NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Cahaya senter ponsel Siska bergetar pelan di dalam ruangan arsip yang penuh debu itu.

Ia menatap map dokumen tebal di atas meja kayu dengan napas yang masih memburu.

"Arka, kalau dokumen ini sampai bocor ke luar, tempat ini bisa gempar besar," bisik Siska dengan suara bergetar ketakutan.

Arka berdiri di sampingnya dengan ekspresi wajah yang kembali terlihat tenang dan datar.

Ia mengambil map dokumen itu lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop cokelat besar dengan rapi.

"Makanya dokumen ini tidak boleh dibiarkan terkubur selamanya di tempat sampah basement ini," jawab Arka santai.

Siska menatap Arka dengan bola mata yang melebar penuh keheranan.

"Kamu sebenarnya tidak takut sama sekali ya menghadapi para petinggi rumah sakit itu?" tanya Siska penasaran.

"Buat apa takut pada orang-orang yang hidup di atas penderitaan orang lain?" balas Arka dengan nada dingin.

Siska menelan ludahnya susah payah mendengar jawaban yang sama sekali tidak mencerminkan seorang pria idiot.

"Lalu... apa yang harus kita lakukan sekarang dengan dokumen rahasia ini?" tanya Siska meminta pendapat.

"Simpan dulu di tempat yang aman, biarkan mereka merasa di atas angin untuk sementara waktu," jawab Arka sambil tersenyum tipis.

"Permainan yang sebenarnya baru saja akan dimulai, Siska."

Siska mengangguk pelan, rasa percaya di dalam hatinya kepada Arka kini sudah tumbuh sepenuhnya melampaui rasa takutnya.

"Baiklah, aku akan membantumu menjaga dokumen ini di loker pribadiku," ucap Siska mantap.

Tiba-tiba, suara derap langkah sepatu satpam terdengar dari arah koridor luar basement.

Prok... prok... prok...

Suara langkah kaki itu semakin mendekat ke arah pintu ruangan arsip.

"Gawat! Ada petugas keamanan yang sedang patroli malam!" bisik Siska panik sambil memegang lengan baju Arka.

Arka dengan sigap merangkul pundak Siska lalu menariknya bersembunyi di balik rak arsip yang tinggi.

Gerakan Arka sangat cepat, tenang, dan tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Siska terperanjat kaget dalam pelukan singkat itu, pipinya mendadak terasa hangat karena jarak mereka yang terlalu dekat.

"Jangan bersuara," bisik Arka tepat di dekat telinga Siska dengan suara berat yang berwibawa.

Siska langsung menutup mulutnya rapat-rapat, mengatur napasnya agar tidak kedengaran oleh satpam di luar.

Seorang petugas keamanan berseragam biru tua tampak melintas di depan pintu ruangan arsip sambil menyorotkan senter besar.

"Aneh sekali, kenapa pintu arsip lama ini tidak terkunci rapat?" gumam satpam itu seorang diri.

Petugas itu menghentikan langkahnya lalu mendorong daun pintu besi hingga terbuka penuh.

Sinter menyala menyapu sekeliling ruangan yang tampak sunyi dan berdebu.

Siska menutup matanya rapat-rapat karena takut ketahuan sedang berada di area terlarang bersama Arka.

Namun, berkat tumpukan kardus tua dan bayangan rak arsip yang gelap, keberadaan mereka berhasil disembunyikan dengan sempurna.

"Ah, mungkin cuma angin malam yang meniupnya," ucap satpam itu bermonolog sendiri.

Satpam tersebut menutup kembali pintu besi itu dari luar tanpa memeriksa bagian dalam ruangan.

Cklek...

Suara kunci gembok diputar dari luar menandakan pintu arsip kini sudah dikunci rapat kembali.

Siska menghembuskan napas panjang tanda lega setelah satpam itu berjalan menjauh.

"Hampir saja kita ketahuan," bisik Siska dengan dada yang masih berdegup kencang.

Arka melepaskan rangkulannya lalu tersenyum tipis ke arah Siska.

"Tenang saja, mereka tidak akan pernah bisa menemukan apa yang tidak ingin kita tunjukkan," kata Arka tenang.

Mereka berdua keluar dari tempat persembunyian lalu berjalan menuju pintu keluar basement melalui jalur alternatif yang terdeteksi oleh sistem di kepala Arka.

Sesampainya di lantai atas yang sudah sepi, Siska berpisah dengan Arka setelah memastikan tidak ada orang yang melihat mereka.

Arka berjalan sendiri menuju ruang istirahat petugas kebersihan di sudut gedung rumah sakit.

