Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Bab 18
Langit mulai berubah jingga saat mobil Deva masuk ke halaman rumah. Tubuh pria itu terasa pegal setelah seharian bekerja. Kepalanya juga masih penuh dengan berbagai masalah yang belum selesai. Namun, begitu melihat dua anak laki-lakinya berlari di halaman sambil mengejar bola kecil berwarna biru, rasa lelahnya sedikit berkurang.
“Papaaa!”
Kalingga langsung berlari paling depan. Sedangkan Kaivan tertatih di belakang sambil tertawa kecil.
Deva baru saja menutup pintu mobil ketika kedua anak itu langsung memeluk kakinya bersamaan.
“Pelan-pelan, jagoan Papa,” ucap Deva sambil tertawa kecil.
Deva mengusap rambut Kalingga dan Kaivan lalu mencium kepalanya bergantian.
“Hmmm ....” Deva pura-pura mengendus kepala anak-anaknya. “Udah mandi, udah wangi, udah ganteng, tapi malah main bola?”
Kalingga terkikik senang. “Lagi nyobain bola baru, Pa!”
“Bola baru?” Deva mengernyit sambil menggandeng tangan putra sulungnya masuk ke rumah.
“Iya,” jawab Kalingga semangat. “Dikasih teman Mama.”
Langkah Deva langsung terhenti. Entah kenapa telinganya langsung menangkap bagian itu.
Deva menoleh cepat. “Teman Mama yang mana?”
Kaivan yang digendong di sebelah kirinya langsung menjawab polos dengan cadel khasnya.
“Dali Agung.”
Deva mengernyit bingung beberapa detik. “Agung?” ulangnya pelan.
“Ateu Agung!” Kaivan tersenyum lebar sambil menunjuk bola di halaman.
Barulah Deva sadar itu Tante Anggun. Tadi, dia sempat muncul rasa cemburu dan panas di hatinya.
Deva bahkan sudah membayangkan Kartika bertemu pria lain. Membayangkan ada laki-laki lain yang mulai memperhatikan istrinya. Dan anehnya pikiran itu langsung membuat perutnya tidak nyaman. Deva terkekeh kecil menertawakan dirinya sendiri.
Sementara itu di dapur, Kartika baru selesai memasak. Aroma tumis kangkung dan ayam goreng memenuhi ruangan. Keringat tipis membasahi pelipisnya karena tadi memasak sambil bolak-balik mengejar Kaivan yang minta ditemani bermain.
Kartika meletakkan piring terakhir di meja makan lalu mengusap tangannya dengan celemek. “Akhirnya, selesai juga,” gumamnya pelan.
Baru saja ia hendak masuk kamar untuk mandi, suara langkah kaki terdengar dari depan. Kartika menoleh dan matanya langsung bertemu Deva yang baru masuk sambil menggendong Kaivan.
Pria itu terlihat lelah, tetapi tetap tersenyum kecil saat melihatnya. Entah kenapa dada Kartika terasa sedikit hangat.
Beberapa hari terakhir hubungan mereka memang perlahan membaik. Tidak sepenuhnya sembuh, namun setidaknya tidak sedingin sebelumnya.
Kartika berjalan mendekat. Awalnya ia ingin memeluk suaminya seperti dulu, tetapi kedua tangan Deva penuh..Tangan kiri menggendong Kaivan. Tangan kanan menjinjing tas kerja dan paper bag besar.
Akhirnya Kartika mengambil tas kerja dari tangan suaminya. Lalu seperti kebiasaannya sejak dulu ia mengecup punggung tangan Deva singkat.
Deva menatap istrinya sebentar. Ada rasa nyaman yang selalu muncul setiap Kartika menyambutnya seperti itu.
“Hari ini ketemu siapa aja, Yang?” tanya Deva santai sambil melepas sepatu.
Kartika mengangkat alis heran. “Sama Anggun. Kan tadi aku udah izin sama Mas.”
“Ateu Agun!” sahut Kaivan semangat.
Kartika dan Kalingga langsung tertawa. “Itu Tante Anggun, Dek,” ujar Kalingga membetulkan. “Tan-te Ang-gun!”
