Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Batas Realita dan Janji yang Meragu
Siang ini, Arkan dan Aira akhirnya menghabiskan waktu bersama buah dari aksi kejar-mengejar tanpa lelah yang dilancarkan gadis itu. Bagaimanapun Arkan berusaha menghindar, sosok Aira selalu punya seribu cara untuk menemukannya. Puncaknya, mereka terdampar di area parkir sebuah mall besar setelah koin yang dilempar Aira sebagai penentu keputusan berpihak padanya.
Rencana awal Arkan sebenarnya sederhana ia hanya ingin langsung pulang ke rumah usai mengantarkan Aira. Namun begitu melangkah masuk ke dalam mobil, rencana itu buyar seketika. Gadis itu mendadak merengek seperti anak TK, memaksa Arkan menuruti keinginannya untuk jalan-jalan ke mall. Karena Arkan menolak mentah-mentah, Aira nekat mengajak menentukan pilihan lewat lemparan uang logam. Arkan menyanggupi, dan hasilnya takdir berpihak pada Aira. Arkan tak punya celah untuk menghindar lagi.
"Kamu serius ingin pergi ke mall dengan pakaian seperti ini? Kamu bahkan belum mandi dan belum ganti baju. Baju yang kamu pakai itu minim sekali," tegur Arkan, melirik pakaian atasan rajut hitam bermodel off-shoulder dipadu celana pendek hitam yang dikenakan Aira sejak acara di kafe semalam.
"Aira sudah mandi kok tadi pagi di rumah Kak Arkan! Cuma bajunya saja yang belum diganti," sahut Aira santai.
Arkan mengernyit heran. "Kamu mandi pakai handuk yang mana?"
"Tadi Aira pinjam handuk Kak Arkan yang digantung di belakang pintu. Terus pinjam sikat gigi Kak Arkan yang ada di kamar mandi. Sama minta pembersih muka punya Kak Arkan juga... Walaupun buat laki-laki, yang penting muka Aira bersih," jelas Aira tanpa beban.
Pernyataan polos itu sukses membuat Arkan menginjak rem mendadak hingga mobil terhenti di tepi jalan. Ia menoleh kaget.
"Kamu memakai handuk dan sikat gigi saya?! Kenapa kamu tidak bilang dulu?" tanya Arkan dengan raut terkejut campur kesal yang tak tertutupi.
Aira menyengir canggung, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tadi Aira mau bilang, tapi Kak Arkan tidak tahu ada di mana. Karena takut keburu siang, ya sudah... Aira pakai saja yang ada. Eh, tahunya malah lupa bilang langsung."
Arkan menahan napas, berusaha menekan amarahnya yang mendidih melihat sikap santai Aira. Gadis ini baru saja menggunakan barang-barang yang sangat pribadi baginya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kak Arkan marah, ya? Maaf ya... Nanti biar Aira ganti sikat gigi, handuknya dan sabun pencuci muka. Kita beli di mall sekalian," bujuk Aira menyengir lebar, mencoba mencairkan suasana.
"Terserah," pangkas Arkan ketus, lalu kembali menginjak pedal gas.
Aira mengelus dadanya, sedikit terkejut mendapati sorot mata Arkan yang begitu tajam. Ia tahu pria di sampingnya ini sedang berada di puncak kekesalan.
"Kak Arkan seperti orang sedang haid, dari pagi marah-marah terus. Untung Aira sabar, baik hati, dan penyayang, jadi tidak ikutan marah," gumam Aira pelan.
Arkan tak memedulikan racauan itu. Ia memilih fokus menatap jalanan, berusaha meredakan emosinya sendiri. Bagaimanapun menyebalkannya Aira, ia enggan meluapkan amarah secara berlebihan pada seorang gadis remaja.
❀⊱┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄⊰❀
Tak butuh waktu lama, kendaraan Arkan memasuki area parkir mall. Begitu mesin mati, Arkan langsung melangkah keluar tanpa menunggu. Aira yang merasa tak enak hati melihat Arkan benar-benar gusar bergegas menyusul.
"Kamu mau keluar atau saya kuncikan di dalam?" ancam Arkan dingin dari luar.
Mendengar itu, Aira dengan cepat membuka pintu dan berlari kecil mengejar Arkan yang sudah melangkah jauh di depannya.
"Kak Arkan jangan cepat-cepat jalannya! Kaki Aira pendek!" keluhnya setengah terengah.
"Baguslah kalau kamu sadar diri," sahut Arkan ketus tanpa menoleh dan menyurutkan kecepatan langkahnya.
