Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Malam Bertabur Cahaya Ginza
Malam di kawasan Ginza, Tokyo, disambut oleh hembusan angin musim gugur yang dingin. Di dalam Grand Ballroom sebuah hotel bintang lima terkemuka, pendar lampu kristal memantul di atas lantai marmer berkilau. Ratusan arsitek ternama, pengembang properti raksasa, dan jurnalis media bisnis internasional berkumpul menikmati alunan musik klasik dalam acara Asian Sustainable Architecture Gala Night.
Dania berdiri di dekat meja bundar timnya, memegang gelas sparkling water. Ia tampil sangat anggun malam itu dalam balutan gaun malam berlengan panjang berwarna navy blue berpotongan simpel namun mewah. Rambut hitamnya disanggul rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang jenjang.
Namun, yang paling menarik perhatian dari penampilannya adalah sebuah bros emas putih berbentuk melati yang tersemat sempurna di dada kirinya—berlian-berlian kecil di permukaannya memancarkan kilau indah setiap kali diterpa cahaya lampu ballroom.
"Dania, brosmu cantik sekali," puji Maya dengan mata takjub. "Modelnya sangat etnik tapi kelihatan sangat berkelas. Merek apa itu?"
Dania tersenyum tipis, meraba permukaan halus bros pemberian Arvin tersebut secara refleks. "Ini... karya perajin lokal Indonesia."
Erlangga yang berdiri di samping Maya mengamati bros tersebut sejenak dengan dahi berkerut halus. Sebagai seseorang yang paham benda seni, ia mengenali keunikan ukiran emas putih itu.
"Detailnya sangat mirip dengan perhiasan koleksi langka Dirgantara Heritage," gumam Erlangga pelan seraya menatap Dania. "Apakah Pak Arvin yang menyediakannya untukmu sebagai perwakilan tim?"
Sebelum Dania sempat menjawab pertanyaan intuitif Erlangga, keheningan halus mendadak merayapi pintu masuk utama ballroom.
Pintu ganda berukir emas terdorong terbuka. Arvin Dirgantara melangkah masuk.
Pria tegap itu mengenakan tuxedo hitam sempurna dengan dasi kupu-kupu yang kaku. Rambut gelapnya disisir rapi ke belakang, mempertegas rahang tegas dan tatapan mata pekatnya yang tajam. Kehadiran CEO Dirgantara Group itu seketika menarik perhatian para petinggi bisnis Jepang dan pengembang internasional di ruangan tersebut.
Arvin berjalan meniti karpet merah dengan ketenangan dan aura dominasi yang mutlak. Di belakangnya, Rian melangkah siaga membawa dokumen formal.
Pandangan mata pekat Arvin langsung menyapu ke seluruh penjuru ballroom—mengabaikan sapaan beberapa pengusaha asing—sampai akhirnya pandangannya terkunci rapat pada Dania yang berdiri di tengah timnya.
Mata Arvin meredup halus saat melihat Dania. Tatapannya tertahan selama beberapa detik pada gaun navy anggun yang dikenakan Dania, sebelum berpindah ke bros melati yang tersemat di dada kiri wanita itu. Sebuah kilatan kepuasan yang hangat melintas di sudut mata sang CEO.
Arvin melangkah mendekati meja tim desain Dirgantara.
"Selamat malam, Tuan Arvin," sapa seluruh anggota tim seraya membungkuk hormat khas protokol Jepang.
"Selamat malam," sahut Arvin dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa. "Bagaimana persiapan presentasi akhir tim besok pagi?"
"Semua salinan cetak biru dan simulasi 3D sudah diverifikasi oleh panitia teknis jam empat sore tadi, Pak CEO," jawab Erlangga profesional.
Arvin mengangguk pendek. Tangannya yang terbungkus jas mewah kemudian terulur perlahan, menyajikan gerakan resmi yang sangat tenang di hadapan seluruh tim.
"Nyonya Dania," panggil Arvin kaku. "Penyelenggara utama dari Tokyo Urban Council ingin menyapa konseptor utama draf Grand Dirgantara Tower. Mari ikut saya."
Dania menatap uluran tangan Arvin. Meski Arvin menggunakan nada bicaranya yang formal, cara pria itu menatapnya memancarkan ajakan tulus yang tidak bisa ditolak.
"Baik, Tuan Arvin," sahut Dania lembut.
Dania menyusupkan jemarinya yang terbungkus sarung tangan sutra tipis ke atas telapak tangan Arvin. Arvin melingkarkan jemari kokohnya di sekitar tangan Dania, membawa wanita itu berjalan di sampingnya melintasi kerumunan tamu undangan kelas atas.
Saat mereka berjalan bersisian, Dania bisa merasakan beberapa kilatan kamera jurnalis menangkap momen mereka dari jauh. Namun kali ini, Arvin tidak sedikit pun menarik tangannya atau mencoba mengambil jarak. Pria itu justru menggenggam tangan Dania makin erat, melindunginya secara alami dari kerumunan yang makin padat.
"Kamu terlihat sangat anggun malam ini, Dania," bisik Arvin rendah, suaranya terngiang tepat di samping telinga Dania di tengah riuh alunan musik ballroom.
Jantung Dania berdesir hebat mendengar pujian langsung yang tak terduga itu. Ia mendongak, menatap profil samping wajah Arvin yang tegas.
"Terima kasih, Arvin," balas Dania dengan nada bernyawa yang hangat. "Dan... terima kasih untuk bros ini. Semua orang memujinya."
Arvin melirik bros melati di dada Dania dari sudut matanya, sudut bibirnya terangkat tipis dalam sebuah senyuman halus yang amat tampan.
"Bros itu terlihat jauh lebih bernilai saat kamu yang memakainya," kata Arvin jujur, tanpa ada perisai alasan tradisi atau hukum bisnis lagi di antara kata-katanya.
Dania membeku sesaat, dadanya dipenuhi kehangatan yang meletup-letup. Untuk pertama kalinya sejak mereka menandatangani draf pernikahan rahasia di Jakarta, Dania menyadari bahwa tatapan Arvin padanya bukan lagi tatapan seorang sekutu bisnis yang terikat kontrak—melainkan tatapan seorang pria yang sepenuhnya mengagumi wanitanya.
Mereka berhenti di depan Tuan Tanaka, ketua dewan juri penganugerahan yang berdiri bersama para wartawan.
"Ah, Tuan Arvin Dirgantara!" sapa Tuan Tanaka dalam bahasa Inggris yang fasih seraya menjabat tangan Arvin hangat. "Dan ini pasti sang arsitek genius di balik konsep pencahayaan atrium ramah lingkungan itu?"
"Benar, Tuan Tanaka," ujar Arvin seraya merangkul pinggang Dania dari belakang dengan penuh rasa bangga dan protektif yang mutlak. "Perkenalkan, ini Dania Kirana—kepala tim desain sekaligus jiwa dari proyek Grand Dirgantara Tower."
Dania tersenyum anggun seraya menjabat tangan Tuan Tanaka. Saat kilatan kamera para jurnalis menyala mengambil foto mereka bertiga, Dania merasakan hangatnya telapak tangan Arvin yang bertahan dengan kokoh di pinggangnya—sebuah sandaran nyata yang memberi kepastian bahwa apa pun ujian atau status rahasia mereka, mereka berada di dalam panggung yang sama.