau, tenggorokannya serasa kering dan perih seperti terbakar. "Valeska... Valeska enggak bisa sekolah... Valeska enggak bisa kerja hari ini..."
"Sudah, ndak usah mikir sekolah sama kerjaan dulu!" potong Nek Izah lembut namun tegas, menyodorkan sendok berisi bubur hangat ke bibir Valeska. "Yang penting kamu sembuh dulu. Ayo, makan sedikit ya, Nduk? Biar ada isinya perutmu."
Valeska menerima suapan bubur itu dengan sangat pelan. Rasa hangat bubur polos yang merayap di tenggorokannya membuat matanya kembali berkaca-kaca.
"Maaf ya, Nek..." bisik Valeska bergetar, menatap Nek Izah penuh rasa bersalah. "Valeska... Valeska selalu ngerepotin Nenek..."
"Ndak ada yang direpotkan, Nduk. Kamu itu sudah Nenek anggap kayak cucu sendiri," sahut Nek Izah tersenyum tulus sambil mengusap bekas air mata di pipi Valeska. "Sekarang kamu makan, habis ini minum obat, terus istirahat. Ndak usah mikirin hal-hal yang berat lagi, ya?"
Nek Izah menyelimuti tubuh Valeska dengan kain sarung tebal yang bersih. Setelah memberikan obat penurun panas sisa simpanannya, nenek tua itu duduk menunggui Valeska di samping kasur sampai napas cewek itu perlahan mulai teratur dan kembali tertidur pulas.
***
Pukul empat sore di kafe Kopi Senja, suasana dapur basah di area belakang terasa aneh. Tumpukan piring dan gelas kotor di bak cuci mulai menggunung, meluber hingga ke pinggir meja stainless steel. Tidak ada suara gemericik air kran atau denting piring yang digosok seperti biasanya.
Mas Bayu keluar dari ruangannya sambil membawa catatan shift, dahinya berkerut melihat area dapur yang sepi.
"Lho? Valeska mana?" tanya Mas Bayu bingung pada staf yang melintas. "Ini udah lewat jam empat sore, kok anak itu belum kelihatan? Tumpukan piring udah numpuk gitu."
Elang, yang baru saja selesai meracik pesanan di bar depan dan hendak mengambil kain lap bersih ke dapur, menghentikan langkahnya. Matanya melirik ke arah bak cuci piring yang kosong tanpa kehadiran sosok Valeska.
"Mungkin terlambat, Mas," celetuk Elang sambil menghela napas. "Tapi biasanya anak itu teliti banget, kalau telat pasti izin atau info dulu. Tumben banget."
Elang diam mematung di ambang pintu dapur, memegang kain lapnya erat-erat. Pikiran tentang kejadian kemarin sore—saat Valeska keluar menerobos hujan lebat dengan mata bengkak dan kaki yang berdarah—mendadak berputar kembali di kepalanya.
"Mulai besok... anggap aja kita enggak pernah saling kenal," gema suara parau Valeska di memori Elang. "Di sekolah, di kafe, di mana pun... kita asing."
Elang mengepalkan tangannya di balik celemek hitamnya. Ada perasaan mengganjal yang sangat tidak enak menjalar di dadanya, tapi ego dan batas yang diminta Valeska menahannya untuk tidak bertanya lebih jauh.
"Ya sudah," desah Mas Bayu pasrah. "Lang, tolong panggilin anak part-time lain atau siapa yang bisa bantu cuci piring sebentar ya? Kalau Valeska besok masih kagak ada kabar juga, terpaksa harus saya cari gantinya."
Mendengar kata itu, dada Elang mendadak berdenyut tegang.
"Mas," panggil Elang tiba-tiba, suaranya yang datar membuat Mas Bayu menoleh.
"Kenapa, Lang?"
Elang membasahi bibirnya yang kering, menatap piring-piring kotor itu sejenak sebelum akhirnya bersuara. "Biar gue aja yang bereskan tumpukan piring itu malam ini. Nanti habis shift bar gue selesai."
Mas Bayu menaikkan sebelah alisnya, kaget. "Kamu serius, Lang? Kamu kan capek di depan, masa mau cuci piring juga?"
"Kagak apa-apa. Biar kafenya kagak terbengkalai," balas Elang pendek.
"Oke deh kalau kamu mau," jawab Mas Bayu lega. "Tapi tolong cari tahu ya, barangkali kamu tahu rumahnya atau bisa kontak dia. Sayang banget kalau anak itu sampai berhenti, kinerjanya padahal bagus."
Elang hanya mengangguk tipis tanpa membalas ucapan Mas Bayu. Dia berbalik menuju area bar depan, mencoba fokus pada tugasnya.