NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENEMBUS LEVEL PEMBENTUKAN OTOT

Sisa-sisa badai es di luar Pos 4 perlahan mereda bersamaan dengan menyingsingnya fajar di ufuk utara. Sinar matahari pucat menerobos celah-celah pilar batu yang runtuh, menimpa tumpukan bangkai monster tipe es yang kini telah membeku kaku di atas tanah.

Di dalam ruangan pos yang mulai kembali hangat, Lin Yuan duduk bersila di atas lantai batu. Kedua tangannya beristirahat tenang di atas lutut. Di sekujur tubuh bagian atasnya yang bertelanjang dada, pendaran aura perak dari *qi* Kera Putih mendesis halus, mencairkan kristal-kristal es yang menempel pada kulitnya.

"Darah monster-monster es itu... energinya terlalu padat," Gumam Lin Yuan seraya mengerutkan keningnya, menahan gejolak panas di dalam dadanya.

Di dalam tubuhnya, lautan jiwa bergejolak hebat. Jumlah *Qi Darah* masif yang diserap Lin Yuan selama pertempuran melintasi badai salju—terutama dari Beruang Zirah Es dan puluhan Serigala Duri Es—kini bertumpuk padat di sepanjang garis meridiannya. Energi vital murni itu tidak lagi sekadar mengalir, melainkan bergolak membara, mencari celah untuk menerobos ke dalam jaringan otot dan serat dagingnya.

Ah Xiu berdiri beberapa jangkah di samping Lin Yuan, memegang sehelai kain bersih yang dibasahi air hangat dari perapian. Gadis pemanah itu menatap Lin Yuan dengan raut wajah cemas. Ia bisa melihat bagaimana otot-otot di dada dan bahu Lin Yuan bergetar halus, seolah-olah ada lahar cair yang sedang merambat di bawah permukaan kulitnya.

"Suhu tubuhnya makin panas," Bisik Ah Xiu seraya menoleh ke arah Lu Chen dan Shi Tou yang bersiap di dekat celah pos.

Lu Chen yang bersandar pada tiang kayu memicingkan matanya tajam. "Itu bukan demam atau reaksi racun. Tubuhnya sedang memproses energi dari pertempuran tadi. Aliran *qi* di dalam fisiknya sedang dipaksa melompati batas kultivasi."

Shi Tou memegang tombaknya rapat-rapat di dekat celah dinding yang runtuh, matanya menyapu sekeliling medan es yang mulai sepi. "Aku akan menjaga celah di luar. Jangan sampai ada monster lain atau patroli benteng yang mengganggu Kapten sekarang."

Ah Xiu melangkah mendekat, melutut pelan di samping Lin Yuan. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyapukan kain hangat ke pelipis dan leher Lin Yuan, mengusap bulir-bulir keringat yang mendesis menguap seketika begitu menyentuh kulit pemuda itu.

"Lin Yuan," Bisik Ah Xiu dengan suara jernih dan hangat. "Tahan napasmu. Atur ritme energimu, jangan biarkan meledak keluar."

Lin Yuan mendengar suara lembut Ah Xiu di tengah pusaran rasa sakit yang membakar internal tubuhnya. Sentuhan kain basah di lehernya memberikan sedikit sensasi dingin yang membantu kesadarannya tetap jernih dan tidak jatuh pingsan.

"Terima kasih, Ah Xiu..." Ucap Lin Yuan seraya mengatupkan rahangnya rapat-rapat, menahan gejolak energi yang makin liar.

Lin Yuan memusatkan seluruh fokusnya turun ke dalam lautan jiwa.

Di sana, Roh Kera Putih raksasa berdiri tegak di tengah pusaran air perak yang jernih. Mata emasnya berkilat terang benderang, memancarkan raungan purba yang tak bersuara, mengarahkan seluruh tumpukan *Qi Darah* untuk menyiram jaringan otot di sekujur tubuh Lin Yuan.

KRAK! KRAK!

Suara letupan halus terdengar bersahutan dari dalam jaringan otot Lin Yuan. Rasa sakitnya begitu hebat—seperti ribuan jarum tempa panas yang menusuk dan merobek serat-serat dagingnya secara bersamaan, lalu menyambungkannya kembali dengan kerapatan yang jauh lebih tebal, rapat, dan keras.

Proses transmutasi fisik tingkat tinggi: *Level Pembentukan Otot*.

Di dunia kultivasi biasa, seorang prajurit butuh waktu bertahun-tahun latihan berat, meminum puluhan obat penguat tulang yang mahal, dan bermeditasi di gua spiritual untuk mencapai tahap ini. Namun bagi Lin Yuan, tempahan pertumpahan darah brutal yang dipadu dengan penyerapan *Qi Darah* murni dari Kera Putih membuat proses transmutasi ini terjadi dalam satu lompatan yang sangat ekstrem.

