NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20

****

Aroma antiseptik yang khas masih membekas lembut di jas klinis Aini saat ia melangkah menyusuri lorong utama lantai empat. Keberhasilan operasi kraniotomi cito tadi pagi menyisakan rasa lega yang mendalam, meski tubuhnya terasa lelah usai mendampingi prosedur medis yang begitu menegang.

Namun, ketenangan di koridor tersebut tak bertahan lama.

Dari arah pintu lift khusus VIP, seorang wanita melangkah anggun dengan sepatu stiletto bermerek yang mengetuk lantai granit berirama nyaring. Ia mengenakan gaun terusan merah marun yang pas di badan, membawa tas desainer bernilai puluhan juta rupiah, dan memancarkan aura keangkuhan yang kental.

Clarissa. Wanita yang beberapa bulan lalu sempat dijodohkan oleh keluarga Wigunadi untuk Ivandra sebelum akhirnya kandas akibat penolakan tegas dari pria itu.

Saat mata tajam Clarissa menangkap sosok Ivandra yang baru keluar dari ruang diskusi dokter, wajah cantiknya seketika berbinar manja. Ia mempercepat langkahnya, mengabaikan fakta bahwa mereka berada di area rumah sakit.

"Ivan!" panggil Clarissa bergelayut manis, langsung mengapit lengan kiri Ivandra tanpa rasa ragu. "Astaga, susah banget ya nemuin kamu sekarang. Aku kan lagi jenguk Tante Siska di sini sekalian mau ajak kamu makan siang."

Ivandra menghentikan langkahnya mendadak. Alis tebalnya bertaut tajam, dan rahang tegasnya mengeras rapat. Pria itu menyentak lengannya secara halus namun sangat tegas, melepaskan cengkeraman Clarissa tanpa tedeng aling-aling.

"Clarissa," tegur Ivandra dengan suara berbariton rendah yang dingin dan berjarak. "Ini rumah sakit, bukan tempat untuk bersantai atau membuat kegaduhan pribadi. Saya sedang dalam jam dinas."

"Duh, Ivan... kaku banget sih dari dulu!" racau Clarissa mengerucutkan bibirnya.

Tepat saat itu, pandangan Clarissa bergulir ke arah Aini yang melintas pelan sembari membawa papan jalan medis di tangannya. Clarissa menyipitkan matanya, menilai Aini dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan yang amat transparan.

"Aduh, kamu tuh dokter spesialis jenius penerus Wigunadi, Ivan. Tapi kenapa disekeliling kamu selalu aja ada koas-koas kecil yang berpenampilan polos kayak begini?" cibir Clarissa tanpa rasa bersalah, melirik jas putih Aini dengan kekehan sinis. "Panjat sosial banget ya anak-anak zaman sekarang."

Ivandra hendak membanting perkataan tajam untuk membungkam Clarissa, namun Aini bergerak lebih cepat.

Aini tidak sudi terlibat dalam drama kekanak-kanakan Clarissa, apalagi menanggapi hinaan dangkal yang bisa membahayakan kerahasiaan statusnya. Wajah ayunya tetap tenang tanpa riak emosi. Dengan keanggunan dan harga diri yang sangat tinggi, Aini membungkukkan kepalanya sedikit ke arah Ivandra secara formal.

"Permisi, Dokter Ivandra. Saya harus menyerahkan lembar rekapitulasi anestesi ke ruang administrasi," tutur Aini halus, jernih, dan sangat profesional.

Tanpa menunggu balasan dan tanpa membuang pandangan sekilas pun pada Clarissa, Aini memutar tubuhnya dan melangkah tegar menyusuri koridor, meninggalkan Clarissa yang melotot sebal dan Ivandra yang mendadak muak luar biasa pada kehadiran wanita asing di sebelahnya.

"Ivan, kamu lihat kan betapa sopan—"

"Tolong tinggalkan area ini sekarang, Clarissa. Sebelum saya menyuruh security mengawalmu keluar," potong Ivandra tajam membunuh, lalu berbalik pergi meninggalkan Clarissa yang menghentakkan kakinya kesal di tengah lorong.

