Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Nadia memarkirkan motor kesayangannya di parkiran restoran mewah sesuai petunjuk ibunya.
Setelah mematikan mesin, ia merapikan jilbabnya yang agak berantakan kena angin jalanan. Nadia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu melangkah masuk ke restoran megah itu.
Seorang pelayan menyambutnya dengan ramah di dekat pintu masuk.
"Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya ada janji atas nama Arvin Elio Ganendra," jawab Nadia sopan.
Pelayan itu mengangguk paham dan langsung mengantar Nadia menuju ruangan VIP di lantai atas.
Namun, saat pintu ruangan yang luas itu dibuka, belum ada siapa-siapa di sana. Pria bernama Arvin itu ternyata belum datang.
Nadia cemberut dalam hati. Dia yang terlambat, dia juga yang bikin orang menunggu.
Meski agak kesal, Nadia tidak bisa menutupi rasa kagumnya saat melihat isi ruangan VIP itu. Lampunya hangat, hiasannya mewah, dan baunya wangi sekali. Ruangan ini benar-benar kelihatan mahal.
Cklek.
Pintu ruangan mendadak terbuka dari luar.
Nadia kaget setengah mati. Seorang pria tinggi tegap berpakaian jas hitam melangkah masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
Wajahnya tegas, matanya tajam, dan tatapannya langsung tertuju ke arah Nadia.
Seketika, Nadia buru-buru membetulkan posisi duduknya agar lebih rapi, walau jantungnya sudah berdegup kencang.
Pria itu, Arvin Elio Ganendra, melangkah mendekat tanpa senyum sedikit pun. Wajahnya dingin dan ketus.
Sebagai seorang duda anak tiga sekaligus bos besar, Arvin memang terbiasa bersikap dingin pada siapa saja. Perjodohan ini pun sebenarnya bukan kemauannya. Kalau bukan karena dipaksa orang tuanya yang terus menuntut sosok ibu baru untuk anak-anaknya, Arvin tidak akan pernah mau datang ke tempat ini.
Arvin menarik kursi tepat di depan Nadia. Ia duduk dengan santai, tapi matanya memandang Nadia dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.
"Kamu orang yang dijodohkan dengan saya?" tanya Arvin. Suaranya berat dan datar.
Nadia meremas tangannya yang mendadak dingin di atas pangkuan.
"I—iya, Pak," jawab Nadia gugup.
Arvin bersedekap dan bersandar di kursinya. Ia memperhatikan Nadia dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Apa keistimewaanmu atau kemampuanmu sampai bisa jadi istri saya?" sindir Arvin pedas.
Bibir Arvin tersenyum sinis sebelum melanjutkan, "Di keluarga saya, tidak sembarang orang bodoh bisa masuk."
Kata bodoh yang diucapkan Arvin membuat rasa takut Nadia langsung hilang. Harga dirinya merasa diinjak-injak, berganti jadi rasa kesal yang membakar.
Nadia menghela napas panjang. Ia mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke mata Arvin tanpa rasa takut lagi.
"Keistimewaan saya?" ucap Nadia dengan suara tegas.
"Keistimewaan saya adalah punya otak dan tahu tata krama untuk tidak merendahkan orang yang baru pertama kali saya temui!"
Nadia tersenyum sinis menantang Arvin.
"Lagipula, Pak Arvin yang terhormat... kalau Bapak bilang keluarga Bapak tidak menerima orang bodoh, bukankah Bapak sendiri yang bodoh karena mau datang ke sini buat menemui orang bodoh seperti saya?"
Mata Arvin langsung menyipit tajam. Suasana ruangan itu makin terasa tegang.
"Kalau saya ini orang bodoh di mata Bapak, berarti Bapak yang duda anak tiga ini jauh lebih bodoh! Bapak mau saja dijodohkan dan menemui wanita bodoh cuma demi menuruti kemauan orang tua!" tegas Nadia tanpa ragu.
