Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sorak-sorai langsung pecah saat Tommy dan Nadin melangkah masuk ke gerbang SMA Garuda pagi itu.
Kepala sekolah bahkan menyewa grup drum band untuk menyambut kedatangan piala emas mereka.
"Hidup Nadin! Hidup Tommy si raja hoki!" teriak murid-murid dari balkon lantai dua.
Tommy hanya melambaikan tangannya dengan gaya cengengesan dan postur membungkuk seperti biasa.
Nadin berjalan cepat dengan wajah datar, sama sekali tidak peduli dengan semua perayaan berlebihan itu.
Dito menghampiri Tommy di depan kelas dengan senyum lebar dan raut wajah lega.
"Selamat ya, Tom, kamu luar biasa," ucap Dito dengan nada yang sangat tulus.
"Ah biasa aja, To, aku menang karena gambar bintang doang kok," balas Tommy pura-pura merendah.
Dito hanya terkekeh pelan karena ia tahu persis siapa monster yang bersembunyi di balik senyum konyol itu.
Saat jam istirahat berbunyi, Nadin tidak pergi ke kantin bersama teman-temannya.
Gadis pintar itu justru melangkah cepat memasuki ruang OSIS yang sepi.
Di sana sudah ada ketua OSIS bernama Kevin yang sedang menyusun laporan kegiatan.
"Ada apa, Din? Muka lo tegang banget kayak mau ujian lagi," sapa Kevin bingung melihat raut wajah Nadin.
"Vin, gue butuh bantuan lo buat cek arsip nilai masuk Tommy Nugroho dua tahun lalu," pinta Nadin serius.
"Tommy si bodoh yang kemarin menang olimpiade itu?" tanya Kevin memastikan.
Nadin mengangguk cepat dan mengeluarkan selembar kertas fotokopi dari dalam tasnya.
"Gue minta panitia mencetak ulang LJK gambar bintang milik Tommy kemarin setelah acara selesai," ucap Nadin sambil meletakkan kertas itu di meja.
Kevin melihat pola bintang hitam di atas lembar jawaban itu dan mengerutkan keningnya.
"Terus masalahnya di mana?" tanya Kevin belum mengerti arah pembicaraan Nadin.
"Gue semalam bikin simulasi koordinat dari gambar ini di komputer rumah," Nadin menunjuk sudut-sudut bintang tersebut.
"Sudut presisi bintang ini persis mengikuti urutan pola logaritma natural, Vin."
Kevin terbelalak kaget mendengar analisis matematika tingkat tinggi yang diucapkan Nadin.
"Maksud lo, anak idiot itu sengaja menggambar ini karena dia hafal letak kunci jawabannya?" tebak Kevin tidak percaya.
"Itu yang mau gue cari tahu, karena orang bodoh gak akan bisa menggambar presisi sejauh ini," desis Nadin tajam.
Kevin menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pelipisnya.
"Tapi kan dia idiot, Din, nilai tes masuknya aja peringkat paling bawah se-kabupaten," sanggah Kevin.
"Itulah yang bikin gue penasaran setengah mati, Vin, ada yang gak beres sama anak itu."
"Gue curiga dia punya alat komunikasi mikroskopis ke orang di luar pas ujian kemarin," usul Kevin memberikan teori lain.
"Kalau gitu kita berdua harus geledah tas dan barang-barangnya secara diam-diam besok," putus Nadin dengan mata menyipit tajam.
Di waktu yang sama, di sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota yang gelap.
Seorang pria berjas hitam duduk di atas kursi kayu sambil menghisap cerutu dengan santai.
Pria itu dipanggil Bos Anton, tangan kanan dari sindikat mafia yang membekingi perusahaan ayah Bagas.
Seorang peretas berpakaian kasual berdiri di depannya dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Maafkan saya, Bos, virus dari Blank itu menghancurkan semua data keuangan kita," lapor peretas itu bergetar.
"Lalu apa kau sudah menemukan di mana bajingan itu bersembunyi sekarang?" tanya Bos Anton dengan nada sangat dingin.
"Dia memang mengalihkan alamat terakhirnya ke Rusia, tapi saya sempat menangkap pentalan sinyal aslinya," jelas peretas itu dengan tergesa-gesa.
Peretas itu menyodorkan sebuah peta kota yang sudah dilingkari spidol merah.
"Sinyal itu memancar dari radius lima kilometer di sekitar pemukiman kumuh sektor selatan kota kita," ucap peretas itu yakin.
Bos Anton menghembuskan asap cerutunya dan tersenyum mematikan.
"Panggil anak buah kita yang bergerak di lapangan sekarang juga," perintah Bos Anton.