**

Satu jam kemudian, giliran sif kerja Aini resmi berakhir. Aini melangkah menuju stasiun perawat lantai tiga untuk melepaskan jas klinisnya.

"Aini!"

dr. Farhan berjalan mendekat dengan senyum hangat khasnya, membawa dua kaleng Kopi dingin dari mesin pembuat minuman. Dokter spesialis anestesi muda itu tampak sangat impresif dan kagum.

"Hebat banget kamu tadi pas di Ruang Operasi Lima," puji Farhan tulus, menyodorkan satu kaleng Kopi ke arah Aini. "Refleks kamu pas nyiapin vasopresor dan irigasi hangat itu presisi banget. Cepat, tenang, dan tanpa cela. Saya beneran terpukau."

Aini menyunggingkan senyum tulusnya, menerima Kopi itu dengan santun. "Terima kasih banyak, Dokter Farhan. Tapi itu semua berkat arahan Dokter Farhan dan Dokter Ivandra juga yang sangat sigap."

"Sama-sama, Aini," sahut Farhan lembut, menatap wajah ayu Aini yang sedikit lelah namun tetap memesona. "Karena sif kita sudah kelar dan operasi tadi sukses besar, gimana kalau kita minum Kopi sebentar di kafe seberang? Hitung-hitung perayaan kecil atas kerja sama tim yang solid."

Belum sempat Aini memberikan jawaban, sebuah langkah kaki yang panjang dan berat terdengar mendadak mendekat dari balik pilar koridor.

Ivandra berdiri menjulang di sana. Mantel dokter putihnya telah dilepas, berganti dengan kemeja hitam yang tergulung kaku di lengan. Manik mata elangnya menancap lurus dan dingin pada kaleng Kopi di tangan Aini, lalu beralih ke wajah Farhan.

"Dokter Muda Aini," potong Ivandra tanpa permisi, suaranya mengalun berbariton rendah dan sarat akan intonasi menekan. "Ada beberapa lembar lampiran status klinis pasien kraniotomi tadi yang belum kamu tandatangani di lantai empat. Ikut saya sekarang."

Farhan mengerutkan keningnya heran. "Van, bukannya rekapitulasi operasi tadi sudah ditandatangani konsultan? Lagipula ini kan sudah jam pulang buat adik-adik koas?"

Ivandra melirik Farhan dengan tatapan membunuh yang amat pekat. "Ini urusan kelengkapan berkas Bedah Saraf, Dokter Farhan. Sangat mendesak."

Tanpa memberikan ruang diskusi lagi, Ivandra menatap Aini tajam. "Sekarang, Dokter Aini."

Aini menghela napas halus yang tertekan. Demi menghindari keributan di depan Farhan, Aini menatap Farhan dengan raut bersalah. "Maaf ya, Dokter Farhan... sepertinya saya harus selesaikan berkas dulu. Kopi nya saya terima, terima kasih banyak."

Farhan tersenyum menguatkan walau matanya menatap penuh tanda tanya pada tingkah protektif Ivandra yang terlampau aneh. "Iya, tak apa, Aini. Lain kali saja ya."

Aini berjalan di belakang Ivandra menyusuri lorong menuju lantai empat. Namun, bukannya mengarahkan ke ruang kerja atau sekretariat, Ivandra justru berbelok tajam ke arah lorong tangga darurat yang sepi dan terisolasi dari lalu lalang staf medis.

Klek.

Pintu besi tebal tangga darurat tertutup rapat, membendung bisingnya suara rumah sakit di luar.

Ivandra memutar tubuhnya mendadak, mengikis jarak di antara mereka hingga mengurung figur mungil Aini di antara tubuh jangkungnya dan dinding tangga yang dingin. Aroma kayu cendana yang bercampur dengan hawa kemarahan terselubung seketika menyeruak pekat.

"Maksud Mas Ivan apa menarik saya ke sini?" tanya Aini langsung pada intinya, menatap lurus mata hitam suaminya. Suaranya tidak lagi gemetar, melainkan terdengar begitu dingin dan lelah.

Ivandra menundukkan kepalanya, menyilangkan kedua tangannya di dinding samping kepala Aini, mengunci tatapan mereka dalam jarak yang teramat dekat. Binar cemburu dan kekesalan tak rasional yang membakar dadanya selama berjam-jam akhirnya pecah begitu saja.

