Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.
Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.
Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.
Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penglihatan Yang Menakutkan
Ayara sama sekali tidak menyangka akan kembali dipertemukan dengan sosok itu di tempat umum seperti ini. Pria yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Duanda, ayah kandungnya sendiri. Berdasarkan serpihan memori terakhir yang berhasil ia ingat sebelum mengalami amnesia, Duanda adalah orang yang dengan tega mengusirnya dari rumah, memilih memihak istri barunya serta Mike, anak tirinya. Seketika itu juga, gelombang emosi yang pekat, kemarahan, dan rasa jijik bergejolak hebat di dalam dada Ayara.
"Lepaskan tangan kotor itu dari aku!" pekik Ayara tajam sambil menepis kasar cengkeraman Duanda dari pergelangan tangannya.
Duanda tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sumbang dan mengerikan di telinga Ayara. "Wow... santai dong, putriku tercinta. Kenapa galak sekali?" ucapnya meledek.
Ayara menatap tajam sosok di depannya. Dari dekat, ia bisa melihat betapa jauh perubahan fisik Duanda. Pria itu tampak jauh lebih tua dari ingatan terakhirnya, rambutnya panjang tidak terawat, dibiarkan berantakan, serta dipenuhi oleh brewok lebat yang membuat penampilannya terlihat seperti gelandangan stres.
"Apa ini? Kenapa tanganmu tidak gemetar? Apakah kamu tidak merasa bergetar ketakutan melihat ayahmu sendiri, hm? Menarik sekali reaksi tubuhmu," ucap Duanda dengan nada merendahkan, terkekeh kecil.
"Apa maksud ucapanmu?!" tanya Ayara marah, napasnya mulai memburu tidak beraturan.
"Jangan pura-pura lupa, putriku yang cantik, atau ayah perlu menyegarkan ingatanmu tentang malam itu?" bisik Duanda pelan, lalu melangkah maju dan mengurung tubuh Ayara merapat ke dinding lorong servis yang sepi.
"Malam itu... kita hampir saja berhubungan badan, Ayara. Apa kamu benar-benar sudah melupakan malam istimewa itu?" bisik Duanda tepat di telinga Ayara, mengucapkan kalimat kotor yang sukses membuat sekujur tubuh Ayara mendadak bergetar hebat ketakutan.
Belum sempat Ayara melontarkan teriakan atau memaki pria biadab di hadapannya, situasi berubah dalam hitungan detik.
Bugh!
Dua orang pengawal berbadan tegap yang memang ditugaskan Guzelar untuk mengawal Ayara dari kejauhan langsung berlari menerobos masuk. Tanpa buang waktu, mereka menarik tubuh Duanda secara paksa dan melumpuhkan pria itu ke lantai dalam sekejap.
Jimmy, kepala pengawal pribadi yang memimpin pengawalan, segera mendapati sang Nyonya Besar sudah terkulai lemas, kehilangan kesadaran akibat syok berat. Dengan sigap, Jimmy menggendong Ayara dan membawanya menjauh dari lorong mengerikan tersebut untuk segera dilarikan ke rumah sakit.
Suasana di dalam ruangan V.I.P rumah sakit terasa begitu senyap dan mencekam. Di samping ranjang putih, Guzelar duduk bersimpuh dengan tangan menggenggam erat jemari dingin istrinya yang masih belum sadarkan diri. Hati CEO kaya raya itu terasa diremas kuat-kuat. Ia sangat terpukul dan terkejut begitu mendapati kabar bahwa istrinya jatuh pingsan setelah berpapasan dengan ayah kandungnya sendiri.
"Sayang... maafkan aku. Aku benar-benar bodoh karena tidak becus menjagamu hari ini," ucap Guzelar dengan suara parau, nada bicaranya menyiratkan kesedihan dan rasa bersalah yang mendalam.
Pria itu menunduk, mencium punggung tangan Ayara berulang kali. "Bangunlah, Sayang... Aku mohon, buka matamu. Jangan siksa aku seperti ini," lirihnya memohon dengan mata memerah.
Guzelar menengadahkan wajahnya, menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan air mata yang hampir tumpah.