"Cari orang di daerah selatan sana yang tiba-tiba punya uang banyak atau baru membeli peralatan komputer mahal."
"Baik, Bos," jawab pria di sebelahnya lalu bergegas pergi menjalankan perintah.
Sore harinya, Tommy pulang ke rumah dengan membawa sekeranjang buah-buahan mewah dari uang hadiah olimpiade.
Ibunya menyambut di depan pintu dengan senyum cerah dan air mata kebahagiaan.
"Ibu bangga sekali padamu, Tommy," ucap ibunya sambil memeluk anak semata wayangnya itu erat-erat.
"Ibu dengar dari tetangga kamu menang juara satu olimpiade tingkat kota."
"Iya, Bu, Tommy cuma beruntung aja pas nebak soalnya di kertas," jawab Tommy menenangkan ibunya dengan kebohongan manis.
Saat ibunya pergi ke dapur untuk mencuci buah, Tommy melirik ke arah luar jendela kontrakannya yang terbuka sedikit.
Jalanan gang sempit itu biasanya hanya dilewati oleh ibu-ibu yang pulang dari pasar atau anak-anak yang bermain bola.
Namun sore ini, dua orang pria berjaket kulit terlihat sedang berdiri di depan warung seberang jalan.
Mata jenius Tommy langsung memindai gestur tubuh kedua pria tersebut dari balik tirai.
"Sistem, bantu aku membaca bahasa tubuh mereka," batin Tommy mengaktifkan pasifnya.
Otaknya langsung menganalisis tatapan mata mereka yang terus menyapu setiap rumah dengan sangat waspada.
Salah satu pria itu terlihat menunjukkan sebuah foto dari ponselnya kepada pemilik warung kopi.
"Tunggu dulu," batin Tommy mengerutkan kening saat mengenali wajah salah satu pria tersebut.
"Itu Bang Jali, rentenir yang dulu menagih utang ibu."
Bang Jali terlihat sedang berbicara serius dengan pria berjaket kulit yang jauh lebih berotot darinya.
Tommy menajamkan pendengarannya menggunakan pantulan gema suara dari dinding gang sempit itu.
"Anak janda Marni itu kemarin tiba-tiba bisa bayar utang sepuluh juta pakai uang tunai," ucap Bang Jali terdengar samar namun jelas di telinga Tommy.
Pria berotot itu mengangguk dan mencatat sesuatu di dalam buku kecilnya.
"Lo yakin anak janda itu yang bawa uangnya langsung?" tanya pria berotot itu memastikan.
"Yakin seratus persen, Bang, duitnya pecahan seratus ribu baru semua kayak habis ditarik dari ATM," jawab Bang Jali meyakinkan.
"Bos Anton bilang kita harus periksa semua anomali keuangan di daerah ini untuk mencari jejak Blank."
"Bocah SMA darimana dapet duit sepuluh juta dalam seminggu kalau bukan dari bisnis gelap atau peretasan?" tambah Bang Jali curiga.
Tommy perlahan mundur selangkah dari jendela dan menyembunyikan dirinya sepenuhnya di balik bayangan kamar.
Otaknya yang ber-IQ seratus dua puluh sembilan menyatukan semua kepingan informasi itu dalam waktu kurang dari satu detik.
"Mafia itu menyuruh preman lokal untuk melacak aliran uang tunai yang tidak wajar," analisis Tommy dengan wajah sangat dingin.
Pembayaran utang sepuluh juta rupiah miliknya minggu lalu kini menjadi petunjuk fatal yang mengarah langsung ke lehernya.
Identitas Tommy di dunia nyata kini sudah berada di ujung tanduk.
Jika preman itu merangsek masuk dan menggeledah kamarnya lalu menemukan komputer spesifikasi dewa miliknya, semuanya akan tamat.
Mereka tidak akan peduli apakah ia anak SMA atau bukan, mafia akan membunuhnya karena telah merusak bisnis triliunan rupiah mereka.
"Sepertinya aku harus membersihkan tikus-tikus ini secara langsung," gumam Tommy pelan menatap tangannya.
Ia tidak merasa takut sedikit pun, justru darahnya mendidih karena tantangan baru ini.
Dunia maya tidak lagi cukup untuk menampung permainan dari otak super jeniusnya.
Ia akan membawa perang ini ke jalanan nyata, tanpa sedikit pun mengotori tangannya sendiri.
Tommy berjalan menuju komputernya dan menyalakannya dengan senyum yang sangat mengerikan.
"Kalian datang ke wilayahku untuk memburuku?" bisik Tommy di tengah dengungan kipas CPU.
"Maka bersiaplah untuk menjadi mangsa dari jebakan yang tidak akan pernah kalian pahami."
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