Langkah Aira terhenti. Bibirnya memanyun sebal melihat Arkan yang terus berjalan tanpa berniat memelankan tempo. Merasa diacuhkan, Aira memilih berbalik arah dan melangkah pergi dengan raut cemberut.
Sementara itu, Arkan terus berjalan. Sejujurnya, rasa kesalnya belum sepenuhnya padam. Barang-barang seperti sikat gigi dan handuk adalah ranah privasi yang amat sensitif baginya. Usai mengembuskan napas panjang dan merasa emosinya perlahan surut, Arkan berniat memutar badan untuk menghampiri gadis yang sejak tadi membuntutinya.
Namun begitu ia berbalik, sosok Aira telah lenyap.
Arkan mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong mall yang ramai. Nihil. Ia menduga langkahnya terlalu cepat hingga Aira tertinggal jauh. Setelah menyusuri beberapa sudut selama lima belas menit tanpa hasil, rasa cemas mulai merayapi benaknya. Meski yakin Aira tidak akan tersesat di tempat seperti ini, Arkan tetap merasa khawatir.
Ia merogoh ponselnya dan mencari nomor Aira. Dua kali panggilan terhubung, tetapi tak ada jawaban.
'Apakah dia pulang duluan karena marahan denganku?' batin Arkan kian panik.
"Dokter Arkan?" panggil sebuah suara wanita dari arah belakang.
Arkan membalikkan badan, lalu mengukir senyum tipis setelah mengenali sosok yang menyapa. "Dokter Inka?"
"Sedang belanja, Dokter?" tanya wanita berpenampilan anggun dengan kemeja putih dan celana jeans itu.
"Sedang mengantar seseorang," sahut Arkan singkat.
"Siapa? Pacarmu?" godanya pelan.
Arkan tak menjawab, hanya mengedarkan pandangan kembali ke sekeliling. "Dokter Inka tidak ada jadwal praktik hari ini?"
"Hari ini saya libur," jawab Dokter Inka ramah.
Tiba-tiba, suara langkah santai mendekat dari arah samping. "Kak Arkan, dari tadi Aira cari-cari, ternyata Kak Arkan ada di sini!"
Arkan menoleh dan seketika terpaku. Penampilan Aira telah berubah total. Gadis itu kini mengenakan kaos dalaman putih polos yang dilapisi kemeja denim oversize biru terang, dipadukan dengan celana pendek hitam yang sama dengan sebelumnya. Lengan kemejanya yang agak kebesaran justru membuat perawakannya tampak kian imut dan manis. Dua paper bag terayun santai di jemarinya.
"Adik kamu?" tanya Dokter Inka polos, menatap Aira bergantian dengan Arkan.
Aira yang baru menyadari keberadaan wanita di sebelah Arkan langsung menyapa hangat. "Halo, Dokter! Saya Aira." Gadis itu mengulurkan tangannya.
Dokter Inka membalas uluran tangan itu dengan senyuman manis. "Saya Inka."
Tatapannya beralih pada Arkan yang masih mematung menatap perubahan penampilan Aira. Wanita itu tersenyum penuh arti. "Wah! Pacar Dokter manis sekali. Ya sudah kalau begitu, saya pamit dulu ya. Selamat menikmati waktu kalian."
Aira membalas melambaikan tangan, sementara Arkan hanya mengangguk sopan hingga Dokter Inka berlalu di antara kerumunan.
Arkan langsung menatap Aira tajam. "Kamu dari mana saja?"
"Aira habis membeli baju ganti. Dan ini buat Kak Arkan." Aira menyodorkan salah satu paper bag di tangannya.
"Ini apa?" Arkan menerima dan melongok isinya.
"Itu handuk baru, sikat gigi elektrik dan pembersih muka buat menggantikan yang tadi pagi Aira pakai. Hehehe," aku Aira cengengesan.
Arkan menatap isi paper bag itu, lalu beralih menatap Aira bingung. "Kenapa kamu belikan saya ini? Saya kan tidak minta."
Aira merapikan kerah kemeja denim barunya. "Ya kan salah Aira sendiri, memakai barang orang tanpa izin apalagi barang pribadi. Karena Aira sudah tidak sopan, ya Aira ganti dengan yang baru dan lebih bagus. Maaf ya Kak, tadi lupa bilang."
Mendengar ketulusan dan kepolosan ucapan Aira, rasa kesal Arkan menguap sepenuhnya. Ia merenung sejenak, mendapati bahwa di balik sifat rewelnya, gadis ini tahu cara bertanggung jawab dan meminta maaf.