"Apa yang kamu lakukan dengan Dokter Farhan di stasiun perawat?" cecar Ivandra dengan suara rendah yang menusuk. "Tersenyum manis, menerima minuman, dan bersiap pergi minum Kopi bersama?"

"Dokter Farhan hanya memberikan apresiasi atas operasi tadi—"

"Apresiasi tidak perlu sampai mengajak kencan di luar jam kerja, Aini!" potong Ivandra cepat, alis tebalnya bertaut kaku, rahangnya mengetat hebat. "Saya tidak suka melihat kamu terlalu dekat dengan pria itu. Apakah kamu lupa bahwa kamu adalah seorang wanita yang sudah berstatus punya suami?!"

Pernyataan tajam dan posesif yang tak beralasan itu menjadi tetes terakhir yang merobohkan benteng kesabaran Aini.

Rasa lelah fisik akibat operasi, rasa pening akibat tuduhan berulang, serta kejenuhan atas sikap sewenang-wenang Ivandra mendadak berubah menjadi percikan pemberontakan yang membara. Untuk pertama kalinya sejak mereka terikat pernikahan rahasia ini, Aini mengangkat dadanya tegar, mendorong dada bidang Ivandra dengan kedua tangannya hingga pria jangkung itu terdorong satu langkah mundur.

"Cukup, Dokter Ivandra!" pekik Aini dengan suara yang bergetar namun amat tegas dan lantang, memutus dominasi pria itu di dalam ruang tangga darurat.

Ivandra tertegun di tempatnya, matanya membelalak tipis tak percaya melihat perlawanan fisik dan nada suara Aini yang meninggi.

"Jangan pernah menghakimi atau mengatur kehidupan pribadi saya dengan menggunakan alasan status pernikahan!" tutur Aini dengan mata jernih yang mulai berkaca-kaca oleh emosi yang membuncah. "Dengarkan saya baik-baik, Mas Ivan. Sekarang jam sif kerja saya sudah selesai! Kita berada di luar kewajiban profesional rumah sakit!"

Aini mengambil satu langkah maju, menunjuk tepat ke dada Ivandra dengan jemarinya yang gemetaran.

"Anda sendiri yang menyusun kontrak perjanjian itu! Anda yang menetapkan bahwa kita punya privasi masing-masing dan tidak boleh saling mencampuri urusan pribadi!" cecar Aini dengan kalimat yang menohok tajam. "Saya selalu memegang teguh batas profesionalitas saya di rumah sakit. Saya tidak pernah menggoda siapa pun, dan saya berhak berinteraksi dengan rekan kerja saya tanpa harus terus-menerus Anda introgasi seperti seorang pesakitan!"

Aini menarik napasnya yang memburu, mengusap sudut matanya yang basah dengan ujung lengan gaunnya. Wajah cantiknya memancarkan harga diri dan keberanian luar biasa yang belum pernah Ivandra saksikan sebelumnya.

"Saya muak dengan sikap ganda Anda, Mas," bisik Aini pelan namun sangat menusuk. "Di satu sisi Anda bersikap dingin dan membuang saya dua blok dari rumah sakit seolah saya ini beban yang memalukan. Tapi di sisi lain, Anda terus mengontrol hidup saya seolah Anda pemilik tubuh dan pikiran saya. Tolong hormati ruang pribadi yang Anda ciptakan sendiri dalam kontrak itu!"

Keheningan yang amat pekat dan mencekam jatuh merayapi tangga darurat tersebut.

Ivandra berdiri membeku bagai patung batu. Kata-kata tegas, jujur, dan emosional dari bibir Aini menghantam kesadarannya dengan kekuatan yang amat menghancurkan. Bibirnya yang biasa pandai memberikan perintah medis mendadak terkunci rapat. Rasa cemburu butanya seketika menguap, berganti dengan kepanikan asing dan penyesalan mendalam yang membakar tenggorokannya.

Bersambung....

1
zamiyatin nafifah
looo kak kok uda tamat aja pdhaal suka dengan crtnya
imel
apa sih jangan touch.. memang artinya sentuh tapi kurang enak bacanya. maaf
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!