Kaivan mencoba mengikuti. “Tan-te ... Agung!”
“Ang-gun,” ulang Kalingga sabar.
“A-gung.”
Semua langsung tertawa kecil. Sedangkan Deva hanya tersenyum malu sendiri. Ternyata tadi ia cemburu tanpa alasan.
“Sayang,” panggil Deva tiba-tiba.
“Hm?”
“Coba lihat isi paper bag itu.”
Kartika mengernyit penasaran. “Apa lagi ini, Mas?”
Kartika membuka paper bag perlahan. Lalu, matanya langsung membesar.
“Mas ini ....”
Di dalamnya ada dua daster baru. Bahannya lembut dengan model kekinian. Satu bercorak bunga-bunga kecil warna pastel. Satunya lagi bermotif abstrak sederhana dengan warna kalem. Bahkan ada dua saku besar di bagian depan.
Kartika langsung tersenyum lebar. “Bagus, Mas. Aku suka,” gumamnya pelan sambil mengusap kain daster itu.
Deva tersenyum kecil melihat reaksi istrinya. “Tadi lewat toko terus ingat daster kamu yang kemarin.”
Kartika menatap suaminya haru. Hal sesederhana ini saja berhasil membuat hatinya hangat.
“Terima kasih, Mas.” Kartika langsung memeluk Deva singkat.
Deva balas memeluk pinggang istrinya pelan sambil tersenyum. “Pakai ya,” katanya lembut. “Jangan pakai daster sobek lagi.”
Kartika mengangguk kecil.
Dan untuk sesaat rumah itu terasa hangat lagi seperti dulu. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Baru saja mereka hendak duduk makan malam, suara motor berhenti di depan rumah. Kartika langsung menoleh. Perasaannya mendadak tidak enak.
Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu pagar dibuka keras. “Deva!”
Suara Bu Hania terdengar dari luar. Disusul langkah cepat Iriana di belakangnya.
Deva langsung menghela napas pelan. Baru melihat wajah ibu dan adiknya saja, ia sudah tahu mereka datang bukan membawa kabar baik.
Kartika tetap diam sambil menyendok nasi untuk anak-anak.
Bu Hania masuk dengan wajah kusut dan kesal. Sedangkan Iriana tampak cemberut sambil melipat tangan di dada.
“Ada apa, Bu?” tanya Deva pelan.
Bu Hania langsung duduk tanpa dipersilakan. “Deva,” katanya cepat dengan nada tinggi, “kamu harus ganti gelang Ibu!”
Deva langsung mengernyit bingung. “Hah?!”
Iriana langsung menyahut dengan wajah kesal. “Tadi pihak WO datang ke rumah. Mereka bawa banyak orang. Maluuu tau enggak sih ditagih begitu!”
Kartika hampir tersedak menahan tawanya sendiri. Dalam bayangannya, pasti satu kompleks sudah heboh melihat debt collector wedding organizer datang menagih utang pesta.
Dan sekarang Bu Hania yang kemarin mati-matian mempertahankan gelang emasnya akhirnya menjual juga.
Deva menarik napas panjang menahan emosi. “Kan, itu utangnya Gavin sama keluarga Rosita,” katanya pelan tapi tegas. “Kenapa malah nagih ke keluarga kita?”
Bu Hania langsung mendecak kesal. “Karena Gavin bilang keluarga kita yang bakal bayar sisanya!”
Nada suaranya terdengar menyalahkan. Seolah semua ini salah orang lain.
Kartika yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara sambil tetap tenang menyuapi Kaivan.
“Kalau enggak sanggup bayar, harusnya dari awal pesta disesuaikan sama budget,” katanya santai.
Ruangan langsung hening. Kartika melanjutkan tanpa melihat wajah mertuanya, karena dia sedang menyuapi Kaivan. “Jangan maksa pengin keliatan mewah di depan tamu, tapi akhirnya utang ke mana-mana.”
Bu Hania langsung menatap tajam. Iriana juga ikut melotot kesal.
Sedangkan Kartika tetap tenang. Namun, dalam hati ia benar-benar muak. Karena lagi-lagi setelah semua tabungan Deva habis, keluarga itu masih datang meminta uang lagi.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