Tanpa bersuara, Arkan menarik pergelangan tangan kanan Aira, lalu membantu menggulung lengan kemeja denimnya yang terlalu panjang. Aira terdiam memperhatikan perlakuan lembut itu, sebelum akhirnya tersenyum lega karena tahu Arkan tak lagi marah padanya.
Namun, baru saja Aira hendak melangkah maju, Arkan mendadak menarik kerah belakang kemejanya.
"Kalau membeli baju baru, label merknya dicabut dulu supaya tidak dikira pamer," tegur Arkan tenang sembari melepas kertas merk yang masih menggantung di kemeja Aira.
Aira tertawa kecil. "Hehehe, Aira lupa! Habisnya tadi buru-buru cari Kak Arkan. Oh iya, Aira juga belikan ini buat Kak Arkan!" Ia merogoh paper bag miliknya dan mengeluarkan sepasang gelang simpel.
"Saya tidak biasa memakai accessories seperti ini," tolak Arkan pelan.
"Suka atau tidak suka, pemberian orang tidak boleh ditolak! Ini tidak mahal kok, tapi dijamin muat di pergelangan tangan Kak Arkan yang besar. Jangan lupa dipakai ya!" celetuk Aira memaksa.
Arkan memandangi sepasang gelang di tangannya. "Kenapa bentuknya sama persis?"
"Iya, kan couple! Sebagai pasangan, kita harus punya barang kembaran dong!" seru Aira bersemangat.
"Pasangan?" Arkan menaikkan sebelah alisnya.
"Iya! Kak Arkan lupa ya kalau semalam sudah bilang kita pacaran? Wah, akhirnya ajakan pacaran Aira dijawab juga!" kikik Aira kegirangan.
Arkan memasukkan gelang tersebut ke dalam paper bag, lalu menatap Aira dengan raut yang mendadak berubah amat serius.
"Aira, saya ingin bicara serius denganmu. Lebih baik kita ke mobil sekarang," pangkas Arkan dingin, lalu berbalik melangkah.
❀⊱┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄⊰❀
Atmosfer di dalam mobil Arkan terasa begitu sarat tekanan. Keduanya hening, namun dada Aira berdebar tak karuan. Ia tahu percakapan ini bukan percakapan biasa.
"Saya ingin meluruskan sesuatu," buka Arkan tenang, menatap Aira lekat. "Kemarin... saya bilang ke Adrian kalau kamu pacar saya hanya karena saya emosi, dan saya ingin dia menjauhimu demi keselamatanmu sendiri."
Aira menatap Arkan tanpa menyela. "Lalu?"
Arkan menarik napas dalam-dalam. Ada rasa enggan melukai hati gadis di hadapannya, mengingat keceriaan Aira yang polos. Namun, batas ini harus ditegaskan.
"Aira... kamu tidak benar-benar mengenal saya. Dan perbedaan usia kita terlalu jauh. Saya tidak bisa berpacaran denganmu."
Mendengar penolakan lugas itu, Aira hanya terdiam. Ia menatap Arkan dengan sorot mata yang tetap tenang, menanti kelanjutan ucapan sang dokter.
"Kak Arkan benar. Umur kita memang jauh, dan Aira belum mengenal Kak Arkan sepenuhnya. Lalu masalahnya di mana, Kak?" tanya Aira pelan.
Arkan mengalihkan pandangan sejenak, merasa terdesak oleh ketenangan Aira. "Saya melakukan semua ini hanya untuk menolongmu karena kamu adalah adik ipar Dinda, sahabat saya. Makanya saya berusaha menjagamu." tambah Arkan, berusaha menegaskan batas.
Senyum tipis perlahan terukir di bibir Aira. Ada denyut sesak yang menusuk dadanya saat kata adik ipar sahabat itu terucap, namun ia menahannya rapat-rapat.
"Kak Arkan... Aira paham," ucap Aira dengan suara lembut namun bergetar halus. "Aira tahu Kak Arkan bersikap seperti ini karena Aira adik ipar Kak Dinda. Dan Aira juga tahu... betapa beratnya trauma Kak Arkan setelah kehilangan orang yang Kak Arkan sayangi, ditambah hancurnya hubungan dengan mantan tunangan Kak Arkan dulu."
Arkan terpaku. Matanya membelalak tak percaya mendengar kalimat yang meluncur mulus dari bibir Aira.