Ruangan VIP itu mendadak makin hening. Kata-kata Nadia tadi benar-benar menampar Arvin.
Arvin terdiam. Rahangnya mengeras dan matanya menajam. Selama ini, tidak ada satu orang pun yang berani membentak apalagi mengejek statusnya secara langsung seperti yang dilakukan wanita di depannya ini.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu," ucap Arvin pelan, tapi terdengar sangat menakutkan.
Nadia menelan ludah. Jantungnya berdebar keras, tapi ia menolak untuk terlihat lemah.
"Saya cuma bicara jujur, Pak," sahut Nadia berusaha agar suaranya tidak gemetar. "Kalau Bapak memang tidak suka dengan perjodohan ini, harusnya Bapak tolak dari awal. Bukan malah melampiaskan kekesalan Bapak dengan menghina saya."
Arvin tersenyum tipis, sangat dingin. Ia memajukan tubuhnya dan menopang tangan di atas meja, mendekati Nadia.
"Saya menerima perjodohan ini bukan buat mencari istri," potong Arvin datar.
"Saya menerima kamu cuma buat jadi ibu dari ketiga anak saya. Tidak lebih dari itu."
Nadia mengerutkan dahi. "Maksud Bapak apa?"
"Artinya, tugasmu di rumah saya nanti cuma mengurus anak-anak saya. Jangan pernah berharap kasih sayang atau perlakukan seperti seorang istri dari saya," jawab Arvin tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Nadia tertawa heran. Ia merasa pria di depannya ini benar-benar tidak jelas.
"Bapak pikir saya mau? Maaf ya, Pak. Saya datang ke sini justru cuma mau menolak perjodohan aneh ini secara langsung!" tegas Nadia.
Arvin kembali bersandar di kursinya. Wajahnya terlihat santai tapi menyebalkan.
"Kalau mau menolak, kamu sudah terlambat," kata Arvin santai.
"Begitu kamu melangkah masuk ke ruangan ini dan duduk di depan saya, artinya kamu sudah setuju. Urusan antar keluarga kita sudah selesai."
"Nggak bisa begitu, dong! Saya kan belum bilang setuju!" potong Nadia dengan nada tinggi.
"Acara pernikahan kita bakal digelar seminggu lagi," kata Arvin tenang, sama sekali tidak peduli pada kemarahan Nadia.
Mata Nadia melotot lebar. "Seminggu lagi?! Bapak gila ya?! Saya kan sudah bilang tidak mau!"
Arvin berdiri dari duduknya, merapikan kancing jas hitamnya dengan santai. Ia menatap Nadia dari atas dengan wajah dingin.
"Saya tidak mau tahu," ujar Arvin datar.
"Mau kamu setuju atau tidak, pernikahan itu tetap bakal jalan seminggu lagi. Siapkan diri kamu."
Tanpa menunggu balasan dari Nadia, Arvin berbalik dan melangkah pergi keluar dari ruangan, meninggalkan Nadia yang membeku sendirian menahan emosi.
......................
Setelah pertemuan panas di restoran, Arvin kembali ke kantor dengan emosi membara. Bayangan wanita berhijab yang berani mengejeknya terus berputar di kepala.
Bagas, sekretaris sekaligus sahabatnya, masuk membawa dokumen. Melihat wajah keruh bosnya, Bagas menaikkan alis.
"Kenapa mukamu dilipat gitu, Vin? Gimana pertemuannya sama Nadia?" tanya Bagas penasaran.
Arvin tak menjawab. Tangannya ngetuk-ngetuk pena di meja, teringat kata-kata Nadia. “Bapak duda anak tiga ini jauh lebih bodoh!”
Bagas terkekeh pelan melihat reaksi diam sahabatnya. "Wah, dari mukamu sih kelihatan banget... kamu kena mental, ya? Siapa namanya? Nadia?"
"Diam, Gas," desis Arvin dingin. "Kosongkan jadwal saya jam satu siang nanti."