"Ya Tuhan... tidak bisakah segala rasa sakit, ketakutan, dan penderitaan istriku ini dipindahkan saja padaku? Berikan semuanya padaku..." ratapnya penuh keputusasaan.
Sementara di alam bawah sadarnya, di tengah kegelapan pingsannya, pikiran Ayara tiba-tiba ditarik masuk ke dalam pusaran memori masa lalu yang selama ini terkunci rapat. Sebuah tabir kelam tersingkap di hadapannya.
Dalam penglihatan itu, ia melihat dirinya di masa lalu, diusir dari rumah dalam kondisi berantakan, basah kuyup, dan menangis sendirian di tengah malam yang dingin. Rumah besar Duanda terletak jauh dari jalanan umum dan berada di kawasan perumahan elit yang sangat sepi. Saat ia berjalan terseok-seok seorang diri, sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti tepat di sampingnya. Kaca jendela terbuka, dan sosok Duanda lah yang duduk di kursi pengemudi.
Kala itu, Ayara yang polos sempat merasa lega, mengira sang ayah telah melunak dan berniat menyelamatkannya.
"Masuk ke dalam mobil!" perintah Duanda dingin tanpa bantahan.
"Terima kasih, Ayah..." ucap Ayara lirih begitu pintu mobil tertutup.
Namun, alih-alih mengantarnya pergi ke tempat aman, Duanda justru membelokkan kendaraannya ke sebuah area pinggir jalan tol yang sepi dan gelap gulita. Mesin dimatikan.
"Kenapa mobilnya tidak jalan lagi, Ayah?" tanya Ayara bingung, mulai merasakan firasat buruk yang mencengkeram dadanya.
Duanda menoleh, menatapnya dengan sorot mata lapar dan penuh nafsu menjijikkan. "Ada hal penting yang harus kukatakan padamu, Ayara... Sebenarnya, kamu itu bukan anak kandungku!" tegas Duanda tanpa rasa bersalah.
"Ayah bohong! Jangan ngawur!" teriak Ayara histeris menolak kenyataan.
"Aku tidak sedang berbohong! Dan asal kamu tahu, sudah sejak lama aku menginginkanmu, Ayara! Malam ini, di sini, kamu harus sepenuhnya jadi milikku!" ancam Duanda buas, langsung menerjang kursi penumpang dan mulai meronta-ronta mencium serta melecehkan tubuh putrinya sendiri.
Malam itu, di dalam mobil yang sunyi, Duanda mencoba merenggut kehormatan Ayara, sebuah pelecehan keji yang membuat jiwa Ayara hampir gila karena trauma luar biasa. Beruntungnya, di tengah cengkeraman buas itu, Ayara mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menggigit tangan Duanda, membuka pintu mobil, dan kabur berlari di tengah kegelapan malam hingga akhirnya berakhir terduduk lemah di depan apartemen Guzelar.
Di dalam tidurnya, air mata Ayara mengalir deras membasahi pipinya. Ia terisak pilu menyaksikan kembali kengerian tersebut. Ternyata, di masa depan yang belum sepenuhnya ia ingat, ia harus menanggung takdir yang sangat tragis. Pantas saja Guzelar suaminya selalu bersikap begitu protektif dan setengah mati mengkhawatirkan keselamatannya. Ia bukan hanya dilecehkan oleh Mike, saudara tiri biadabnya, tetapi juga nyaris dihancurkan oleh ayah kandungnya sendiri yang tega mengakui bahwa ia bukan darah dagingnya demi memuaskan nafsu bejat. Sungguh sebuah tragedi hidup yang teramat kejam.
Bersambung...
Biadab sekali.😭 Pantas saja Ayara dimasa depan depresi dan harus rutin kontrol ke rumah sakit sampai minum obat penenang, ngeri banget ya masa lalunya.😭😭
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣
nanti suaminya marah besar itu istri kesayangan nya main ditarik ajaa🫣🫣🤣
seenggaknya dia inget akyu
eh ..kok cyiin nya kebawa lagi thor🤣🤣
biar trauma nya terputus
anak pertama mereka??🥹🥹🥹
meminta pertolongan adalah langkah pertama kita mau sembuh
jadi ga usah takut dan malu...
ayo kita sembuh bersama