Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Malam itu, restoran mewah yang disewa penuh di pinggiran kota dihiasi lampu-lampu kristal dan hiasan bunga lili putih.
Lagu ulang tahun di nyanyikan, Adel yang mengenakan gaun merah muda tampak memotong kue bertingkat lima dengan senyum ceria.
"Satu potongan pertama untuk Papa!" seru Adel menyodorkan piring kecil berisi kue cokelat ke arah Ardio.
Ardio berlutut, menerima piring tersebut lalu mencium pipi putrinya. "Selamat ulang tahun, Princess Adelia. Semoga putri Papa selalu bahagia."
"Terima kasih, Papa! Ini ulang tahun terbaik yang pernah Adel punya!" Adel memeluk leher ayahnya erat.
Tapi tiba-tiba saja listrik di seluruh gedung mendadak mati total.
DOR! DOR! DOR!
Terdengar Suara tembakan, memecahkan kaca-kaca jendela tinggi restoran membuat mereka panik.
"Perlindungan penuh untuk Bos dan Non Adel! Merapat!" teriak Reno lantang menarik senjatanya dan mengarahkan tembakan ke arah pintu.
"Papa! Papa, Adel takut!" jerit Adel histeris.
"Tenang, Sayang! Papa ada di sini! Pegang leher Papa kuat-kuat!" seru Ardio seraya mendekap kepala Adel rapat-rapat ke dadanya. Ia menggunakan tubuh untuk melindungi seluruh tubuh mungil Adel dari peluru.
Tiba-tiba, sebuah bom asap dilemparkan dari arah balkon.
Asap putih tebal membutakan pandangan para pengawal Ardio.
Di tengah kekacauan asap itu, empat pria bertopeng dengan seragam gelap menerobos masuk menggunakan kacamata night-vision.
"Tangkap anak itu! Jangan bunuh anak itu, kita butuh dia hidup-hidup untuk memeras Ardio!" teriak pimpinan penyusup.
Salah seorang pria bertopeng berhasil menyusup dari belakang Ardio di tengah pekatnya asap. Dengan gerakan cepat, ia mengarahkan taser listrik ke punggung Ardio.
ZZZZTTT!
Sengatan listrik ribuan volt menghantam Ardio. Tubuh Ardio menggeram kesakitan, refleks cengkeramannya mengendur sejenak.
Pria bertopeng kedua memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik paksa tubuh Adel dari dekapan Ardio.
"PAPA! PAPA TOLONG ADEL! PAPA!" jerit Adel histeris saat tubuhnya diseret masuk ke dalam asap.
"ADEL!" Ardio menderita sengatan itu, namun amarah yang meledak di dadanya jauh lebih membakar ketimbang rasa sakit di sarafnya.
Mata Ardio seketika berubah merah padam. Aura membunuh dari dalam dirinya.
Ia tidak lagi bertindak seperti manusia; ia adalah iblis yang mengamuk karena harta paling berharganya di ambil.
"Kalian... berani menyentuh putriku?" teriak Ardio dengan suara menggelegar.
Ardio menarik pisau komando dari pinggangnya, melompat menerjang asap tanpa peduli pandangan mata.
Dengan insting membunuh yang terlatih, ia menyergap pria bertopeng yang memegang Adel.
SLAASSHH!
Tanpa ragu sedikit pun, Ardio memotong pergelangan tangan pria itu. Lalu Ardio menancapkan pisaunya tepat di leher penyusup tersebut, merobeknya hingga darah segar hingga darah tergenang di lantai.
Ardio menangkap Adel yang hampir jatuh ke lantai, menariknya kembali ke dalam pelukannya, lalu membalikkan tubuh Adel agar wajah putrinya menempel erat di dadanya.
"Jangan buka matamu, Adel! Tutup matamu dan sumpal telingamu sekarang! Jangan dengar apa pun!" seru Ardio dengan napas memburu.
Adel menangis sesenggukan, menuruti perintah ayahnya dengan memejamkan mata rapat-rapat dan menutupi telinganya menggunakan kedua tangan kecilnya.
Dengan Adel yang sudah terlindung rapat di dadanya, Ardio menggunakan tangan kanannya untuk menarik pistol miliknya dari balik jas.
DOR! DOR! DOR!
Dua penculik lainnya ditembak tepat di kepala dari jarak dekat. Otak dan darah mereka terciprat ke dinding.
Penyusup terakhir yang merupakan pimpinan kelompok itu mencoba melarikan diri ke arah jendela, gemetar ketakutan melihat bagaimana tiga rekannya dibantai dalam hitungan detik.