"Makanya... selama ini Aira selalu ceria di depan Kak Arkan," lanjut Aira, menatap mata pria itu tulus. "Aira selalu mengganggu Kak Arkan, jahil, rewel... karena Aira tidak mau melihat Kak Arkan terus-terusan tenggelam dalam kesedihan. Aira ingin Kak Arkan senyum lagi, bangkit lagi. Hidup itu terus berjalan, Kak. Mau sampai kapan Kak Arkan mengurung diri seperti ini? Jangan sampai Kak Arkan bernasib sama seperti Aira yang dipenuhi trauma, ya?"
Arkan terpaku. Seluruh pertahanannya runtuh seketika. Pria itu tak menyangka bahwa di balik tingkah konyol dan kejailan Aira selama ini, ada ketulusan tanpa batas yang diniatkan hanya untuk menyembuhkan lukanya. Rasa bersalah dan haru membuncah di dada Arkan, hingga tanpa sadar ia menarik tubuh Aira ke dalam dekapannya.
Aira tertegun saat tangan kekar Arkan menyelimuti punggungnya. Bau maskulin yang menenangkan menguar dari kemeja pria itu.
"Kak Arkan harus tetap semangat, ya..." bisik Aira lembut di bahu Arkan. "Walaupun Aira bukan orang pertama yang bisa membuat Kak Arkan bangkit, Aira sudah sangat senang kalau bisa melihat Kak Arkan tersenyum karena tingkah konyol Aira."
Usai beberapa saat berada dalam keheningan pelukan itu, Aira perlahan merenggangkan dekapan dan tersenyum lebar. "Nah, sekarang ayo kita pulang! Mama pasti sudah menunggu Aira di rumah. Hehehe."
Arkan menatap wajah tegar gadis itu, lalu mengukir senyum tipis senyuman tulus pertama yang terpancar murni dari hatinya. Ia menyalakan mesin mobil dan melaju membelah jalanan. Selama perjalanan pulang, tak ada lagi kata yang terucap. Keduanya larut dalam hening dan pikiran masing-masing.
❀⊱┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄⊰❀
Sesampainya di depan gerbang rumah, Aira bergegas keluar dari mobil.
"Kak Arkan, jangan lupa barang bekas yang Aira pakai tadi dibuang saja, ganti dengan yang baru Aira belikan ya!" seru Aira ceria.
Ia menoleh, mendapati Arkan yang masih menatapnya lekat dari balik kemudi. Aira menyunggingkan senyum terbaiknya. "Ingat pesan Aira ya, Kak! Jangan sedih terus, Aira capek kalau harus banyak tingkah terus di depan Kakak. Hehehe."
Arkan membalasnya dengan anggukan halus. "Terima kasih, Aira."
"Daaah, Kak Arkan! Hati-hati di jalan!" melambai penuh energi sampai mobil sedan hitam itu melaju menjauh dan menghilang di belokan jalan.
Begitu mobil itu tak lagi terlihat, senyum di bibir Aira perlahan memudar. Matanya meredup digantikan sorot sendu yang amat dalam.
Gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah yang sepi. Bu Windy sedang berada di restorannya usaha yang dibuka sang mama di dekat kantor Reyhan untuk mengisi waktu luang.
Langkah Aira terseret masuk ke dalam kamar. Begitu pintu tertutup rapat, tubuhnya meluruh ke atas lantai. Tangis yang sejak tadi ditahannya pecah tanpa suara. Aira mendekap dadanya yang terasa begitu sesak. Ia memang sangat menyukai Arkan, tetapi usai mengetahui trauma mendalam yang dipikul sang dokter, Aira merelakan perasaannya demi melihat pria itu kembali tersenyum meski harus mengorbankan hatinya sendiri.
Pernyataan Arkan di dalam mobil tadi memang melumpuhkan dadanya. Rasa ditolak itu tetap saja menggoreskan luka yang teramat perih. Bayangannya melayang pada nasehat Reyhan beberapa bulan lalu, yang memintanya untuk tidak menggantungkan harapan terlalu tinggi pada sang dokter.
Sembari menyapu air matanya, Aira berjanji pada diri sendiri untuk mengubur dalam-dalam perasaan ini, dan kembali fokus meraih masa depannya. Ia tak boleh membuat Bu Windy dan Reyhan kecewa.
Bersambung__
_____
ini style Aira saat datang acara perayaan seusai ujian sekolah dicafe dan pakaian baru bersama Arkan di Mall, menurut kalian gimana bagus tidak stylenya atau punya gambaran lain??🤔 aku tunggu komen dari kalian🦋