Ia duduk di atas kursi kayu tua sambil merebahkan kedua tangannya di atas meja.

[Sistem Mendeteksi Peningkatan Kepercayaan Sekutu Utama: 85 Persen]

[Membuka Memori Masa Lalu Karakter Utama: Sertifikat Bedah Internasional]

Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.

Bayangan masa lalu tiba-tiba berputar kembali di dalam ingatan Arka dengan sangat jelas.

Lima tahun yang lalu, di sebuah universitas kedokteran bergengsi di luar negeri, Arka dikenal sebagai mahasiswa paling jenius yang pernah ada.

Ia berhasil menyelesaikan seluruh teori kedokteran sulit dalam waktu kurang dari dua tahun saja.

Namun, di balik kejeniusannya itu, Arka harus menghadapi tekanan politik kampus yang kotor dan penuh suap dari anak-anak pejabat kaya raya.

Mereka ingin merebut hasil penelitian medis milik Arka untuk kepentingan pribadi mereka sendiri.

Ketika Arka menolak mentah-mentah permintaan kotor itu, para petinggi kampus merencanakan konspirasi jahat untuk menjatuhkannya.

Mereka memalsukan hasil tes kejiwaan Arka dan mencapnya sebagai pria yang mengalami gangguan mental ringan.

Tujuannya agar penemuan ilmiah Arka bisa disita secara legal atas nama institusi universitas.

Arka yang muak dengan kemunafikan dunia kedokteran modern memilih untuk diam dan menerima label bodoh tersebut.

Di saat-saat terpuruk itulah, seorang dokter senior legendaris bernama Prof. Gunawan datang menemuinya secara sembunyi-sembunyi.

Prof. Gunawan melihat bakat luar biasa yang tersembunyi di balik tatapan kosong Arka.

"Kamu tidak gila, Arka," ucap Prof. Gunawan saat itu sambil menyerahkan sebuah sertifikat bedah internasional tingkat tertinggi.

"Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh yang memakai jas putih untuk menutupi keserakahan mereka."

"Gunakan kebodohan palsu itu sebagai perisai pelindungmu, lalu hancurkan mereka dari dalam ketika waktu yang tepat tiba."

Kata-kata Prof. Gunawan itulah yang menjadi pegangan hidup Arka hingga ia kembali ke Indonesia dan bekerja di Rumah Sakit Medika Sentosa.

Bahkan perjodohan paksa antara Arka dan Clara Wijaya, cucu konglomerat kaya raya, adalah bagian dari rencana besar yang dirancang oleh Prof. Gunawan.

Prof. Gunawan ingin memberikan perlindungan sekaligus kekuasaan tambahan bagi Arka untuk membersihkan dunia medis dari dokter-dokter korup seperti Dr. Dimas dan Dr. Budi.

"Guru, rencana yang kamu buat berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan," gumam Arka sendirian di dalam ruangan yang gelap.

Ia mengepalkan tangan kanannya pelan, merasakan aliran darah dan ketenangan batin yang luar biasa.

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyinari halaman depan Rumah Sakit Medika Sentosa.

Arka sudah kembali mengenakan pakaian kerjanya sebagai petugas kebersihan, mendorong troli keliling koridor seperti biasa.

Beberapa perawat yang berpapasan dengannya tampak berbisik-bisik membicarakan hukuman yang sedang dijalaninya minggu ini.

"Kasihan sekali si Arka, seminggu penuh disuruh membersihkan area basement yang angker itu," bisik seorang perawat kepada temannya.

"Makanya jangan suka cari masalah sama Dr. Budi kalau tidak mau bernasib sama," balas temannya mencibir.

Arka mendengarkan gosip itu tanpa sedikit pun merasa tersinggung di dalam hatinya.

Ia justru tersenyum kecil sambil terus mendorong trolinya menuju arah lobi utama rumah sakit.

Di tempat terpisah, di dalam sebuah mobil mewah bermerek asing yang terparkir di halaman parkir VIP, seorang wanita muda tampak melipat tangan di dadanya dengan wajah kesal.

Wanita itu adalah Clara Wijaya, tunangan paksaan Arka yang diutus oleh kakeknya untuk datang memeriksa keadaan rumah sakit.

"Kakek benar-benar sudah pikun tingkat akut," gerutu Clara dengan suara ketus di dalam mobilnya.

"Menjodohkan aku dengan seorang dokter bodoh yang kerjanya cuma jadi pesuruh rendahan di rumah sakit kumuh ini!"

Clara merapikan jas blazer mahalnya lalu membuka pintu mobil untuk turun menghadapi kenyataan pahit hari ini.

1
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!