Bagas mengernyit heran. "Ada rapat penting? Perasaan jadwalmu siang ini kosong."
"Saya ada urusan," jawab Arvin singkat tanpa mau menjelaskan lebih jauh.
Pukul satu siang, Arvin mengendarai mobilnya sendiri ke sekolah Kenzo. Penasaran membuat pria itu ingin melihat langsung toko kue tempat Kenzo sering menumpang menunggu jemputan.
Ia memarkir mobil di seberang ruko, lalu melangkah ke toko kue berdesain hangat tersebut.
Namun, di balik kaca toko, langkah Arvin mendadak kaku. Sosok wanita yang beberapa jam lalu membentaknya di ruangan VIP sedang merapikan toples kue sambil tersenyum ramah pada pelanggan.
Nadia.
Arvin mematung. Otaknya cepat menyambungkan kenyataan. Arvin tersenyum dingin, lalu mendorong pintu kaca toko.
Ting!
"Selamat datang di toko kue..." Kalimat Nadia terhenti. Tangannya memegang penjepit kue mendadak membeku melihat Arvin melangkah masuk.
Arvin mendekat ke kasir dengan tenang. "Jadi... ini toko kue tempat anak saya berutang?"
Nadia terperanjat. "B—Bapak?!"
"Kenapa? Kaget melihat saya?" sindir Arvin.
"Bapak menguntit saya?!" tuduh Nadia tajam. "Ngapain ke sini?"
Tanpa bicara, Arvin mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan meletakkannya di kasir. "Itu uang buat bayar utang Kenzo," paut Arvin santai.
Nadia membeku. "Anak... Bapak?"
"Kenzo," ucap Arvin singkat. "Anak bungsu saya yang katanya sering menumpang makan kue, minum susu hangat, dan minta makan siang gratis di sini."
Deg!
Jantung Nadia serasa berhenti berdetak seketika.
Kenzo?!
Anak kecil lucu bersuara lembut yang selalu menunggunya di depan toko... anak kecil yang selalu menatap kue strawberry dengan mata berbinar-binar... adalah anak dari pria arogan dan dingin di depannya ini?!
"Gak... gak mungkin..." gumam Nadia hampir tak terdengar. "Kenzo anak Bapak?"
Arvin menyunggingkan senyum sinis melihat reaksi kaget Nadia.
"Kenapa? Kaget?" potong Arvin tajam. "Anak yang sering kamu kasihani itu... adalah anak dari pria bodoh yang baru saja kamu ejek di restoran tadi."
Ting!
"Tante Nadia!" Suara mungil Kenzo memecah ketegangan.
Kenzo berdiri membawa tas sekolahnya. Wajahnya bingung melihat sang papa ada di sana. "Papa kok ada di sini?"
Arvin menunjuk uang di meja. "Papa cuma mau menyelesaikan urusan kamu."
Kenzo melangkah mendekat ragu. "Tante... Papa udah kasih uang buat bayar utang Kenzo, kan?"
Melihat wajah polos Kenzo, emosi Nadia mereda. Ia berlutut menyajajarkan tinggi dengan Kenzo dan tersenyum lembut.
Nadia mengambil uang di meja dan menyodorkannya kembali ke Arvin.
"Pak Adam selalu bayar kok," terang Nadia jujur pada Kenzo. "Setiap kali jemput, Pak Adam selalu melunasi semua kue dan susu Kenzo."
Arvin menaikkan alis, terkejut.
"Tolong bawa kembali uang Bapak," tegas Nadia pada Arvin. "Saya mengizinkan Kenzo di sini karena saya sayang sama anak ini. Semua yang dimakan Kenzo sudah dibayar tuntas oleh Pak Adam."
Arvin diam terpaku, menahan rasa canggung atas tuduhannya sendiri. Sementara Kenzo mendongak gembira. "Beneran, Pa? Kenzo nggak punya utang?"