WUSHHH!

Pendaran aura perak yang semula tipis melingkupi kulit Lin Yuan mendadak meledak keluar! Gelombang udara panas membumbung tinggi, mencairkan sisa-sisa es di dinding batu Pos 4 dalam radius lima jangkah seketika.

Otot-otot di sekujur tubuh Lin Yuan mengembang padat. Serat dagingnya yang sebelumnya pernah terluka akibat cambukan klan dan cakar monster kini bertransmutasi menjadi sangat kokoh, menyerupai jalinan serat baja fleksibel. Kulitnya memancarkan kilau perak tipis yang halus, membiarkan garis-garis pembuluh darahnya mengalirkan energi dengan kelajuan dua kali lipat lebih cepat.

"Dia menembusnya..." Gumam Lu Chen seraya menahan napas, matanya membelalak tak percaya menyaksikan pendaran energi di tubuh Lin Yuan. "Kultivasi fisiknya melompati batas Pembentukan Otot hanya dalam satu malam!"

Lin Yuan perlahan membuka matanya.

Pupil hitamnya berkilat dengan cahaya emas murni yang berputar selama tiga detik sebelum kembali tenang. Ia menghembuskan napas tebal berupa uap panas yang membakar udara dingin di depannya. Rasa sakit yang membakar tadi telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh sensasi kekuatan murni yang tak terbatas bergetar di setiap jengkal otot lengannya.

Lin Yuan berdiri perlahan. Setiap gerakan kecil dari panggul dan bahunya memancarkan suara gemeletuk halus dari persendian yang makin rapat dan kokoh. Ia mengepalkan tangan kanannya—hanya dengan mengepal tanpa aliran *qi*, udara di sekitar telapak tangannya berdesir tajam akibat kerapatan tenaga fisik barunya.

Ah Xiu mendongak menatap Lin Yuan yang kini berdiri tegak di hadapannya. Gadis itu bisa merasakan aura kepemimpinan dan dominasi fisik dari Lin Yuan yang kini terasa jauh lebih pekat, hangat, dan membumi.

"Bagaimana rasanya?" Tanya Ah Xiu seraya berdiri di sampingnya, senyum tipis terukir di bibirnya yang tak terluka.

"Tubuhku..." Ucap Lin Yuan pelan seraya menatap telapak tangannya sendiri. "Serat ototku terasa jauh lebih ringan, tetapi sepuluh kali lebih padat dari sebelumnya. Seolah-olah luka-luka lama di tubuhku telah digantikan oleh tulang dan daging yang baru."

Lu Chen melangkah mendekat, menepuk bahu Lin Yuan dengan raut wajah bangga. "Selamat, Kapten. Di tingkat Pembentukan Otot ini, zirah besi biasa bahkan tidak akan sanggup menahan tebasan atau pukulan murnimu lagi."

Shi Tou berlari masuk dari luar celah dengan wajah berseri-seri. "Luar biasa! Kapten makin sakti! Sekarang kita tidak perlu takut lagi pada unit elit mana pun di benteng ini!"

Lin Yuan menyunggingkan senyum hangat, menepuk bahu Shi Tou dan Lu Chen, lalu menatap Ah Xiu yang masih memegang kain basah di tangannya.

"Ini bukan cuma pencapaianku," Kata Lin Yuan dengan suara membumi dan tulus. "Kalian yang menjaga punggungku saat kesadaranku terancam runtuh tadi. Tanpa kalian bertiga di sisiku, aku tidak akan pernah sanggup menembus batas ini."

Ah Xiu menundukkan kepalanya pelan, matanya memancarkan rasa hangat yang mendalam. "Kami adalah Unit Sembilan, Lin Yuan. Menjaga punggungmu adalah janji kami."

Dari kejauhan di balik celah bukit es, suara terompet tanduk tembaga menggema panjang tiga kali, menandakan pergantian shift penjagaan gerbang utama dan kedatangan konvoi baru dari arah selatan.

Lu Chen memicingkan matanya menatap ke arah benteng utama. "Terompet penyambutan... Utusan Kekaisaran dari Ibukota Emas sepertinya sudah tiba di benteng."

Lin Yuan menarik jubah kusamnya, menyarungkan pedang pendeknya di pinggang, lalu menatap lurus ke arah Tembok Besi dengan pandangan mata sekelam malam yang tak tertembus.

"Ayo kembali," Perintah Lin Yuan dengan ketenangan absolut. "Mari kita lihat perintah baru apa yang dibawa oleh para bangsawan ibukota itu untuk kita."

1
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!